
Ponsel ditarik kembali tanpa menjawab pertanyaan Fatih. "Peraturan masih sama. No debat, so kapan punya waktu?"
"Shena baru saja melahirkan. Gak mungkin gue tinggal, bisa nunggu sebulan?" Fatih memulai negosiasi yang memang tidak bisa ditoleransi dengan waktunya.
Boleh saja memenuhi syarat dari wanita yang selama setahun ini menjadi pelindungnya, tetapi ia tidak bisa melepaskan Shena tanpa pengawasan. Bukan karena tidak percaya, hanya saja gadis satu itu harus mendapatkan obat rutin agar ingatannya tidak kembali pulih.
Setelah sekian lama berusaha dan mendapat kesempatan untuk mempertahankan sang pujaan hati. Bagaimana ia akan mengendurkan pengawasan? Tidak, jangan sampai ada yang mencuci otak Shena agar kembali ke masa lalu. Maka dari itu, setiap tindakan harus diperhitungkan.
''Terserah, lagian bantuan hanya di dapat setelah kesepakatan terjadi. Apa kamu lupa dengan semua peraturan yang selalu menjadi kunci utama kerjasama? Apa perlu diingatkan lagi?" cecar Wanita itu tanpa emosi karena baginya pekerjaan baik harus disegerakan."
Penekanan yang selalu menyudutkan Fatih. Ia sadar bahwa di sini yang membutuhkan bantuan itu adalah dirinya dan bukan wanita yang duduk berhadapan dengannya. Jadi secara keseluruhan, tidak ada untung apalagi rugi jika menolak kesepakatan.
Sesaat memikirkan setiap poin dalam kehidupannya. Menyatukan kepingan masalah yang datang tanpa permisi, lalu menguraikan untuk mendapatkan solusinya. Diam termenung berteman suara ketukan meja yang menenangkan pikiran.
"Ok, bisa kirim si kembar ke hotel yang biasanya?" tanya Fatih mencoba menerima pekerjaan itu, meski harus menekan kata hatinya.
Wanita itu menggelengkan kepala, ''Si kembar masih dalam perjalanan dan akan diturunkan di tempat seharusnya. Jadi kamu yang harus menjemput mereka di tempat yang sudah ditentukan. Tenang soal bayarannya, kali ini berbeda dari yang sudah-sudah."
"Bayaran? Gue butuh visa, paspor baru ke negara lain. Pastikan tiket juga langsung dipesan. Soal uang, loe tau gue punya banyak. Jadi berikan titik penjemputan, nanti sisanya gue atur sendiri." tukas Fatih tanpa sungkan.
__ADS_1
Obrolan yang semakin intens, tetapi kedua orang itu tidak tahu dalam pengawasan seseorang yang duduk tak jauh dari meja mereka. Sementara di tempat lain, akhirnya Papa Anderson menyepakati rencana putranya. Semua yang berlalu tidak bisa diubah kecuali hari esok.
Kehidupan akan selalu berjalan walau kesedihan menyiksa jiwa manusia. Alam tetap bergejolak menerima panas sinar mentari dan dingin air hujan. Begitu juga dengan waktu yang berlalu meninggalkan secercah harapan dengan rencana yang matang.
Dua hari kemudian. Akhirnya keluarga bisa membawa Shena bersama buah hatinya untuk kembali bercengkrama di dalam rumah utama. Yah, demi kebaikan seluruh anggota, maka Danish mengharapkan bantuan semua orang agar bisa menemukan titik terang di dalam masalah yang semakin rumit tak terkendali.
"Sayang, kenapa pulang kerumah orang tuamu? Bagaimana dengan rumah kita? Aku gak mau ngerepotin banyak orang." ucap Shena palsu dengan lembut sembari mengusap lengan Danish yang duduk di sisi kiri tempat tidurnya.
Jika tidak mengingat tengah bersandiwara. Sudah pasti akan memberikan pelajaran yang pantas agar Tiara berhenti memainkan drama istri yang baik. Apalagi wajah yang digunakan semakin membuat dirinya muak menganggap wanita itu sebagai manusia berperikemanusiaan. Akan tetapi, semua tetap ditahan tersimpan rapi di dalam hati.
Dilepaskannya tangan Tiara, lalu beranjak dari tempat duduk, kemudian menarik selimut agar memberi waktu pada wanita itu untuk istirahat. "Mama maksa buat jaga cucunya. Aku harap kamu bisa menerima permintaan kecil seorang nenek. Nanti setelah kondisi membaik, baru kita pindah. Okay?"
