
Karena hanya saling diam tidak bicara apa-apa. Jihyuk pun memulai percakapan dengan meminta maaf.
"Maaf, tak seharusnya aku terang-terangan bicara." kata Jihyuk. Ia berbalik lalu, berjalan menuju sofa.
Celine masih diam. Jihyuk juga mengambil ponselnya dan berpamitan untuk keluar dari ruangan karena harus menghubungi seseorang.
"Aku keluar dulu, ingin menghubungi seseorang. Jika tidak mau makan, istirahatlah." kata Jihyuk yang langsung pergi meninggalkan Celine.
Celine menatap kepergian Jihyuk, "Kenapa , ya? Aku setengah kesal juga setengahnya lagi tidak? Apa yang dia katakan tidak salah. Dia kan hanya mengutarakan pikirannya. tapi, bagiku dia orang yang terlalu ikut campur urusan orang." batin Celine.
Lima menit kemudian ....
Pintu ruangan terbuka. Jihyuk masuk dalam ruangan dan menutup pintu. Celine memalingkan pandangannya, menatap Jihyuk. Keduanya saling bertatapan.
Jihyuk menghindari tatapan Celine, "Kau tidak tidur?" tanya Jihyuk. Berjalan mendekati sofa. Jihyuk meletakan ponselnya di atas meja.
"Aku tidak mengantuk. Aku ... aku, aku lapar." gumam Celine.
Jihyuk berjlan mendekati Celine. Ia duduk di kursi di samping tempat tidur pasien yang digunakan Celine. Tangannya mengambil mangkuk, membuka plastik penutup dan mengaduk-aduk bubur di dalam mangkuk.
"Ayo, makan." kata Jihyuk.
Celine memalingkan pandangan menatap Jihyuk, "Kau, kau sedang apa?" tanya Celine.
"Menurutmu apa?" tanya Jihyuk balik.
"Tidak perlu menyuapiku. Tolong bantu aku, biarkan aku duduk." kata Celine merasa tidak enak.
"Jika kau duduk terlalu lama, lukamu akan terbuka. Berbaring saja, biar aku yang menyuapimu." kata Jihyuk.
"Tapi, aku ... " kata Celine. Namun, kata-katanya terpotong oleh Jihyuk.
__ADS_1
"Kau cukup keras kepala, ya." sahut Jihyuk.
Celine terdiam. Ia menyerah untuk menolak Jihyuk yang ingin menyuapinya. Jihyuk menyendok bubur, ia meminta Celine membuka mulut lalu, menyuapkan bubur ke dalam mulut Celine.
"Buka mulutmu," pinta Jihyuk
Mulut Celine terbuka, sendok bubur masuk dalam mulut secara perlahan. Celine mengunyah sebentar bubur di mulutnya dan menelan bubur itu. Dahi Celine berkerut. Ia merasakan rasa pahit di mulutnya.
"Ada apa? kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?" Jihyuk bertanya setelah melihat dahi Celine yang berkerut.
"Mulutku pahit. Jadi, rasa buburnya agak aneh." jawab Celine.
"Jangan dirasakan. Yang terpenting kau hanya perlu makan. Agar kau bisa lekas pulih. Jika kau tidak makan, tubuhmu akan lemas tidak bertenaga. Bagaimana bisa kau keluar dari rumah sakit, jika kau tidak segera pulih?" Jihyuk mulai mengomeli Celine.
Celine tersenyum, "Wah, wah. Apa ini? apa kau sedang mengomel sekarang?" kata Celine menatap Jihyuk.
"Ya, aku memang sedang mengomel. Kau beruntung ku omeli, pada Adik-adikku saja aku tak begini." kata Jihyuk.
Celine kaget, "Hoho ... jadi, kau hanya mengomel padaku. Begitu maksudmu? aku harus bersyukur karena kau mengomeliku? hahaha ... yang benar saja. A ... " ucapan Celine terhenti. Saat Jihyuk tiba-tiba memasukkan sendok berisi bubur ke dalam mulut Celine.
Celine diam menguyah lalu, menelan bubur di mulutnya. Ia menatap dalam ke arah Jihyuk. Ada sedikit rasa kesal, karena Celine tak bisa melanjutkan ucapannya. Namun, Celine tidak mempermasalahkannya. Karena iya memang salah, saat makan seharusnya ia tidak banyak bicara.
Perlahan-lahan, bubur dalam mangkuk mulai berkurang dan habis. Setelah makan bubur, Jihyuk membantu Celine minum obat.
"Apa ada bagian yang tidak nyaman, selain area lukamu?" tanya Jihyuk.
"Tidak ada. Hanya di perutku saja." jawab Celine.
