Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 40: Karena Undangan


__ADS_3

Kebenaran itu masih abu-abu. Kabut yang tebal enggan memudar. Di sisa kesadarannya, Danish mencoba untuk ikut merenungi segala sesuatunya. Tanpa sadar, pria itu mengikuti metode istrinya. Walau tidak dengan berceloteh seorang diri. Melainkan bicara di dalam hati saja.


"Nak, kenapa kalian tidak masuk? Ayo, Papa sudah nunggu di ruang keluarga." Panggil Mama Quinara mengejutkan Danish, begitu juga dengan Shena yang langsung menoleh ke belakang.


Siapa sangka, tatapan mata sepasang suami istri bertemu. Danish tersenyum tipis, namun Shena menatapnya curiga. Ia tahu, gadis itu pasti berpikir kenapa berdiri di belakang dan untuk apa? Bukankah itu tidak wajar, tapi sudahlah. Tidak penting dengan hal sepele seperti itu.


Shena beranjak dari tempatnya, lalu berjalan menghampiri Danish yang masih menunggu di depan pintu. Entah apa isi pikiran pria itu, ia pun tak ingin tahu. Sudah cukup dengan apa yang tengah mengusik kehidupannya.


Keduanya berjalan bersama menuju ruang keluarga. Dimana Mama Quinara, Papa Anderson dan Fatih sudah duduk bersama. Mereka dihadapkan dengan tumpukan undangan dari berbagai bentuk, jenis dan nama percetakan. Hampir mirip tempat pembuatannya langsung malah.


"Nak, sini duduk dekat Mama. Kita pilih undangan untuk kalian, dan juga untuk pertunangan Fatih." Quinara menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, membuat sang menantu mengangguk nurut begitu saja. "Coba pilih, mana yang lebih bagus. Ini atau ini?"


Dua undangan dengan warna yang berbeda ditunjukkan. Berharap Shena akan memilih yang terbaik karena sebagai ibu mertua harus memulai membangun hubungan selayaknya ibu dan anak. Sementara itu, yang dimintai pendapat. Justru melihat undangan lain yang sederhana tetapi elegan di atas meja.


Warna hitam dipadukan dengan gold garis dan tulisan silver. Begitu jelas, tetapi warna tidak mencolok. Shena meraih undangan pilihannya. Kemudian ia menatap ke arah Mama, "Ma, itu lebih bagus, tapi aku suka yang ini."


"Bagaimana menurutmu, Mas Dan?'' tanya Shena meminta pendapat suaminya, netranya beralih menatap Danish yang diam termenung tanpa kata.

__ADS_1


Danish mengerjap, tak menyangka ketika Shena meminta pendapatnya. Jujur saja, ekspresi dan emosi sang istri tidak mudah ditebak. Tadi terlihat dingin, lalu tiba-tiba berubah hangat. Namun, ketika lirikan mata tak sengaja bertemu netra Fatih yang menatapnya. Sontak, ia paham dengan apa yang terjadi.


Apapun cerita Shena. Fatih mempertegas bahwa semua itu benar adanya. Keraguan yang tersisa memudar, sesaat hatinya berdenyut sakit. Jika pemuda yang ia anggap sebagai adik adalah pemuda brengsek. Apakah hati Mama dan Papa akan baik-baik saja?


Sejak di adopsi. Fatih mendapatkan semua kasih sayang keluarga, bahkan fasilitas pun tidak pernah dibedakan. Ketika ulang tahun terakhir saja. Pemuda itu mendapatkan hadiah sebuah motor keluaran terbaru, sedangkan Danish yang memang menyukai bisnis. Mengubah hadiah menjadi saham bisnis yang baru.


Bukan ingin memperhitungkan berapa banyak uang yang keluarganya keluarkan, tetapi ia tak ingin kedua orang tuanya patah hati karena cinta tak berbalas. Seketika rasa takut menelusup ke dalam hatinya. Namun, saat ini, hanya bisa mengikuti alur waktu dan berharap semua akan kembali baik.


Diambilnya undangan dari tangan sang istri. Undangan yang mencuri perhatian Shena. Sesaat memperhatikan. Indah, sederhana, kalem. Pilihan yang bagus. Kata orang, apapun pilihan dari seseorang bisa mencerminkan kepribadian. Melihat dari undangan itu, Dan merasa istrinya gadis yang tidak begitu menyukai kemewahan.


"Ma, bukankah undangan untuk acara pertunangan dan resepsi kami beda? Aku mau undangan ini digunakan untuk pesta resepsi." Putus Danish tanpa keraguan, lirikan matanya ke arah lain, tetapi fokusnya tetap ke Shena.