Pasrah dengan keadaan. Jika ingin membantah ia ingat tengah berpura-pura menjadi gadis baik. Kepergian Dan membawa wanita itu pada masa satu tahun silam. Dimana pertemuan rahasia terjadi tanpa sepengetahuan orang lain. Di tengah gelapnya malam beradu dalam kehangatan ranjang.
Hatinya hanya menyimpan satu nama yaitu Danish Anderson, tetapi tubuh membutuhkan sentuhan brutal Fatih. Ia akui mendapatkan kepuasan tanpa perlu menjelaskan atau menggoda pemuda satu itu, hanya saja kesadarannya masih ada dan semua kegilaan hanya untuk merebut cinta pertama dari istri sahnya saja.
Setiap kali mendapatkan kesempatan, ranjang terus bergoyang sepanjang malam. Suara rintihan penuh kenikmatan memenuhi gema ruangan nan temaram. Berulang kali menerima pelepasan tanpa memikirkan konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
"Loe harus hamil anak keluarga Anderson buat alihkan perhatian mereka. Rencana sudah berjalan lima puluh persen. Tenang saja, gue cuma mau bantu loe biar gak fokus cari alasan untuk menyelamatkan diri dari keadaan." Fatih berbisik seraya meneruskan olahraga panasnya.
__ADS_1
Tentu saja Tiara tidak paham maksud dari perkataan tersebut hingga satu hentakan menyambar kesadaran, "Auuw, please pelan. Caramu kasar, perih ...,"
"Sttt. Sakitnya sebentar, tapi akan menjelaskan situasi sebenarnya. Sama seperti ini, loe harus berkorban untuk memiliki pujaan hati yang selalu jadi kebanggaanmu. Gue mau, loe nurut tanpa berdebat. Deal?"
Penjelasan yang bersambut kedipan mata nakal cukup mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit di area pribadi. Entah apa yang ada di benak Fatih, tetapi bisa dipastikan pemuda itu membuat rencana bukan hanya satu jalan. Bisa jadi memiliki tiga atau empat solusi tak beraturan.
"Sadarlah Tiara!" Wanita itu menampar wajahnya sendiri agar melupakan malam panas yang menghasilkan buah hati tanpa nama. Yah, bayi yang diakui sebagai pewaris keluarga Anderson adalah anak Fatih.
Ketika cinta berubah menjadi obsesi, maka tidak ada ketulusan yang tersisa. Seperti yang Tiara lakukan, dimana ia mengubah identitas hanya untuk menggantikan posisi Shena sebagai istri Danish. Akan tetapi selama waktu yang dilewati bersama pujaan hati. Tidak sekalipun pria itu menyentuh raga yang terasa hampa.
Danish hanya memberikan nafkah materi atau sengaja melupakan nafkah lainnya. Mungkin saja itu hanya prasangka buruk, meski mengingat situasi tidak mengizinkan ia melakukan olahraga ranjang terlalu berlebihan selama fase kehamilan. Dokter dengan jelas menyarankan untuk puasa sesering mungkin.
"Sekarang bagaimana caranya mempertemukan anak dan ayah?" Tiara merebahkan tubuh seraya memejamkan mata mencoba mencari celah untuk mendapatkan keinginannya. Hati yang meronta mengharapkan Fatih untuk melihat bayi mereka. "Sebaiknya tidur dulu, kepalaku berdenyut tak karuan memikirkan semua ini."
Meninggalkan Tiara yang memilih menjemput mimpi. Di lantai bawah seluruh keluarga berkumpul, tidak ada yang menampakkan wajah santai seperti di pantai. Mereka masih berusaha untuk menerima kenyataan yang pahit di dalam hidup dengan dunia kejam.
"Dan, kenapa kita harus bersandiwara? Bukankah kita bisa melakukan penyelidikan secara langsung? Ikat saja wanita tak bermuka itu, trus interogasi sampai mau jujur mengatakan keberadaan Shena." Mama Quinara benar-benar kesal, geram dan tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
Danish hanya bisa menghela nafas panjang seraya melirik sang papa agar mau menjelaskan segalanya karena ia sudah cukup lelah dengan emosi yang terus naik turun seperti roller coaster. Apalagi harus menangani seluruh emosi seluruh anggota keluarga? Bisa-bisa masuk rumah sakit jiwa.
__ADS_1
Di tengah ketegangan yang tersisa, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. Ternyata di antara anggota keluarga hanya Xavier yang memiliki kebiasaan mengesalkan. Pria satu itu tidak pernah mengubah mode silent si benda pipih yang akan menemani keseharian.
"Aku permisi, telepon dari kantor." Xavier berpamitan, lalu melipir meninggalkan perkumpulan keluarga Anderson.