
Bingung. Apalagi tiba-tiba, pria itu memalingkan wajahnya menatap kebun mawar yang indah karena dipenuhi warna merah dan hijau. Shena masih memilih diam. Feelingnya berkata untuk menunggu jawaban dan jangan gegabah hingga suara helaan nafas panjang kembali terdengar.
"Sejak kapan kamu mengenal Xavier?" tanya Danish penuh penekanan, membuat Shena menaikkan alisnya.
"Any something wrong?" tanya balik Shena menyelidik, tentu saja ada rasa curiga yang menelusup mengetuk pikirannya.
Sikap tenang, tatapan mata serius dan bibir terkunci. Keduanya saling memandang tanpa berkedip, bahkan tidak menyadari kedatangan kedua sahabat Shena yang berniat untuk mengetahui keadaan gadis satu itu.
Pemandangan yang dipikir romantis terpenjara dalam memori Siti dan Naina. Kedua gadis itu, justru menghentikan langkah mereka dan berpikir pasutri itu tengah menjalin kasih. Bagaimana tidak, ketika turun dari mobil. Mereka justru melihat Shena dan Darren saling menatap intens.
Nyatanya tidak seperti itu. Shena masih menyadari kedatangan kedua sahabatnya itu, "Mas, ada yang lain. Berhenti menatapku seperti itu."
"Siapa? Disini hanya ada kita." ucap Darren menyangkal, tetapi sekilas lirikan mata memperlihatkan lambaian tangan Naina dan Siti ke arahnya. "Temanmu, bagaimana bisa disini?"
Shena mengedikkan bahu, tak tahu bagaimana dan untuk apa kedua sahabatnya datang. Namun, jujur saja ada rasa lega dan bersyukur. Naina dan Siti menjadi penyelamat. Setidaknya, kedua gadis itu mengubah ekspresi wajah Darren menjadi kembali normal.
Jika tidak. Entah sampai kapan harus membuka mata tanpa berkedip. Apapun yang menjadi ketidaksukaan Danish, itu tergambar jelas dari sorot matanya. Dibalik nama Tuan Xavier, sebenarnya ada apa? Kenapa seakan mengucapkan nama terlarang. Bagaimanapun, dia harus mencari tahu. Iya 'kan?
"Kita akan bicara lagi nanti. Nikmati waktumu bersama mereka." ujar Darren beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan tempat breakfast.
Kepergian suaminya, membuat kedua sahabatnya berjalan menghampiri, lalu tanpa permisi duduk mencari tempat yang nyaman. Namun, pertanyaan akan satu nama masih meninggalkan rasa penasaran. Meski begitu, Shena tak mempermasalahkan hal itu.
Lagipula, jika bukan Darren yang memberikan informasi, maka dia sendiri bisa mencari dari tempat lain. Siapapun Tuan Xavier. Pasti akan didapatkannya. Informasi sesulit apapun, akan tersedia dalam waktu sekejap. Itu sudah pasti.
Ditengah senyuman tipis yang menghiasi wajahnya. Naina dan Siti sibuk berceloteh tentang beberapa kejadian selama dia tidak masuk kuliah. Semua keluhan di dengarkan dengan seksama, hingga bagian pertemuan kedua diantara calon tunangan yang sepertinya mulai tumbuh benih-benih bunga cinta.
__ADS_1
Sontak saja, Shena memperhatikan gestur bahasa tubuh Naina. Ia mencoba mengukur, seberapa besar pengaruh seorang Fatih pada sahabatnya itu. Tetapi tatapan matanya, justru tertangkap basah oleh Siti. Si gadis ratu dangdut menyenggol lengannya seraya mengerlingkan mata.
"Nai, stop dulu." Shena menghentikan curahan hati sahabatnya, membuat Naina bernafas normal kembali. "Sebaiknya, minta bibi buatin minuman dulu. Aku gak mau, kamu pingsan hanya karena bicara seperti rel kereta."
