
Benar yang dikatakan oleh Amora. Malam nanti, seharusnya acara syukuran pernikahan Danish dan Shena, serta pertunangan resmi antara Fatih dengan Naina. Ia hampir lupa dengan semua itu karena masalah yang ada. Apalagi secara tidak langsung, semua menjadi satu memperumit keadaan.
Ingin mengundurkan jadwal, tetapi tidak mungkin. Semua sudah siap, bahkan ia lupa dengan pihak WO. Apakah sudah mengabarinya atau masih sibuk dengan persiapan. Seakan mengerti dilema sang sahabat, Amora memegang bahu wanita yang melamun itu dengan tatapan lembut.
''Nara, Aku sudah hubungi pihak WO dan mengatakan situasi yang ada. Mereka akan menangani acara dengana baik. Meski hanya akan diadakan acara syukuran. Jadi bagaimana?'' Tante Amora menjelaskan seraya memastikan akan keputusan sang sahabat yang sebentar lagi akan menjadi calon besannya.
Jika melanjutkan tidak memungkinkan, tetapi ia takut akan keselamatan Naina. Bagaimana nasib gadis itu? Apa akan menerima konsekuensi yang pasti akan langsung diwujudkan oleh anak angkatnya. Dilema yang berselimut kabut kegelisahan semakin menggebu-gebu.
''KIta akan melanjutkan, dan ini demi kebaikan semua orang. Kuharap demikian.'' ucap Mama Quinara dengan rasa bersalah yang terpancar dari sorot matanya.
Keputusan itu juga didengar Shena yang baru saja sampai di ruang makan. Ingin mencegah atau setidaknya melakukan komplain, tetapi keadaan tidak memungkinkan. Sekarang entah harus berbuat apa. Bagaimana cara memutuskan untuk menyelesaikan masalah yang ada.
''Morning, semuanya.'' sapa Danish seraya merangkul bahu Shena yang membuat gadis itu kembali tersadar ke alam nyata. ''Ma, Tan, kami mau jalan-jalan ke depan cari bubur ayam. Mau titip gak?''
''Gak, Nak, tapi pesen satu buah Naina ya.'' sahut Tante Amora, sedangkan Mama Quinara hanya menggelengkan kepala.
Pasutri itu berjalan meninggalkan ruang makan. Langkah kaki menjauh, tetapi mendekati pintu keluar. Langkah demi langkah hingga mencapai pintu kayu yang menjulang tinggi di depan mata. Baru saja Dan mengulurkan tangan, tiba-tiba pintu terbuka dengan penampakan wajah yang familiar.
__ADS_1
Senyuman nakal dengan penampilan yang acak-acakan. ''Pagi, Ka Dan. Pagi Kakak ipar.''
''De, kamu nginep dimana? Gak habis camping 'kan?'' tanya Dan menyelidik dengan rasa khawatir seorang kakak, baginya Fatih tetap adik yang selama ini dikasihi.
''Gak, Ka.'' Fatih terlalu bersikap tenang seakan tidak terjadi apapun, tetapi telapak tangan kanan nya sudah terbalut perban putih yang tampak jelas. ''Aku masuk dulu, gerah nih, Ka.''
Tanpa menunggu jawaban, pemuda itu melenggang pergi melewati pasutri yang berdiri di samping pintu. Namun, lirikan matanya terpatri sekilas pada warna merah yang menarik perhatiannya. Jejak cinta yang membakar hati dengan rasa sakit sesak di dada.
Pergi menghilang dalam kehampaan. Amarah dalam jiwa bersambut ketidakberdayaan. Ingin berteriak menunjukkan emosinya, namun tak ada hak untuk melepaskan semua tekanan itu. Shena milik Danish, sedangkan ia hanya masa lalu.
"Mas, apa kamu lihat bagaimana reaksi Fatih?" Shena membuka suara setelah keduanya ke menjauh dari gerbang rumah Naina, tangannya yang trus di genggam Danish memang di sengaja. Semua itu untuk menunjukkan kehidupan rumah tangga mereka bahagia.
Mencoba menenangkan Shena dengan mengusap tangan lembut yang kini menjadi tanggung jawabnya. "SheZa, adikku keras kepala, tapi aku masih memiliki keyakinan bahwa dia akan menghentikan semua kegilaan yang ada. Jika memang kepercayaanku gagal. Apapun yang akan kamu lakukan, aku janji tidak membantah sedikitpun."
