
"Shena, ayo turun, Nak." Mama Quinara mengajak menantunya untuk turun, sedangkan Danish membenarkan penampilannya, lalu baru keluar dari mobil.
Ketiganya berjalan bersama menuju kediaman yang selama ini menjadi tempat Shena dibesarkan. Rumah besar mewah itu, masih sama, tetapi tidak biasanya saja. Ketika ada banyak tamu. Apalagi, selama ini, Tuan William sangat jarang menerima tamu bisnis dirumah dan lebih suka di kantor saja.
Mamang yang melihat kedatangan Nona muda berlari menghampiri si gadis cantik yang selalu memberikan warna di rumah tempatnya bekerja. "Neng, udah pulang? Apa masih marah?"
"Iya, Mang. Aku gak papa, kok. Maafin Shena, ya." Shena menatap tukang kebun di rumahnya dengan sayang, gadis itu menyesal karena terbawa emosi justru membuat si mamang terkena shock dadakan. "Shena masuk dulu, ya, tapi di dalem ada siapa, Mang?"
Mamang nampak bingung mau menjawab apa. Untung saja, Danish segera memberi isyarat agar tukang kebun itu melipir, "SheZa, sebaiknya kita masuk. Pasti Papa, dan Mama sudah menunggumu. Bukan begitu, Ma?"
Ketika pernyataan meminta persetujuan. Mama Quinara membenarkannya dengan anggukan kecil. Lalu, ketiganya kembali untuk melanjutkan perjalanan. Langkah pasti dengan rasa penasaran. Shena yang masih tenang dengan pikiran positif, terus tersenyum. Sungguh baru beberapa jam, tapi ia merindukan rumahnya.
Rumah yang selalu menjadi tempatnya berpulang. Tidak ada rumah ternyaman, jika keluarga tidak bersamanya. Rumah yang kini ia masuki begitu dipenuhi kenangan. Namun, langkah kaki tak mampu melangkah lagi. Tatapannya langsung terhenti. Ketika pintu utama terbuka setengah dan memperlihatkan hal yang tidak pernah dibayangkan sebagai seorang anak.
Papa William duduk bersimpuh di lantai dengan menangkupkan kedua tangan. Wajahnya menunduk dengan mata terpejam, tapi dimana Mama Melati? Shena mengepalkan tangannya dengan pandangan berpendar pada seluruh rumah. Tidak ada yang bisa ia temukan, selain barang-barang rumah yang hancur berserakan di lantai.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sekarang menjadi kacau balau. Siapa pria yang duduk menghadap ke arah lain itu? Kenapa Papanya harus memohon pada pria itu? Setiap kata yang menancap di hati, membuat Shena tak bisa menahan dirinya, lagi. Gadis itu siap memberikan perlawanan, tetapi ada tangan yang mendadak memegang lengannya.
__ADS_1
Shena melirik ke arah tangan yang berani menghentikannya. Apa tidak tahu, jika hatinya sudah mendidih? Rasanya sangat tersiksa dan amarah yang siap meledak tak bisa ditahan lagi, namun tangan itu milik Danish. Pria yang menatap penuh arti, tetapi tidak mengubah semua rasa yang mulai membara.
"Lepas!" Tegas Shena dengan suara serak, sudah jelas setiap kali manusia menahan amarah. Maka akan ada perbedaan suara yang langsung menjelaskan suasana hati orang itu sendiri. Termasuk gadis itu, dia yang menatap Danish dengan tatapan tak berkedip.
Danish melepaskan tangannya, lalu berjalan maju. Kemudian berdiri di depan Shena dengan netra yang terus saling beradu, tangannya terangkat mengusap pipi istrinya. "Calm down. Kita akan bicarakan baik-baik. Kendalikan dirimu, SheZa ....,"
Shena menaikkan satu alisnya. Benarkah? Di depan sana, ia melihat papa yang selalu menjadi saudaranya selama ini tengah duduk bersimpuh memohon belas kasih. Akan tetapi, Danish justru memintanya untuk tetap tenang? Sontak saja, ditepisnya tangan pria itu, lalu menyingkirkan tubuh tegap yang menjadi penghalang langkah kaki untuk maju.
Kemarahan Shena, tidak bisa dikendalikan. Mama Quinara bisa merasakan perubahan atmosfer yang kian terasa dingin membangunkan bulu kuduk. Danish yang berniat mencegah istrinya, lagi. Pria itu terhenti karena sang mama menggelengkan kepala agar tidak menahan gadis itu.
Langkah Shena semakin mendekati Papa William, namun ketika jarak menyisakan tiga langkah. Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari lantai atas. Gadis itu terpaku akan jeritan yang begitu menyayat hatinya. Apalagi disusul pintu kamar orang tuanya terbuka lebar, lalu seorang pria keluar dengan penampilan tidak karuan.
Tatapan mata ibu dan anak saling bertemu. Namun, secepat kilat. Mama Melati mengalihkan tatapan matanya. Wanita itu berjalan menuruni anak tangga dengan kaki pincang. Hati Shena semakin hancur, tanpa sadar. Langkahnya berlari menghampiri sang mama tercinta, tidak peduli dengan wajah yang terkejut.
Gadis itu membantu Mama Melati untuk menuruni tangga, tetapi ia juga menghirup aroma tubuh wanita yang telah melahirkannya. Parfum pria dan itu berasal dari pria yang kini berdiri di bawah tangga. Pikirannya berkelana. Sebuah pemikiran jijik melintas begitu saja. Langkah kaki terhenti, lalu menatap sang Mama.
"Apa dia melecehkan, Mama?" tanya Shena seperti belati yang menusuk jantung mamanya.
__ADS_1
.
.
.
.
...๐๐๐๐ซโญ๐ซ๐ซโญ๐ซ๐๐๐...
Tidak ada kata selain rasa syukur. Setiap anak yang mendapatkan cinta kasih seorang ibu. Ibu akan selalu menjadikan anak sebagai dunianya, namun seorang anak belum tentu menjadikan ibu sebagai kebahagiaannya.
Jangan tanyakan, seberapa besar cinta seorang ibu. Ibu tidak pernah mencintai anak mereka karena pamrih. Ayo, kita buat ibu bangga dan tetaplah berbakti.
Love for mother, never end.
__ADS_1
...โงเผบโฎโฆเผปโ Happy mother's Day โเผบโฆโฎเผปโง...