Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 99: Mencoba untuk...


__ADS_3

Orang jatuh cinta selalu memiliki energi lebih untuk meraih impian yang jatuh terperosok menyentuh harapan tertinggi. Hanya saja, manusia lupa bahwa tak semua cinta hadir untuk di miliki. Hati yang berdetak hanyalah wujud dari rasa.


Sejenak melupakan dunia yang penuh tipu muslihat. Wanita itu telah menemukan tambatan hatinya, walau ia menepis fakta dunia nyata yang mungkin saja akan menyakiti hati tanpa diminta. Sementara Rafael trus berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya.


Pria itu benar-benar khawatir karena Danish tidak ada kabar. Sejak semalam menunggu, tetapi tidak ada tanda akan kedatangan sang teman. Padahal tiket sudah dipesan, lalu kemana gerangan pria satu itu pergi? Apa mungkin menyusuri semua tempat yang pernah ditinggali Shena?


Bingung bukan main karena di sisi lain ia sudah mendapatkan pesan agar segera membawa Dan pulang ke rumah. Situasi di rumah yang mulai tidak terkendali, membuat keberadaan sang teman sangat dibutuhkan. Maka dari itu rasa khawatir semakin meningkat.


Penantian terus berlanjut hingga Rafael lupa akan segalanya. Pria itu hanya duduk termenung di depan rumah. Padahal perut terus berbunyi meminta asupan. Lapar karena sejak perpisahan di cafe, tidak sesuap nasi pun masuk mengisi perutnya. Bagaimana lagi? Selera makan saja sudah hilang entah kemana.


Satu jam kemudian, sebuah mobil berhenti di depan pintu gerbang rumahnya. Ketika seseorang membuka pintu belakang seraya memegang kepala, lalu turun hingga menampakkan wajah. Sontak saja Rafael berlari menghampiri Danish yang terlihat kacau balau. Apalagi seorang bodyguard mengatakan bahwa Danish mabuk berat.


Antara percaya dan ragu karena ia tahu benar seperti apa temannya itu. Sejak mereka kenal, Dan tidak sekalipun berminat menyentuh minuman haram itu. Akan tetapi sepertinya luka dan tekanan batin yang dialami pria satu itu menjadi penyebab utama kekacauan di dalam kehidupan sederhana.

__ADS_1


Setelah mengucapkan terimakasih, Rafael membawa masuk Danish. Ia tak lupa mengabari keluarga Anderson jika penerbangan tertunda karena urusan pekerjaan mendadak. Alasan yang masuk akal dan tidak akan membuat kepanikan keluarga. Sebagai seorang teman, maka ia harus melindungi sebagai saudara.


Biarlah Rafael menjaga Danish hingga sadar kembali, sedangkan di tempat lain dimana hanya ada kesunyian yang menghantarkan pertanyaan. Awalnya hanya ketegangan hingga sebuah panggilan menjadi bumerang. Tatapan mata nanar dengan air mata yang mengalir dalam diam.


"She ...," Fatih berusaha meraih tangan gadis yang duduk di lantai dengan tubuh gemetaran, tetapi semakin mendekat justru rasa takut itu menguasai relung mata sang pujaan hati. "Please dengerin aku dulu."


Ingin berteriak, sayangnya bibir terasa kelu. Di sisa kekuatan yang ia punya mencoba untuk menjauh dari pria yang selama ini dianggap sebagai pasangan terbaik. Panggilan yang berdurasi selama lima menit berhasil meratakan kepercayaannya. Tidak ada lagi yang tersisa.


Hancur? Entah kenapa ia merasa takut berdekatan dengan Fatih. Pria itu seperti monster yang memakai topeng malaikat. Terlihat sangat baik, tetapi menyesatkan. Lalu siapa yang bisa ia percaya sekarang? Duka yang menyapa hanya ia genggam seorang diri.


"She, semua hanya salah paham. Serius, tidak ada pengkhianatan yang aku lakukan." ucap Fatih mencoba meyakinkan Shena hingga tak mampu lagi menahan diri menyambar tubuh gadis itu dengan cengkraman tangan yang erat. "Apa kamu ragu denganku? See me!"


Tanpa sadar Fatih membentak Shena. Bukannya membaik, gadis itu langsung mendorong pria yang menekannya hingga terjerembab ke belakang. Lalu berlari ke luar meninggalkan kamar, langkah kaki terus bergerak maju tanpa peduli apa yang terjadi di belakang. Rasa sesak di dada tak mampu terbendung lagi.

__ADS_1


Suara pintu yang terdengar begitu kencang mengejutkan Fatih. Sembari menahan sakit akibat membentur lantai cukup keras, ia berusaha untuk bangkit berdiri. Perlahan berjalan dengan langkah kaki yang tertatih. Ia tahu, semua salah si penelpon, tapi yang lebih penting adalah mengembalikan ketenangan Shena.


Semua terjadi karena keteledoran yang dilakukannya sendiri. Dimana meninggalkan ponsel tanpa mengunci layar si benda mati. Satu panggilan dari orang masa lalu, membuat Shena mendengar kebenaran yang tidak seharusnya. Walau ingatan tidak bisa mengingat kehidupan yang lalu.


Gadis itu masih tetap pintar dengan akal yang waras. Bahasa serumit apapun akan mudah dipahami. Apalagi bahasa sederhana, tentu menjadi penjelasan tanpa pagar pembatas. Kebenaran yang dimaksud adalah bahwa Shena bukanlah pasangannya, melainkan istri curian.


Kebenaran itu berlanjut dengan informasi tentang Tiara yang selamat di meja persalinan melahirkan buah hati pertama mereka. Seperti gempa bumi dadakan yang tidak bisa dihindari. Kenyataan datang menghantam tanpa permisi. Lagi dan lagi tanpa berkata aku datang untuk menghancurkan.


Kini Fatih mencoba untuk mengubah keadaan dengan terus membujuk Shena yang mengurung diri di kamar bayi. "She, please bukain pintunya."


Hening. Fatih berulang kali memanggil nama gadis itu, tetapi tetap diabaikan. Benar-benar semakin menyiksa hati yang semakin tidak bisa menahan diri untuk tetap sabar. Sementara yang dipanggil duduk terdiam dengan tubuh gemetar. Selimut tebal membungkus menyelimuti tubuhnya.


Di disini Fatih bertahan dengan harapan bisa meluluhkan hati Shena. Akan tetapi di kediaman lain masih berlangsung sesi makan bersama dengan ketenangan yang teramat dalam, bahkan terkesan suram walau berteman senyuman. Siapa yang tahu isi hati dan pikiran? Tak seorangpun karena begitulah kehidupan.

__ADS_1


"Nak, kenapa makanannya cuma di aduk? Makanlah, ingat kamu harus memberikan asupan nutrisi yang baik untuk ...,"


__ADS_2