
Tidak tahu apa yang dilakukan oleh Rafael hingga meninggalkan panggilan begitu saja, akhirnya kembali melanjutkan percakapan yang terputus. Obrolan yang di dengar sepihak, membuat Xavier meninggalkan si gadis tak berhati. Bagaimana tidak, Siti hanya peduli pada kekasihnya saja.
Pria itu pergi berjalan ke arah Dan terakhir menampakkan diri. Akan tetapi setelah kesana, lalu kemari tidak melihat jejak keberadaan saudaranya itu bahkan ketika bertanya pada beberapa suster dan orang-orang di sekitar. Tetap saja tidak bisa menemukan Danish.
Hentakan kaki seraya menjambak rambut mencoba menghilangkan rasa frustasi yang melanda dirinya, "Anak ini kemana lagi? Pasti ada yang gak beres, lagian di hari bahagia kenapa malah emosi. Apa semua kecurigaanku benar adanya?"
Sebenarnya bukan hanya Danish yang merasa Shena adalah sosok lain. Xavier tidak mengenal gadis smart itu dengan baik, bahkan hanya sekilas. Akan tetapi dari cara bertindak dan juga cerita Naina sang istri, ia tahu Shena bukan gadis sembarangan. Lalu tiba-tiba berubah menjadi gadis pendiam.
Aneh jika terus dipikirkan, apalagi selama setahun di tengah pendekatan dan penghapusan jarak permusuhan dengan kekuatan Anderson. Naina dan Siti seringkali menyinggung banyak perubahan yang tidak bisa masuk logika. Termasuk jenis makanan favorit yang berubah secara drastis, bahkan Shena seperti amnesia tentang dirinya sendiri.
Jika dibilang rumit, memang seperti itu, hanya saja tidak bisa dijabarkan. Apalagi ia tidak bisa menilai sebelum memahami inti masalah yang terjadi di dalam lingkaran hubungan keluarga. Bagaimanapun lebih fokus dengan pekerjaan yang memang sudah menyita waktu.
Hari ini, semua berkumpul untuk memberi support pada Danish termasuk ia yang memilih libur bekerja dan ikut menunggu Shena di rumah sakit. Jadwal operasi caesar dilakukan sesuai jadwal yang sudah ditentukan, hanya saja Naina tidak bisa ikut karena keadaannya juga tengah hamil muda.
Meninggalkan Xavier yang kembali melangkahkan kaki memasuki rumah sakit. Di sisi lain Danish terus berjalan tanpa arah. Tatapan mata merah meredam amarah dengan wajahnya yang terlihat pucat pasi. Kebenaran hidup selalu datang bagaikan petir di siang hari. Tidak pernah mengucapkan permisi.
Sakit akan luka yang ternyata hanya milik dia seorang. Miris ketika takdir berkata lain tentang jalur kehidupannya. Duka di hati tak mampu lagi tertahan. Setelah semua usaha untuk menetapkan keyakinan hati, dunia menyadarkan bahwa ia hanyalah boneka.
__ADS_1
Awan yang berarak di angkasa tak mengubah dilema hati yang terus menusuk rasa. Jatuh dalam pelukan sayatan tak berwarna. Hancur sudah harapan yang tersisa. Apakah cinta serendah bintang jatuh? Jangankan kata, bibirnya kering tak bersari.
Lamunan tak karuan jelas membawa langkah pria itu berjalan sembarang arah. Danish tidak sadar sudah berdiri ditengah jalan raya. Suara klakson terabaikan, begitu juga dengan suara teriakan orang-orang. Ia sudah tuli dan buta karena hati semakin terasa hampa. Tiba-tiba muncul sebuah motor dari arah selatan yang melaju begitu cepat.
Motor yang dikendarai tanpa kenal peraturan lalu lintas. Apakah pengendara tidak melihat tubuh seorang pria yang diam di tempat dengan tatapan mata kosong? Seperti embusan angin yang terus menyibak keheningan. Suara klakson kembali terdengar, sayangnya Danish engan memperhatikan.
