Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 28: Breakfast


__ADS_3

Shena, duduk dan tutup mata. Mama belum usai mengobati bibirmu. Lihat, sudah terjadi pembengkakan. Bagaimana kamu akan kuliah besok? Masa iya dengan wajah lebam." Seloroh Mama Quinara tak mau mendapatkan penolakan.


Mau, tak mau. Shena menurut. Untung saja setelah menutup mata. Perasaan tidak nyaman menghilang begitu saja. Rasa perih obat mulai berkurang. Setelah tidak merasakan ada tangan yang memegang dagunya. Ia kembali membuka mata.



"Ma, terima kasih telah mengobatiku." Ucap Shena yang terbiasa untuk menghargai tindakan orang lain untuknya.



Mama Quinara mengangguk sambil membereskan p3k. "Istirahat, dan bicaralah dengan kedua orang tuamu, Nak. Jangan mendiamkan mereka. Sebagai seorang anak, kita memiliki kewajiban untuk mendengarkan. Mama akan menyusul Dan, dulu."



Wanita itu berjalan meninggalkan ruang tamu menuju dapur. Dimana putranya berada. Terkadang, sebagai orang baru. Kita harus memberi waktu untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara keluarga.



Waktu terus berputar. Setelah drama Bastian dan Shena memberikan pernyataan bahwa dia tidak marah. Melainkan kecewa atas ketidakjujuran kedua orang tuanya. Gadis itu juga memutuskan untuk kembali ke rumah sang suami di hari itu juga.



Dua hari berlalu dalam keheningan. Shena terus berdiam diri di dalam kamarnya sendiri, bahkan tidak ingin menemui siapapun. Termasuk Danish. Gadis itu sibuk melakukan perenungan, memikirkan mana yang akan dilakukan dan mana yang akan ditinggalkan.



Meski begitu, Danish dengan sabar tetap menemani hingga memilih untuk menyelesaikan pekerjaan kantor di rumah. Pria itu lupa untuk menemui sang mantan tunangan yang berulang kali mengirimkan pesan, dan panggilan sampai ratusan kali.



Mentari pagi yang bersinar cerah memberikan harapan baru. Langkah kaki menyusuri rerumputan hijau nan dingin. Aroma mawar yang semerbak menghilang rasa penat pikirannya. "Rasanya aku hidup kembali."


__ADS_1


"Aku senang, istriku sudah mau keluar dari kamar. Mau breakfast di taman?" tawar Danish yang berdiri di belakang Shena. "Akan ku siapkan makanannya. Mau sarapan apa?"



"Roti panggang isi slice buah kiwi, strawberry, yogurt. Secangkir kopi hitam takaran pas." Jawab Shena tanpa menoleh ke belakang, apa salahnya untuk sarapan bersama? Mereka juga harus bicara empat mata.



Suara langkah kaki yang menjauh, menyadarkan gadis itu. Jika Danish pergi untuk membuat sarapan pagi. Jika diingat, selama beberapa hari menjadi pasutri. Justru terlihat seperti orang asing. Semua yang terjadi, itu hanya karena dirinya.



Alih-alih mencoba melepaskan beban pikiran. Shena baru sadar, jika dia harus membantu masalah Naina tentang Tuan Xavier. Jangankan masalah milik sang sahabat, bahkan soal ponsel saja terlupakan. Sampai detik ini, hidupnya terbebas dari benda pipih karena mengurung diri.



Tanpa menunggu lama. Langkah kaki berjalan meninggalkan taman, tetapi bukan untuk masuk ke dalam rumah. Melainkan untuk menyiapkan tempat sarapan pagi bersama. Sebagai pasangan, sistem kerja sama akan selalu diterapkan.




Senyuman itu, sungguh manis, meski terlihat hambar. Ia tahu, jika Shena masih memaksakan diri untuk tersenyum. Tidak bermaksud menilai, tetapi sungguh hatinya ikut tersiksa. Ketika melihat duka tenggelam dari sorot mata sang istri.



"Secangkir kopi. Setangkup roti panggang slice buah, dan segelas susu." Danish menata menu sarapan pagi dengan passion yang cool. "Selamat menikmati, SheZa."



"Duduklah, Mas. Kita akan sarapan bersama." Ucap Shena mengulurkan tangannya mengambil roti dari atas piring, lalu mencoba hasil dari masakan suaminya.


__ADS_1


Satu gigitan, yogurt yang dingin lumer di mulut terbalut hangatnya roti panggang ditambah sensasi segar menyerbu, membuat makanan itu terasa begitu lezat. Setelah sekian lama. Mood makannya kembali, "Wow, very delicious."



Sesi sarapan bersama tanpa canda dan tawa, tetapi cukup menghadirkan kehangatan kembali. Apalagi, Danish melihat Shena yang lahap menghabiskan roti buatannya, bahkan meminta lebih hingga separuh bagian yang tersisa diberikan untuk sang istri.



"Mau lagi?" tawar Danish menahan senyum karena wajah Shena belepotan yogurt warna putih keunguan. Mirip kumis tipis, lucu menggemaskan.



Shena menggeleng, "Mas, boleh aku tanya sesuatu? Jangan menatapku begitu. Ini tentang seorang pebisnis, jadi sewajarnya tanya ke alamat yang sesuai."



"Sepertinya serius. Ada apa?" tanya balik Danish meletakkan cangkir kopinya kembali ke tatakan. Lalu ditatapnya mata sang istri yang berubah ikut serius.



"Tuan Xavier. Pebisnis seperti apa dia?"



Perubahan suhu udara yang berubah karena sinar mentari semakin naik, atau memang aura Danish yang berubah drastis. Netra mata menelisik tajam dengan bibir terkunci rapat. Apa pertanyaannya salah? Jika iya, apa salah bertanya tentang Tuan Xavier.



Bingung. Apalagi tiba-tiba, pria itu memalingkan wajahnya menatap kebun mawar yang indah karena dipenuhi warna merah dan hijau. Shena masih memilih diam. Feelingnya berkata untuk menunggu jawaban dan jangan gegabah hingga suara helaan nafas panjang kembali terdengar.



"Sejak kapan kamu mengenal Xavier?" tanya Danish penuh penekanan, membuat Shena menaikkan alisnya.

__ADS_1


__ADS_2