Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 114: Rumah Sakit Sendiri


__ADS_3

Keyakinan hati adalah rasa kepercayaan yang tidak bisa dibeli. Manusia seringkali menyalah artikan dengan berpikir mengenal lebih dekat, lalu menganggap dipercaya. Kenyataannya tidak semudah itu karena keyakinan ada untuk memutuskan ketetapan yang ada.


Seperti Selena yang belajar merelakan cintanya karena ia tahu bahwa memaksa perasaan untuk diterima sang pujaan hati hanya berakhir pada ketidaknyamanan. Bisa saja berusaha merebut hati Danish, tetapi apa jaminan akan mendapatkan cinta si pria? Tidak ada.


Sebanyak dan sekeras apa pun usaha seorang manusia untuk mendapatkan keadilan dalam cinta. Hasil akhir adalah kehilangan hal paling berharga dari dalam diri sendiri. Mungkin bisa lebih emosi hingga menerjang cara haram untuk mendapatkan hak atas cinta tak berbalas. Bisa juga menjadi kehilangan akal, lalu siapa yang bertanggung jawab?


Semua yang berawal dari cinta, akan kembali ke pelukan cinta. Pepatah itu bukan berarti mengambil hak orang yang kita cintai. Akan tetapi menyadarkan diri bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki melainkan rela berkorban serta melepaskan. Lebih baik untuk memahami sebelum badai menerjang.


Usai sudah percakapan kakak beradik dengan keputusan Selena yang tidak bisa diganggu gugat, membuat Black suka gak suka hanya bisa mendoakan serta melindungi langkah yang adiknya ambil. Sekali memutuskan sulit untuk kembali karena jalan yang dituju penuh tipu muslihat.


Waktu yang berlalu membawa kegelapan malam. Hari yang melelahkan, tetapi semangat berjuang masih membara menjadi benteng pertahanan. Hilir mudik para keluarga pasien serta suster dan dokter dengan kesibukan masing-masing, tak membuat Danish bergeser dari tempat duduknya. Pria itu masih betah menunggu seorang diri.


Demi kesehatan sang mama, ia tak mengizinkan wanita itu untuk tetap tinggal di rumah sakit. Sebagai ganti untuk menjaga, maka ia meminta Xavier dan Naina membawa mama mereka ke rumah kebun mawar. Sementara Rafael dan Siti pulang ke rumah utama untuk menyiapkan barang yang diperlukan seperti pakaian ganti.

__ADS_1


Setidaknya mereka bisa bergantian waktu untuk menjaga Papa Anderson. Ruangan ICU tidak bisa sering di kunjungi, akan tetapi masih bisa duduk dibangku depan jika ingin menunggu pasien. Apalagi dokter masih sibuk dengan pekerjaan lain sehingga informasi terkini blum Rey dapatkan.


Duduk menunggu seorang diri, membuat pria itu merenung semua yang terjadi terutama insiden hari ini. Apakah mungkin karena penolakan yang dirinya lakukan hingga Tiara nekad menyerang sang papa? Jika iya, kenapa tidak ada perlawanan? Atau bisa jadi situasi yang ada tidak memungkinkan untuk melepaskan diri. Setidaknya pasti bisa mundur dari serangan.


Jangankan untuk bertanya pada mamanya. Melihat tubuh gemetar dengan wajah pucat yang hampir menghilangkan kesadaran wanita itu. Sebagai anak tak tega dan memilih bersabar seraya menenangkan hati yang pasti hancur penuh kekhawatiran akan kondisi suami tercinta. Sadar akan keadaan yang tidak bisa dianggap normal.


Tatapan mata fokus menatap lantai yang ada di bawah di depan mata. Ubin berwarna putih coral kecoklatan dengan ukuran tiga puluh kali tiga puluh sentimeter. Tidak ada apapun selain bayangan gelap karena pantulan lampu yang menimpa kepalanya. Suara helaan nafas terus terdengar mengusir kesunyian malam. Ada rasa rindu yang menyusup menghangatkan hati walau raga terpisahkan.


