Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 80: Satu Kesempatan ~ Mendengarkan?


__ADS_3

Mama Quinara menganggukkan kepala lemas. Tidak ada niat untuk melakukan penipuan, tetapi semua yang dilakukannya hanya untuk kebaikan bersama. Jika kemarin ia membela Fatih untuk mendapatkan Naina, kini waktunya menyelamatkan gadis itu agar bisa memiliki kehidupan yang pantas.


Bagaimanapun, ia seorang ibu yang tidak pernah tega melihat kesusahan anak-anaknya. Apalagi Shena sangat mencintai semua orang terdekatnya. Danish tak akan memberikan kesempatan untuk keluarga sendiri melakukan kesalahan terus menerus. Namun, terkadang janji yang sudah diucapkan mengalahkan prinsip yang ada. Seperti keluarganya yang terikat untuk melindungi Fatih.


Nai menepis tangan wanita yang pasti seumuran dengan mama kandungnya, andai masih diberikan umur panjang. Lalu beranjak dari tempat duduk, kemudian berbalik menatap tajam meminta penjelasan, "Apa salahku? Kenapa Tante tega membiarkan pemuda brengsek sepertinya menginjak-injak harga diriku? Sakit di tubuh ku, lebih sakit di dalam sini. Apa tante paham penderitaan yang ku alami?!"


"Nai ...," Mama Quinara mencoba untuk meraih tubuh gadis yang memilih menjauh darinya, tetapi langsung ditepis kasar tangannya. "Pertama dengerin tante dulu. Setelah itu, terserah mau memberikan hukuman seperti apa. Bisa?"


Tidak ada cara lain yang bisa dilakukannya. Naina tengah dikuasi rasa sakit yang membelenggu. Benar seharusnya ia bisa menolong, atau setidaknya memberikan perlindungan dengan cara lain. Akan tetapi, justru hanya bisa diam ditempat seakan rantai telah mengikat tanpa bisa melakukan apapun. Bukankah menjadi istri seorang pengusaha memiliki kekuasaan yang bisa dimanfaatkan?


Hati dan pikiran saling berdebat, mencoba untuk memenangkan pertarungan yang tidak akan menemukan titik pencerahan. Permintaan kecil yang membuat Nai tak bisa menolak, "Hanya satu kesempatan."


Mama Quinara menyetujui, lalu meminta Nai untuk duduk kembali. Kali ini, keduanya duduk di tepi ranjang dengan jarak yang terpisahkan. Tidak ada masalah dengan jarak tersebut. Kelegaan bisa dirasakan karena Nai mau tetap tenang mencoba untuk mendengarkan. Kisah yang akan menjelaskan posisi masing-masing dalam kehidupan mereka yang saling bersinggungan.


"Tante tahu tentang masa lalu, maka dengan sengaja melamar mu untuk Fatih. Mungkin sebelum meneruskan, Nai harus paham satu hal. Fatih bukan putra keluarga Anderson, tetapi putra orang lain yang diangkat sebagai anak kedua keluarga Anderson. Semua ini bermula pada waktu beberapa tahun silam." ucap Mama Quinara memulai kisah yang akan menguras tenaga dan emosinya.

__ADS_1


"Suamiku bekerja siang dan malam untuk memulai bisnisnya hingga suatu hari mengalami persimpangan jalan. Kehidupan kami di uji dengan adanya pengkhianatan. Rekan bisnis yang dipercaya mengambil alih usaha keras yang memang dirintis dengan kerjasama beberapa orang. Di saat itulah, kerumitan dimulai. Pertemuan tak sengaja Mas Anderson dengan seorang pria yang memberikan bantuan tanpa meminta balasan."


"Awalnya semua baik, hingga insiden lain mengubah kehidupan semakin memburuk dan untuk menyelamatkan diri. Suamiku menyerahkan diri pada pihak berwenang untuk melakukan pemeriksaan atas tuduhan penggelapan uang. Siapa sangka, yang terbukti bersalah justru dia yang pernah menolong suamiku."


Bayangan masa lalu terus bergelut dalam ingatannya. Ingin menolak, tetapi semua sudah berlalu. "Malam gelap yang mengantarkan suamiku kembali ke rumah, tetapi di rumah lain penangkapan di lakukan. Meski mencabut tuntutan, hukum tetap berjalan. Takdir atau nasib buruk? Tidak seorangpun tahu karena malam itu, mobil yang membawa tahanan jatuh terperosok ke dalam jurang. Semua penumpang tewas ditempat."


