Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 46: Kejujuran Sepahit Jamu Brotowali


__ADS_3

"Aku akan mengundurkan diri dari senat."


"WHAT'S!" Seru kedua sahabat yang tak lagi mampu mengekspresikan rasa terkejut mereka.


Jabatan senat tidak untuk mainan. Apalagi, mereka tahu perjuangan Shena hingga mendapatkan kepercayaan para mahasiswa. Tidak terbayangkan untuk menguras keringat sekali lagi hanya untuk mempertahankan semua yang menjadi hak sang sahabat.


Tidak. Bagaimana bisa semudah itu menyerah? Begitulah pikiran Naina dan Siti, tapi Shena dengan tenang menjelaskan duduk perkaranya. Ia tak ingin, esok ada masalah baru. Bukankah dengan melepaskan jabatan. Maka ia bisa fokus membantu masalah sang sahabat?


Jadi, kenapa harus menggali masalah baru lagi. Tak rela, tapi mengikhlaskan adalah pilihan terbaik. Akhirnya, Naina dan Siti mau memahami. Kedua gadis itu duduk memeluknya untuk menguatkan satu sama lain. Inilah persahabatan yang selalu menjadi kebanggaan.


"Sekarang, bagaimana dengan proyekmu, Nai? Apa sudah ada perkembangan atau masih diam ditempat terakhir." Shena melirik ke arah gadis yang berada di sisi kirinya.


Gadis berkacamata yang sibuk berpura-pura membersihkan kacamata. Padahal tidak lapisan kaca itu bersih mengkilap. Bibir gemetar terkatup rapat. Sepertinya ada hal baru lagi, tapi Naina tidak akan membuka mulut hanya untuk bercerita. Sisi lain, Siti mulai sibuk memainkan gawai seperti biasanya.


Kedua tangan saling bertautan, tatapan mata menunduk. Ada kecemasan yang terdengar dari hembusan nafas gadis itu, "Nai, apa Mr. Xavier melakukan sesuatu padamu? Kenapa keheningan ini, membuatku takut."


"Bukan soal itu, Shena. Aku ....," Naina menghela nafas panjang, bibirnya kelu, tetapi harus mengatakan kejujuran yang mungkin, suatu saat nanti, bisa menjadi salah paham.


Melihat gerak geriknya. Cukup mudah ditebak. Sudah pasti ini terkait Fatih. Pemuda yang akan menjadi pagar penghalang untuk persahabatan mereka. Ingin sekali berbicara dengan Tante Amora, sayangnya itu tidak mungkin. Hati nurani mencegahnya, demi kebaikan bersama.

__ADS_1


"Shena, apapun yang akan aku ceritakan. Please, jangan marah." Naina meraih tangan sang sahabat, lalu menggenggamnya dengan rasa hangat. Walau ada getar rasa takut, "Fatih ingin menghancurkan keluarga Anderson. Keluarga suamimu. Aku bingung mau mulai dari mana, disini terasa sesak dan tidak bisa kutahan lagi."


Alih-alih memainkan gawai. Ternyata Siti ikut menyimak detail cerita dari Naina. Kurang garam! Bagaimana bisa ada pemuda sebrengsek itu? Apakah karena berpikir memiliki kekuasaan hanya karena ikatan sebuah cincin yang melingkar? Jika iya, benar-benar minta di pit3s.


Enak aja, main ancam anak orang. Dipikir tidak ada yang akan menjadi pelindung kah? Atau pemuda itu, memang dasarnya brengsek? Entahlah. Satu yang pasti, kini darahnya mendidih membayangkan mengulek mulut tak berakhlak Fatih. Tidak peduli, jika pria itu calon suami Naina.


Sementara itu, Shena hanya bisa mengusap kepala Naina. Membiarkan sahabatnya bersandar ke dalam pelukannya. Ingin jujur tentang masa lalu, tapi suasana hati tidak memungkinkan. Jika tidak jujur sekarang, kapan lagi? Keteguhan hati saja akan runtuh. Ketika kepercayaan meninggalkan logika.


"Nai, apa kamu bisa mendengarkan aku?" tanya Shena setengah berbisik, Naina mengangguk dengan posisi yang sama memeluk tubuhnya. "Fatih adalah cinta pertamaku. Dia alasanku mengabaikan banyak pria."


Sakit, tapi bukan patah hati. Ini seperti dipaksa minum jamu brotowali. Pahit bukan main. Naina melepaskan pelukan, lalu menatap wajah gadis yang selalu memiliki jiwa seorang pemimpin. Wajah tegas, tanpa ada keraguan.