"Pilih apapun yang kalian mau. Papa tidak keberatan, asalkan kalian bahagia. Ma, apa tidak sebaiknya undang Naina untuk bermalam disini? Shena bisa punya teman, dan keduanya akan adaptasi bersama-sama dengan rumah baru mereka." ujar Papa Anderson mencoba menyatukan keluarganya.


Bukan tanpa alasan karena antara kedua putranya. Danish bisa dipastikan memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri. Rumah yang baru dibangun. Padahal, rumah keluarga mereka saja bisa menampung lebih dari dua puluh orang. Mandiri. Begitulah jawaban dari sang putra yang memang memiliki penghasilan besar seperti dirinya.


"Pa, Fatih dan Naina belum menikah. Sebaik-baiknya anak gadis berada dirumah orang tuanya. Dan tidak mau menggurui, tapi coba Pap pikirkan baik-baik. Sekali lagi." sahut Danish tanpa mengurangi sopan santunnya.

__ADS_1


Penolakan yang dilakukan Danish. Tak mengubah niat Fatih, pemuda itu tersenyum lalu meraih tangan Papa Anderson. ''Pa, Aku setuju dengan Ka Dan. Tunggu kami setelah menikah. Naina pasti akan pindah ke rumah ini, sebelum itu. Bukankah ada kakak ipar Shena yang bisa menemani Mama?"


Tatapan mata semua orang teralihkan mengikuti ucapan Fatih. Benar, jika Shena sudah menjadi menantu dan bisa tinggal di kediaman Anderson. Namun, tidak semudah itu. Apalagi hanya untuk menjadi jalan pintas si pemuda brengsek. Danish bisa merasakan kegelisahan sang istri. Aura yang menyebar menjelaskan emosi gadis itu, tidak baik-baik saja.


"Kenapa tidak? Mama bisa ke rumah kami, dan Shena akan menemani. Bukannya melarang, tetapi jadwal istriku cukup padat, Pa, Ma." Danish beranjak dari tempat duduknya, lalu berpindah duduk di sebelah Shena. "Belakangan ini, kami tengah merencanakan liburan. Jadi, harap maklum."


Pernyataan Danish mengakhiri segalanya. Ketenangan yang mencekam. Orang tua hanya sibuk memperhatikan, tapi Fatih dan Danish berperang dalam diam. Emosi yang terpendam bersinar tembus melalui sorot mata. Shena berusaha bersikap tenang tanpa memperkeruh suasana. Meski ingin bergegas pergi meninggalkan ruang keluarga.


Setelah memilih undangan untuk acara pertunangan Fatih dan Naina. Serta undangan resepsi yang akan diadakan sebulan lagi. Akhirnya Shena bebas dan diantar bibi untuk pergi ke kamar Danish. Gadis itu tak ingin lama-lama berada satu tempat bersama pemuda yang memiliki tatapan jahat.


"Non, Bibi tinggal, ya. Non bisa panggil bibi kapanpun pake interkom di atas nakas. Oh iya, Bibi hampir lupa. Deretan buku milik Tuan Muda, tolong jangan diubah posisinya." jelas Bibi sebelum pergi meninggalkan Shena seorang diri.


Kepergian Bibi, membuat Shena bernafas lebih lega. Ranjang king size menjadi tujuannya. Lelah pikiran dan juga hatinya. Berperang dari satu masalah ke masalah baru. Sejenak ingin menghempaskan tubuh merasakan kenyamanan dunia. Tatapan mata menghitung bintang yang terlukis indah di atas kamar.


"Satu, dua, tiga, empat, lima ....,"


Dihitungnya bintang kecil dan juga besar, hingga kelopak matanya mulai terasa berat. Tak sanggup lagi untuk terjaga. Shena terlelap memasuki dunia mimpi. Saking lelapnya, tidak mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Langkah kaki yang pelan menghampiri ranjang yang kini sudah dikuasi oleh istrinya.

__ADS_1


"Aku pikir, itu hanya karena shock. Istriku memang cepat sekali tidurnya, belum genap sepuluh menit. Gadis ini sudah melewati jembatan alam bawah sadar. Baguslah, istirahat baik untuk pikiran." Danish mengamati wajah cantik Shena, tapi tiba-tiba ingatan beberapa hari lalu berkelana.


Sontak saja, ia memukul kepalanya sendiri. "Sadar, Dan. Jangan berpikir macem-macem. Shena masih belum menerimamu, tunggu dia mau menyerahkan diri sendiri untuk menjadi istrimu."


__ADS_2