
Nona makin cantik aja." sanjung Sang manager selalu terpesona dengan penampilan Tiara yang bisa memadukan outfit kekinian, "Mau pesan apa, Non?"
Seulas senyum menghiasi wajah Tiara. Wanita itu memang pawai membawakan diri disetiap suasana dan mengikuti keadaan yang ada. Jadi, tidak heran banyak yang terpesona bahkan mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Latte satu dan cheesecake." pesan Tiara membuat sang manager kembali mencatat, lalu permisi untuk membuatkan pesanan. "Sayang, sudah menunggu lama?"
Dan menepis tangan wanita itu dari pundaknya. Tidak ada lagi hak, dimana Tiara bisa menyentuh sesuka hati seperti dulu. Kini, ia hanya ingin menyelesaikan sisa dari keterlambatan perpisahan. Sudah waktunya, melepaskan orang yang tidak menghargai cinta tulus.
Sikap tak biasa Danish, membuat Tiara cemberut. Dadanya bergemuruh menikmati rasa sakit karena diabaikan pria yang selama ini memberikan kasih sayang, bahkan selalu memanjakan dirinya tanpa memikirkan berapa uang yang dihabiskan.
"Say ....,"
Danish mengangkat tangannya, "Dengarkan aku baik-baik. Selama ini, aku memang mencintaimu tanpa syarat. Akan tetapi, pengkhianatan yang kamu lakukan. Maka, aku Danish Anderson membebaskan Tiara Fernando dari ikatan pertunangan."
Bagai terhantam palu yang besar. Tiara tertegun, tubuhnya lemas seketika. Suara berdengung mengganggu pendengarannya. Apakah semua yang dia dengar itu, benar adanya? Tidak. Pasti hanya salah paham, tetapi tatapan mata serius Dan menghentakkan sisa kesadarannya.
Sang pelayan datang membawa pesanan. Danish beranjak dari tempat duduknya. "Ini pertemuan terakhir. Jangan mengganggu, apalagi datang ke dalam kehidupan ku. Selamat tinggal Tiara Fernando. Assalamu'alaikum."
"Dan! Sayang," panggilan lirih Tiara yang tercekat, pelayan yang mendengar dan juga melihat, ikut membantu wanita itu agar bisa bertahan dengan guncangan yang menghempaskan seluruh jiwanya.
Ingin mengeluh, tapi untuk apa? Danish pergi begitu saja. Runtuh sudah impian menjadi istri dari Danish Anderson. Ternyata ucapan Fatih benar. Jika tunangannya akan melepaskan dia secepat mungkin. Hari itu, telah tiba.
Harapan untuk merajut kebahagiaan. Sirna sudah. Tiara menyingkirkan tangan pelayan yang memegangi kedua lengannya, lalu berlari menyusul Danish. Namun, sayang. Pria itu sudah mengendarai mobilnya pergi meninggalkan cafe. Kini, cafe itu hanya tinggal kenangan.
__ADS_1
Tatapan nanar bergelimang air mata. Sejak pertemuan, tak sekalipun Danish menyayat hatinya. Ia sadar, pria itu selalu menjadikannya sebagai prioritas, tetapi sekarang? Apakah semua yang pernah terjadi. Tidak memiliki arti, lagi? Hancur sudah segalanya.
"Tega kamu, Dan." Tiara menghapus air matanya, "Sampai kapanpun, kamu itu hanya milikku. Jangan salahkan aku, jika harus menggunakan cara licik untuk membawamu kembali dalam pangkuanku."
Rasa sakit di hatinya, tak bisa ditahan. Untuk pertama kali, kebencian hadir untuk pria yang mencampakkan dirinya. Tiara tidak sadar, alasan Dan melepaskan karena pengkhianatan yang dia lakukan. Wanita itu, hidup tenggelam dalam ambisi, tetapi melupakan perbuatan fatal yang dilakukannya sendiri.
Sementara itu, Danish sendiri merasa lega karena berhasil memutuskan hubungan yang ternyata sangat toxic untuk kehidupannya. Pikirannya tidak lagi terpengaruh, apalagi terkontaminasi. Bebas sudah kini untuk memulai hidup baru merajut masa depan bersama Shena. Istri sah yang pantas dicintai.
"Apa aku harus menyiapkan kejutan untuk istriku?" tanya Dan pada dirinya sendiri, entah kenapa tiba-tiba ingin menyenangkan hati sang istri.
Hanya saja, ia tak tahu tentang apa saja yang disukai Shena. Jika ingin memberikan kebahagiaan sederhana, tentu bukan kemewahan. Melainkan niat hati yang tulus dan ikhlas. Sebuah ide terlintas menyunggingkan senyum tampan yang menyebarkan benih-benih cinta.
