
Yuni menggelengkan kepala. Pasrah dan tak bisa berpikir jernih, lagi. Ia sadar diri akan kemampuannya yang memang tidak seberapa. Otaknya hanya cukup untuk mengerjakan tugas dari dosen. Itupun, ia harus belajar mati-matian. Berharap bisa menyelesaikan kuliah secepat mungkin.
"Baik." Akhirnya, Yuni menyerah dengan pandangan lesu. "Jadi, apakah kalian bisa membuat proposal itu? Pak Ibrahim hanya memberikan waktu hari ini saja."
Naina dan Siti saling berpandangan. Seulas senyum tersungging menghias wajah kedua gadis itu. Entah apa yang ada di kepala mereka. Apapun itu, sudah jelas menjadi sesuatu yang bisa membantu.
Naina mengajak Siti dan Yuni ke ruang komputer. Di tempat yang seharusnya untuk membuat proposal secara online. Selain menghemat waktu. Tentu tidak perlu pulpen, apalagi harus kembali ke kelas hanya untuk sebagai bahan coret mencoret.
Kesibukan ketiga gadis itu, membuat mereka melupakan waktu. Siti yang bertugas sebagai pencatat poin, Naina yang mencari sumber informasi dan Yuni yang melengkapi setiap pertanyaan yang diajukan kedua gadis lainnya.
"Yun, apa ini acara akbar yang terakhir digelar?" Naina menunjukkan beberapa foto yang ternyata juga di publikasikan ke media sosial pada Yuni, gadis yang ditanya mengangguk membenarkan.
Siti yang duduk di sebelah kiri Naina ikut melihat dan mengamati suasana acara tahun lalu, tapi tiba-tiba ia melihat wajah yang tidak asing dari salah satu foto yang beredar. "Tunggu! Nai, bisa ambil gambar itu dan perbesar?"
Jari telunjuk yang terarah pada sebuah foto segerombolan anak muda dengan latar belakang penari tradisional khas Jawa Timur. Bukannya menjawab, Nai langsung melakukan apa yang diminta Siti. Sejauh ini, apapun yang diamati oleh si gadis dangdut memang memiliki arti, bahkan bisa mendapatkan informasi tak terduga.
Foto sudah diunduh, lalu dibuka dengan file yang sudah disiapkan. Kemudian diperbesar seperti permintaan Siti. Nampak gadis itu tengah berpikir dengan kedua mata yang semakin menyipit. "Apa dia mantan alumni sini? Dia ini, tetangga ku."
Lagi dan lagi, Siti memberi informasi yang biasa. Namun, terkadang bisa mendapatkan sesuatu di balik penemuan gadis itu. Sayangnya, pernyataan si gadis dangdut harus patah dengan penjelasan Yuni yang mengatakan bahwa pemuda yang ada di foto bukanlah salah satu alumni kampus mereka.
__ADS_1
Pengakuannya bisa dibuktikan dengan arsip para mahasiswa terdahulu, tapi semua serba canggih. Jadi bisa diperiksa juga dengan cara masuk ke pusat data kampus. Seperti yang dikatakan Yuni. Setelah melakukan pemeriksaan data. Tidak ada nama tetangga Siti. Sepertinya ketiga gadis itu lupa. Jika acara puncak juga dihadiri beberapa perwakilan dari Universitas lain yang mendapatkan undangan khusus.
"Sudahlah. Jangan cari informasi yang tidak berkaitan. Ok, kita balik ke topik utama. Jadi, dari tahun ke tahun. Acara hanya akan mengadakan pentas seni antar kelas dan juga seperti anak SMP melakukan classmetting. Apa kalian punya ide lain? Ide yang berbeda." Naina memainkan pulpen yang bisa menetralkan rasa di hatinya.
Si gadis dangdut menangkupkan kedua tangannya di wajah dengan perasaan campur aduk. Meski sudah diminta berhenti. Entah kenapa pikiran tetap melayang pada pemuda yang kini menjadi penganguran dan sering nongkrong di pos kamling depan gang tempat tinggalnya.
Lamunan yang jauh menerawang, membuat Siti mengabaikan ide dari Yuni untuk acara akbar nanti. keheningan terasa menghangatkan, meski nyatanya memusingkan. Tiba-tiba tubuhnya terlonjak kaget, ketika terasa tepukan tangan menyentil lengannya. Tatapan mata yang menghujam siap menerkam.
