Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 95: Dan menjelaskan, Kegilaan Fatih


__ADS_3

Satu nama yang datang menyapa membawa badai tak bertuan. Bagaimana bisa seperti itu? Shena bertukar tempat dengan Tiara. Fatih yang menghilang di hari insiden, lalu operasi wajah yang dilakukan menantunya. Kemudian ketenangan yang disertai kebahagiaan nyata.


Apakah semua itu hanyalah drama? Jika iya, bagaimana menjelaskan kebenaran di tengah rasa yang tidak bisa diterjemahkan. Otak maupun mencerna bahkan sudah mendapatkan titik terang, tetapi hati masih memiliki sedikit pertanyaan yang tidak bisa dihilangkan. Bukan ragu lagi, hanya saja semua yang terjadi seperti tamparan keras.


"Nak, Papa tidak punya kata lagi untuk semua yang terjadi. Kebenaran ini seperti hujan petir siang hari yang menyengat." Papa Anderson melepaskan tangan Danish yang masih memegang dirinya, kemudian memilih duduk di tanah tanpa alas apapun.


Tatapan mata ke depan melihat pepohonan hijau yang terasa begitu menyegarkan. Apa gunanya pemandangan indah itu? Ketika jiwa meradang memaksakan diri untuk menerima kenyataan pahit. Padahal yang harusnya shock adalah Danish. Mungkinkah sang putra sudah menyiapkan diri untuk semua itu?


Kehancuran hati yang terpancar dari sorot mata sang papa, membuat Danish bertanggung jawab atas kesedihan itu. Jika boleh, ia ingin menyembunyikan kebenaran, tetapi sadar akan kondisi keluarga yang bisa saja tiba-tiba tertekan di bawah ancaman. Bukan tidak mungkin Tiara akan memanfaatkan bayinya.


"Dan, bayi itu. Apakah dia anakmu?" tanya Papa Anderson seakan terkoneksi dengan pikiran putranya yang baru saja memikirkan satu masalah sama, tatapan mata mendongak memperhatikan Danish yang masih berdiri di sebelahnya. "Dan?"


Danish menggelengkan kepala, "Dia anak dari pria lain dan jika tidak salah prediksi. Bayi itu anak dari Fatih. Semua yang terjadi sudah direncanakan dan aku harus mengurutkan setiap insiden untuk menemukan kebenaran sepenuhnya."


"Bagaimana mungkin bisa Fatih? Papa rasa pria itu orang lain, Dan." tolak Papa Anderson yang memiliki keyakinan lain, pasalnya Fatih dikabarkan telah meninggal dunia dan ia memang sengaja belum mengatakan apapun pada keluarganya.

__ADS_1


Ketegasan yang Dan dengar dari sang papa, membuat pria itu ikut mensejajarkan tubuhnya dengan duduk di sebelah Papa Anderson. Lalu kembali mengambil ponsel, beberapa detik kemudian menunjukkan video dengan durasi tiga menit. Dimana video itu merekam keberadaan Fatih di sebuah pusat perbelanjaan.


Wajah yang jelas, padahal pemuda di dalam video itu mengenakan kacamata hitam dan juga topi yang menenggelamkan setengah kepalanya. Akan tetapi dari pantulan kaca jelas menunjukkan wajah yang begitu familiar. Benar itu Fatih dan tidak mungkin orang lain.


"Aku sudah mencoba mengerahkan semua anak buah untuk mencari rumah tempat Fatih tinggal sekarang. Waktu yang lama hingga detik ini, mereka selalu kehilangan jejak. Fatih berpindah-pindah dan itu pasti dilakukan demi menghindari pengejaran ku." Dan menjelaskan tanpa ada penghalang, ia ingin semua jelas hari ini agar bisa mendapatkan dukungan sebagai sumber semangat.


Di tengah panasnya sinar mentari, kedua pria saling bercengkrama melibatkan satu sama lain dalam percakapan panjang nan berat. Sementara itu di tempat lain, tepatnya di cafe tengah terjadi pertemuan rahasia. Seperti pria yang menggenggam tangan wanitanya dengan tatapan mata menggoda.


Wanita itu menarik tangannya, "Stop tatapan nakalmu itu! Jadi, apa rencanamu sekarang? Apakah membuang bayinya atau menukarkan tempat kedua bayi itu agar bisa menyelesaikan masalah tanpa harus menambah masalah. Anggap ini sebagai balasan terakhir, kuharap kamu paham."


