Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 83: Malam Terakhir


__ADS_3

Sungguh manis dan mengharukan. Ketegangan yang berlangsung berubah mencair dalam kehangatan keluarga. Mereka semua sadar, kehidupan tengah dipermainkan oleh Fatih. Namun bukan berarti berhenti untuk mencapai tujuan kebahagiaan.


Manusia bisa saja melupakan masa lalu, atau masa kini, tapi bagaimana akan menghapus masa depan? Bukankah esok harus dirancang? Jika bukan diri sendiri yang merakit alur kehidupan, maka orang lain bersiap untuk mengendalikan. Benar, seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


Dua jam sebelum datang ke kediaman Anderson. Tepat di saat Danish menelpon sang papa dan bertanya keberadaan Shena. Panggilan yang berniat dialihkan, tetapi berakhir dengan kejujuran. Ternyata Fatih sudah mengirimkan beberapa foto sebagai contoh untuk kakak angkatnya.


Bukan hanya marah. Dan tidak bisa mengendalikan murka nya lagi hingga berjanji tidak akan melepaskan Fatih atas semua tindakan yang melewati batasan. Sayangnya setelah menghampiri di mana sang istri berada. Pria itu baru sadar bahwa Shena mengalami kelainan.


Bukan penyakit biasa yang bisa disembuhkan oleh obat dokter karena ia tahu benar aliran darah yang mengalir di tubuh Shena adalah racun pelemah saraf. Bisa saja untuk memesan penawar, tapi membutuhkan waktu. Sementara durasi yang dipunya tidak sebanyak itu dan jika menginginkan obat yang sebenarnya, maka memerlukan koneksi lain.


Setelah mendengar permintaan Fatih yang tidak masuk akal. Danish berusaha untuk melakukan segala cara selama satu jam pertama, tetapi keberuntungan tidak berpihak padanya. Jangankan obat yang dibutuhkan, penawarnya saja membutuhkan waktu delapan jam untuk dikirim, sedangkan kondisi Shena tidak bisa menunggu lagi.


Penawar harus diberikan setelah tiga jam dari waktu penyuntikan racun dan selama obat yang sebenarnya belum menetralisir racun tersebut. Maka selama empat puluh delapan jam membutuhkan penawar biasa. Namun, jika berlebihan memberi dosis yang tidak seharusnya, maka berakhir overdosis.


Riskan dan berakibat fatal yang akan menyebabkan kematian. Setelah mengingat rute dari racun yang akan merenggut nyawa sang istri. Danish memutuskan menerima persyaratan Fatih, tentunya di dukung Tuan Anderson yang juga tahu tentang racun satu itu. Setelah menyelesaikan satu tanggung jawab, kini keluarga kembali berkumpul mencoba untuk tetap mempertahankan kewarasan.


"Nak, apa rasanya sangat sakit?" tanya Mama Melati yang mengambil alih pelukan tubuh putrinya untuk mendekap ke pangkuannya.

__ADS_1


"Tenang, Ma. Putrimu kuat dan bisa bertahan, by the way rasanya seperti di gigit semut. Jadi aman terkendali," Shena berusaha untuk menyembunyikan derita yang memang luar biasa.


Bagaimana tubuh dan kesadarannya tidak sinkron. Bisa mendengar untuk memahami semua pembicaraan, tetapi tidak bisa melakukan apapun. Bisa melihat dengan jelas, sayangnya tidak bisa berbicara untuk memberitahukan isi hati dan pikirannya. Benar-benar tak ada bedanya dengan patung hidup.


Meskipun ingin mengeluh, ia tak bisa membiarkan sisa harapan keluarganya menjadi kerapuhan hati. Sudah cukup hancur dengan tindakan Fatih. Sekarang tugasnya merecharge semangat keluarga untuk tetap memiliki keyakinan akan takdir ilahi. Semua untuk kebaikan bersama.


Percakapan ringan yang menjadi support untuk satu sama lain, membuat Shena dan Danish menghabiskan waktu selama dua jam untuk keluarga besar. Seakan tak ingin melepaskan waktu yang tersisa hingga akhirnya Papa Anderson meminta semua orang untuk beristirahat di kamar masing-masing.


Danish yang tak ingin Shena kelelahan memilih menggendong tubuh sang istri yang pasti sangat kesakitan, "SheZa, kuharap ini lebih baik."


