
[Waalaikumsalam, Dan, putraku. Bagaimana kabarmu dan Shena? Papa harap semua baik-baik saja.]~ jawab dari seberang dengan suara berat bersama helaan nafas panjang.
"Alhamdulillah baik, bagaimana dengan Papa? Mama sementara tinggal bersamaku. Sampai kapan Papa di Dubai?" Balas Dan selalu bersikap sopan untuk mengontrol oktaf suaranya.
[Hanya sepuluh hari, Nak. Titip Mamamu, ya. Satu lagi, pastikan posisi Shena tidak ada yang mengusik.] ~ ucap Papa mengingatkan sang putra dengan begitu ia akan menjadi tenang untuk memulai apa yang baru dijalankan.
Kini bukan apa yang akan terjadi, tapi apa yang sudah terjadi. Sebagai orang tua, ia memiliki kewajiban menjamin untuk kesejahteraan dan masa depan keluarganya. Meski harus tertatih menikmati gersangnya padang pasir. Tetap saja, langkah kakinya tidak akan berhenti.
Panggilan berakhir cukup singkat. Seperti yang sudah diputuskan. Jabatan wakil CEO akan di tempati oleh Shena. Danish hanya perlu melakukan satu hal yaitu meyakinkan sang istri untuk terjun ke dunia bisnis. Namun, untuk hal itu hanya ada satu cara yang bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus.
Dipanggilnya kepala semua divisi untuk mengadakan rapat dadakan. Dimana sebagai CEO ingin memulai misi pertama untuk membawa wakil CEO masuk ke dalam perusahaan mereka. Curangkah? Tentu tidak. Semua adil dalam perang dan cinta. Itu kata pepatah ya, bukan kata Danish Anderson.
"Selamat siang, Semuanya." ucap Danish memulai rapat pagi menjelang siang di ruangan khusus meeting.
"Siang juga, Tuan Muda." jawab serempak staff yang berjumlah lima orang, dua laki-laki dan tiga wanita.
__ADS_1
Rapat kali ini tidak formal karena Dan bersikap sangat humble tanpa wajah garangnya. Entah untuk menarik perhatian semua orang atau hanya ingin mendapatkan dukungan atau memang moodnya sangat baik hari ini. Siapa yang tahu isi hati dan pikiran orang. Apapun itu, mereka hanya menunggu penjelasan yang bisa menghilangkan pertanyaan dari dalam kepala.
"Posisi wakil CEO sudah menjadi milik Nona Shena, tapi ada satu masalah yang harus segera di tangani." Dan mengambil laptopnya, lalu mentransfer data salinan dari proyek new generation. "Kalian bisa periksa email kantor sekarang juga. Ini untuk awal dari proyek yang menjadi jembatan agar wakil CEO mau bergabung menyepakati posisinya."
Tidak ada penjelasan panjang kali lebar karena Dan hanya mengatakan poin penting dari proyek dan bagaimana cara membawa Shena masuk ke perusahaan. Ini bukan curang atau licik, tapi cerdik. Keinginan sang papa bisa terpenuhi dan impian Shena juga tercapai. Saling menguntungkan dan akan menjadi akhir yang baik.
Tidak ada masalah dalam usahanya, tetapi persetujuan dari kepala divisi juga sangat penting. Pekerjaan tidak bisa dilakukan seorang diri karena perusahaan membutuhkan kerjasama bukan kerja mandiri. Tidak ada yang salah, jika menghalalkan segala cara demi mencapai kepastian.
"Tuan Muda, proyek ini pasti akan menjadi booming. Bukan hanya itu saja, banyak anak muda yang akan bersyukur mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan talenta dan tekad mereka. Dariku setuju dan aku sendiri bisa bergabung untuk menjadi marketing pemasaran yang selama ini ku pelajari." ucap tegas kepala divisi management yang selalu memiliki prestasi memukau.
Seperti yang telah disepakati. Pembentukan tim akan dilakukan saat itu juga, dan juga membuat proposal proyek. Bukan Shena yang menawarkan diri, tetapi perusahaan yang jatuh cinta pada proyek new generation. Bagaimana tidak memiliki nilai jual yang tinggi? Ketika dari persentase sudah mendapatkan gambaran akan mengubah dunia menurut lebih baik.
