Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 87: Xavier aneh..


__ADS_3

Setetes air mata luruh membasahi pipi. Dibukanya kotak beludru yang ada di genggaman tangan. Kilauan cahaya yang indah dengan senang hati di ambil, lalu memakainya tanpa bantuan sang suami. Kalung dengan bandul kupu-kupu berwarna putih nampak serasi melingkari leher jenjangnya.


"Jalan, Pak!" Dan menepuk atap mobil, membuat Shen lekat menatap ke arahnya. "Duniamu akan menuntut kita bersatu kembali. Percayalah bahwa kita berjodoh."


Shena mengangguk paham. Tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi, tetapi di tengah rasa dilema yang berusaha ia tahan. Nyatanya tak sanggup melepaskan tanpa memberikan perpisahan yang baik. Baru saja mobil mencapai pintu gerbang dengan laju yang pelan.


Gadis itu nekat turun, lalu berlari menghamburkan diri dalam pelukan Danish. Rasa yang menggebu di hatinya bukanlah keinginan untuk mencintai, tetapi harapan untuk hidup bersama. Ia tak memungkiri pernikahan singkat di antara keduanya sangatlah berarti.

__ADS_1


Akhirnya perpisahan tetap terjadi. Shena kembali ke dalam mobil, lalu tanpa menoleh ia meminta sang sopir untuk meninggalkan kediaman Anderson. Kendaraan dengan laju yang cepat mengalihkan perhatiannya menatap ke luar jendela. Situasi yang ada, membuat gadis itu mencoba untuk melupakan rasa sedih hati.


Akan tetapi, dia hanya manusia biasa yang tak luput dari kesedihan. Begitu juga dengan Danish, pria itu bergegas kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang tegas berusaha melepaskan seluruh rasa yang kini tenggelam dalam kesendirian. Namun di saat bersamaan Xavier turun dari lantai atas membawa laptop yang menyala.


Kemudian meminta semua orang berkumpul di ruang tengah. Entah alasan apa yang membuat pria itu bersikap begitu praktis. Padahal selama ini selalu mempermasalahkan hal terkecil sekalipun. Melihat keanehan dari suami Naina, Papa Anderson merasa jika pria dengan usia tak jauh beda dari putranya itu, dia sudah tahu apa yang telah terjadi di dalam keluarga Anderson.


Sayangnya, Xavier dengan entengnya mengatakan bahwa Shena telah mempercayakan dia untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Akan tetapi hanya bisa di tunjukkan. Tanpa mengucapkan lebih banyak kata lagi, jemarinya terus berselancar mengakses sistem komunikasi yang random dari orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


Pergerakan keluarga yang diawasi, membuat Xavier berpikir lebih cepat dari biasanya. Tiba-tiba sebuah ide datang melintas tanpa permisi. "Apakah di antara kalian sudah menonton film mouse?"


"Maksudmu?" Siti menanggapi pertanyaan Xavier spontan, sedangkan yang lain merasa tidak berniat untuk memainkan teka-teki.


Film mouse? Bukankah tentang kepribadian ganda dari anak yang mengalami tragedi di masa kecilnya. Yah, film itu memberi ending yang cukup mengejutkan, tetapi apa hubungannya dengan masalah yang mereka hadapi? Jelas sekali tidak berbeda haluan.


"Daripada kalian bingung, kita akan nonton film itu saja. Aku jamin seru dan semua masalah bisa menemukan solusi yang tepat. Nai, bisa ambilkan ponselku yang ada di atas meja kamar?" pinta Xavier seraya memberikan kode mata yang hanya dipahami oleh Shena, Naina dan Siti.

__ADS_1


Yah, meskipun tidak ada Shena. Tetap saja kode mata dua kali berkedip, lalu menatap ke atas, kemudian berpura-pura merenggangkan kepala menghadirkan jawaban tanpa mengajukan pertanyaan. Naina bergegas meninggalkan semua orang, langkah kaki berlari menaiki anak tangga.


__ADS_2