
Selera yang bagus, atau suamiku memang mencintai bunga? Rumah saja memiliki kebun mawar sendiri. Jangan-jangan, bisnis selanjutnya juga perkebunan. Amiin, aku bisa memetik bunga sesuka hati." monolog Shena pada dirinya sendiri tanpa menghentikan langkah kakinya menapaki rerumputan hijau taman.
Suasana taman tidak begitu ramai. Terlihat beberapa orang yang duduk menempati bangku taman secara acak. Shena terus berjalan seraya mengedarkan pandangan mencari keberadaan suaminya, tetapi tiba-tiba ada seorang anak datang menghampiri memberikan sekuntum bunga mawar merah.
Belum sempat berterima kasih. Anak-anak yang lain ikut bermunculan memberikan bunga yang sama hingga kedua tangannya hampir tidak bisa menggenggam semua bunga. Namun, kedatangan seseorang yang berdiri di belakangnya. Orang itu membantu mengikat bunga menggunakan kain putih dengan motif kupu-kupu.
"Selamat datang, SheZa. Today's your day my wife." Bisik Danish, lalu menggeser tangan untuk menutup kedua mata sang istri.
"Mas, apa harus pake tutup mata?" tanya Shena berusaha untuk melakukan nego, jujur saja ia benci mata tertutup.
Ada rasa sesak dan engap. Entah itu fobia atau hanya trauma kecil, tetapi setiap kali mata ditutup. Rasa takut menyergap hatinya.
"Kejutan akan lebih terasa. Jika tidak melihat sisa perjalanan, tetapi hanya fokus pada tujuan. Just trust me," balas Dan menenangkan istrinya.
Anak-anak mengikuti langkah pasutri itu menuju tengah taman. Dimana sebuah persiapan piknik menjadi pilihan yang terbaik. Bukan piknik biasa, karena ia juga mengundang anak yatim piatu dari panti asuhan terdekat.
Langkah awal untuk hubungan baru mereka. Danish ingin syukuran dengan cara yang baik dan bisa menyenangkan hati banyak orang. Ketika semua sudah berdiri di posisi masing-masing. Pria itu melepaskan tangannya. Lalu membisikkan agar Shena membuka mata.
__ADS_1
Kelopak mata yang mengerjap perlahan, bersambut rerumputan hijau di bawah kakinya. Lalu nampak ada tikar besar yang digelar dan diatasnya banyak makanan serta minuman. Piknik dadakan? Pandangan mata beralih menatap pria yang berdiri di samping kanannya. Anggukan kepala mengiyakan apa yang ia pikirkan.
"Mas, semua ini, untuk apa?" tanya Shena memastikan, namun suaminya hanya mengangkat tangan menunjuk ke arah depan.
Dimana anak-anak yang berdiri sudah memegang spanduk panjang dengan tulisan yang begitu manis mengharukan. Shena Az Zahra, Welcome to my life. Mari kita rajut masa depan bersama hingga maut memisahkan. Mulai hari ini, kamulah istri Danish Anderson.
"Hubungan antara aku dan Tiara sudah berakhir. Sesuai janjiku, kamu adalah jodohku. Maka, demi rumah tangga kita, aku siap untuk bertanggung jawab." jelas Danish menyunggingkan senyum terbaiknya.
Sepanjang hari yang dipenuhi drama dengan segala rasa bercampur menjadi satu. Rasa lelah, sedih, dan kecewa. Semua rasa itu berganti kebahagiaan dengan rasa syukur yang tidak terkira. Apalagi penyataan Danish akan rumah tangga mereka yang bisa dimulai tanpa rasa takut tentang masa lalu.
"Tuan, apakah kalian tinggal di daerah ini?" tanya Ibu Panti yang duduk di dekat Danish.
Danish menghentikan aktifitasnya mengambil foto sang istri, lalu menoleh ke samping, "Tidak, Bu. Rumah kami justru beda arah, tapi seperti yang saya katakan. InsyaAllah keluarga ku akan menjadi donatur tetap mulai bulan ini. Semoga ini bisa menjadi kebaikan bersama."
Setelah acara berakhir. Danish dan Shena kembali ke dalam mobil. Semua acara berjalan lancar, bahkan yang tertinggal hanyalah kenangan manis. Pasutri itu menikmati piknik sore hari dengan suka cita, dan kini saatnya untuk perjalanan pulang ke rumah mereka
"SheZa, bagaimana kuliahmu hari ini? Apa semuanya lancar." Danish bertanya walau tengah sibuk menyetir, sesekali melirik ke arah sang istri yang memilih menatap keluar jendela.
__ADS_1
"Semua baik, Mas. Akan tetapi, aku telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan senat. Apakah semua akan baik-baik saja?" tanya balik gadis itu yang meragukan keputusannya sendiri.
Ada apa dengan istrinya? Dari cara bicaranya pasti terjadi sesuatu yang besar. Sudah tugasnya untuk memahami masalah Shena. Maka dengan lembut, ia meminta gadis itu untuk bercerita keseluruhan dari seluruh peristiwa yang terjadi dari masuk gerbang kampus hingga keluar pada sore harinya.
Rasa penasaran Danish mulai terjawab. Sang istri bercerita dari satu masalah yang berakibat ke masalah lain. Skorsing yang diterima, pengalihan jabatan tanpa izinnya dan juga ketetapan akan mengundurkan diri dari jabatan senat. Namun, gadis itu tidak mengatakan akan niat Fatih yang pasti bisa melukai hati Danish.
"SheZa, jika kamu merasa jabatan itu hanya menjadi tameng kekuasaan para dewan komite untuk mengancammu. Lepaskan saja," Danish tak ingin istrinya mengalami masalah hanya karena satu keputusannya yang tidak memberi izin atas proyek kerjasama.
"I know, Mas. Final decision, I will leave it." jawab Shena yang kini merasa lega karena sudah berbagi dengan suaminya.
Danish mengusap kepala gadis itu, ia bangga memiliki istri yang tangguh. Di tengah banyak cobaan. Justru berani melepaskan kekangan yang akan menjadikannya budak kekuasaan.
"SheZa, untuk proyekmu. Apa kamu punya team yang bisa dipercaya atau harus cari orang luar untuk bekerjasama?" tanya Danish mengalihkan topik yang jauh lebih baik dan akan mengembalikan semangat istrinya.
Shena menggeser posisi duduknya, bahkan melepaskan sabuk pengaman. Tatapan matanya terus menatap Danish, "Mas, kenapa tanya soal team? Proyek new generation bisa dibentuk team secara keseluruhan dengan mengambil beberapa pemilik usaha. Kurang lebih seperti itu."
"Ok, siapkan teamnya dan kita bisa meeting. Bagaimana jika besok siang?"
__ADS_1