"Semua baik, jika bersamamu, Mas." balas Shena seraya mengalungkan kedua tangannya ke leher Danish hingga tatapan mata saling bertemu.


"Malam, Tuan Danish. Apa yang terjadi? Mau ku panggilkan dokter?" tawar Xavier tanpa maksud apapun dan berniat menolong, karena sekarang ia juga bagian dari keluarga besar yang di dalamnya akan ada pertemuan lagi dan lagi.


Shena tahu, jika suaminya merasa semakin tak tenang. Tak ingin mengubah suasana kembali tegang. Ia mengalihkan perhatian dengan mengusap punggung Dan, "Mas, Xavier sudah menjadi suami Naina. Jangan memulai permusuhan, ketika musuh menyelamatkan keluarga kita."


"Nona, bagaimana kamu tahu ....,"

__ADS_1


Belum juga berakhir dengan rasa penasarannya, Danish sudah melenggang pergi membawa istrinya menjauh dari Xavier. Pria itu memilih masuk ke kamarnya sendiri dan membiarkan sang musuh terdiam dalam kebingungan yang ia anggap sebagai balasan setimpal. Meskipun, ia juga penasaran dengan apa yang terjadi.


Xavier hanya bisa menggelengkan kepala, tak bisa berbuat apa-apa. Ia paham bagaimana watak dari Danish, walau begitu tak sekalipun berpikir buruk tentang musuh satu itu. Apalagi kini, mau tak mau harus mencoba memahami situasi yang ada. Menikah dengan Naina adalah keputusannya, tetapi untuk menjadi bagian keluarga? Tentu harus berusaha dari nol.


Melihat seluruh sudut ruangan yang sunyi, pria itu berjalan menuruni tangga karena berniat untuk mencari makanan. Perutnya terus meronta, ia baru ingat seharian belum menyentuh makanan. Pantas saja cacing berdemo tanpa membiarkannya beristirahat dengan tenang, sedangkan di dalam kamar. Dan menurunkan Shena ke atas ranjang secara perlahan.


"Mas, boleh minta kopi? Aku membutuhkan minuman yang bisa mengembalikan logika ku." pinta Shena sebelum melepaskan tangannya dari leher sang suami.


Tangan terangkat sekedar mengusap kepala wanitanya agar tetap diam di tempat, "Lepasin dulu, baru Aku turun membuat kopi untuk kita."


Tanpa menunda-nunda, Shena melepaskan kedua tangannya, tetapi gerakan Dan lebih cepat merengkuh meraup bibir pucatnya sejenak menghantarkan kerinduan yang ada. Pagutan tanpa tuntutan melepaskan emosi yang membelenggu jiwa. Semakin menenggelamkan diri salam suara decakan.


"Kopi dulu, Mas." Shena menahan pergerakan Dan yang mulai tak tentu arah, ia tahu suaminya membutuhkan apa, tetapi masalah yang ada harus segera menemukan solusi yang tepat.


Berusaha untuk memahami sang istri. Danish merelakan keinginannya ditunda sesaat. Langkah kakinya menjauh, lalu menghilang di balik pintu kamar. Melihat itu, Shena beranjak dari tempat tidur beralih menuju meja kerja sang suami yang terdapat komputer. Tangan yang dengan cekatan memulai misi pencarian.


Satu persatu yang terlintas di dalam kepalanya mendapatkan urutan jawaban. Tak lupa ia membuka sistem keamanan yang selama ini menjadi tempatnya untuk mendapatkan tambahan uang jajan. Satu pesan telah dikirimkan sebagai sinyal pada teman-teman jejaring dunia gelapnya.

__ADS_1


Sepertinya rekan lain yang begadang langsung merespon pesan dan mengulurkan tangan siap untuk membantu. Orang luar atau keluarga tidak tahu siapa dia, tetapi mereka yang berada di tempat lain. Justru mengenal siapa dirinya. Tidak perlu menunggu lama, rencana kilat telah siap dijalankan.


Kamu selalu berpikir bergerak lima langkah dariku, bukan begitu Fatih? Sayangnya, semua berjalan sesuai rencanaku. Bayangan tidak bisa menjadi cahaya, tetapi cahaya bisa menenggelamkan bayangan.~ucap hati Shena tersenyum tipis, lalu memejamkan mata dengan memutar kenangan beberapa jam setelah pergi meninggalkan kediaman Anderson.


__ADS_2