"Seperti apa yang tadi dokter katakan. Jika penghilang sakitnya hilang, area luka pasti akan sakit. Tadi juga sampaikan ke perawat, makanya aku minta obat penghilang rasa nyeri saat meminta buburmu. Tahanlah, jika obatnya sudah bekerja rasa sakitnya akan berangsur mereda. Ok." kata Jihyuk.
Celine menatap Jihyuk, "Kenapa?" tanya Celine.
__ADS_1
"Ya? kenapa, apa?" tanya balik JIhyuk.
"Kenapa kau begitu baik dan peduli? apa karena aku sudah menolong Adikmu?" tanya Celine tiba-tiba.
"Apa?" gumam Jihyuk mencerna ucapan Celine. "Apa maksudmu, Celine? apa kau mencurigaiku? kau curiga aku punya maksud tertentu padamu? tidak, Celine. Buang pikiranmu itu jauh-jauh. Pertama, memang benar karena kau sudah menolong Adikku. Kedua, karena aku merasa bersalah padamu. Gara-gara Adikku kan kau jadi seperti ini. Ketiga, aku tidak punya niatan apa-apa. Aku melakukan apa yang seharusnya ku lakukan. Dan juga, aku akan bertanggung jawab penuh atas kau, selama kau di rawat di rumah sakit ini. keempat, karena aku juga sudah berjanji pada Jisoo akan menjaga dan menemanimu. AP penjelasanku sudah cukup, Nona?" jelas Jihyuk.
"Ya. sudah." jawab Celine. Celine lalu, memalingkan pandangan." Aku mau tidur. Kau juga tidurlah. Terima kasih untuk penjelasannya." kata Celine yang bersiap tidur.
"Ya, istirahatlah." jawab Jihyuk.
Jihyuk pergi menuju sofa. Ia duduk lalu, menyandarkan punggung dan kepala ke sofa. Celine memejamkan mata lalu membuka mata. Memejamkan lagi, membuka matanya lagi. Ia tidak bisa tidur sama sekali meski sudah minum obat.
"Apa ini. Obatnya tidak ada efek kantuknya? mataku bahkan tak ingin terpejam." batin Celine.
Celine memalingkan pandangannya, mencari keberadaan Jihyuk. Celine melihat Jihyuk duduk bersandar sofa. Dari samping Celine melihat sosok Jihyuk yang dinilainya aneh.
"Aku yang aneh atau dia, ya? apa tadi aku menanyakan hal yang aneh?" batin Celine.
Ditatapnya lekat wajah Jihyuk yang terlihat dari samping, "Lihat kulit wajahnya. Bagaimana bisa ada pria yang memiliki kulit seperti itu. Kulitnya pasti halus dan lembut seperti kulit bayi. Apa dia nyaman tidur seperti itu? Dia pasti lelah." batin Celine.
Celine melebarkan mata, "Tunggu, ponselku? di mana, ya. Tasku ... " batin Celine celingukan mencari-cari keberadaan tasnya.
Ternyata, tasnya ada di atas nakas di sampingnya. Celine mengambil tasnya, ia merogoh dalam tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Tasnya diletakan kembali ke atas nakas. Dilihatnya layar ponselnya, benar saja, banyak pesan dan panggilan yang ia terima dari Siane.
"Lihat, dia sampai seperti ini." batin Celine tersenyum. Saat membaca pesan-pesan dari Siane.
Celine membalas pesan sahabatnya itu. Ia meminta maaf karena ia lama membalas pesan dan tidak menerima panggilan. Celine beralasan, jika setelah tutup toko, ia langsung tertidur karena sangat lelah. Tak mau membuat Siane khawatir, Celine tidak memberitahu siane apa yang terjadi padanya. Terlebih Siane sedang dalam tugas pekerjaan.
Celine tersenyum membaca ulang pesan yang dikirim Siane. Tertulis jika Siane marah-marah, kesal sampai akhirnya khawatir. Celine mengusap-usap layar ponselnya.
"Terima kasih, Siane. Kau memang temanku yang paling mengerti. Semoga pekerjaanmu lancar dan kau selalu dalam keadaan sehat. Entah apa yang akan kau katakan, jika kau tahu aku terluka seperti ini. Kau pasti akan marah dan mengomel, kan?" batin Celine, tersenyum lebar.
__ADS_1
Celine mematikan ponselnya dan memasukan ponselnya kembali ke dalam tas. Ia merasa sedikit mengantuk. Celine kembali menatap ke arah Jihyuk, tidak lama ia menatap langit-langit ruangan tempatnya di rawat. Perlahan-lahan, matanya terpejam, Celine lalu terlelap tidur.
*****