Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 53: Mendengarkan Penjelasan


__ADS_3

Perjalanan dari lantai bawah menuju ruangan CEO hanya membutuhkan waktu empat menit menggunakan lift. Benar saja Sang sekretaris mengantar tamu ke ruang Bosnya agar tidak salah jalan. Apalagi salah ruangan. Langkah kaki yang menyusuri lorong lantai teratas terhenti, begitu pintu kaca dengan tulisan CEO Mr. Danish Anderson.


Diketuknya pintu kaca tiga kali, "Selamat siang, Tuan Danish Anderson. Boleh kami masuk?"


Tidak ada jawaban, tetapi pintu kaca terbuka otomatis. Mungkin Tuan tengah sibuk bekerja hingga tidak kober untuk menjawab pertanyaannya. Tanpa menunggu perintah. Dipersilahkannya Detective Wildan untuk masuk ke dalam ruangan bos. Lalu, ia sendiri kembali ke tempatnya bekerja.


Ruangan ber AC dengan aroma buah segar sebagai pengharum ruangan menyambut kedatangannya. Tatapan mata langsung terpatri pada seorang pria yang terlihat begitu kelelahan dengan wajah muram. Duduk dengan mata terpejam. Di meja tertulis sebuah papan nama CEO Mr. Danish Anderson.


"Sampai kapan mau berdiri? Duduk!" Tegas Dan, lalu mengubah posisi duduknya kembali tegak. Kemudian mengulurkan tangan agar Detective Wildan duduk di depannya.


Penampilan matching dengan gaya rambut yang klimis, membuat si detective terlihat seperti guru sekolahan. Jika mereka bertemu di luar. Bisa saja tidak mengenali identitas hanya melalui penampilan. Memang benar kata pepatah. Don't judge by cover yang berarti jangan menilai hanya dari penampilan luarnya saja.


Bukan hanya penampilan. Ternyata cara kerja detective satu itu, unik. Hasil penyelidikan tidak dijadikan setumpuk lembaran, tetapi hanya tersimpan dalam satu draft memori. Pria cerdas dengan wajah polos yang bisa menjebak banyak orang.


"Tuan, semua informasi. Tanpa potongan. Anda bisa memeriksanya sekarang." Detective Wildan menyerahkan korek apinya ke Danish.


Bukan sembarang korek api karena sebuah memori tersimpan di dalam korek tersebut. Alih-alih memakai flashdisk. Detective Wildan selalu menemukan benda sederhana untuk menjadi penunjang pekerjaannya. Sementara itu, Danish menerima bukti yang langsung diperiksa.


Tiga puluh menit berlalu. Kepalan tangan dengan wajah tegang, membuat suasana berubah mencekam. Bukan hanya rasa penyesalan, tetapi amarahnya ikut memuncak mengalahkan akal sehatnya. Kebenaran Shena, bukanlah bualan. Namun, kejujuran yang sangat menyakitkan.

__ADS_1


Kini, ia tahu. Siapa yang bersalah, dan siapa yang berterus terang. Bukan hanya itu saja. Informasi yang diberikan detective Wildan, sudah cukup mengubah dunianya menjadi kepalsuan. Selama ini, dia menganggap Fatih sebagai adik sendiri. Tidak sekalipun meragukan akan rasa saudara yang dirasakannya.


Apakah kasih sayang keluarga hanya dihargai dengan pengkhianatan? Kenapa? Rasanya hancur tanpa kata. Tidak ada yang lebih menyakitkan. Ketika melihat banyaknya bukti dan memastikan bahwa Fatih adalah pemuda brengsek yang memakai topeng kebaikan.


"Tuan, minumlah." Detective Wildan mengulurkan segelas air putih, sebagai seorang pria, dia tahu apa yang dirasakan oleh Danish. "Ada satu lagi yang harus aku sampaikan, tapi apakah itu berkaitan atau tidak. Hanya Anda yang bisa memutuskan."


Keseriusan Detective Wildan, membuat Dan mengernyit dengan alis terangkat. Tidak peduli siap atau tidak. Biarlah semua jelas tanpa kabut kepalsuan. Sekali saja, semua tirai tersingkap. Maka, ia tidak perlu bermain api hanya untuk membayar seorang penghianat.


