
Hezkiel merasa terpojok. Ia dilanda dilema. Ia tidak ingin memberikan kekuasaan pada Celine. Tetapi ia juga tidak ingin Celine mengatakan yang tidak-tidak pada keluarganya. Atau terlihat tidak baik-baik saja menikah dengannya.
"Sial! aku harus apa jika seperti ini. Apa yang sebenarnya wanita gila ini inginkan. Aku semakin dibuatnya tertekan." batin Hezkiel.
"Kenapa diam, Kiel. Kau tidak akan berikan izin? apa aku hanya cukup menggunakak kekuasaanku sebagai Nyonya rumah ini saja? tidak, aku tidak mau. Aku ingin lebih." desak Celine, tidak mau tahu.
"Ya," jawab Hezkiel.
"Ya, apa?" tanya Celine.
"Ya, lakukan sesuai kemauanmu. Aku akan berikan kekuasaan penuh padamu. Tepato ucapanmu untuk tidak mengusik hubunganku dengan Monna." jelas Hezkiel.
Celine tersenyum, "Diterima," jawab Celine senang.
"Kau begitu tampak bahagia. Kau ini benar-benar wanita licik, ya. Aku tidak menyangka kau mendesakku sampai seperti ini. Demi mendapatkan apa yang kau inginkan." kata Hezkiel terlihat kecewa.
"Apa dia kecewa? Hah, yang benar saja. Bukankah seharusnya aku yang kecewa karena sikapnya? pria tidak punya perasaan." batin Celine.
"Kau benar. Aku memang melakukan apa saja demi mencapai keinginanku. Aku adalah istrimu, meski kau tidak menganggapku dan hanya melihatku sebagai pajangan. Tetap saja, aku adalah istrimu. Istrimu yang sah, baik secara agama ataupun hukum." tegas Celine.
Ucapan Celine membuat Hezkiel tidak bisa bicara lagi. Celine benar-benar menyerang Hezkiel habis-habisan.
"Hahhhhh ... " hela napas Hezkiel. "Aku akan gila bila terus seperti ini. Aku tidak menyangka, kau yang terlihat diam seberani ini bicara padaku." kata Hezkiel.
"Mau bagaimana lagi. Aku hanya mendapatkan uang dan Kekuasaan. Mau tidak mau aku hanya bisa menggunakan kekuatanku untuk bertahan, kan. Karena tidak ada seseorang yang akan melindungiku." kata Celine.
Hezkiel memijat pangkal hidungnya. Melihat Hezkiel yang seperti itu, membuat Celine sedih. Celine ke dapur, ia mengambil air putih lalu kembali ke ruang tengah, ia meletakan gelas berisi air putih di meja, di hadapan Hezkiel.
"Minumlah, aku akan kembali ke kamarku. Maaf untuk kejadian hari ini. Jika kau peduli pada kekasihmu, mintalah ia membawa pelayannya sendiri. Aku tidak izinkan pelayan rumah ini melayaninya. Karena aku tidak pernah menerimanya di rumah ini. Kuharap kau mengerti maksudku, Kiel. Bagaimanapun aku adalah istrimu, dan dia hanya simpananmu." tegas Celine. Ia berjalan pergi meninggalkan Hezkiel seorang diri.
Hezkiel memukul sofa, "Aaarrghhh! kenapa wanita itu selalu mengungkit status? ya, kau memang istriku, tetapi aku tidak akan pernah mencintaimu. Karena aku hanya akan mencintai Monna. Hanya Monna." kesal Hezkiel.
Celine dari jauh mendengar kata-kata Hezkiel. Ia mencengkram kuat bajunya dan terus berjalan ke kamarnya.
***
Keesokan harinya ....
Celine merasa tidak enak badan. Setelah menyiapkan sarapan untuk Hezkiel, ia kembali masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.
__ADS_1
Hezkiel tidak tahu. Setiap hari setelah menikah, Celinelah yang memasak sarapan untuknya. Meski Celine tidak dianggap. Ia tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri untuk Hezkiel. Ia sengaja menyembunyikan kenyataan, ia meminta koki dapur mengakui sebagai masakan buatan koki tersebut.
"Lelah sekali ... " batin Celine.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu kamar diketuk dari luar.
"Nyonya, boleh saya masuk?" tanya Anha.
"Oh, Bibi Anha. Masuklah, Bi." jawab Celine. Ia mengusap tengkuknya yang terasa pegal.
Pintu kamar terbuka. Anha masuk ke dalam kamar, dengan membawa sebaskom es dan handuk kecil. Berniat mengompres punggung Celine.
"Apa yang Bibi bawa?" tanya Celine menatap Anha.
"Es, Nyonya. Saya tahu, bahu dan punggung Anda kurang nyaman. Saya akan bantu mengompres Anda." jawab Anha.
"Tidak perlu, Bi. Aku baik-baik saja. Ini hanya lelah biasa." tolak halus Celine.
Anha mendekati Celine yang sedang duduk di atas tempat tidur. Di tangan Celine memegang sebuah buku harian.
