
Kedatangan Rafael, membuat kedua wanita itu mengangguk serempak. Mereka bertiga bergegas meninggalkan ruangan olahraga menuju kamar yang ada di lantai atas, tetapi tak ingin terlalu lama menaiki tangga maka Selena mengajak yang lain naik menggunakan lift yang memang jarang digunakan.
Hitungan detik langsung sampai tepat di depan kamar Mama Quinara yang sengaja diberikan kamar utama kedua oleh Selena. Hal itu sebagai bentuk menghormati layaknya pada ibunya sendiri. Meski selama hidup disia-siakan keluarga. Tetap saja wanita itu berusaha menjadi seorang putri yang tulus menyayangi keluarga.
Pintu kamar yang terbuka setengah, tak membuat ketiganya main masuk begitu saja. Rafael mengetuk pintu mengalihkan perhatian Xavier yang langsung melambaikan tangan agar semua masuk tanpa sungkan. Suara langkah kaki berjalan beriringan tanpa rasa sungkan.
"Mama panggil kami?" tanya serempak Selena dan Naina yang kali ini tampak sepemikiran.
Namun, Mama Quinara masih belum sempat menjawab karena sibuk mengganti pakaian sang cucu yang sepertinya baru selesai dimandikan. Kebahagiaan nyata terpancar dari tatapan mata tenang penuh rasa syukur seorang ibu. Lega melihat semua itu.
"Cakepnya cucu oma. Sabar ya, Ravin. Sebentar lagi pasti punya temen main, moga dapet adik cewek biar pada akur." Mama Quinara benar-benar bahagia tanpa kepalsuan.
Kondisi Papa Anderson memang semakin membaik, tapi masih memerlukan perawatan intensif. Sehingga kehadiran Ravindra menjadi kekuatan untuk keluarga mereka. Nama yang memang bermakna kekuatan dan sangat cocok untuk putra pertama yang lahir dengan situasi mencekam.
Sepuluh menit kemudian, Mama Quinara meminta semua orang untuk duduk bersama di atas karpet bulu yang lembut. "Sebelumnya Mama mau minta maaf pada kalian semua. Jangan ada yang menyala! Disini mama mengumpulkan kalian semua karena tiga alasan yang harus kita bahas bersama-sama."
Permulaan obrolan yang begitu serius, membuat semua anak saling pandang satu sama lain. Khawatir bercampur kegelisahan yang seketika mengetuk emosi. Entah kenapa merasa akan ada perdebatan panjang yang bisa menjadi argumen tanpa akhir. Selama setahun ini hanya ada kebisuan.
Namun hari ini? Mama Quinara memulai sesuatu yang sudah lama terlupakan. Bukannya ingin suudzon hanya saja setiap kali keseriusan hadir memeluk ketegangan. Jujur saja dilema hati terus saja menghadirkan pertanyaan yang hanya bisa dipendam. Kurang lebih seperti menahan diri sendiri agar tetap tenang.
__ADS_1
"Hal pertama yang ingin Mama sampaikan yaitu mengenai pertunangan Siti dan Rafael. Kita semua tahu bahwa seharusnya pertunangan diadakan minggu esok, tapi tidak satupun dari kita berada di Indonesia. Kemungkinan terbesar pasti diundur. Iya 'kan?"
Siti sibuk memainkan jemarinya yang saling bertautan, ia gelisah dengan pernyataan kebenaran tersebut. Bibirnya kelu tak mampu untuk melakukan protes dan semua itu karena ia sadar keadaan Shena masih dalam keadaan kurang baik, sedangkan Rafael memahami ada kata tapi yang masih ditahan sang Mama mertua.
"Jangan cemas karena pertunangan tetap dilangsungkan hanya saja beda dari kebiasaan. Dimana pesta akan diadakan di Indonesia, tetapi kedua mempelai di London. Semua sudah diatur bahkan tempat acara yang Mama sewa secara dadakan. Akan tetapi bagaimana dengan kalian? Setujukah dengan ide Mama."
Ide yang brilian. Meski harus menambah budget lagi, tetap saja tidak mempermasalahkan itu semua. Jika pertunangan tetap berlangsung, maka tidak ada anak yang dibedakan. Siti memang bukan anak kandung seperti Naina, atau Shena. Akan tetapi mereka pemanis kehidupan yang Allah kirim untuk menjadi alasan kebahagiaan di setiap terpaan badai yang menghadang.
"Kenapa kalian diam?" Mama Quinara mengedarkan pandangan mata secara bergantian mengamati ekspresi setiap anak yang duduk bersamanya. "Tidak ada penolakan berarti setuju. Jadi fix pertunangan hari minggu tetap dilangsungkan. Sekarang alasan kedua yang bersangkutan dengan Shena serta Ravindra. Upacara pemberian nama akan diadakan ketika Dan sudah kembali.
"Mama juga ingin melihat Shena kembali bergabung bersama kita dengan keceriaan yang membawa suasana penuh kehangatan. Di sisi lain, mama ingin berdiskusi tentang putri Tiara yang saat ini masih bersama kita. Apakah hati mampu menahan diri untuk tidak menganggap bayi tak berdosa itu sebagai penyebab kehancuran keluarga?
