
Tidak satupun orang tua rela, ketika putri semata wayangnya menjadi janda dalam hitungan minggu. Jika melakukan kesalahan fatal. Tentu berbeda lagi, sedangkan ini mereka saja tidak tahu apa alasannya. Penolakan yang dilakukan tidak bisa kecuali Shena sendiri yang menolak.
Mama Melati beranjak dari tempat terburuknya. Langkah kaki yang tertatih berjalan menghampiri Shena yang terdiam hening menikmati kesadaran yang hanya setengah. Melihat kondisi sang putri, ia sadar ada yang salah, tapi apa? Mungkinkah semua yang terjadi memiliki alasan yang tidak bisa diungkapkan?
Sementara sang menantu hanya diam menahan tubuh Shena yang masih lemah tak berdaya. Diraihnya tangan sang putri, "Shena, katakan apa perpisahan akan terjadi sesuai keinginan mu?"
Bibir pucat mencoba untuk mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada yang terjadi. Suara yang seharusnya terdengar menyapa gendang telinga. Nihil tak mampu menggetarkan nada yang mampu menyelesaikan masalah yang ada. Remuk di hati semakin tak karuan karena keadaan Shena yang benar-benar di luar bayangan.
Bagaimana bisa tubuhnya lemas seperti tak bertulang. Suara hilang hingga menjadikan gadis itu bisu, bukan lagi terkejut. Namun tak sanggup lagi untuk menggambarkan isi hati dan pikirannya sebagai seorang ibu. Meski tatapan mata Shena tetap memiliki semangat yang membara.
Di tengah tatapan mata yang saling melakukan kontak batin. Papa William bersiap untuk memberi ultimatum, akan tetapi sebelum dimulai. Mama Melati sudah berdiri seraya mengusap kepala Shena. Entah benar atau salah, ia tahu semua akan baik jika menyetujui perpisahan yang ditawarkan oleh Papa Anderson.
"Kami terima perpisahan Shena dan Danish, tapi dengan satu syarat." Langkah kaki yang memutar berganti haluan menatap sang besan yang terlihat sedikit lega setelah penerimaan yang dilakukannya. "Biarkan pasutri ini menghabiskan malam terakhir untuk saling mengucapkan janji perpisahan. Setuju?"
Tidak seorangpun berani menjawab, tetapi semua yang terjadi di ruang tamu tersebut bisa di dengarkan seseorang yang melakukan panggilan. Sambungan earphones yang terpasang di telinga Papa Anderson menghantarkan suara umpatan kasar yang terdengar menyentak tanpa sopan. Walau begitu, pria itu tetap tenang dalam amarah yang tertahan.
__ADS_1
[Satu malam. Setelah itu, Shena milikku. Penawar ada di kamarku. Di belakang poster gunung fuji. Suntikkan sebagaimana mestinya dan penawar itu hanya bekerja selama dua belas jam. Setelah itu, keadaan gadis ku akan kembali lemah tak berdaya.]~jelas Fatih dari seberang, lalu mematikan sambungan telepon, membuat Papa Anderson bergegas berlari meninggalkan ruang tamu dan mengejutkan yang lain.
Semua orang saling pandang, tapi tak seorangpun bergeser dari posisinya. Beberapa menit telah berlalu, hingga Papa Anderson kembali ke ruang tamu membawa botol dengan sebuah suntikan. Tidak perlu menjelaskan apapun lagi, ketika melihat pria dewasa itu menyuntikkan cairan bening melalui nadi tangan Shena. Perubahan mulai terjadi.
Wajah pucat yang mulai merona dengan suara yang mulai terdengar mengembalikan kondisi Shena kembali normal secara perlahan. Melihat itu, membuat Danish langsung mengecup kening sang istri dengan hati terasa sakit akan sayatan yang tak berdarah. Ingin sekali bertindak sebagai seorang pria, namun mengingat kondisi tak berdaya atas racun yang menyebar di dalam tubuh sang istri. Ia tak bisa bertindak gegabah.
"Mas, jangan terlalu erat. Aku masih ingin hidup." cicit Shena mencoba untuk menguatkan suami dan keluarganya.