"Ditengah rasa bersalah suamiku. Penderitaan masih berlanju. Dimana hari berikutnya istri dari sang pelaku penggelapan uang juga mengalami kecelakaan tragis. Kedua orang tua yang meninggal tanpa meninggalkan nasehat, apalagi isyarat, membuat hati seorang anak hancur. Yah, aku ingat pertemuan pertama kami dengan Fatih."


Kenangan yang seharusnya di lupakan. Namun malam ini terpaksa ia buka kembali. Tidak peduli, jika rasa sakitnya akan kembali mengoyak jiwa yang lara. Bagaimanapun Naina berhak atas kebenaran yang memang akan menyangkut masa lalunya juga.


"Pemuda dengan wajah polos. Bibir diam terkunci rapat, tetapi tatapan mata menusuk tajam dengan api amarah yang terpancar. Perlahan kami mencoba untuk memberikan kasih sayang, bahkan Danish berusaha keras untuk menjadi kakak yang baik. Sayangnya topeng kebaikan terlanjur dia kenakan. Fatih hanya mencoba mengulur waktu untuk melakukan pembalasan dendam."


Cerita masih berlanjut hingga mencapai akhirnya yang membuat Mama Quinara menghela nafas panjang dengan mata terpejam. "Naina, ayah dari Fatih adalah kekasih Amora. Pria yang bertanggung jawab atas kehormatanmu. Jika malam itu tidak mengalami kecelakaan. Saat ini, dia sudah menjadi paman yang akan menjadikanmu sebagai ladang kepuasan."


Terhenyak dalam kenyataan yang pahit. Apakah benar, pria yang merenggut mahkotanya adalah ayah dari Fatih? Apa itu berarti bukti yang disodorkan pemuda itu memang berasal dari sumbernya langsung? Seketika tak mampu lagi mencerna keadaan yang ada. Kesadaran mulai menghilang tertelan berubah memudarkan sekelilingnya.

__ADS_1


"Nai!" seru Mama Quinara karena terkejut tubuh Naina ambruk tak sadarkan diri.


Di saat bersamaan pintu kamar terbuka dengan kemunculan Amora yang ikut panik. Namun yang menyita perhatian lelehan air mata yang membasahi kedua pipi sahabatnya itu. Apakah wanita itu mendengarkan semua ceritanya?


Kepanikan yang langsung diatasi, sedangkan Amora masih bungkam menunggu di luar kamar berdiri berhadapan dengan Quinara yang terus menatapnya tanpa pilihan. Kedua wanita yang terlihat saling melemparkan pandangan dalam kebimbangan, membuat Siti berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa ada yang mau kopi atau soda?" tawar Siti mencoba mencairkan suasana, tetapi tak ditanggapi oleh siapapun yang ada disekitarnya.


Kecanggungan itu berkurang ketika dokter yang juga salah satu tamu undangan keluar dari dalam kamar. Tanpa ada rahasia menjelaskan situasi tentang keadaan Naina yang mengalami banyak tekanan mental. Gadis itu terlalu sering menerima shock terapi tanpa memiliki jeda untuk beristirahat.


Melihat keadaan yang semakin mengkhawatirkan. Dokter menyarankan pada keluarga untuk membawa Naina ke tempat yang bisa mengubah suasana hati. Tidak lagi memberi kejutan yang bisa mengakibatkan tekanan batin semakin dalam. Semua di harapkan untuk bekerja sama dalam menangangi situasi yang semakin memburuk.


"Terima kasih, Dok. Kami akan menjaga Naina." Tante Amora menyalami tangan sang dokter, "Siti, tolong anter Bu Dokter kembali ke tempat acara!"


Siti mengangguk seraya mempersilahkan Bu Dokter untuk pergi bersamanya meninggalkan area lantai atas. Apapun yang terjadi, ia masih mencemaskan keadaan Shena. Gadis satu itu tidak biasanya menghilang tanpa memberikan kabar. Apalagi mengingat situasi yang ada. Kemungkinan untuk menghindari adalah mustahil.

__ADS_1


Suara langkah kaki yang terdengar begitu tegas mengalihkan perhatian semua orang, tatapan mata beralih terpusat ke arah pintu masuk yang terbuka lebar. Wajah tampan dengan perbedaan usia datang secara bersamaan, sorak tepuk tangan menyambut kedatangan mereka berdua. Siti dan Bu Dokter ikut terhenti menuruni tangga dengan rasa penasaran yang sama.


"Papa dan putranya, sama-sama tampan, ya?" celetuk Bu dokter lupa usianya yang menginjak empat puluh tahun.


__ADS_2