"Wuih, ide cemerlang. Nai, pesen es jeruk dan teman-temannya, ya." sahut Siti semangat tujuh lima dengan menunjukkan barisan gigi putihnya.
Naina mendengus sebal, tetapi tetap beranjak dari tempatnya. ''Ada lagi? Biar sekalian."
Shena dan Siti serempak menggelengkan kepala. Keduanya membiarkan Naina berjalan menjauh dari mereka. Ntah apa yang akan menjadi perbincangan kedua gadis itu, selama salah satu sahabat mereka tidak ada ditempat.
Namun, di sebuah cafe. Seorang pemuda tersenyum penuh arti. Secangkir kopi latte yang menjadi teman setianya tandas tak tersisa. Tiba-tiba ada tangan putih lembut dengan cincin berlian hati tersemat di jemari manis yang meraih tangannya.
"Itu gampang, tapi inget. Bawa dia pergi sejauh mungkin karena gue ingin semua miliknya. Jadi, uangmu itu, gue tidak butuh."
"Really? Dia milikku, begitu juga hartanya. Kalau gitu, kita ...,"
Suara gebrakan meja menghentikan perdebatan itu. Dimana wanita yang masih mencoba untuk bernegosiasi terkejut akan sikap kasar pemuda di depannya. Selama ini, pemuda itu terkenal alim bahkan sangat sopan.
Lalu, apa yang terjadi saat ini? Kenapa sikap brutalnya keluar dan kenapa tatapan matanya hanya penuh kebencian dan dendam. Aneh, ketika itu menyangkut orang lain. Pasti masih dianggap wajar, tetapi ini masuk ke dalam lingkup keluarga sendiri.
__ADS_1
Apa mungkin, pemuda itu, lebih tidak waras darinya? Bisa jadi. Apalagi, cara bicara dan setiap gerak tubuhnya nampak begitu gelisah. Meskipun, mati-matian untuk bersikap normal. Walau begitu, hanya dia yang bisa mengembalikan miliknya.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya dengan menurunkan pandangan mata, "Fatih yang ku kenal bukan seperti ini ....,"
Suara wanita itu begitu lirih, bahkan hampir terdengar seperti gumaman angin. Fatih sudah tidak peduli dengan apapun. Setelah berpikir dan merenung semalaman. Akhirnya, dia menetapkan pilihan yang menjadi tujuan hidupnya saat ini.
Rasa cinta yang kembali berbunga mekar, benar-benar mengubah seluruh fokus dunianya. Apalagi bayang-bayang wajah Shena yang semakin anggun menggemaskan. Rasanya ingin membangun penjara cinta untuk gadisnya itu.
Apa arti cinta? Jika seorang kekasih tidak memperjuangkan perasaannya. Orang-orang akan memanggilnya sebagai pecundang. Seorang Fatih, bukan ditakdirkan untuk menyerah. Dia siap menerjang badai, menembus norma dan segalanya untuk mendapatkan Shena kembali.
Maka, pemuda itu memutuskan untuk bekerja sama dengan Tiara tunangan Danish. Sebagai orang dalam, dia tahu segalanya. Termasuk sebab terjadinya pernikahan antara Shena dan kakak angkatnya. Setiap info dia gunakan sebaik mungkin.
"Jika Loe gak terima terus membuat ulah. Jangan salahkan gue, buat sebarin video panas Loe ke Danish." Fatih memainkan ponsel pintarnya, lalu menunjukkan cuplikan hot durasi singkat sebagai bukti ancamannya memang nyata.
Melihat gerakan tubuh lihai yang meliuk menari diatas tubuh sang kekasih gelapnya. Tiara gemetar, wajahnya mendadak pucat. Ia membayangkan bagaimana jika Danish melihat kegilaannya akan sentuhan pria? Mungkin bukan hanya di tendang, tapi langsung lenyap ditempat.
"Ok. Apapun syaratmu. Danish hanya milikku."
...----------------...
๐Notes ๐
"Any something wrong?"
(Ada yang salah?)
__ADS_1