
Sikap tak biasa sang mama, membuat Danish menautkan kedua alisnya. Jujur saja, ia tak paham ada apa sebenarnya. Untuk pertama kalinya sang mama nampak begitu cemas, tetapi tak bisa mengungkapkan. Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi?
Jika hanya tentang pekerjaan kantor. Tentu tidak akan secemas itu, apalagi Papa akan tetap meng-handle segala sesuatunya dan tidak akan membuat ketegangan masuk ke dalam rumah. Seluruh masalah bisnis selalu stay di kantor karena rumah menjadi tempat berbagi kehangatan semua anggota keluarga.
Sebagai seorang anak, ia tahu kapan mamanya tengah mengalami tekanan. "Ma, SheZa ada di kamar bersama kedua sahabatnya, tapi apa yang Mama sembunyikan dari Dan? Aku anak Mama, kenapa bersikap asing?"
"Bukan begitu, Dan. Tunggu Papa pulang. Mama tidak tahu harus memulai dari mana. Tolong beri waktu buat kami menjelaskan." Jawab Mama Quinara, membuat Dan menghela nafas pelan.
Tentu tak bisa memaksakan. Bagaimanapun, Mamanya memiliki hak untuk mengambil tindakan sebagai seorang ibu yang pasti telah dipikirkan secara matang, demi kebaikan bersama. Rasa penasaran harus ditahan, mencoba menghantarkan kepercayaan.
Keduanya sepakat untuk diam, sedangkan Shena kembali terlelap ke alam mimpi, membuat kedua sahabatnya sibuk membaca buku yang ada di atas meja belajar sang pemilik kamar. Serius, tetapi sesekali saling melirik memastikan Shena tetap dalam keadaan baik-baik saja.
Sementara itu, suster terdiam duduk di sofa sendirian. Seperti tidak memiliki teman, ia sibuk memainkan ponsel menikmati waktu senggang karena pasien kali ini hanya memerlukan obat dua jam sekali.
Langit yang berarak menghantarkan sang mentari menuju peraduan. Tidak terasa, matahari tenggelam berganti kegelapan. Setelah pertempuran, tibalah perpisahan. Naina dan Siti berpamitan, tetapi Danish meminta untuk tetap tinggal. Sebagai suami, ia tahu istrinya akan lebih merasa baik. Jika ada kedua sahabat yang menemani.
Perdebatan singkat, tetapi berakhir persetujuan. Malam ini, Naina, Siti dan Mama Quinara menginap dirumah pasutri baru. Apalagi setelah mendengar keadaan menantu yang tidak baik. Danish harus menerima ceramah selama satu jam dari Mama tercintanya.
Pukul 19.00 WIB. Satu persatu mulai turun menuju ruang makan. Dimana bibi sudah menyiapkan makan malam, bahkan ditemani Mama Quinara yang sengaja ingin memanjakan perut anggota keluarganya. Tentu menjadi kebahagiaan yang sederhana. Inilah yang menjadikan ia seorang ibu rumah tangga.
Aroma yang menggoda menggelitik perut keroncongan semua orang. Danish yang duduk di kursi utama, Shena duduk di sisi kanannya, sedangkan Naina dan Siti duduk di sisi kiri meja. Begitu semua makanan disajikan. Mama Quinara duduk di sebelah menantu pertamanya.
__ADS_1
"Baiklah, siapa yang akan pimpin do'a?" tanya Mama Quinara seraya mengedarkan pandangannya ke setiap manusia yang duduk menghadap meja makan.
Danish berdehem, lalu mengangkat ke-dua tangannya, kemudian menangkupkan "Bismillaahirrohmaanirrohiim, Alloohumma barik lanaa fiimaa razatanaa waqinaa 'adzaa bannar."
(Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.)
"Aamiin." jawab serempak semua orang, lalu mengusap wajah masing-masing sebagai tanda menyudahi doa.
Malam ini, Shena tidak bisa melayani suaminya. Akan tetapi, Mama Quinara merawatnya dan yang lain sebagai seorang ibu. Tidak ada kekurangan dalam kasih sayangnya.