Pagi menjelang siang yang luar biasa, sedangkan di kampus. Shena dan kedua sahabatnya baru saja selesai kuliah mata pelajaran pertama. Bukannya ke kantin. Ketiga gadis itu langsung pergi menuju laboratorium. Waktu istirahat yang akan digunakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Meski waktu pertemuan kurang dari tiga jam. Tetap saja harus sempurna.
"Eh tunggu deh, apa kita akan bertemu langsung dengan si Mr. Xavier?" Siti merentangkan kedua tangan menghentikan langkah kaki kedua sahabatnya.
__ADS_1
Shena tak ingin berkomentar karena ia hanya bertugas menjadi pengamat. Lagi pula, semua sudah selesai sebelum batas waktu yang dia tentukan. Meski dengan satu tindakannya. Naina tak lagi bekerja sebagai team dengan anak-anak yang memang terlibat dalam proyek tersebut. Untuk masalah itu, menunggu waktu yang tepat untuk menangani.
Naina menurunkan kedua tangan Siti, "Aku tidak tahu soal itu. Dari jadwal yang ku kirimkan. Cuma asistennya yang bales. Jadi jangan berharap lebih ketemu si Mr. Xavier. Jujur saja, mending gak usah ketemu ama pria satu itu. Soalnya kaya beruang kutub."
Suara yang jelas dan lantang terdengar hingga ke telinga pria yang berdiri di belakang ketiga gadis itu. Wajahnya mengeras dengan tangan mengepal kesal. Pria tampan sepertinya disamain dengan beruang kutub? Astaga, mulut tidak tahu aturan. Apalagi gadis yang berani mengatainya adalah gadis yang menjadi tim proyek darinya. Tidak habis pikir.
"Sudahlah. Bertemu atau tidak. Proyekmu akan berakhir, jadi selesaikan ini, lalu aku mulai proyek milikku. Ingat, kalian juga harus membantuku." sahut Shena menghentikan badai sebelum menerjang.
Sekali rasa penasaran datang mengetuk kepala Siti. Jangan harap rantai pertanyaan akan dihentikan. Maka sebelum lonceng itu berbunyi, lebih baik menutup topik pembicaraan. Ketiganya kembali melanjutkan perjalanan menuju laboratorium, sedangkan Mr. Xavier berbalik ke arah lain hingga tersadar akan sesuatu.
Suara yang terakhir terdengar begitu lembut, tegas, tak ingin ada penolakan. Suara wanita yang bisa membangkitkan degupan jantungnya menjadi mode lari marathon. Suara itu, milik gadis si pencuri hati. Apakah itu artinya, salah satu di antara ketiga gadis itu adalah tujuan hidupnya? Ingin sekali langsung menyusul, tetapi kedatangan Pak Ibrahim menghentikan pergerakannya.
"Siang, Mr. Xavier. Silahkan, Anda istirahat terlebih dahulu. Bukankah pertemuan dilakukan pukul setengah tiga?" tanya Pak Ibrahim memastikan seraya mengulurkan tangan mempersilahkan pria yang lebih muda darinya itu untuk berjalan terlebih dahulu.
Menghela nafas panjang dengan langkah kaki yang berat. Hati ingin bergegas, tapi pikiran masih waras. Seorang pebisnis tahu arti waktu karena setiap harinya selalu memiliki kegiatan yang terjadwal. Hari ini, ia sengaja datang ke kampus lebih awal. Tidak tahu kenapa, tapi ingin sekali berkeliling untuk kembali mengenang masa kuliah.
__ADS_1
"Pak, boleh saya tahu. Apakah mahasiswi yang menjadi tim proyek perusahaan ku memiliki rekan kerja lain, selain tim yang sudah disediakan?" Xavier mencoba untuk menggali informasi sebelum memulai penyelidikan lebih lanjut, dimana pertanyaannya membuat Pak Ibrahim berhenti melangkahkan kaki.