Rasa sakit yang ia rasakan akibat racun pelemah syaraf yang diberikan Fatih. Hatinya berjanji tidak akan melupakan semua itu. Apalagi semua orang menjadi lemah tak berdaya, bahkan Sang Mama menangis akan nasibnya yang malang. Tidak. Semua itu akan menjadi cambuk semangat berjuang.
Satu sisi Shena yang kembali bersikap normal. Sisi lain pengajuan perceraian, dan keluarga bersikap seperti dalang yang menjelaskan teka-teki tanpa ada sebab yang pasti. Bukankah sebagai orang tua berhak mengetahui yang terjadi pada anak-anak mereka? Meski status sudah menjadi tanggung jawab seorang suami atau istri.
Melihat ketidakadilan yang terus menimpa seluruh anggota keluarga. Eisha memberanikan diri untuk memulai penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jika memang harus disalahkan, maka ia terima sebagai tanggung jawab atas kelalaiannya menjadi seorang ibu.
"Maaf, mungkin Tuan Anderson dan Nak Danish beserta keluarga tidak bisa berterus terang karena situasinya memang tidak mengizinkan. Semua yang terjadi hanya ulah satu orang yaitu putraku, Fatih. Beberapa tahun lalu semasa sekolah menengah atas terjadi pertemuan hati antara Shena dan Fatih, tetapi berakhir pengkhianatan."
__ADS_1
"Sejak saat itu, Shena memutuskan untuk menikmati hidup dengan belajar serta meraih prestasi untuk membuat bangga kedua orang tuanya. Semua baik hingga akhirnya pernikahan yang terjadi antara Danish dan Shena akibat insiden kecelakaan mengubah segalanya. Menantu pertama masuk ke dalam rumah yang menyimpan masa lalunya yaitu Fatih."
Eisha menjeda ucapannya, mengedarkan tatapan mata ke seluruh penjuru ruangan sejauh mata memandang. "Kemewahan membutakan putraku, dia mengambil banyak hal yang bukan miliknya. Termasuk merebut Shena dari Danish. Ketika mengintimidasi Naina yang justru menyebabkan masalah baru, membuat pemuda itu membalikkan permainan."
Sakit dan tak ingin mendengar lagi. Kebenaran yang mengejutkan sehingga membuat semua orang merasa dipermainkan. Apalagi ikatan yang terjalin bukan hanya kekeluargaan saja, tetapi juga persahabatan. Shena berusaha untuk duduk tanpa sandaran yang membuat Dan tetap siaga menjaga sang istri.
"Bibi, sudah cukup." Shena mengambil alih tugasnya dari kisah yang hanya tentang ego, keras kepala dan dendam seorang Fatih. Kali ini semua sudah jelas, jika pemuda itu bukan mencintainya, namun hanya ingin memanfaatkan demi kepentingan pribadi yang memiliki tujuan lebih besar.
"Berikan apapun yang dia inginkan, tapi pernikahan ini akan tetap berlanjut. Kalian semua jangan khawatir, aku dan Mas Dan akan berusaha mengatasi semuanya. Bukan begitu, Mas?" Shena menatap suaminya dengan harapan yang tinggi.
Sebagai seorang istri, tentu harapan jatuh pada bayangan sang suami. Tidak ada beban yang berat ketika saling bahu membahu. Meskipun memiliki perbedaan pendapat atau prinsip sekalipun. Suami istri akan berusaha menyatukan arah tujuan agar selasar dalam perjalanan kehidupan mereka.
Bukannya langsung menjawab, Danish ingin meyakinkan dirinya terlebih dahulu bahwa sang istri sanggup melewati jalan yang dipenuhi duri dan bara api. Tatapan mata saling beradu menenggelamkan rasa yang berubah menjadi asa. Nyatanya ia memiliki istri tangguh yang siap memberikan pengorbanan dan itu sudah terbukti dengan tindakannya beberapa jam yang telah berlalu.
"SheZa, suka duka kita adalah milik bersama. Aku dan kamu menjadi kita. Apakah perpisahan bisa menghentikan ikatan kita yang nyata? Tidak." Danish meletakkan kepala sang istri agar diam mendengarkan suara detak jantung yang berpacu begitu cepat. "Kita akan hadapi semua rintangan bersama-sama. Aku janji untuk menjadikanmu pelabuhan terakhir dalam perjalanan hidup kita."
__ADS_1