
Setiap kebenaran pasti memiliki sisi lain dari kejujuran. Selena bukan wanita yang akan menyimpulkan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Setiap langkah sudah diperhitungkan bahkan untuk memasuki dunia baru pun telah dirancang sedemikian rupa. Hanya saja semua harus cepat terselesaikan.
Wanita itu pergi meninggalkan rumah seorang diri tanpa pengawalan. Mobil mungil Cooper warna abu menjadi pilihannya. Perjalanan yang tidak begitu panjang berakhir ketika kendaraan roda empat itu memasuki halaman parkir sebuah salon kecantikan.
Informasi yang didapat adalah si gadis karaoke akan melakukan perawatan sebelum hari pertunangan, dan salon Juwita menjadi pilihan agar bisa mendapatkan voucher diskon yang disukai para wanita. Meski begitu, tetap saja salon itu bukan sembarang salon karena sudah terjamin pelayanan yang didapat pelanggan.
Satu langkah kaki ke luar turun dari mobil bersambut tangan menahan pintu, tatapan mata jatuh ke depan. Dimana bangunan dua lantai di depannya terlihat tidak begitu ramai. Padahal dari luar sana sudah terlihat berkelas. Meski dirinya jarang melakukan perawatan, tetap saja dia tahu kualitas perbedaan para pebisnis.
Melangkahkan kaki menyusuri setapak di bawah sinar matahari yang hampir menyentuh bayangan, Selena disambut pelayan dengan begitu ramah. Pemesanan sudah dilakukan sejak awal sebelum mengunjungi tempat kecantikan tersebut. Maka begitu datang hanya perlu menyelesaikan formalitas seperti melunasi pembayaran.
"Mba, bagaimana dengan pesanan saya yang lain?" Selena berbicara pelan, tetapi bukan karena takut melainkan tak ingin orang lain menatap si pelayan dengan tatapan curiga.
Pelayan mengangguk seraya mengulurkan tangan mempersilahkan Selena menuju ruangan khusus yang biasa di sebut Room Beauty Perfect. Tulisan indah yang terukir di pintu kaca terkesan menggambarkan hasil akhir dari perawatan yang akan didapatkan. Keduanya masuk bersama-sama.
Langkah kaki melewati batas pintu kaca yang ternyata tertutup otomatis begitu berpindah ruangan. Kini aroma parfum buah menyambut kedatangan sang pelanggan. Benar-benar menenangkan seperti tengah berdiri di tengah kebun buah yang memasuki musim panen. Aroma manis begitu terasa.
Selena hanya mengikuti langkah si pelayan tanpa banyak tanya. Dimana mbaknya membimbing menuju ruangan treatment pertama yang biasanya digunakan untuk perawatan rambut dan kuku. Ternyata tidak ada orang selain seorang pelanggan lain yang baru saja dipakaikan cream menutupi wajah hingga diharuskan memejamkan mata.
__ADS_1
"Dia orangnya, Siti calon istri dari Mas Rafael." Pelayan itu berbisik begitu pelan, tetapi cukup didengar oleh Selena.
"Mulailah perawatanku!" Ditariknya kursi hitam dengan sandaran yang ada di sebelah kanannya, lalu duduk seperti anak penurut.
Treatment dimulai mengikuti aturan yang memang sudah menjadi kebiasaan di salon tersebut. Detik, berganti menjadi menit hingga Siti yang baru selesai memakai masker buru-buru mengambil ponsel di atas meja depannya. Terlihat gadis itu merasa tidak nyaman dengan treatment yang menguasai pergerakannya.
"Kukira sendirian, ada temen tho. Ngomong-ngomong, apa kamu udah sering nongkrong di ruang penyiksaan?" Siti menatap Selena yang terlihat begitu tenang, bahkan tidak melakukan protes apapun ketika pelayan memegang kaki untuk dimasukkan ke bathup mini.