Danish merasa bersalah karena tidak mengabari Sang Mama, namun itu bukan berarti ia berniat untuk menyembunyikan kebenaran akan kondisi sang istri. Bagaimanapun, ia akan slalu menghormati mamanya.
Wanita itu tersenyum sinis. Bukannya tidak tahu akan apa yang dikerjakan oleh anaknya. Namun, ia masih tidak percaya atas apa yang dikatakan oleh suaminya. Dimana sang putra tengah sibuk menyelidiki siapa sebenarnya Fatih.
Tangannya melambai, membuat Dan beranjak dari posisinya. Lalu duduk di hadapan sang mama, menatap mata wanita pertamanya begitu dalam hingga merasakan kasih sayang yang begitu besar. Tidak sekalipun, sang mama bersikap kasar selain ungkapan hati melalui kata yang tertuang.
''Dan, apa kamu meragukan kedua orang tuamu?'' Mama bertanya seraya menangkup wajah putranya.
Bukan ingin mempertanyakan, tetapi ia tak ingin Dan fokus pada masalah yang bukan ranahnya. Berbeda jika itu tentag bisnis. Masalah kali ini,bukan hanya tentang satu orang. Melainkan tentang banyak orang. Sayangnya, kehadiran Shena menjadi babak baru yang tidak bisa dihindari.
Sementara Dan tidak paham akan maksud sang mama. Ia pikir ini hanya tentang kondisi Shena. Sayangnya, wanita itu berbicara tentang semua masalah yang sedang bergulir antara keluarganya dan keluarga yang lain.
__ADS_1
''Ma, Aku tidak paham dengan arah pembicaraan kita. Apa yang mau Mama katakan? Coba jelaskan secara singkat.'' pinta Dan membuat mamanya menghela nafas panjang, kemudian melepaskan tangannya dari wajah sang putra.
''Dan, kami tahu siapa Fatih sebenarnya,'' Mama Quinara berusaha menahan diri, tetapi melihat kegelisahan dan kesusahan sang putra. Tentu ia tak bisa tinggal diam. ''Mama sengaja menjodohkan Fatih dengan Naina.''
What!! Sungguh tidak pernah terduga, sesaat Dan mengingat hari dimana Mamanya yang tiba-tiba menghubunginya untuk menemani ke rumah sahabat dan demi bertemu calon menantu kedua. Jika memang sudah tahu, kenapa masih meneruskan hal itu?
''Semua bermula pada malam itu,'' Mam Quinara megalihkan tatapan matanya ke arah belakang dengan tatapan mata jatuh membayangi foto keluarganya yang hanya ada dia, sang suami dan putranya.
Perlahan, sebah ksah masa lalu kembali diperdengarkan. Dimana kisah itu, membuat tubuh Dan bergetar hebat. Ia tak bisa menjelaskan emosi yang terus menerjang. Ingin mencoba lari dari kenyataan. namun, ia bukan seorang pecundang.
Dua jam kemudian. Dan pergi meninggakan kamar mamanya. Setelah berhasil menenangkan tentunya. Langkah kakinya terus berjalan tetapi meninggalkan rumah menuju tempat yang akan memberikan ketenangan.
Kemelut di dalam hati semakin menjerat. Tidak pernah menyangka, jika dibalik satu fakta terselip fakta lain. Akankah ia sanggup mengatakan pada Shena? Entahlah. Ia saja tidak bisa percaya begitu saja, lalu bagaimana dengan istrinya?
Ya Allah, hamba hanya manusia biasa. Setiap cobaan hanya berpasrah akan ketetapanmu. Lindungilah keluarga hamba dalam pemgawasan Mu. Aamiin~ucap hati Dan sepenu hati.
Malam yang semakin larut berteman diam dalam keheningan. Danish mencoba untuk melepaskan seluruh rasa akan dilema hatinya. Esok, siapa yang tau? Namun, kini ia hanya mencari ketenangan dalam kemarahan.
''Ka Dan!'' panggil seseorang dari arah seberang bersembunyi dari balik dedaunan.
Suara itu sangat familiar, seharusnya tidak terkejut. Jika pemilik suara serak datang untuk berkunjung ke rumahnya. Tarikan nafas panjang bersiap untuk mengendalikan emosinya sendiri.
__ADS_1