Insiden tak bisa lagi dihindari, ketika dari arah berlawanan sebuah mobil datang dengan kecepatan yang sama. Demi menghindari kecelakaan beruntun, sang pengendara motor menabrakkan diri pada mobil yang melaju, tetapi Danish masih aman di tengah suara mesin yang saling beradu.
Lalu lintas seketika terhenti, tidak ada kendaraan yang berani menyalakan mesin. Kecuali petugas lalu lintas yang ternyata tengah berpatroli di jalan yang sama. Keributan dengan kecelakaan tersebut tak membuat Danish sadar dari keterpurukannya. Pria itu hanya menurut ketika digiring ke kantor polisi.
Tatapan mata sendu dengan wajah tak berdaya. Bibir yang terkunci rapat dengan tangan yang saling bertautan. Danish terlihat begitu kacau seperti pria yang patah hati. Tidak habis pikir akan keteledoran sang putra. Di rumah sakit keluarga menunggu, dan pria satu itu diam termenung duduk di bangku kantor polisi.
"Dan!" Papa Anderson memegang bahu putranya berharap akan mendapatkan tanggapan, tetapi tidak terjadi apapun. "Nak, ada apa? Jangan buat papa khawatir."
Sebagai ayah ia takut melihat keterpurukan di mata putranya. Danish bisa saja berteriak atau berkeluh kesah padanya. Akan tetapi, diam dengan kekacauan yang tergambar begitu jelas dengan tubuh mematung. Hal itu tidak mengubah keadaan. Isi pikiran dan hati tidak mampu diterjemahkan.
__ADS_1
Khawatir akan keadaan Danish, Papa Anderson membimbing putranya untuk meninggalkan kantor polisi. Tidak ada kata selain mencoba untuk memberikan waktu agar ia bisa memahami Danish dalam situasi yang tidak bisa menjadi kesederhanaan.
"Pak, antarkan aku ke tempat Shena kecelakaan!" titah Danish pada supirnya begitu ia dan sang papa masuk ke dalam mobil.
Danish mengalihkan perhatian ke luar jendela, "Jangan sekarang, Pa. Aku akan jelaskan nanti di tempat yang seharusnya."
"Pak, ikuti permintaan putraku. Bawa kami ke tempat menantuku mengalami kecelakaan satu tahun yang lalu." tegas Papa Anderson tanpa ingin mendebat keputusan putranya.
Perjalanan berteman keheningan, tanpa sadar Papa Anderson trus menatap ke arah Danish. Dimana sang putra nampak tertekan bahkan aura negatif begitu terasa menyekat rasa bahagia yang seharusnya menjadi milik mereka. Kini ia hanya bisa menunggu hingga waktu mengantarkan kebenaran.
Apa yang terjadi hingga Danish hilang arah tanpa tujuan? Bagaimana semua itu bermula? Kenapa baru sekarang keterpurukan datang menyapa? Banyak pertanyaan lain, tetapi semua pertanyaan hanya bisa dipendam. Ia sadar waktu tidak akan berkhianat ketika itu sudah ditakdirkan.
Sementara itu, Danish mencoba untuk meredam luka dengan memejamkan mata seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi. Samar-samar mengingat serpihan masa lalu yang terus menelusup masuk menghantui jiwanya. Satu persatu kenangan semakin memukul kesadaran yang selalu dia abaikan.
Andai saja tak termakan alasan yang ternyata hanya kamuflase, mungkin sekarang kehidupan bukan sebuah sandiwara. Sadar setelah dipermainkan? Sakitnya melebihi rasa patah hati bahkan untuk menatap pantulan wajah di cermin saja, ia tak sanggup melakukan itu.
Benar, senyuman cinta tak akan pernah salah. Pantas saja hatinya selalu memberontak setiap kali mencoba untuk mendekati sang istri. Ada yang berusaha menghalangi kasih sayang yang selalu ingin dia curahkan untuk menghangatkan keluarga kecilnya. Sekarang semua jelas, walau pada waktu tak tepat.
__ADS_1
*Ya Allah, apakah aku mampu melewati semua ini? Tunjukkan jalan agar aku bisa menemukan jawaban atas perpisahan yang selalu menyentuh kalbuku. Aku ingin kembali bersama kehidupan sejatiku.~Dan berdoa di setiap tarikan nafasnya*.