Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 98: Club D'Lux Party


__ADS_3

Layaknya matahari dan bulan. Kehidupan Danish dan Shena dalam persimpangan, bukan untuk dipertemukan tetapi terpisahkan. Takdir menghantarkan harapan bersambut asa tak bertuan. Inilah yang dinamakan takdir Illahi. Tak seorangpun mampu menghentikan.


Seiring waktu yang berputar dunia membawa kegelisahan dalam kenyataan. Sudah satu minggu Danish berada di London, nyatanya tidak menemukan keberadaan Fatih. Apalagi Shena yang sangat diharapkan untuk kembali ke dalam hidupnya. Jalanan kota London yang berpacu bagaikan rambu lalu lintas tak mengubah rasa sesak di dada.


"Bro, loe yakin masih mau stay disini? Uncle udah telpon ampe puluhan kali loh. Mau sampai kapan kesana kemari tapi kita paham identitas mereka tidak lagi sama. Loe juga udah sebar anak buah, see hasilnya nihil." Rafael bukan berniat untuk mengusir, ia juga harus kembali ke Indonesia karena waktu pertunangan hampir tiba.


Pasrah atau lanjut? Ia dilema, kenyataannya adalah hati berkata apa dan pikiran trus berperang melawan emosi. Seperti keributan di yang kasat mata membuat beban di pundak terasa lebih berat dari masalah yang ada di dunia. Sadar akan kekecewaan atas harapan yang melambung tinggi.


"Kamu pesan aja tiket balik, tapi kelas biasa saja." Dan beranjak dari tempat duduknya, melihat pergerakan Rafael yang bersiap untuk mengikuti, ia hanya mengibaskan tangan agar sang teman tetap diam di tempat. "Aku mau tenang, nanti balik pas malam."


Tatapan mata patah hati menjelaskan suasana kacau seorang Danish Anderson. Jalannya masih tetap, tetapi tidak memiliki jiwa untuk bernaung seseorang. Rasa sesak di dada tak sesakit rasa rindu yang membelenggu hati. Andai Shena ada di depannya, sudah pasti ia akan merengkuh membenamkan diri memeluk tubuh sang istri.


Melepaskan duka yang terpendam, membiarkan air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Jika kesedihan akan berakhir kebersamaan, ia rela terluka karena cinta. Akan tetapi selama seminggu di London, tidak satupun informasi berguna untuknya. Kemanapun kaki berpijak seakan ia tidak memiliki keberuntungan apapun.


Sulit menjelaskan, tetapi hanya bisa merasakan. Fokus yang terus hilang tak karuan membawa pria itu memasuki sebuah club yang terkenal dengan nama D'Lux Party. Club yang menyediakan minuman dan wanita terbaik. Frustasi? Sebenarnya tekanan batin yang dirasakan sudah mencapai ambang ketidakberdayaan.

__ADS_1


Suara hingar bingar memekakkan telinga, tak membuat Dan mengurungkan niat untuk mencari pelampiasan. Pria itu memilih bangku yang paling ujung agar bisa duduk tanpa gangguan. Akan tetapi, sejak masuk melewati pintu utama saja sudah mencuri perhatian seorang wanita dari ruang kerjanya.


Wanita yang terus menatap Dan dengan tatapan mata tak berkedip seakan siap menyantap makan malam yang tersaji. Hasrat ingin memiliki terlihat begitu jelas menguasai hati dan pikirannya. "Berikan minuman terbaik untuk raja malam ini!" Tangan yang menunjuk ke arah layar monitor tertuju pada pria yang baru saja menghempaskan tubuh jatuh ke sofa single.


Ia tahu, jika pria itu tengah patah hati. Sorot mata yang mudah ditebak walau alasannya bisa jadi tengah dilanda krisis masalah. Apapun itu, baginya hanya ingin kesenangan yang bisa membawa rasa baru untuk kehidupan hampa yang menguasai dunianya.


Bodyguard melakukan perintahnya dengan memberi pelayanan terbaik untuk Danish, sedangkan pria itu tidak tahu telah masuk ke dalam zona gelap yang bisa menenggelamkan diri. Siapapun target dari Queen Selena, maka akan tunduk di bawah pengaturan yang ia buat untuk menjadi tali kekang.


