
Di antara kebencian dan cinta. Manakah yang akan menang? Cinta yang bisa mengorbankan diri atau benci yang bisa menghancurkan bahkan membakar sekelilingnya tanpa diminta. Nyatanya, cinta mengalah demi ketenangan yang akan membuat segalanya nampak baik.
Kabar Naina yang masuk ke rumah sakit dengan cepat menyebar. Bukan hanya Siti, Shena dan Danish. Akan tetapi, Xavier juga tahu karena pria itu melihat segala-galanya dengan mata kepala sendiri. Pria itu memang memata-matai si gadis berkepang sejak keluar dari wilayah kampus.
Tidak akan ada yang mencurigai nya karena jarak pengintaian sangatlah aman. Tak hanya mengamati, beberapa hasil kamera ponselnya bisa dijadikan bukti untuk menjerat pemuda yang kini masih duduk di dalam ruangan gadis itu. Entah kenapa, langkah kaki tak ingin berpindah dari rumah sakit tersebut.
"Dok, bagaimana keadaan Naina? Saya harap tidak luka serius dan bisa pulang ke rumah malam ini," Tante Amora tengah mencoba untuk menuruti permintaan sang keponakan yang menolak dirawat lebih lama lagi, tetapi dokter seperti keberatan dengan ide rawat jalan untuk pasiennya.
Merasa wanita dewasa itu membutuhkan bantuan. Xavier beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri si dokter dan juga Tante Amora yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Ia tahu, Naina hanya ingin menghindar dari pemuda yang menyebabkan semua luka ditubuhnya itu.
"Permisi, maaf jika mengganggu. Dok, tanggung jawab seorang dokter memang merawat dan memastikan pasien mendapatkan pengobatan terbaik, tapi jangan lupa. Kesembuhan itu juga dari dalam pikiran pasien. Tentu tinggal di rumah dengan kehangatan keluarga akan memperbaiki kesehatan mental, dan jika Anda khawatir. Maka kirim suster untuk menjaga dan membuat pasien menurut."
"Ide yang bagus," sahut Tante Amora setuju, hingga membuat Sang Dokter pasrah menurut, lalu menganggukkan kepala menyetujui. "Terima kasih, Dok."
"Sama-sama, Bu. Kalau begitu, saya permisi untuk menyiapkan kepulangan pasien." Dokter berpamitan meninggalkan lorong dimana kamar Naina berada, kini yang tersisa hanya Tante Amora dan Xavier yang berniat ikut pergi.
Namun, tangannya ditahan. "Tuan, apakah kita pernah bertemu?"
Wajah dingin dengan senyum pelit, alis tebal, bibir menggoda. Tatapan mata meremehkan, namun memiliki sesuatu yang tersembunyi di balik ekspresi wajah yang terkesan songong itu. Entah apa, tapi seperti familiar saja, sedangkan Xavier merasa tidak kenal wanita yang kini menggengam lengan tangan kanannya.
"Maaf, bisa lepas?" cetus Xavier dengan lirikan mata ke bawah, membuat Tante Amora menyadari pencegahannya, lalu melepaskan seperti permintaan pria itu.
Begitu di lepaskan. Xavier berjalan meninggalkan Tante Amora, tetapi dari arah lain Shena, Siti, Danish dan Mama Quinara datang bersama-sama. Mereka ingin tahu keadaan Naina yang mendadak masuk rumah sakit. Padahal pagi masih baik-baik saja.
"Nara, kalian disini? Dokter sudah mengurus kepulangan Naina ...,"
"Tan, Shena izin masuk. Siti, ayo!" Shena menarik tangan sahabatnya itu tanpa peduli dengan gumaman yang pasti hanya umpatan terkejut.
Pintu di dorong tanpa mengetuk terlebih dahulu. Fatih terkejut karena kedatangan Shena dan Siti begitu mendadak, tak ingin ketahuan dengan apa yang tengah dilakukannya. Sebuah benda yang terasa tajam tergenggam erat, tetapi seulas senyum tersungging menyambut kedua sahabat sang tunangan.
"Nai, are you okay?" Langkah Shena terhenti, lalu diraihnya kedua tangan gadis yang berwajah pucat dengan tatapan sendu. "Semua akan baik. Aku janji padamu."