"Darahnya memang mengalir darah Tiara, tetapi bayi itu tidak melakukan hal yang bisa kita anggap sebagai kejahatan. Apakah hati kalian menerima Naya Alya sebagai anggota keluarga kita?" Mama Quinara menatap dengan serius karena masalah satu itu sangat sensitif.
"Ma, bagaimana kami akan mengatakan tidak?" Selena meraih tangan wanita yang sudah mulai memiliki keriput halus, digenggamnya tangan itu seraya mengusap dengan segala rasa sayang. "Tatap kami sebagai putri dan putramu. Apakah kami merasa dianaktirikan? Mama mengajarkan arti saudara dan kasih sayang. Sejak awal Naya Alya sudah menjadi bagian keluarga Anderson."
Selena terdiam sejenak, kali ini ada sesuatu yang terus mengusik relung hatinya. Rasa bersalah atas semua kekacauan yang ia buat semakin terasa menenggelamkan diri dalam kekecewaan. Yah, jalan kerumitan di kehidupan orang-orang yang kini duduk bersamanya hanya karena ulahnya seorang.
"Aku tidak berniat untuk menyinggung siapapun, tapi jika memang ada yang keberatan dengan keberadaan Naya Alya. Bayi itu akan menjadi putriku. Jangan khawatir tentang kehidupan karena InsyaAllah aku sanggup menjadi single parent." sambung Selena tanpa keraguan, membuat Mama Quinara menghadiahi putri angkatnya kecupan kening hangat.
__ADS_1
Hubungan darah memang sangat kental. Banyak keluarga yang harmonis, maka harus bersyukur dengan cinta kasih orang tua dan saudara sekandung. Semua yang ditakdirkan akan menjadi milik setiap hamba yang beruntung, meski dunia dipenuhi dengan duka dan suka.
Ingatlah, tidak semua orang berasal dari keluarga yang sanggup memberikan kasih sayang serta kesejahteraan. Di luar sana justru dipenuhi keluarga brokenhome yang sangat memukul mental anak-anak. Ada keluarga yang sanggup menghujani anak mereka dengan materi, tetapi lupa akan pentingnya waktu. Begitu juga sebaliknya.
Namun dari semua itu yang sangat miris adalah manusia sibuk menilai manusia lain. Karakter setiap manusia terbentuk karena kondisi dan takdir yang harus diperjuangkan. Misalnya, anak satu memiliki keluarga utuh walau hidup sederhana, tetapi keluarga mengajarkan arti peduli sesama. Maka secara tidak langsung akan membentuk pribadi yang memiliki toleransi terhadap sesama manusia.
Begitu juga dengan sebaliknya. Pada intinya, manusia memiliki perjuangan masing-masing dan tidak seorangpun berhak menilai. Mereka yang menyadari arti dari saling menghargai, maka akan paham tanpa diberikan penjelasan. Seperti halnya yang dilakukan Selena. Dimana wanita itu ingin memiliki kehidupan normal dengan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
"Aku tidak mempermasalahkan apapun, tapi akan lebih baik masalah satu ini menunggu Ka Dan." Nai angkat bicara, ia ingat betapa besar perjuangan Danish agar menjaga kehamilan Tiara tetap baik. "Bayi itu secara emosional terhubung dengan Ka Dan. Tidak satupun diantara kita berhak mengambil keputusan. Kenyataan sudah jelas bahwa Naya Alya di kenal sebagai putri pertama Danish Anderson."
"Nai!" Xavier berusaha untuk menahan emosi istrinya, "Maaf, Ma. Nai tidak bermaksud untuk meragukan keputusan Mama."
Dilepaskannya tangan Xavier yang mengenggam lengan kanannya, "Disini kita berdiskusi, Mama tidak akan berpikir aku melawannya. Benar 'kan?"
Perdebatan antara suami istri selalu saja berimbas pada orang-orang disekelilingnya. Satu sisi Nai mengungkapkan hati, sedangkan Xavier ingin menjaga ucapan agar tidak melukai orang tua. Bukannya merasa kesal, Mama Quinara justru tersenyum manis.
"Jangan tegang gitu, Mama senang karena kalian mau berbicara apa adanya. Selama Papa masih masa pemulihan, mari kita selesaikan setiap masalah keluarga secara bersama-sama. Jadi tidak ada yang lebih baik dari satu sama lain karena disini kita memiliki hak dan kewajiban yang sama.
"Seperti yang Nai sampaikan, akan lebih baik menunggu Dan karena memang Naya Alya adalah tanggung jawab putra tertua sebagai seorang ayah bayi itu. Sekarang alasan ketiga yang sebenarnya Mama bingung harus memulai dari mana. Pasti akan ada yang keberadaan terutama yang bersangkutan." kata Mama Quinara melanjutkan obrolan lebih serius lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba Selena merasa ada yang tidak benar. Entah kenapa jantungnya berdegup begitu kencang, padahal tangannya masih menggengam tangan sang Mama. Aneh tapi nyata. Firasat macam apa yang datang menyapa dalam kebisuan yang tersisa. Belum usai mencoba menerjemahkan apa yang dia rasakan, seketika tersentak pengumuman dari Mama Quinara.
"Jika selama tiga bulan Shena tidak kembali sadar. Maka Selena akan menggantikan posisinya sebagai istri Dan ...,"