
"Damn it!" seru Bastian semakin murka, tetapi Danish tidak peduli dan membantu Shena bangun.
"Diam! Jangan membantahku." tegas Dan menatap serius, lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada Bastian. "Kau ini seorang AYAH. Apa BAJ!NGAN."
Murka. Pria itu nampak mengeraskan rahangnya dengan deru nafas tarik turun. Suara gigi gemeretak memperjelas emosi yang memuncak. Bastian terperangkap dengan perubahan sikap serta ekspresi wajah dingin pria di depannya.
"KAU. Menyingkir!" Seru Bastian bersiap menyerang Shena kembali, dimana gadis itu terbangun, tetapi menatapnya dengan sorot mata jijik.
Dan tidak menggubris. Seorang pria bukan untuk melakukan kekerasan, ketika memiliki kekuatan lebih. Melainkan untuk melindungi para wanita di keluarganya. Namun, ketika harga diri dipertaruhkan. Apalagi kehormatan seorang istri. Maka, tidak ada namanya batasan untuk menahan diri sendiri melewati kesabaran.
Satu pijakan berlari menuju Shena. Tanpa kata, Dan memutar tubuhnya seraya melayangkan tendangan, tetapi terhindari bersambut hantaman tangan. Bastian terhuyung ketika sesuatu terasa meretakkan tulang kepalanya.
Melihat itu, Dan melambaikan tangan. "Come!"
__ADS_1
Pertarungan kembali terjadi, namun di tengah perkelahian itu. Shena memperhatikan cara Dan memukul, menghantam, menghindari serangan. Tidak mungkin, pria itu hanya seorang pebisnis. Akhirnya suara tubuh terbanting menyudahi segalanya. Bastian jatuh tak sadarkan diri luka serius.
Melihat lawan yang tumbang. Dan berjalan menghampiri tubuh pria yang mengaku menjadi ayah dari istrinya. Ia menurunkan posisi dengan tatapan tajam. "Seorang ayah memiliki kewajiban melindungi putrinya, tapi kamu ingin melenyapkan Shena. C!!h! Tempatmu hanya pantas dibalik jeruji besi."
Keganasan Danish, membuat Mama Quinara tersenyum penuh arti. Sebagai seorang ibu. Tentu saja dia bangga memiliki putra yang pemberani. Kini, dia percaya. Jika putranya sudah siap untuk memimpin bisnis keluarganya.
Dua puluh menit kemudian.
Langkah kaki berjalan masuk ke dalam rumah. Dilihatnya Mama Melati terus menatap Shena tanpa berkedip. Dimana gadis itu tengah menikmati rasa perih karena luka bersentuhan dengan obat cair yang dioleskan Mama Quinara. Sementara Papa William terduduk memejamkan mata seraya mengatur pernafasan.
"Ma, Aku sudah bereskan semuanya. Apa tidak sebaiknya malam ini, kita menginap disini?" tanya Danish yang lebih tepatnya disebut sebagai pengalihan suasana.
__ADS_1
Mama Quinara meletakkan kapas yang berubah warna merah, lalu mengambil salep. "Ide bagus, Boy. Minta Papa mu untuk menyelesaikan masalah di sana secepatnya. Sebentar lagi, kita harus fokus acara syukuran dan pertunangan adikmu."
"Okey, Ma. Aku akan langsung hubungi Papa." balas Danish kembali memainkan ponselnya, di tengah percobaan untuk menghubungi sang papa. Netranya tak sengaja melihat sebuah foto masa kecil Shena.
Sebuah foto yang menampakkan lesung pipi gadis berkepang dua dengan mahkota bunga sederhana, sedangkan tangannya memegang bola kristal yang di dalamnya terdapat sepasang pengantin tengah menari. Wajah yang tidak asing, dengan senyuman nakal pemilik tatapan bintang.
"Ma, apa itu foto Shena?" Dan bertanya, tetapi suaranya terlalu lirih hingga tidak seorangpun mendengarkan.
Keheningan melanda, namun tidak dengan suara genderang yang ada di dalam hatinya. Genderang itu bertalu-talu mengisahkan irama cinta. Wajah yang selalu menjadi penantian. Hari ini telah ditemukan. Seperti serbuk bius. Pria itu terus menatap Shena memperhatikan setiap garis wajah istrinya.
Tatapan yang absurd, membuat yang ditatap merasakan ketidaknyamanan. "Ma, apa Mas Danish, baik-baik saja? Kenapa dia menatapku seperti itu. Lebih baik aku permisi."
__ADS_1
"Shena, duduk dan tutup mata. Mama belum usai mengobati bibirmu. Lihat, sudah terjadi pembengkakan. Bagaimana kamu akan kuliah besok? Masa iya dengan wajah lebam." Seloroh Mama Quinara tak mau mendapatkan penolakan.