Celine menatap buku harian yang dipegangnya, "Ah, ini. Ini hanya coreta-coretan biasa saja, Bi. Saat aku bosan dan jenuh, aku biasanya menulis buku harian. Hal ini sudah aku lakukan sejak dulu. Jika senggang akan kubaca lagi. Begitulah, aku mengisi waktuku selama ini." jawab Celine.
"Tulislah semua yang Anda ingin tulis, Nyonya. Selagi masih ada waktu. Saat wakti berlalu, tulisan itu akan menjadi hiasan di dalam buku." Kata Anha.
"Wah, dalam sekali." goda Celine tersenyum.
Celine menyelipkan buku hariannya ke bawah bantal. Ia lalu menggeser duduknya ke tepi tempat tidur. Anha mulai meletakan es kedalam handuk dan membungkus handuk tersebut. Lalu di letakannya perlahan ke tengkuk leher Celine.
"Uh ... " rintih Ciline, "Dingin, Bi." lanjutnya.
"Tahan sebentar saja, Nyonya. Tidak akan lama," kata Anha.
"Bibi kenapa datang ke kamarku? apa ada sesuatu?" tanya Celine, langsung pada intinya.
"Tidak ada. Hanya saja, saya merasa tidak nyaman melihat pemandangan yang tidak enak dipandang. Mata saya akan sakit jika terus menerus melihat hal itu." keluh Anha.
Celine tersenyum, seakan ia mengerti arti ucapan Anha. Celine juga merasa demikian. Itulah sebabnya, ia selalu lebih awal sarapan, atau membawa sarapan ke dalam kamar tidurnya. Ia bosan, melihat kemesraan suaminya dan seseorang yang ia klaim sebagai 'Simpanan' suaminya.
__ADS_1
***
Sementara itu, di meja makan. Hezkiel dan Monna sarapan bersama. Monna hanya makan beberapa potong buah dan juga salad sayur. Ia sedang diet.
"Apa kau diet lagi?" tanya Hezkiel.
"Ya, beberapa hari lagi 'kan aku mulai pemotretan. Tidak enak dilihat jika ada lemak di tubuhku." jawab Monna.
"Kau berlebihan, sayang. Apa kau tahu? kau itu terlihat sangat kurus. Lihat, ditubuhmu hanya tulang dan kulit." kesal Hezkiel.
Hezkiel kurang suka pada Monna yang terlalu menyiksa tubuh. Monna sampai rela diet demi penampilan, padahal ia bisa memberikan segalanya untuk Monna.
Monna melihat kursi kosong di hadapannya. Lalu melihat sekeliling, seperti sedang mencari sesuatu. Hezkiel penasaran, apa yang dicari Monna.
"Apa yang kau cari, Monna?" tanya Hezkiel manatap sekeliling mengikuti arah pandang Monna.
Monna kaget, "Oh, ti-tidak ada. Hanya ingin memastikan sesuatu saja." jawab Monna.
"Apa?" tanya Hezkiel lagi.
Monna menatap Hezkiel, "Wanita itu, maksudku istrimu. Dia tidak terlihat. Apa dia sungguh benar-benar tidak ingin menunjukan wajahnya di hadapanku?" jawab Monna.
"Tidak perlu kau pusingkan itu. Lebih baik kau carilah pelayan. Minta Managermu atau siapapun yang kau kenal untuk mencari pelayan." kata Hezkiel, melanjutkan sarapan yang sempat terhenti.
"Pelayan? maksudmu, aku harus mencari pelayan sendiri?" kata Monna tidak mengerti.
"Celine menolak pelayan rumah melayanimu. Jadi, kau carilah pelayanmu sendiri. Agar aku tidak kesusahan." jelas Hezkiel.
"Dasar wanita serakah. Bisa-bisanya dia seperti itu," omel Monna.
"Cukup, Monna. Jangan memancing keributan lagi. Aku dan Celine sudah bicara. Kami sudah sepakat, kau bisa bawa pelayanmu sendiri ke rumah ini, bukankah itu sudah lebih dari cukup? aku tidak mau membahas hal ini lagi. Jika kau ingin dilayani, carilah pelayan. Jika tidak, juga tidak apa-apa. Tolong jangan mengeluh kau tidak mendapatkan pelayanan kedepannya. Karena aki sudah mmeberitahumu alasannya." jelas Hezkiel lagi.
"Iya, iya. Kau tidak perlu bicara panjang lebar seperti itu. Aku paham, aku paham." jawab Monna.
"Wanita sialan, lihat saja nanti. Aku akan benar-benar membuatmu menderita." batin Monna.
Monna melanjutkan sarapannya, meski terlihat sedikit murung. Begitu juga Hezkiel. Beberapa menit usai sarapan, Hezkiel berpamitan untuk pergi ke kantor. Monna tersenyum melepas Hezkiel pergi bekerja, lalu ia kembali ke kamarnya sendiri.
*****
__ADS_1