Untuk apa memperdebatkan hal yang sudah disepakati? Semua itu menjadi keputusan keduanya di tengah malam tak berbintang. Sekilas kenangan membawa sisa harapan. Hembusan angin yang menyapa membawa harum pertengkaran sepasang suami istri di tengah malam.
Beberapa jam lalu, Shena memulai percakapan. "Mas, bisa jelaskan apa yang harus aku lakukan? Situasi dan keadaan yang ada. Jujur saja, aku tidak mau menjadi perusak hubungan, apalagi Naina sudah ku anggap sebagai saudara."
__ADS_1
"Aku setuju dengan semua yang kamu katakan, tapi ada satu masalah." Dan beranjak dari tempatnya, langkah kaki berjalan menghampiri Shena yang berdiri di depan jendela kamar dengan tirai terbuka menampakkan langit malam. "Siapa yang akan menikah dan mau menerima Naina tanpa melihat masa lalu. Dimana kita membawakan jodoh pria bertanggung jawab?"
Perdebatan itu bermula dengan kilas balik akan hubungan Naina dan Fatih. Shena mencoba meyakinkan Danish untuk membantunya membatalkan pertunangan yang akan terjadi. Sayangnya, pria itu masih mencoba memberikan kesempatan. Ingin berkeras hati, nyatanya tidak mungkin.
Sehingga kesepakatan telah dilakukan. Dimana satu kesempatan dengan pengawasan yang tetap. Danish akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan masalah keluarga, dan Shena bisa fokus untuk menyelesaikan pendidikan yang sebentar lagi harus disambi dengan pekerjaan kantor. Sementara itu, di tempat lain Xavier terus memikirkan nasib si gadis rambut kepang.
Kegelisahan di hati bukan karena cinta. Ada rasa empati setiap kali mengingat bagaimana perlakuan Fatih pada Naina. Bagaimana iya bisa tahu tentang perbuatan yang terjadi di dalam kamar hotel? Semua itu berkat kekuasaannya yang membayar pelayan menyelundupkan camera tersembunyi dengan alibi mengantarkan pesanan.
Tatapan mata tak henti memperhatikan bagaimana cara Fatih menyiksa Naina yang terus bungkam, hingga akhirnya gadis itu jatuh tak sadarkan diri. Sadis dan miris. Apalagi setelah mencari tahu seluruh cerita yang ada. Hatinya menyesal memperlakukan Naina dengan kasar. Ia ingat berapa kali membentak gadis itu.
Kesibukan Xavier memikirkan masalah yang ada, membuat pria itu terus menerus berusaha mencari solusi agar bisa mengubah penyesalannya menjadi ketenangan. "Pertunangan akan terjadi malam ini, apakah Tuan Anderson akan mengizinkan aku masuk ke tempat acara?"
Secara keseluruhan, kini ia paham. Dimana antara hubungan yang masuk ke dalam hidupnya ternyata orang-orang yang berkaitan dengan masa lalunya. Andai bisa memilih, tetapi takdir hanya Tuhan yang tahu. Bagaimanapun hanya bisa menjalani sebagai manusia biasa. Apapun kata takdir, itulah yang akan menjadi jalan masa depan.
Tanpa sadar, keinginannya akan menyatu terikat dengan benang takdir yang tak terduga. Siapa yang akan mengeluh? Ketika takdir sudah berkehendak tanpa bicara. Seperti sinar mentari yang menghangatkan, begitulah semilir angin menghembuskan sisa harapan. Waktu terus bergulir tak bisa dihentikan walau sejuta doa dipanjatkan.
Pukul satu siang. Kediaman Anderson Family.
__ADS_1
Suasana mansion yang indah dengan dekorasi mewah. Hiasan lampu gantung berteman untaian kristal warna warni dengan para pekerja yang masih sibuk mengatur segala sesuatunya. Di antara para pekerja, seorang pria berkacamata ikut sibuk membenarkan bunga yang dijadikan penutup tangga.
"Permisi, bisa antarkan kotak ini ke kamar mempelai wanita? Kamarnya sisi kiri dari kamar utama." Pelayan lain menunjuk ke arah kamar yang ada di atas sana, "Cepatlah! Gadis itu harus mencoba pakaiannya terlebih dahulu."