Kesibukan Danish, membuat pria itu berpikir keras, sedangkan Shena yang memenuhi kepalanya. Gadis itu harus menerima ceramah panjang kali lebar dari Bapak Ibrahim. Setelah keputusan mutlak sang suami, maka dewan komite mencabut separuh dari kekuasaan atas jabatan sebagai senat.
"Shena! Apa kamu mendengarkan bapak?" tanya sarkas Bapak Ibrahim menatap gadis yang menundukkan pandangan, seketika mengembalikan kesadaran dalam diri gadis itu.
Shena tak ingin memperpanjang masalah, dan hanya menganggukkan kepala pasrah. Bukan karena tidak bisa melawan, melainkan ia ingin tetap menjaga suasana yang kondusif di dalam dunia perkuliahannya. Bagaimana jika para mahasiswa tahu? Apakah tidak menimbulkan kekisruhan?
Langkah kakinya berjalan meninggalkan ruang dewan komite. Perlahan menyusuri lorong, sepertinya ini hari terakhir kebebasan yang ia punya sebagai senat. Sudahlah. Tidak penting, jabatan itu hanya untuk menyokong kegiatan para mahasiswa.
Shena berjalan tanpa menengok kanan dan kiri. Langkahnya yang gontai terhenyak terhuyung ke belakang ketika seseorang muncul dari arah berlawanan. Namun, tangannya terbang melayang bersambut tangan seorang pria dengan penampilan klimis yang terus menatapnya.
"Thank's," ucap Shena melepaskan tangan yang menangkapnya hingga gagal jatuh ke belakang, tetapi pria itu tak henti menatapnya seperti tengah terpesona. "Ada apa dengan orang ini? Aneh sekali."
__ADS_1
Tak ingin berlama-lama. Shena meninggalkan lorong pertigaan. Langkah kaki kembali menuju kelas untuk mengikuti pelajaran, sedangkan pria itu tersenyum lebar tanpa melepaskan tatapan mata hingga sang mahasiswa tak lagi menampakkan wujudnya.
Aku akan mencari tahu, siapa gadis itu. Apa ini hari keberuntunganku? Jika iya, harus berpesta. ~batin si pria kembali melanjutkan perjalanannya, niat awal ingin mempertanyakan tentang status pekerjaan yang memang tengah bekerjasama dengan pihak kampus.
Akan tetapi, siapa yang bisa merubah nasib? Akhirnya, debaran di hati kembali menyala. Sinyal jatuh cinta bergema memenuhi kepalanya. Gadis itu, telah mencuri hatinya. Sungguh, terasa begitu istimewa. Dia tidak tahu, rasa yang mulai bersemi bukan ditakdirkan untuk dimiliki. Selain mengagumi saja.
Tiga jam berlalu.
Jadwal yang seharusnya sampai sore. Rupanya terhenti di siang hari. Rapat tahunan yang biasa dipimpin oleh ketua senat, ternyata sudah di ambil alih oleh wakil senat. Tentu atas perintah dari dewan komite dengan alasan Shena memiliki banyak tugas kuliah dan untuk sementara waktu akan vakum dari tugas seorang ketua senat.
Berita yang menyebar seperti hembusan angin mengobarkan api emosi kedua sahabat Shena. Namun, gadis yang memiliki hak atas kursi senat hanya duduk menyandarkan tubuh ke sofa dengan mata terpejam. Ketiga gadis itu bernaung di dalam markas setelah selesai mata kuliah terakhir.
"Shena, kenapa kamu diam saja?" Siti berdiri dengan berkacak pinggang, kemeja kotak-kotak yang sudah tergulung hingga siku seperti preman jalanan.
Sedangkan Naina, mendekati Shena. Lalu mengusap pipi gadis yang diam tanpa kata, "Shena, bisa katakan pada kami. Sebenarnya apa yang terjadi? Tiba-tiba kamu kehilangan hak untuk menjadi ketua senat. Apa semua ini karena diriku? Jangan bilang ....,"
Helaan nafas panjang, Shena hanya mengangkat tangan kanannya tanpa membuka mata. Tidak lagi mendengarkan hal yang tidak memperbaiki keadaan. Apalagi arah perdebatan hanya akan saling menyalahkan diri sendiri. Kini yang harus dilakukan adalah menemukan solusi.
"Shena!" panggil kedua sahabatnya serempak, membuat si perfect girl membuka matanya.
Tatapan mata beralih dari satu wajah ke wajah lainnya. Ia tahu, Naina dan Siti tengah dilanda amarah. Sudah pasti, tidak terima dengan apa yang menimpanya. Namun, semua sudah terjadi. Kenapa harus diungkit lagi? Orang selalu sibuk menggali masa yang sudah lewat.
"Aku akan mengundurkan diri dari senat."
__ADS_1