"Ide mu bagus, tapi jika aku memutuskan gegabah. Apa itu memberikan keuntungan? Jika aku merawat bayi itu, bukankah Shena akan jatuh cinta denganku? Yah, pasti itu." Fatih menyombongkan diri akan pemikiran sempitnya.


Sadar benar akan kebenaran pahit itu, membuat Fatih tersenyum getir. "Huft, gue beneran bingung. Status, cinta dan paksaan. Gue udah coba semuanya, tapi Shena tidak pernah menganggap aku ada. Apakah harus ku balaskan rasa sakit di hatiku pada bayi itu? Bagaimana jika ku jual? Lalu membiarkan anak malang itu menjadi pengemis jalanan."


"Beneran gesrek anak satu ini," Wanita itu membentak Fatih tanpa mengingat situasi yang ada hingga menyita perhatian beberapa pelanggan. "Cinta? Sampai kapan totalitas drama yang kamu curahkan? Shena memang tidak ingat apapun karena obat yang selalu diminum, tapi kita tahu kebenaran tanpa harus diingatkan. Paham gak?"

__ADS_1


Fatih menggelengkan kepala, bukannya tidak paham hanya saja enggan memikirkan hal tidak penting. Lagi pula, ia sadar bahwa Shena hanya membutuhkan waktu untuk menerimanya sebagai kekasih terbaik. Siapa yang rela melepaskan kemewahan hanya untuk cinta di zaman sekarang? Obsesi itu hanya kata karena kenyataan menyebut rasa itu cinta mati.


Seperti teriakan di depan tebing, suara itu hanya memantul kembali menampar kesadaran. Percuma menasehati pria yang kehilangan akal karena jatuh cinta. Jangankan untuk menggeser kesadaran, di dengar saja tidak. Bagi Fatih nasehat hanya angin lalu yang tidak perlu ditanggapi. Yah kurang lebih seperti itu, meski terkesan tidak sangat tidak jelas.


"Gue gak gesrek." bantah Fatih seraya menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja. Ponsel yang di balik menghadap wanita di depannya, "Bisa urus dia? Gue mau tahu keadaannya di sana setiap waktu."


Foto seorang wanita yang baru saja melahirkan dan kini tinggal di salah satu kamar rawat terbaik di sebuah rumah sakit. Siapa lagi jika bukan foto Tiara yang menggantikan posisi Shena sebagai istri sang kakak angkat. Bagaimana ia tahu? Yah karena semua yang terjadi atas izinnya yang membuat rencana ganda demi kebaikan bersama.


"Deal, tapi aku punya syarat. Terserah kamu mau menerima atau menolak." sahut Wanita itu dengan seulas senyum smirk, membuat Fatih mencebik kesal.


Di sini tidak ada yang berkuasa. Bagaimanapun keduanya saling membutuhkan, meski persentase kepentingan tidak akan selalu sama. Fatih hanya membutuhkan jaringan pertemanan agar bisa memantau keadaan dan menghindari pencarian yang dilakukan kakak angkatnya, sedangkan wanita itu hanya ingin mendapatkan kepuasan ranjang.


Diamnya Fatih memberi jawaban atas ketidakberdayaan, "Syaratnya mudah kok, kamu cuma perlu melayani dua nona yang baru saja dikirim untuk menjadi primadona. Barang mulus bahkan masih segel. Jadi keuntungan dua kali lipat, gimana? Gak rugi 'kan."


"Loe yakin? Nona yang loe maksud itu masih segel? Jangan sampai kaya terakhir, barang rusak mana lembek. Yah memang sih permainannya gue akui lebih jago." tukas Fatih tanpa tedeng aling untuk menyampaikan pengalaman bermalam yang terjadi dua bulan lalu.

__ADS_1


Bukan ingin menghina, tetapi ia tak tahan untuk tidak tertawa. Sesaat melepaskan rasa tegang untuk kembali bersikap tenang dalam kebersamaan. Tak ingin menambah waktu pertemuan, ditunjukkannya foto dua gadis kembar dengan penampilan sederhana berpakaian lusuh. Gadis yang cantik, hanya saja tidak terawat.


"Boleh juga, siapa namanya?" tanya Fatih langsung jatuh hati melihat si kembar.


__ADS_2