Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 37: Perjanjian yang Dilaksanakan


__ADS_3

"Suryo Anggoro." Shena membaca nama pria yang berani melecehkan sahabatnya, tidak peduli jika kejadian itu terjadi, sebelum dirinya mengenal Naina. Seorang baj!ngan harus dimusnahkan. "Sekarang, katakan apa perjanjian antara kamu dan Fatih."


Naina menatap lantai, seakan ada tumpukan uang di bawah sana. Lagi dan lagi, gadis itu tenggelam memikirkan apa yang harus dilakukan. Berterus terang atau tetap diam menyimpan semuanya seorang diri, tapi jika memendamnya. Apakah akan selesai begitu saja? Tidak. Ia ingat setiap ancaman dari Fatih.


Pemuda itu, memer@s emosinya tanpa ampun. Tidak peduli dari mana Fatih mendapatkan informasi tentangnya. Ancaman pemuda itu, pastilah bukan hanya omong kosong belaka. Ingin mengatakan pada Tante Amora untuk membatalkan pertunangan mereka, tapi ia tak tega untuk menghapus kebahagiaan sang tante.


Dilema. Kebebasan yang selama ini menjadi kehidupannya. Kini tak lagi ada artinya. Semua itu karena perjanjian yang Fatih berikan atau lebih tepatnya dipaksakan padanya untuk setuju. Shena adalah istri dari kakak Fatih. Jadi, bagaimana caranya mengatakan sikap brengsek sang adik ipar?


Fatih memaksanya untuk menyetujui tiga persyaratan. Dimana pertunangan akan tetap berlangsung, tetapi diganti dengan acara pernikahan. Apa tujuan pemuda itu? Dirinya saja tidak tahu. Pemuda itu hanya menjelaskan. Dimana sebagai calon istri, maka harus menurut pada calon suaminya.


Isi perjanjian itu adalah setelah menikah, ia akan tinggal bersama suaminya. Perjanjian kedua, seluruh perintah tidak bisa dibantah, apalagi ditolak. Perjanjian ketika, Naina harus berhenti kuliah. Sekilas tidak ada yang memberatkan. Akan tetapi, ketika Fatih memberikan contoh dari setiap perjanjian itu, tubuh Naina bergetar hebat.

__ADS_1


Fatih bukan menganggapnya sebagai seorang istri. Melainkan sebagai sarana untuk melancarkan semua tujuan hidupnya sendiri. Dimana pemuda itu ingin merebut bisnis keluarga Anderson secara diam-diam. Benar. Secara detail, dia menjelaskan poin perjanjian dan maksudnya.


Sesak di dada, hancur di jiwa. Kenapa harus mendapatkan jodoh yang bersiap untuk mengubah persahabatannya menjadi pengkhianatan? Siti mengetahui setengah kebenaran, tetapi Shena mengetahui kisah masa lalunya. Jujur saja, bibirnya kelu tak sanggup menanggung seluruh beban hidup yang membelenggu.


Naina yang sibuk melamun, membuat Shena menghela nafas panjang. Ingin bersikap tegas. Namun tidak tega. Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah mengangkat tangan, lalu mengusap kepala sahabatnya itu. Biarlah keheningan menjadi teman keduanya. Sementara di luar sana, Danish masih menunggu tanpa sepatah katapun.


"Tuan, boleh aku tanya sesuatu." Ujar Siti yang sudah bosan dalam diam, dia terbiasa menjadi pusat kehebohan dan selama beberapa waktu, justru menjadi biksu. Diamnya Danish dianggap sebagai persetujuan. "Apa Tuan mencintai sahabat ku? Maksudku, yah kalian menikah tanpa saling kenal satu sama pain. Jadi?"


Arah pembicaraan gadis di depannya begitu jelas, tetapi apa harus menjelaskan tentang kehidupan rumah tangganya? Siapapun tidak berhak untuk ikut campur. Namun, dia itu sahabat istrinya. Jawaban tidak harus sama, walau tujuannya tetaplah sama. Ditatapnya netra gadis itu sekilas. Type gadis yang loyal.


Untuk pertama kalinya, Siti bersikap serius. Gadis itu terus menatap Danish dengan tatapan sulit diartikan. Ada sesuatu yang menarik dari perhatiannya. Ia mencoba untuk mencari kekurangan dari seorang Danish. Tatapan mata yang terus terpatri, membuat pria itu menyedekapkan kedua tangan di dada.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Danish membalas tatapan Siti, tak kalah serius dan tajam, sedangkan yang ditatap malah menggelengkan kepala.


Satu jam kemudian.


Shena dan Danish baru sampai di kediaman Anderson. Kedatangan pasutri itu karena panggilan sang mama yang ingin kedua anaknya mencoba pakaian yang sudah dipesankan khusus dari desainer langganan keluarganya.


Rumah yang megah dengan penjagaan ketat. Jelas rumah kediaman Anderson tiga kali lipat lebih besar dari rumahnya. Walau begitu, Shena tidak kaget atau bersikap norak. Kemewahan bukan hal yang bisa menjadi fokus utama kehidupannya.


"SheZa. Ayo!" ajak Danish mengulurkan tangan kanannya dengan tatapan mata yang meneduhkan. "Mau ku gendong?"


"Tidak, Mas." balas Shena menyambut tangan Danish tanpa ragu, tatapan mata saling beradu menghadirkan senyuman tipis yang menghias wajah keduanya.

__ADS_1


Pemandangan itu, begitu romantis. Sesaat menaburkan benih bunga, hingga terdengar suara dari arah gerbang yang memanggil nama Danish dengan nada lembut nan manja menggoda. Suara itu, mengubah suasana. Wajah Danish yang menegang, membuat Shena menaikkan alisnya.


"Masuklah! Aku akan menyusul." ucap Danish mencegah Shena yang bersiap berbalik untuk melihat ke arah gerbang, ia tak ingin merusak mood istrinya lebih buruk lagi. "SheZa! Ini perintah."


__ADS_2