Lirikan mata Shena tertuju pada Fatih. Dimana pemuda itu nampak santai, tetapi aroma darah yang tercium dengan jelas. Sudah cukup mengalihkan perhatiannya.Tanpa ingin menunggu konfirmasi, Shena melepaskan tangan Naina seraya mengkode Siti agar menjaga pintu.
Siti menganggukkan kepala paham situasi sudah serius. Langkah kaki berpisah, dibiarkannya Shena berjalan mendekati Fatih yang terlihat tetap tenang. Namun, langkah pemuda itu berusaha menghindar dari gadis pujaan hatinya. Tangan yang bersembunyi semakin mencurigakan.
"Shena, kamu mau ngapain?" tanya Fatih menatap gadis yang kini ada di hadapannya.
__ADS_1
Hening tanpa jawaban. Shena merunduk, memperhatikan tetesan warna merah yang mewarnai lantai. Dicoleknya cairan kental yang memang darah segar, "Nothing, lanjutkan saja apa yang kamu lakukan. Darahmu akan berkurang dan anggap saja sebagai pembersihan seluruh niat burukmu."
Sindiran yang begitu pedas dari Shena, membuat pemuda itu beralih memperhatikan bawahnya. Benar saja, tetesan darah berceceran. Sontak tangannya melepaskan benda yang tergenggam. Tidak lagi terlihat tajam, benda yang terjatuh sudah berlumuran warna merah.
"Siti, pergilah! Pastikan semua orang tidak masuk." tegas Shena tanpa beralih menoleh ke belakang.
Sementara itu, Naina menatap tanpa ingin menolong Fatih. Amarah yang nyata menghantarkan kegelisahan hati yang mendalam, Shena tetap tenang, tetapi tidak dengan emosi gadis itu. Kepalan tangan dengan tatapan mata tajam sudah cukup menjelaskan segalanya.
Manusia selalu berpikir, rasa takut di dapat untuk mendapatkan empati orang-orang sekelilingnya. Akan tetapi, bagi Shena tidak ada rasa takut kecuali amarah dalam murkanya. Kini gadis itu sadar, nyawa Naina dalam bahaya. Tidak perlu bukti untuk menjerat pemuda yang kini sibuk membersihkan darah menggunakan tisu yang tersedia di ruangan rawat.
"Nai, biarkan malam ini menjadi kebebasan terakhir untuk calon suamimu. Aku janji, setelah hubungan kalian terputus. Saat itu juga menjadi hukumannya atas semua penderitaanmu. Ini janji Shena Danish Anderson.'' ucap Shena dengan tangan di atas kepala Fatih, janji yang membuat pemuda itu mendongak menatap kearahnya.
Tidak habis pikir dengan keberanian Shena. Apapun yang akan terjadi, semua harus sesuai dengan keinginannya. Termasuk mendapatkan istri dari kakak angkatnya karena semua peperangan tidak akan menjadi kemenangan, jika keluarga Anderson masih memiliki kebanggaan. Tidak peduli harus sepicik apa untuk mewujudkan impiannya itu.
Sementara itu, sebuah pesawat baru saja mendarat dengan penumpang berjumlah dua ratus orang. Di antara kerumunan para penumpang, empat orang keluar bandara melalui jalur khusus yang langsung dikawal beberapa petugas bandara secara ketat. Siapa lagi? Jika bukan Papa Anderson bersama Eisha dan dua bodyguard.
Setelah mencapai tempat parkir. Sebuah mobil sudah menunggu kedatangan mereka, lalu satu persatu memasuki mobil, kemudian kendaraan roda empat tersebut meninggalkan bandara yang teramat ramai di hari biasa. Ponsel yang masih dalam keadaan off daya, membuat Papa Anderson mengistirahatkan tubuhnnya sejenak.
''Eisha, istirahatlah! Setelah hari ini, mungkin kedamaian akan bersembunyi dari hidup kita.'' ucap Papa Anderson, pria itu sudah memejamkan mata menyambut alam ketenangan yang hanya menghitung beberapa saat saja.
Tidak. Bagaimana bisa istirahat? Hatinya terus menjerit ingin tahu kabar dari sang putra. Rasa sesak yang terasa membelenggu semakin menyiksa hatinya. Pertemuan yang selama ini hanya menjadi penantian semata. Sudah pasti akan berganti menjadi kenyataan.