Aku ingin menemukanmu agar keluarga mendapatkan putri mereka kembali. Pengorbanan papa tidak akan ku sia-siakan. Ya Allah, tunjukkanlah jalan agar hamba menemukan Shena. Hamba berdoa sepenuh hati dengan kepasrahan. Semoga ridhoMu menyertai hubungan suci kami. Aamiin.~Dan menutup kelopak matanya secara perlahan, mencoba kembali sabar diiringi lantunan istighfar.


Ketenangan Dan tanpa gangguan bahkan pria itu tidak menyadari dari kejauhan sepasang mata memandang dengan tatapan intens. Sesekali melihat sekitar untuk memastikan kondisi, tetapi rumah sakit yang memang dalam keadaan ramai merenggut kesempatan untuk mendekati sasarannya. Padahal semua sudah dia siapkan.


Tangan yang berselimut sarung tangan bersembunyi di balik saku jaket. Masker hitam dengan kacamata hitam tanpa tudung. Penampilan yang misterius, tetapi masih diam duduk di bangku ke empat dari tempat Dan berada. Niat hati sudah pasti walau semua akan berakhir buruk. Satu pemikiran menjadi kesimpulannya.

__ADS_1


Lirik kanan, lalu kiri. Malam semakin menjelaga berteman sinar rembulan yang malu menunjukkan diri. Penantian panjang selama dua jam menghadirkan kebosanan tingkat tinggi. Begitu menyadari situasi semakin sepi, barulah ia beranjak dari tempat duduknya. Langkah kaki yang pasti berjalan secara pelan. Langkah demi langkah degan menyiapkan sesuatu dari balik saku di tangan kanannya.


Jarak tiga meter semakin terkikis baru saja ingin mengeluarkan tangan, tiba-tiba terdengar suara dokter yang memanggil Dan untuk ikut masuk ke ruangan ICU. Pria yang menjadi incaran hilang dari pandangan dalam sekejap mata. Sontak saja dilepaskannya masker yang menutupi wajah.


Pantulan wajah familiar terlihat di sebuah cermin sedang di sudut ruangan. Wajah dengan geraham yang mengeras. "Fatih disini? Apa yang dia mau lakukan?"


Tatapan mata terus terpatri mengamati pria yang berada di depan sana hingga tak sengaja melihat pucuk senjata dari saku jaket sebelah kanan. "Dasar pria tidak waras! Enak saja mau main-main dengan nyawa keluarga ku. Ck, lihat saja apa hukuman untukmu."


Diletakkannya rantang makanan yang sengaja dibawa untuk ia berikan pada Danish, tapi siapa sangka akan melihat hal yang tidak terduga. Tanpa menunda waktu, beberapa gambar diambil melalui ponsel pintarnya. Semua akan menjadi bukti demi kebaikan bersama. Setelah mendapat apa yang dibutuhkan, barulah menghubungi anak buahnya untuk melakukan sesuatu agar Fatih pergi meninggalkan rumah sakit.


Sementara ia sendiri masuk ke dalam ruangan terdekat yang ternyata adalah ruangan bayi. Untung saja tidak ada suster yang berjaga, jika tidak bisa jadi masalah baru. Bagaimanapun caranya tidak boleh Fatih melihat keberadaannya di rumah sakit yang sama. Apalagi membawa rantang makanan untuk Danish. Ia harus mulai menjaga jarak demi antisipasi ketahuan yang bisa saja terjadi kapanpun.


Sepuluh menit menunggu di dalam ruangan, tiba-tiba terdengar suara kericuhan dari luar. Entah apa yang terjadi karena hanya bisa mendengarkan tanpa melakukan sesuatu. Keributan yang terdengar seperti pengusiran, membuatnya sedikit merasa tenang. Sebentar lagi menunggu sampai keadaan kondusif kembali.

__ADS_1


Ditengah kelegaan hati, ponselnya bergetar pertanda sebuah pesan atau panggilan meminta perhatiannya. Jemari yang sigap menggeser icon di layar, "Halo, ada apa? Saat ini bukan waktunya untuk melakukan panggilan, tunggu aku kabari ... Hah, APA?"


__ADS_2