Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 32: IZIN DALAM PASRAH


__ADS_3

Apakah, sekali lagi akan menjadi kekacauan? Pria itu masih tidak menyadari. Badai yang akan datang bukan dari orang luar, melainkan dari dalam keluarganya sendiri. Dia tidak tahu, jika Fatih sudah siap untuk bertempur merebut Shena dari kehidupannya.


Keesokan harinya.


Shena sudah siap dengan penampilan rapi ala mahasiswa. Hari ini, mendadak ia mendapatkan panggilan dari Pak Ibrahim yang mengharapkan kehadirannya untuk menjelaskan tentang Proyek Bisnis Join New Generations. Sebagai pencetus gagasan, maka ia wajib datang.


Gadis itu sadar. Jika dengan melanjutkan proyeknya. Maka akan sering bertemu Fatih. Ntah itu baik, atau buruk. Impiannya membuat ladang pekerjaan bagi generasi muda, tidak boleh menjadi angan semata. Akan tetapi, ada satu masalah. Bagaimana caranya, meminta izin pada Danish.


Ketika sibuk berpikir, sepintas lalu nasehat sang mama memberikan pencerahan. Mama pernah mengatakan, jika ingin menyenangkan hati seorang suami. Maka berikan kebahagiaan sederhana dengan cara memuaskan perut sang suami tercinta.


Tanpa pikir panjang, Shena terjun ke dapur sebelum bersiap untuk berangkat ke kampus. Menu sarapan sederhana. Nasi goreng rendang instan bertabur toping sosis, suwir ayam, dan juga krupuk kriuk, bahkan aroma harum menyebar hingga keluar.


Aroma itu, memaksa Danish bergegas turun. Ketika menuruni anak tangga, ia melihat kemunculan Shena yang membawa nampan dengan dua piring nasgor panas. Asap putih yang mengepul terus menyebarkan godaan.


"Istriku, pagi-pagi sudah bikin mood naik saja." ucap Danish seraya menghampiri meja makan, sedangkan Shena hanya tersenyum tipis membalas ucapannya.



Dua porsi nasgor telah tersaji di atas meja. Tangan yang biasa digunakan untuk berlatih, hari ini sibuk menyiapkan sarapan untuknya. Tidak masalah menikah dadakan. Jika memiliki istri seperti Shena. Ntah di masa yang akan datang, kejutan apa lagi yang gadis itu berikan.



"Makanlah, Mas." Shena menarik kursinya, lalu duduk di kursi biasanya.


Keduanya menikmati sarapan pagi bersama. Kesibukan Shena yang menyuap makanan, sesekali tatapan matanya terarah pada Danish. Pria yang terlihat begitu menikmati masakannya. Ada rasa syukur karena ia mendapatkan suami yang tidak mengeluh soal makanan.


Sesuap, demi sesuap akhirnya berpindah tempat. Sarapan dengan keheningan seakan tidak ada tempat untuk saling melontarkan pujian atau sekedar mengucapkan kata nikmat. Selama beberapa waktu, Shena hanya mengamati tanpa ingin memulai perbincangan.



Tanpa sadar, Danish memperhatikan tingkah Shena. Dimana gadis yang biasa acuh, pagi ini nampak gusar dengan sorot mata yang tak bisa diterjemahkan. Suapan terakhir masuk ke kerongkongan, lalu diambilnya segelas air putih untuk melengkapi sarapan.

__ADS_1



Kini, ia menatap Shena. "SheZa, apa kamu memerlukan uang?"



Shena menggelengkan kepala.



"Mobil? Laptop atau ponsel?" Terka Danish, tetapi istrinya kembali menggelengkan kepala. "Bisa katakan saja, apa keinginanmu."



Shena mengangguk, lalu mengambil ponsel dari saku jaketnya. Sesaat ia sibuk membuka password, menscroll layar benda pipih itu. Setelah menemukan yang dia butuhkan. Barulah, ponsel itu terulur ke Danish. "Aku membutuhkan tanda tanganmu, Mas."




Beberapa poin kontrak kerjasama bisa dipahami dengan mudah, tetapi ada poin yang memberatkan Shena. Danish bukan hanya membaca sekali, tapi tiga kali bahkan alisnya terangkat mencoba mencerna apa yang akan terjadi di masa depan.



"Apa proyek ini, cita-citamu?" tanya Danish memastikan, sebagai seorang suami dia berhak melarang, tetapi sebagai seorang pebisnis. Dia melihat istrinya memiliki jiwa bisnis dengan ide yang bisa membuka banyak lowongan pekerjaan bagi generasi muda.



Shena mengangguk. Ada yang salah dengan gadis itu, kenapa tiba-tiba begitu pendiam. Selain anggukan dan gelengan kepala. Apakah matahari sudah terbit dari arah berbeda? Nyatanya tidak. Shena hanya ingin bersikap baik agar mendapatkan izin untuk proyeknya.


__ADS_1


"Aku tidak akan tanda tangan, sebelum bertemu dengan orang yang membuat kontrak ini." Danish meletakkan ponsel itu ke atas meja, tatapan mata serius terus dengan suara tegas. "Ayo, kita akan ke kampus bersama."



What's? Shena terkejut, bola matanya semakin menyipit. Sebenarnya apa yang Danish pikirkan? Itu hanya proyek pekerjaan, bukan surat pemecatan status suami. Kenapa reaksinya berlebihan. Ingin komplain, tetapi lagi-lagi pasrah.



"Terserah, Mas saja. Aku tidak masalah, jika proyek itu dilimpahkan ke mahasiswa lain." Ucap Shena lirih, membuat Dan merasa bersalah. Tangannya terangkat mengusap kepala istrinya.



Perlindungan itu, tidak selalu tentang pertarungan melawan penjahat. Namun, dari hal sederhana. Ketika hati berkata, ada yang tidak beres. Alangkah baiknya, jika mengikuti feeling. Tentu setiap pasangan harus saling mempercayai dan tetap terbuka satu sama lain.



"SheZa, kontrak kerjasama ini menarik, tetapi coba perhatian pasal lima poin tiga hingga point lima." Danish mencoba menjelaskan apa masalahnya, "Sebagai seorang pebisnis. Aku bisa pastikan. Jika tiga poin di pasal lima, hanya memberatkan satu pihak."



"Proyek new generation yang kamu bangun. Bukankah, tujuannya untuk menyatukan para generasi muda yang siap melebarkan sayap bisnis? Lalu, kenapa perbandingan keberhasilan dan kerja keras tidak seimbang? Aku tahu, kamu paham tentang ketidakadilan ini."



Penjelasan serta pernyataan suaminya, memang tepat. Dia tahu, dan sadar akan poin yang dimaksudkan, tetapi sedikit pengorbanan tidak mengapa. Bukankah, ketika seseorang belajar mengepakkan sayapnya. Maka harus belajar mengikuti hembusan arah angin? Jatuh, lalu bangun.



Semua adalah hal wajar di setiap perjalanan kehidupan. Hanya saja, bagi Danish itu tidak baik. Bagaimana bisa seorang suami, membiarkan istrinya mengalami kesulitan? Tidak. Jika ingin melanjutkan proyek. Maka surat perjanjian kerjasama harus diubah.


"Seperti yang kamu katakan. Ayo, ke kampus. Kita temui Pak Ibrahim."

__ADS_1


__ADS_2