Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 36: Intimidasi Shena, Naina Jujur


__ADS_3

"Naina!" panggil Shena, suaranya parau karena menahan agar tidak berkata lebih dari sekedar panggilan semata.


Naina bangun, lalu berjalan mondar-mandir seperti kebingungan. Sontak Siti menepuk keningnya sendiri. Sudah tahu, saat ini Shena berubah mode serius. Si smart malah masih tenggelam dalam dilema.


Ditengah ketegangan itu. Danish melepaskan earphones, lalu menutup binder yang baru saja selesai dibaca. "Kalian kenapa?"



"Mas, bisa tunggu diluar." Ucap Shena tanpa menatap suaminya, tetapi lirikan mata mengerling memberikan kode pada Siti agar menemani Danish.



Danish tersenyum, lalu beranjak dari tempat duduknya. Pria itu keluar dari markas bersama Siti. Kini yang tersisa hanya Shena dan Naina dengan pintu yang tertutup rapat.



"Duduk!" Tegas Shena mengejutkan Naina yang mau, tak mau menurut untuk duduk di depan sahabatnya itu.



Tatapan mata yang terus menunduk dengan kedua tangan saling bertaut. Kegelisahan bersama butiran keringat yang mengalir. Cuaca di dalam markas tidak panas, bahkan dingin karena memiliki AC yang menjadi salah satu fasilitas mewah. Kenapa seperti tengah dijemur saja.



"Mau jujur, atau?" tanya Shena tanpa tameng suara parau.



Kali ini, tidak ada gunanya sekedar berkata manis. Semua harus jelas. Apalagi menyangkut Fatih. Jangan sampai sahabatnya merasakan patah hati, sama sepertinya dulu. Terlebih, keheningan serta kebisuan Naina memicu rasa takut akan sesuatu yang menjadi pikiran negatif.

__ADS_1



"Aku akan cerita, tapi janji, ya. Kamu tidak marah." Cicit Naina terdengar sangat dipaksakan, tetapi Shena beralih ke mode diam.



"Sehari setelah pertemuan pertama. Fatih mengajakku untuk ketemuan di sebuah cafe. Awalnya, aku menolak, tapi setelah dia menyinggung satu rahasia. Aku tidak bisa menolak. Shena, sebenarnya aku ....,"



Cerita yang menggantung, tubuh Naina bergetar hebat. Melihat itu, Shena langsung bangun. Kemudian merengkuh tubuh hadis sahabatnya. Ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Naina. Terasa begitu dingin seperti menyentuh air es.



Apa yang terjadi? Rahasia apa yang ingin dibicarakan oleh Naina dan kenapa justru tiba-tiba menjadi penderitaan yang nyata. Shena berusaha menenangkan, mengeratkan pelukan seraya mengusap lembut punggung sahabatnya itu.




Sesaat matanya berpendar ragu, hingga bisikan yang sama mengembalikan kesadarannya. Sakit, perih, tapi apakah mungkin itu benar? Naina gadis yang pintar tidak memiliki kehormatannya lagi. Shena melepaskan pelukan, lalu memegang kedua bahu sahabatnya itu. Tatapan mata menelisik.



Mata yang biasanya tenang dengan pendar kedewasaan. Hari ini hanya ada rasa takut, kecemasan dan ketidakpercayaan. Gemetar tubuhnya sudah cukup menjelaskan, seberapa besar rasa trauma yang mengganggu ketenangan Naina. Siapa yang tega, melakukan semua itu?



Tangannya mengepal, semakin lama menatap kehancuran sang sahabat. Rasanya seperti menikam belati ke jantung sendiri dengan kesadaran penuh. Sekali lagi, direngkuhnya tubuh gadis berkacamata. "Ceritakan semuanya padaku!"

__ADS_1



Naina memulai kisah hidupnya. Kisah yang tak seorangpun tahu, walau bibirnya kesulitan untuk menjabarkan masa lalu. Usapan lembut tangan Shena selalu memberikan kekuatan agar tetap melanjutkan bait demi bait yang berselimut kabut waktu. Selama setengah jam, ruangan itu menjadi saksi bisu sebuah kisah kelam.



Emosi yang membuncah, naik lalu turun seperti roller coaster. Tak membuat Shena lelah mendengarkan. Ia tetap tegar, dan berusaha tenang. Meski hati dan pikiran tak lagi bisa dikendalikan dalam diam. Umpatan dalam hati, pikiran berkelana membayangkan siksaan batin yang Naina lewati seorang diri.



Ingatan akan drama ayah kandungnya beberapa hari lalu, menyadarkan Shena. Jika masalah yang dia hadapi tidak seberat masalah Naina. Namun, bagaimana cara mengembalikan kepercayaan diri sahabatnya? Ketika trauma itu menjadi penyebabnya.



"Shena, aku tidak tahu, bagaimana Fatih bisa tahu tentang kekurangan ku. Aku takut, Tante Amora tahu dan menyalahkan dirinya sendiri. Please, katakan aku harus apa sekarang? Aku tidak mau ada yang terluka."



Pertanyaan yang pasti. Pernyataan yang jelas. Ketakutan yang berdasar. Shena memejamkan mata sesaat, memikirkan semuanya dalam keheningan. Setiap cerita masa lalu, disatukan bersama penyataan, hingga ia tersadar akan sesuatu.



"Ulangi lagi, siapa nama pria baj!ngan itu?" tanya Shena tanpa ingin memberikan penekanan batin, tetapi Naina selalu kesulitan ketika mengeja nama dari pelakunya. "Tulis saja disini."



Tanpa berpikir panjang, Shena menyiapkan pulpen dan membiarkan Naina menulis di pinggiran meja yang merupakan bingkai kayu. Tangan yang gemetar menorehkan setiap huruf sehingga membentuk sebuah nama.


__ADS_1


"Suryo Anggoro." Shena membaca nama pria yang berani melecehkan sahabatnya, tidak peduli jika kejadian itu terjadi, sebelum dirinya mengenal Naina. Seorang baj!ngan harus dimusnahkan. "Sekarang, katakan apa perjanjian antara kamu dan Fatih."


__ADS_2