"Tuan sebenarnya ...,"


Sang Detective Wildan menjelaskan informasi yang paling penting diantara informasi yang lainnya. Pria klimis itu berbicara panjang kali lebar hingga membuat Danish menahan nafas agar tetap tenang. Pada akhirnya amarah semakin memuncak. Pulpen yang ada di atas meja menjadi pelampiasan.


Tiba-tiba ada yang mengetuk jendela kaca, membuatnya mengalihkan perhatian ke luar. Ternyata salah satu anggota senat datang untuk menemuinya. Entah apa yang terjadi karena wajah Yuni nampak begitu lecek seperti pakaian belum disetrika. Tak ingin mengabaikan, keduanya memilih untuk duduk di taman sebelah parkiran kampus.


"Shena, tidak bisakah kamu kembali menjadi ketua senat kembali?" tanya Yuni penuh harap menatap ke depan dengan tangan saling bertautan.


Pasti beban berat dirasakan oleh seluruh anggota senat dan bukan bermaksud tutup mata dan telinga. Ia hanya tidak ingin menimbulkan masalah untuk orang lain hanya karena egonya sendiri. Pak Ibrahim dengan jelas telah mencoret dia untuk menjadi seorang pemimpin. Jadi, mau, tidak mau. Suka, tidak suka. Lebih baik mematuhi tanpa perdebatan yang bisa menjadi masalah baru.


Digenggamnya tangan Yuni, menepuk-nepuk secara perlahan. "Aku akan bantu kalian dari belakang. Sisanya, aku percaya kalian bisa tangani semua dengan baik. Bagaimana status proposal untuk acara akbar nanti?"

__ADS_1


Setidaknya, ia berharap yang lain bisa menghandle pekerjaan bersama-sama. Namun, tidak demikian. Yuni menjelaskan bahwa Pak Ibrahim menolak semua proposal dari wakil senat, bahkan membuat ultimatum untuk proposal baru yang harus diserahkan malam ini juga. Maka dari itu, tidak ada jalan lain selain mencoba membujuknya agar kembali menjadi senat.


Sedih mendengar penjelasan Yuni, tapi tidak bisa mengubah keadaan hanya dengan duduk saja. Setelah menyimak dengan seksama. Keputusan telah dibuat. Bukan kembali merebut posisi sebagai senat. Ia bisa membantu tanpa menggunakan kekuasaan yang bisa mempermudah segalanya.


"Okay, Aku akan kirim proposal melalui e-mail. Yuni, kamu tahu bukan selanjutnya harus bagaimana?" Shena beranjak dari tempat duduknya, lalu berbalik menatap bangunan yang menjadi tempatnya mengejar impian. "Acara akbar tahun ini, aku pastikan menjadi acara terbaik sepanjang masa."


Lega rasanya mendapatkan dukungan dan bantuan dari orang yang tepat. Seketika seluruh beban hidup sirna. Yuni hanya bisa memberikan pelukan hangat sebagai ucapan terimakasih dan berjanji akan mengatur sisanya agar Shena tidak perlu turun tangan ke lapangan. Ketika otak bertugas membuat keputusan, maka tangan dan kaki harus siap menjadi eksekutor.


Harapan yang ditawarkan Shena bukan hanya omong kosong belaka. Gadis itu melakukan semua yang dia janjikan, bahkan tanpa mempedulikan kesehatan yang harusnya digunakan istirahat. Justru menyibukkan diri mengatur beberapa rencana untuk masa depan. Begitulah waktu yang berteman kesepian dengan keras kepala seorang wanita.


Pukul sembilan malam.


Meja dengan kertas yang berantakan menjadi tempat sandaran lelapnya menyambut alam mimpi. Hawa dingin yang menelusup, tak membuat si gadis terbangun dalam keterkejutan. Namun, sentuhan hangat yang mendarat mengusap pipi kanannya. Sentuhan itu, sangat ia rindukan.


"Mas, kamu disini?" Shena mengerjapkan mata, seulas senyuman menyambutnya. Senyuman yang ia rindukan.


Apakah dia bermimpi? Rasanya sudah lama tidak melihat Dan menatapnya dengan senyum tulus yang menghangatkan hati. Jika memang nyata. Apakah itu berarti, sang suami tidak marah lagi? Namun, semua pertanyaan tak akan dijawab, jika tidak ditanyakan pada orangnya langsung.


"Sorry, SheZa." Dan mengangkat kedua tangannya, lalu memegang telinga untuk menunjukkan keseriusannya meminta maaf pada sang istri.

__ADS_1


__ADS_2