Tegukan sampanye terasa melegakan hati. Tidak seharusnya untuk melakukan jalan yang salah, tetapi seluruh emosi benar-benar menyatu dan tidak mampu terjabarkan. Usaha yang begitu keras selama seminggu berakhir sia-sia. Harapan? Tidak sedetikpun mencapai bayangan yang ia anggap nyata.


Banyak pertanyaan terus berputar di dalam kepala hingga tidak berniat untuk menghentikan kesibukan tangannya yang terus saja menuang sampanye ke dalam gelas mini bercampur potongan es batu. Kesadaran masih enggan pergi meninggalkan dirinya, apa duka di dalam hidup berubah menjadi kekebalan tubuh?


"Ck, dasar tidak tahu aturan. Sudah dua botol, tapi masih belum tepar. Segila itu dirimu hah?!" ucap ketus wanita yang langsung turun tangan karena kelakuan Danish benar-benar mengejutkan dirinya.


Bukan masalah mau berapa botol yang dihabiskan, melainkan tingkat kesadaran pria itu seperti tameng yang menarik perhatiannya. Aneh karena ia tahu benar seorang pemabuk handal dan orang yang baru saja memasuki dunia gelap, tentu memiliki perbedaan kontras.

__ADS_1


Danish menepis tangan wanita yang berdiri dengan tatapan sinis tertuju ke arahnya, "Bukan muhrim. Jauhi aku!"


Seketika tak percaya dengan perkataan Danish yang mengusir dirinya. Apalagi pria itu mengatakan tentang muhrim. Sontak saja ia tertawa, lebih tepatnya menertawakan kebodohan yang ada di depan mata. Dimana seorang pria menikmati sampanye masih sempat berbicara tentang agama.


Apa otak pria itu bermasalah? Ia pun tak tahu, tetapi meninggalkan Danish ditengah para gadis penghibur? Bisa jadi dunia gempar dengan kasus pelecehan massal. Para kaum hawa akan tergoda untuk menyentuh tubuh kekar pria yang masih saja menuangkan sampanye ke dalam gelas.


"Bawa dia ke kamarku!" titah Queen Selena, membuat para bodyguard melakukan perintahnya tanpa ada jawaban kata karena selalu mengutamakan tindakan.


Aksi saling tarik menarik pun tak terelakkan. Ternyata bukan hanya kesadaran yang masih stay, tetapi Danish mampu melawan hingga satu pukulan telak membawa pria itu menyambut kegelapan. Tubuh yang berat sehingga menyulitkan kedua bodyguard.


Club D'Lux Party menjadi icon yang membuat para warga siap merogoh kocek lebih dalam agar bisa mendapatkan pelayanan terbaik. Akan tetapi, Danish tidak memerlukan lembaran uang karena kehadirannya sudah menyita perhatian sang pemilik club sendiri. Kini, tubuh yang tidak sadarkan diri terlelap manis di atas ranjang king size.


Semalaman Selena hanya menatap wajah Dan hingga matanya enggan terpejam. Garis tampan dengan pahatan bak dewa langit. Kenapa baru sekarang melihat pria sesempurna itu? Hati yang berdetak lebih kencang seakan mengatakan bahwa ia telah jatuh cinta. Bisa saja merenggut kenikmatan tanpa izin.


Namun, melihat ketenangan wajah Dan. Ia tak bisa melakukan kebiasaan seperti biasa yaitu selalu brutal. Untuk pertama kalinya seorang pria menempati sisi lain ranjang yang selalu Ia harapkan menjadi tempat suaminya kelak. Benar-benar jatuh hati pada pandangan pertama.

__ADS_1


"Aku harus tahu semua tentangmu. Apakah di dalam sini ada wanita yang menempati?" Selena meraba dada bidang Danish, "Bagaimana jika ada? Apa aku harus menyingkirkannya? Malam ini bisa menjadi keberuntunganku, tapi aku ingin melihat tatapan mata memuja darimu."


Selena mulai berkhayal bersanding dengan Dan, tetapi wanita itu hanya membuat kegilaan tanpa arah tujuan. Pria yang menjadi impian, bukanlah orang sembarangan. Sulit menjelaskan sebelum mengetahui kebenaran. Biarlah malam berlalu menyapa kehangatan berlabuh beradu bersama sang mentari.


__ADS_2