Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 39: Terabaikan, Menyendiri


__ADS_3

"Didunia ini hanya ada dua tipe manusia." Shena tak peduli dengan apapun lagi tentang Fatih, ia tahu siapa dirinya. "Satu penjahat, kedua pahlawan. Jadi tanyakan pada dirimu sendiri. Siapa dirimu dalam hidup Mrs. Danish Anderson."


Gadis itu sengaja menekankan namanya yang sekarang menggunakan status yang memang sah di mata agama dan negara. Memang benar dia nyonya dari Danish Anderson. Satu harapannya agar Fatih sadar. Dimana posisi keduanya berada.


Rasanya jleb menusuk ke jantung. Namun, ia tak ingin menyerah karena Shena masih menjadi pujaan hatinya. "Bagaimana kamu yakin itu? Sementara diluar sana. Ka Dan bersama tunangannya, bahkan berjanji akan menemui di cafe yang menjadi langganan mereka."


"Simpan saja pikiran negatifmu untuk dirimu sendiri." Shena melangkahkan kaki menjauh dari Fatih, ia tak peduli dengan pendapat orang lain tentang hubungannya bersama Danish.


Pemuda itu menghentakkan kaki seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya benar-benar merasa kesal karena Shena tidak menanggapi semua yang telah direncanakan. Tidak pernah menyangka. Shena yang sekarang jauh berbeda dari yang dulu.


Padahal, dulu gadis itu sangat mudah percaya. Jangankan kebohongan kecil, kebohongan besar saja dapat diatasi dengan mudah. Siapa sih yang tidak terpikat pada pesona pemuda alim sepertinya? Memang iya, dia terlahir dengan wajah yang terlihat sangat polos.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, lalu tertutup kembali. Seketika Fatih membenarkan ekspresi wajahnya yang kusut, menyunggingkan senyuman manis seperti biasanya. "Hay, Ka. Kok baru sampe?"


"Hmm. Aku ke atas dulu." balas Danish tak ingin berlama-lama dibawah.

__ADS_1


Ada yang mengusik pikiran pria itu. Senyuman manis adiknya, seakan berkata lain dari sorot matanya. Apalagi mengingat peristiwa pagi hari. Dimana Fatih bersikeras agar Shena bisa mengikuti proyek yang akan mengubah masa depan. Mengingat itu, Danish menghentikan langkah kakinya.


"Ada keperluan apa kamu ke kampus itu?" tanya Danish tanpa menoleh ke belakang.


Fatih menyeringai, secara cepat mencari solusi untuk kegagalannya. "Ka, sebenarnya aku yang akan menjadi partner proyek new generation. Makanya, aku mengatakan pada Ka Dan untuk setuju. Selama proyek berlangsung, aku sebagai adik ipar bisa menjaga kakak ipar."


Rayuan yang manis, tetapi Danish tidak menelan semua perkataan adiknya mentah-mentah. Ia sadar, jika sang istri tidak suka bersinggungan dengan Fatih. Belum lagi, jika cerita yang dikatakan oleh Shena benar adanya. Maka, sebagai suami harus melindungi istrinya.


"Dimana Papa dan Mama?" tanya Danish mengalihkan topik pembicaraan, membuat Fatih mengumpat di dalam hatinya yang penuh rasa iri.


Setelah usai basa basi. Danish berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Ia ingin melihat istrinya sedang melakukan apa. Apalagi, ketika masuk yang menyambut adalah Fatih. Entah kenapa perasaannya tidak tenang. Padahal ini rumahnya sendiri.


Pria itu tidak tahu. Jika Shena pergi ke arah lain. Dimana bisa mendapatkan ketenangan dan juga nafasnya kembali. Permukaan air yang tenang berkilauan. Kaki yang menggantung menikmati dinginnya kolam renang. Pemandangan yang indah memanjakan mata.


Ternyata bukan hanya Danish yang menyukai mawar. Di area kolam renang, ada taman melingkar yang ditanami puluhan jenis bunga mawar. Apalagi bukan hanya satu warna, tetapi banyak warna dengan bentuk dan ukuran berbeda-beda.

__ADS_1


"Ini akan menjadi tempat favorit ku." gumam Shena membiarkan paru-paru kembali mendapatkan oksigen yang sehat.


Kekacauan yang terjadi hari ini. Sudah cukup menguras tenaga dan pikirannya. Ketenangan selalu menjadi kebaikan untuk mendapatkan pencerahan dari setiap masalahnya. Satu persatu, masalah dijabarkan hingga merangkai peristiwa. Shena tengah memilah mana yang harus dilakukan terlebih dahulu.


"Jika Naina tidak bisa mengatakan isi perjanjiannya. Bukankah Siti bisa? Kenapa aku tidak tanya gadis itu saja, ya?" tanya Shena yang bermonolog pada dirinya sendiri.


Kesibukan Shena berceloteh tanpa melihat situasi, membuat Danish tersenyum tipis. Dimana pria itu berdiri di depan pintu kolam renang dengan tangan yang bersedekap di dada. Satu kebiasaan istrinya menjadi memori yang harus ia pahami, hingga ia mendengar sebuah nama tak asing di sebutkan.


Apakah barusan yang ku dengar itu benar? Shena menyebut nama Suryo Anggoro? Bagaimana gadis itu tahu tentang Suryo Anggoro. ~ucap hati Danish penasaran karena nama itu masih berhubungan dengan Fatih.


Bukannya bertanya, Danish justru tetap diam di tempatnya membiarkan Shena melepaskan seluruh pertimbangan hati dan pikirannya seorang diri. Sekali saja, ia ingin tahu. Bagaimana cara istrinya menghadapi, menyimpulkan, lalu menentukan keputusan di setiap masalah yang tengah dihadapi.


Bukan karena tidak peduli. Akan tetapi, ia masih berada di antara ragu dan sanksi. Tidak bisa menjelaskan perasaan dan pikirannya sendiri. Baik maju atau mundur. Tetap saja jadi serba salah. Dimana satu sisi ada Fatih yang sudah di anggap sebagai adik kandung, dan satu sisi Shena yang datang membawa kebenaran.


Kebenaran itu masih abu-abu. Kabut yang tebal enggan memudar. Di sisa kesadarannya, Danish mencoba untuk ikut merenungi segala sesuatunya. Tanpa sadar, pria itu mengikuti metode istrinya. Walau tidak dengan berceloteh seorang diri. Melainkan bicara di dalam hati saja.

__ADS_1


__ADS_2