Temaram senja menuju peraduan menghangatkan alam, lalu menyambut kegelapan malam tak bertuan. Eisha mengalihkan perhatiannya, wanita itu sibuk menatap ke luar jendela, sedangkan mobil terus melaju menyusuri bahu jalan. Kerlap-kerlip lampu mmengigatkan akan sekilas masa lalu.
Andai saja semua itu hanya mimpi buruk, mungkin hari ini keluarganya hidup bahagia. Penyesalan selalu datang setelah semua mimpi hancur tanpa meninggalkan jejak. Seperti kisah yang terlupakan. Pernikahan yang di gadang-gadang akan menjadi kebahagiaan nyata, ternyata hanya belenggu nestapa.
Semua itu bermula hanya karena satu rasa yang biasa disebut sebagai cinta. Cinta itu buta. Benar, semua yang dilandaskan cinta dalam hasrat. Maka tidak akan bisa bertahan, walau mencoba untuk mempertahankan.
Ini kisah cintanya bersama dia yang telah tiada. Bisa dikatakan, inilah awal mula dari lahirnya seorang pemuda yang kini menjadi sumber masalah untuk semua orang di sekitarnya. Iya tak pernah menyangka akan melahirkan putra yang justru membawa badai dalam diam.
Sekelebat bayangan menghantui dirinya. Bayang-bayang itu menyatu membentuk wajah seorang pria yang masih saja memenuhi lubuk hatinya. Meski hubungannya dengan pria itu tak mendapatkan dan berakhir pada keputusan emosi sesama anak muda yang begitu nekat melakukan kawin lari.
Fatih, pemuda itu adalah putra dari hasil pernikahan yang memang tak direstui kedua keluarga. Namun, semua kenangan itu berubah menjadi abu karena kini ia hanya bisa meratapi nasib. Hidup yang sungguh pedih dengan duka di dalam hatinya.
Bagaimana kehidupan akan dijalani? Ketika semua miliknya telah sirna tanpa ada sisa. Mungkin orang akan berpikir kenapa seorang Anderson mau mengadopsi pemuda yang asal usulnya saja tidak jelas. Pria satu itu menyadari siapa Fatih dan apa hubungannya dengan pemuda itu.
Akan tetapi, semua itu justru berakibat fatal karena pemuda yang merasa hidupnya hancur karena keluarga Anderson justru mengharapkan kehancuran bagi keluarga tersebut.
__ADS_1
Dunia macam apa? Satu sisi ada kasih sayang dan di sisi lain hanya ada kebencian. Jika mencoba untuk menyatukan akan tetap saling menyakiti dan juga tak pernah bisa mengasihi. Kehidupan ini seperti badai dalam diam yang tak nampak, tetapi menghanyutkan.
Alih-alih membuat keputusan yang tepat sejak lama. Eisha baru memutuskan pilihan hidupnya, tetapi di saat keadaan semakin menyekap rasa. Ia tidak menyangka, jika sang putra akan bertindak begitu jauh dari kata penyimpangan.
Apapun yang akan terjadi nanti. Dirinya juga turut andil untuk memperbaiki. Dilema dan kegelisahan yang terus menggerogoti hati wanita itu, juga di rasakan oleh orang lain. Wajah yang tertekuk dengan seulas senyum datar.
Ia ikut bertanggung jawab atas kehampaan yang terjadi di dalam hidup seseorang. Setelah sekian lama, akhirnya menemukan wajah yang selama ini ia cari. Wajah itu sangat dirindukan, namun akankah kehidupan mereka kembali seperti semula?
Ketika dengan jelas semua takdir telah dihancurkan dengan tangannya sendiri. Bagaimana ia akan menyelesaikan kerumitan di dalam hidupnya. Satu nama yang terucap dari bibirnya kembali menghentakkan kesadaran yang tersisa.
"Amora," gumamnya lalu memejamkan mata menggambarkan kecantikan wanita dewasa yang kini semakin menunjukkan pesonanya.
Di saat ingin menjemput sang putra yang kebetulan mengatakan ada di rumah sakit. Tatapan matanya tak sengaja menemukan rintik hujan yang membasahi hati setelah musim kemarau panjang dalam hidupnya. Ingin sekali berlari memeluk wanita itu.