"Ruang penyiksaan? Maksudmu salon?" balik tanya Selena menahan tawa karena perkataan Siti benar-benar seenak hati, gadis karaoke mengangguk pasti. "Perawatan itu perlu bagi wanita. Setahun sekali, juga tak apa. Zaman sekarang banyak pelakor terang-terangan, maka kita harus menjaga pasangan dengan sebaik mungkin."
"Apa harus duduk seharian di dalam ruangan? Kenapa tidak bosan?" Siti membenarkan posisi duduknya, lalu meletakkan ponsel kembali ke atas meja. "Sejak dua puluh menit aku masuk bangunan ini, jujur saja aku merasa pasrah. Lihat saja, colek sana, colek sini. Tidak enak rasanya."
Gadis yang absurd, tetapi begitu terbuka tanpa ada rasa sungkan. Jiwa muda yang penuh semangat terlihat berkobar dalam diri Siti. Patut di beri tepuk tangan sebagai apresiasi, hanya saja seseorang harus mengingatkan bahwa dunia semakin kejam. Istri cantik saja bisa dikhianati, apalagi yang tidak berusaha merawat diri mereka sendiri.
Aset wanita bukan hanya kasih sayang, melainkan fisik yang sehat dengan perawatan yang tepat. Apalagi bagi wanita yang mau, atau sudah menikah. Meskipun di belahan dunia manapun, sekarang ini anak kecil saja sudah bisa menggunakan make up, sedangkan wanita dewasa?
Selena mengangkat tangan, membuat si mbak pelayan berhenti melakukan tugasnya. "Mba, kami berdua memerlukan minuman dingin dan juga cemilan sehat, tapi bawa juga snack seperti keripik kentang atau singkong. Biarkan kami menikmati perawatan dengan sukacita."
__ADS_1
"Baik, Non. Hikmah, ayo bantu aku bawa pesanan." Si mbak pelayan mengajak temannya agar ke luar meninggalkan ruangan tersebut. "Kami permisi sebentar."
Ingin rasanya merutuki diri sendiri. Ia pikir selama perawatan hanya bisa duduk diam sembari menahan lapar dan haus. Kenapa tidak sejak awal saja menyiapkan makanan dan minuman? Heran dengan pengetahuannya yang minim. Hari ini belajar hal baru yang akan berguna di kemudian hari.
"Are you okay?" Lamunan Siti, membuatnya bertanya dengan tatapan mata khawatir. "Tenang! Aturan memang tidak diperkenankan, tapi kita bisa membayar lebih untuk pesanan khusus."
"Sepertinya kamu terbesar melakukan perawatan. Apa semua salon bisa memberikan pelayanan yang sama?" tanya Siti penasaran membalas tatapan mata Selena yang kembali normal menatap dirinya.
Selena menggelengkan kepala, lalu mengeluarkan ponsel dari tempat persemayaman. Beberapa detik berkutat mencari sesuatu dari dalam benda mati itu, kemudian menunjukkan pada Siti sebuah laman hasil pencariannya. Sontak saja si gadis karaoke mengambil ponselnya sendiri untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Beberapa laman berita muncul membuat Siti sibuk membaca dengan seksama. Laman yang berisi aturan dan kode jika melakukan pemesanan treatment di salon langganan. Ternyata tidak semua salon memberi pelayanan plus karena untuk mendapatkan yang terbaik harus berani menambah biaya dasarnya.
"Haduh, kenapa suka sekali ngamburin uang. Kalau segini banyaknya bisa buat jajan ku sebulan. Astagfirullah, kebangetan deh," Siti mengeluh karena biaya yang harus dikeluarkan bukan lagi ratusan ribu, tetapi mencapai dua juta dan itupun belum perawatan terbaik yang bisa lebih mahal.
Selena berusaha untuk menahan diri. Tingkah Siti selalu mengundang tawa, "Sepertinya kamu baru pertama kali perawatan. Apa sebentar lagi menikah?"
"Bukan menikah, tapi bertunangan. Tunggu sebentar, aku butuh ngomelin anak orang." Siti sibuk memainkan ponsel membiarkan Selena hanya menatapnya dalam kesunyian. Jemari terus berlari menekan tuts yang tenggelam.
__ADS_1