Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 52: Keyakinan yang Hancur


__ADS_3

Jawaban Danish menohok. Meski benar adanya. Seperti itu kenyataan yang ada, namun jujur saja. Beban yang akan dia bagi, bisa menjadi bumerang. Banyak hal yang akan dipertaruhkan. Akan tetapi, jika dibiarkan. Bagaimana caranya menghentikan niat Fatih?


Helaan nafas panjang dengan angan yang melayang. Berat rasanya untuk menyembunyikan semua. Pikiran dan hati kembali bertarung tanpa diminta hingga sentuhan tangan suaminya mengalihkan kesadaran. Tatapan mata yang masih menunggu kepastian.


"Mas, kamu boleh percaya atau tidak. Aku hanya akan mengatakan sekali dan tanpa penjelasan lebih jauh lagi. Tidak ada pertanyaan sama untuk jawaban yang pasti." Shena mencoba mengatur emosinya, menata hati yang harus memiliki mental untuk mengutamakan kejujuran.


Keseriusan sang istri, membuat Danish mengubah posisinya. Tak ingin mengambil kesimpulan tergesa-gesa. Ia memberikan kesempatan pada Shena untuk memulai cerita yang menjadi kebenaran. Dimana gadis itu memulai sebuah kisah lama melalui sudut pandang seorang Naina.


Kata demi kata keluar berubah menjadi bait penjelasan. Kisah masa lalu yang melibatkan Naina dengan pria asing yang menjadi mantan kekasih Tante Amora. Pria yang mengambil kehormatan dari gadis usia dibawah umur. Tanpa menyebutkan nama sang dalang pelecehan.


Kisah pilu atas pelecehan yang diterima Naina membawa emosi naik turun. Berulang kali Shena menghela nafas panjang agar tetap tenang, namun lelehan air mata yang membasahi kedua pipi gadis itu. Merupakan refleksi dari rasa sakit hati yang tengah dirasakan.


Siapa yang tahan dengan kisah pria dewasa yang menjadi pedofil? Tidak ada. Pria dengan pemikiran mesum seharusnya mendapatkan hukuman setimpal, tapi kisah yang Shena bawa berakhir dengan perpisahan tanpa kejelasan.


"Jika itu masalah Naina. Aku bisa meyakinkan Fatih untuk menerima sahabatmu sebagai istrinya nanti." Sela Danish yang berpikir masalah hanya tentang penerimaan bagi gadis tanpa kehormatan.


Wajar saja, seorang kakak tidak berpikir hal buruk tentang adiknya. Ingin sekali menghentikan kejujuran, tapi apa gunanya? Jika berhenti, justru Danish yang akan diam dalam kesalahpahaman. Sementara masalah utama, tidak akan mendapatkan jalan keluar.

__ADS_1


Perlahan gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Langkah kaki berjalan meninggalkan sofa, lalu menapaki lantai mendekati jendela kaca di depannya. Tatapan mata nanar membayangkan masa depan sang sahabat. Bagaimana jika pernikahan menjadi belenggu neraka? Tidak boleh.


"Shena!" Panggil Dan, pria itu ikut menyusul menghampiri istrinya.


"Mas, Fatih bukan pemuda yang baik untuk Shena. Dia tahu tentang kekurangan Naina dan menggunakan alasan yang sama untuk bisa memeras emosi sahabatku." Shena berbalik menyambut Danish yang tercengang akan pengakuannya. "Fatih hanya ingin memanfaatkan Naina sebagai tameng."


Diam tak berkedip. Danish terpaku di tempat. Telinganya berdengung. Benarkah yang didengarnya barusan? Fatih, pemuda yang polos dengan sikap alim. Pemuda itu ingin memanfaatkan seorang gadis? Mustahil. Hati dan logika menolak pengakuan dari sang istri.


Tanpa kata, Danish menghentakkan kaki dengan umpatan pelan. Pria itu tak bisa berkomentar. Selain menahan rasa geram, kesal dan amarahnya. Sadar diri akan emosi yang meningkat pesat. Langkahnya berlalu pergi meninggalkan kamar. Sikap spontan yang menjelaskan, dimana posisi Shena dalam hidupnya.


Tatapan matanya semakin nanar, hampa dalam kesendirian. Punggung suaminya menghilang bersama pintu yang tertutup dengan sendirinya. Runtuh sudah keyakinannya. Ingin mengeluh, tapi untuk apa? Kejujuran yang ia genggam, bukanlah kebenaran yang bisa dipercayai.