Hanya saja, langkahnya terbebani akan dosa yang tidak termaafkan. Andai waktu bisa diputar kembali. Pasti ia akan bersujud untuk meminta ampunan dan membuat kehidupan menjadi lebih baik lagi. Hanya berandai-andai, tanpa bisa mewujudkan mimpi yang semu.
Tiba-tiba sentuhan tangan yang mengenggam pundaknya menghayutkan seluruh lamunannya. "Nak, tumben ke kamar Papa. Apa kamu memerlukan sesuatu?"
"Gak kok, Pa. Vier hanya mau memastikan kondisi Papa lebih baik. Bagaimana terapinya? Apa semua berjalan lancar?" tanya balik Xavier membuat sang papa tersenyum lebar, tangan yang mulai memiliki keriput itu membimbingnya untuk ikut duduk di tepi ranjang.
Entah sudah berapa lama. Keduanya tidak memiliki waktu bersama. Padahal dulu sebelum sang Papa mengalami kecelakaan. Setiap hari seusai bekerja, akan ada sesi menikmati waktu sekedar untuk berbincang hal random menghabiskan waktu untuk mendekatkan hati.
"Vier, kapan kamu menikah, Nak?" tanya Papa menatap putra tunggalnya yang nampak semakin dewasa, tetapi sifat keras kepala dan mau menang sendiri semakin menjadi-jadi.
Ia sadar telah gagal mendidik Xavier, namun dari lubuk hati terdalam masih mempercayai bahwa suatu saat nanti. Putranya akan mendapatkan gadis yang tepat dan bisa mengajarkan arti kasih sayang. Semua kekurangan dalam diri sang putra akan menjadi dorongan lebih baik di masa depan.
"Pa, come on. Aku masih muda, lagi pula fokus ku hanya untuk kesembuhan Papa dan bukan mencari jodoh. Jadi, please leave it." keluh Xavier tak ingin memperdebatkan hal sama, ia ingin memiliki waktu hanya untuk berdua sebagai ayah dan anak.
Tidak akan berguna mendesak Xavier. Pria satu itu akan melakukan pemberontakan, "Baik, seperti keinginanmu. Sekarang jelaskan pada Papa, ngapain ada dirumah sakit? Apa ada karyawan yang masuk kesana?"
Apakah harus mengatakan pada papanya tentang Naina? Bagaimana jika menjadi salah paham. Tidak. Masalah kali ini akan ditanganinya sendiri. Biarlah sementara waktu mencari kebenaran yang bisa memberikan jawaban atas semua rasa penasarannya.
Lamunan yang membawa Xavier terbang ke dunia lain, membuat Papa pria itu tersenyum tipis. Tangannya terangkat mengusap kepala sang putra, "Vier, jika kamu merasa tidak nyaman untuk bercerita. Papa tidak masalah, tapi percayalah pada dirimu sendiri. Kamu bisa melewati rintangan dalam hidup yang memang kejam."
Xavier menganggukkan kepala. Bibirnya memilih diam, tetapi tetap menyetujui nasehat sang Papa karena pria itu akan selalu mendoakan kebaikannya. Waktu berlalu menjemput kegelapan yang menyelimuti dunia. Tidak ada harapan yang meninggalkan kesendirian.
Sementara itu, iringan mobil mulai meninggalkan pelataran rumah sakit. Dua mobil dengan satu sepeda motor menerobos bahu jalan tanpa ada yang menyalip. Ketiga kendaraan itu berjalan menyeimbangkan kecepatan satu sama lain, tetapi di saat melewati persimpangan jalan utama. Justru motor yang berada paling belakang berbelok ke arah lain.
__ADS_1
Laju kendaraannya dipercepat menyapa angin yang berhembus semakin dingin. Kini seluruh pikiran bercampur menjadi satu. Tidak ada ketenangan di dalam hati dan kepalanya karena yang tersisa hanya ketidakberdayaan. Setelah sejauh ini, usahanya terancam gagal dan itu tidak bisa dibiarkan.
Aku harus meminta bantuannya. Cuma dia yang menjadi pilihan terakhirku.~batinnya dengan menambahkan kecepatan motornya lagi.