Buyar sudah. Kejujuran Naina yang berlanjut kejujuran Shena, membuat Siti tak bisa berkomentar apapun. Kali ini, masalah rumit. Mungkin tidak bisa dijabarkan seperti rumus algoritma. Benar bukan? Kehidupan yang sulit, tetapi selama dukungan orang terkasih bersama kita.


Apapun masalahnya, pasti bisa mendapatkan solusi yang terbaik. Boleh jatuh, lalu tertatih. Namun, selalu ingat untuk bangkit kembali. Kegagalan bukanlah dosa. Melainkan proses untuk menjadi lebih baik. Hari ini, ketiga gadis yang duduk di ruang markas saling menguatkan.


Obrolan para gadis semakin jauh, sedangkan Bapak Ibrahim harus menelan pil kekecewaan. Sudah sepuluh proposal yang diajukan oleh wakil senat, tapi tidak satu pun menyentuh hatinya. Acara tahunan yang seharusnya menjadi ajang bergengsi. Kemungkinan besar akan gagal digelar.


"Pak, ini proposal kesebelas." Sang wakil senat meletakkan kertas putih ke atas meja, pemuda itu merasa tertekan dengan sikap Pak Ibrahim. "Emm, boleh izin ke toilet dulu, Pak?"

__ADS_1


Jangankan jawaban. Pak Ibrahim hanya membalas pemuda itu dengan tatapan sinis. Hilang sudah sikap tenang sebagai seorang dosen. Bagaimana tidak? Pemuda pemilik nama Sean itu, terus saja memberikan kertas sampah yang tidak bermutu. Proposal yang mengecewakan.


Pagelaran dari acara tahunan akan segera dimulai. Sayangnya, acara itu justru menjadi kendala terbesar. Pak Ibrahim pikir, wakil senat bisa menghandle segalanya. Akan tetapi, pria itu tidak tahu. Jika selama kepemimpinan Shena sebagai senat. Hanya gadis itu yang menjadi otak, sedangkan para kru penggeraknya.


Wajar, jika Sean kelimpungan membuat proposal untuk acara akbar nanti. Semua rincian akan menjadi jembatan loncat. Jangankan rinci, runtuntan dari poin acara saja tidak lengkap. Jadi, sekarang apa yang akan terjadi? Bisakah acara akbar digelar tanpa rancangan?


"Apa aku harus mencabut hukuman skorsing yang di dapat Shena?" tanya Pak Ibrahim pada dirinya sendiri, kemudian menggelengkan kepala mengusir pikiran yang tidak bisa dibenarkan.


Masa iya, dia mau cabut ucapannya sendiri? Bisa jadi bahan untuk diketawain para mahasiswa. Lagian bibirnya terlalu ember, sampai tidak bisa diem. Namun, siapa yang bisa membantunya? Jika tidak merendahkan diri, lalu meminta Shena untuk membuat rancangan acara akbar nanti. Dilema.


Dua jam kemudian. Shena dalam perjalanan pulang, tetapi tujuannya bukan rumah. Melainkan mengikuti arahan suaminya melalui sharelock tempat pertemuan. Rasa penat yang mendera, membuat gadis itu berulang kali menguap. Namun, tetap mencoba untuk tidak terlelap dalam taxi.


"Non, apa taman di depan yang dimaksud?" Pak Sopir bertanya menghentakkan kesadaran Shena, gadis itu menengok aplikasi whatsapp sekali lagi.


"Bener, Pak." jawabnya mencocokkan titik lokasi yang memang berjarak tidak jauh dari tempatnya berkendara. "Pak, berhenti di depan gang saja. Aku akan jalan dari situ dan ini uang taxinya."


Shena benar-benar berhenti di tempat yang diinginkan. Begitu mobil taxi berlalu dari hadapannya. Langkah kaki berjalan menyusuri setapak trotoar. Begitu banyak mobil yang lalu lalang, maklum pukul lima sore. Sudah pasti jam pulang para pekerja kantoran.


Taman Cinta. Sebuah taman yang menyediakan spot-spot foto terbaik dengan baground pemandangan alam alami. Karangan pagar bunga, rumah kaca mini yang dipenuhi beberapa jenis kupu-kupu. Blum spot foto yang lain. Pokoknya taman yang rekomend banget.

__ADS_1


"Selera yang bagus, atau suamiku memang mencintai bunga? Rumah saja memiliki kebun mawar sendiri. Jangan-jangan, bisnis selanjutnya juga perkebunan. Amiin, aku bisa memetik bunga sesuka hati." monolog Shena pada dirinya sendiri tanpa menghentikan langkah kakinya menapaki rerumputan hijau taman.


__ADS_2