"Peace," Siti menangkupkan kedua tangan meminta maaf atas ketidak fokusannya. "Jadi, bagaimana? Apa saja yang akan dilakukan untuk acara akbar nanti?"
"Yun, maaf, tapi ini akan sedikit terlambat. Jadi ....,"
[Assalamu'alaikum, Nai, buka e-mail mu dan berikan proposal yang sudah aku buat pada Yuni. Jangan tanya apapun lagi. Wa'alaikumsalam.]~ ucap dari seberang dengan suara lirih, lalu mematikan ponsel yang ia pinjam.
"Sudah?" tanya Dan menerima ponselnya kembali, kemudian meletakkannya ke atas nakas. Tangannya beralih mengambil bubur putih yang masih hangat mengepulkan asap putih. "Sekarang istriku harus makan."
Yah, ditengah kondisi yang sakit dan mendapatkan perawatan khusus. Shena masih mengingat janjinya pada Yuni. Satu hal yang sudah bisa ditebak. Dimana ketidakhadirannya hari ini, pasti membuat Yuni mendatangi kedua sahabatnya. Jadi bukan hal sulit untuk menunaikan janji di waktu yang sudah ditetapkan.
Entah apa jadinya. Jika ia masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. "Mas, kapan aku bisa pulang?"
__ADS_1
"Besok pagi. Sekarang buka mulutmu." Jawab Danish seraya mengulurkan tangan yang memegang sendok, tentu sudah meniup bubur yang harus di dinginkan agar tidak kepanasan. "Aaaa ....,"
Sesuap, demi sesuap hingga separuh bubur berpindah tempat mengisi kekosongan perut istrinya. Perasaan hati yang campur aduk, membuat Dan semakin menjaga sikapnya agar bisa memanjakan dan memperhatikan Shena. Sekali lagi mencoba untuk menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Meski kesalahan yang lalu terus menari di depan mata.
Senyuman yang manis dengan tatapan yang meneduhkan. Ada banyak kata yang terpendam, namun terpancar dari sorot mata kerinduan. Ada apa dengan suaminya? Setelah mengabaikan, kini mencurahkan banyak cinta yang begitu dalam. Hatinya bisa merasakan penyesalan itu nyata adanya.
"Mas, apa kamu ingin mengatakan sesuatu?" Shena bertanya dengan hati-hati, tidak ingin melukai. Apalagi menyinggung perasaan suaminya yang terlihat sudah begitu lelah menjaganya.
Helaan nafas panjang terdengar begitu berat. Apakah beban kehidupan yang ditanggung sangat besar? Entahlah. Selama ini, mereka belum sedekat itu hingga bisa tahu masalah satu sama lain. Selain mencoba untuk menjadi pendengar dan pendongeng yang setia. Kurang lebih seperti itu.
"Maafkan Aku, SheZa." ucap Dan menatap wanitanya semakin dalam, sungguh hatinya terasa dicekik tanpa sentuhan.
"Tak apa, Mas. Kita hanya manusia." Shena meraih tangan suaminya, mengusapnya perlahan. "Mari kita mulai semuanya dari awal. Bismillah, semoga hubungan ini, sakinah, mawaddah, warohmah. Amiin."
Lega rasanya mendapatkan siraman hati yang mampu menenangkan jiwa. Menikah dengan Shena memang bukan impiannya, tetapi kini tetap menjadi suami gadis itu, adalah tujuan hidupnya. Kebahagiaan yang sederhana dalam ikatan sakral.
Tanpa keraguan, Danish merengkuh tubuh Shena. Membenamkan kerinduan dalam pelukan hangat. Tidak ada kata selain rasa syukur yang tiada tara. Pasutri baru akhirnya kembali berbaikan, menyisakan senyuman manis yang terus menghantarkan semangat hidup yang baru.
"SheZa, mari kita hadapi semua masalah dalam kehidupan ini bersama-sama. Tidak ada lagi keraguan dalam hati padamu, istriku. Terima kasih sudah sabar menghadapi ego ku yang tinggi." bisik Dan, lalu mengecup puncak kepala Shena penuh kerinduan.
__ADS_1