Perbedaan kepercayaan adalah satu dari banyak alasan atas retaknya sebuah hubungan. Hidup berdampingan bukan hanya tentang berbagi ranjang. Namun saling belajar tentang kedewasaan, melengkapi kekurangan. Ketika satu terjatuh, satu lagi menjadi sandaran.


Namun, Danish terbawa suasana hingga meninggalkan Shena dalam kesendirian. Hubungan yang baru saja terjalin, seketika runtuh dalam ketidakpercayaan. Keretakan itu nyata adanya, walau berusaha menutupi dengan seulas senyuman.


Satu minggu telah berlalu. Sejak pengakuan yang dilakukan Shena. Sikap Danish berubah, meski sesekali masih memperhatikan. Pria itu memilih memberikan mobil baru untuk dipakai sang istri sebagai kendaraan selama melakukan rutinitas sepanjang hari, sedangkan dia sendiri menyibukkan diri dalam pekerjaan.

__ADS_1


Adilkah? Tidak. Meski begitu, Shena tidak mengeluh, bahkan tidak menanyakan kelanjutan akan proyek new generation. Gadis itu memilih fokus membantu Naina untuk menyelesaikan proyek nano yang semakin mepet dengan jadwal deadline yang menipis.


Seperti hari ini, ketiga gadis sudah berkumpul di ruang labolatorium untuk melakukan pengujian pertama. Setelah berjuang bersama selama lima hari. Naina akan melakukan demonstrasi pertama tentang proyeknya secara nyata. Tentu bangga memiliki sahabat yang genius, tetapi fokus yang terbagi, membuat Shena seringkali hanya melamun.


Tingkah aneh itu, membuat Siti dan Naina penasaran. Rasa penasaran yang hanya bisa disimpan, karena mereka sudah mencoba bertanya lebih dari tiga kali. Termasuk melakukan sesi curhat. Tetap saja, Shena bungkam tanpa suara, selain menyunggingkan senyuman tipis.


Berkat kesibukan yang tidak bisa ditentukan kapan akhirnya. Shena melupakan beban hatinya sebagai seorang istri. Diamnya Danish selama beberapa terakhir sungguh menyiksa batinnya. Kenapa harus berkata jujur? Pada akhirnya dia sendiri yang menderita.


Bukan bermaksud menyesal, tapi rumah tangga yang baru saja dirajut. Tiba-tiba kehilangan sinar harapan, bahkan tidak ada pandangan akan menjadi seperti apa. Apakah ia harus meminta maaf? Entahlah, seakan diam menjadi solusi terbaik diantara mereka berdua.


Tak jauh berbeda dengan emosi Shena. Danish yang mencoba untuk melupakan setiap bait kebenaran dari pengakuan sang istri. Nyatanya semakin terperosok mencari kebenaran tentang Fatih. Benar dia hanya diam, bahkan mengabaikan keberadaan wanitanya. Akan tetapi, dia tidak hanya berpangku tangan.


Segala cara dilakukannya untuk mengumpulkan semua informasi tentang Fatih dan keluarganya. Termasuk mencari kebenaran atas pelecehan yang diterima Naina. Orang-orang yang menjadi suruhannya bergerak cepat mengejar informasi yang dia inginkan.


"Permisi, Tuan Danish Anderson. Detective Wildan meminta izin untuk bertemu. Apakah diizinkan?" lapor Sang Sekretaris melalui sambungan telepon ke ruang kantor CEO.


[Diizinkan. Antar Detective Wildan ke ruanganku sekarang!]~jawab Danish tanpa menunda, perasaan yang campur aduk dengan rasa penasaran yang tinggi.

__ADS_1


Alih-alih melanjutkan pekerjaan. Pria itu memilih memejamkan mata mengatur deru nafas. Suara yang berdetak seakan tengah berlari marathon. Kenapa rasanya tidak siap untuk mendengarkan hasil dari penyelidikan? Jika semua tidak seperti yang diharapkan. Apa yang akan menjadi keputusannya?


Pasti akan ada penyesalan yang mendalam. Siapapun yang benar. Apakah akan mendapatkan dukungan darinya atau justru hati kembali menjadi kelemahannya? Siapa yang tahu hasil dari kemelut antara hati dan pikiran seorang manusia. Nyatanya, semua tetap menjadi misteri.


__ADS_2