Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
58. Terkuak


__ADS_3

Perhatian!!!


Bacaan di bawah ini mengandung (21+, makian, umpatan dan kata-kata kasar) tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima Kasih.


Antonio dan Monna sedang asik bermain panas. Setelah mereka melakukan permainan di kamar mandi. Mereka melanjutkan permainan di atas tempat tidur. Monna yang sudah lama memendam has*at dan g*irah saat bersama Hezkiel, kini melampiaskan semuanya kepada Antonio.


"Kau menyukainya?" tanya Antonio.


"Ya, aku suka. Hhhh ... ini, ini, ini menyenangkan." jawab Monna bersuara seksi.


Antonio menciumi setiap inci tubuh Monna. Dimulai dari wajah Monna, leher, dada, bahu. Ciuman terus turun ke perut, semakin turun dan turun. Bahkan kedua kaki Monna yang jenjang pun tak luput dari kecupan Antonio.


"Aku selalu kehilangan kendali, jika bersama wanita ini. Dia yang begitu cantik dan seksi, selalu membuat ha*rat dan ga*rahku menggebu-gebu. Aku tak akan bisa hidup tanpanya. Apapun yang terjadi, dia hanya milikku seorang." batin Antonio.


Tidak ingin mengecewakan Monna, Antonio menunjukan kemampuan hebatnya di atas tempat tidur. Dan membuat Monna terus berteriak menikmari permainanya.


***


Setelah berpikir panjang. Hezkiel pun akhirnya memutuskan untuk mendatangi Monna. Ia sudah menyiapkan hatinya sebaik mungkin. Ia tidak peduli, apapun yang terjadi nantinya. Entah kenyataanya Monna memang berbohong atau tidak, Bahkan ia sangat siap dengan keadaan dan situasi terburuk sekalipun.


Hezkiel menarik napas dalam-dalam lalu, mengembuskan napas perlahan. Hal itu, diulangnya beberapa kali agar hatinya tetap tenang.


"Ya, aku harus pastikan semuanya hari ini juga. Tidak perlu menunda lagi, Kiel. Apapun yang terjadi nantinya, kau harus tetap tenang dan berpikir jernih. Meski itu adalah kenyataan terburuk sekalipun." katanya menyemangati diri sendiri.


Ia bangkit berdiri dari duduknya di tepi tempat tidur. Ia lalu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar yang ada persis di sebelahnya. Di depan pintu Hezkiel berdiri. Tangannya sudah bersiap untuk mengetuk pintu.


Tok ... tok ... tok ....


Pintu kamar Monna dan Antonio diketuk dari luar oleh Hezkiel.


Tok ... tok ... tok ....


Pintu diketuk lagi. Hezkiel mengernyitkan dahinya. Ia tidak senang, jika ia harus menunggu terlalu lama.


"Apa saja yang mereka lakukan. Kenapa pintunya tidak dibuka. Apa mereka sedang keluar?" batin Hezkiel.


Tok ... tok ... tok ....


Tok ... tok ... tok ....


Tok ... tok ... tok ...


Hezkiel terlalu bersemangat mengetuk. Sampai-sampai rasa kesalnya kembali timbul.


"S*alan! buka pintunya, b*r*ngs*k!" batin Hezkiel menahan murka. Rasa ingin tahunya semakin meningkat. Ia begitu penasaran, apa yang dilakukan Monna dan Antonio.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka sedikit. begitu tahu ada celah. Hezkiel mendorong paksa pintu dan menerobos masuk ke dalam kamar.


Antonio yang membukakan pintu kaget, saat tahu Hezkiel masuk ke dalam kamarnya. Ia sampai tidak bisa berkata apa-apa, karena terlalu kaget. Tidak hanya Antonio, Monna pun kaget. Melihat Hezkiel, Monna buru-buru menutupi tubuhnya yang t*l*njang dengan selimut. Hezkiel berjalan cepat mendekati Monna yang ada menegur Monna.


"Apa ini, Monna?" tanya Hezkiel.

__ADS_1


Monna terdiam, dan lebih memilih memalingkan wajahnya dari Hezkiel. Pandangan Hezkiel teralihkan menatap seseorang di belakangnya.


"Siapa kau?" tanya Hezkiel.


Antonio mengernyitkan dahinya. bibirnya diam membisu tidak menjawab pertanyaan Hezkiel. Karena Monna dan Antonio sama-sama diam saat ditanya. Hal itu tentu saja memicu kekesalan Hezkiel.


"Apa kalian tuli? tidak mendengar pertanyaan yang ku tanyakan? atau kalian memang mau membisu selamanya. Apa yang kalian lakukan, hah?" sentak Hezkiel emosi.


Hezkiel melihat tubuh Antonio penuh jejak ciuman. Ia yakin jika Monna dan Antonio bahkan sudah tidur bersama. Melihat pemandangan yang merusak mata, Hezkiel semakin murka. Ia berbalik, mendekati Monna dan langsung menarik selimut yang melilit tubuh Monna.


"Aaa ... apa yang kau lakukan, Kiel. Apa kau gila?" Monna kaget, saat tiba-tiba selimutnya ditarik paksa.


"Aku gila? ya, aku gila karenamu! bisa-bisanya kau melakukan ini padaku, Monna. Apa yang kau pikirkan sampai kau tega melakukan ini?" Hezkiel langsung mencecar Monna tanpa jeda.


Antonio yang melihat wanitanya dipermalukan, menolong Monna. Ia memakaikan kimono handuk untuk Monna. Ia lalu, memeluk Monna yang menangis.


"Apa yang kau lakukan, Hezkiel Winter. beginikah kau memperlakukan wanita?" Antonio angkat bicara membela Monna.


"Hah, aku akan benar-benar gila." gumam Hezkiel menatap Antonio dengan tersenyum paksa. Ia mer*mas kasar rambutnya, " Kau tidak lihat apa yang kulakukan? kau masih berani bertanya apa yang kulakukan?" tanya Hezkiel tersenyum masam penuh rasa kesal.


"Keluarlah, tinggalkan kamar kami!" kata Antonio mengusir Hezkiel.


"Aku akan pergi dengan membawa istriku. Menyingkir kau dari sisinya." jawab Hezkiel menatap tajam ke arah Antonio.


Antonio yang kesal, akhirnya membongkar semuanya. Ia mengatakan hal yang mengejutkan sekaligus menyakitkan hati Hezkiel.


"Siapa yang istrimu? dia bukan istrimu, Hezkiel." kata Antonio marah.


Monna kaget, "Antonio ... " gumamnya melepas pelukan menatap Antonio.


Hezkiel mengernyitkan dahinya, "Apa maksudmu? Kenapa bisa Monna bukan istriku? aku dan dia bahkan sudah melakukan pernikahan." Hezkiel bingung.


"Apa maksud pria ini? siapa dia sebenarnya? atas dasar apa dia mengatakan jika Monna bukanlah istriku.


Monna mencengkram lengan Antonio, "Apa yang kau lakukan?" tanya Monna tidak paham jalan pikiran Antonio.


Antonio memegang tangan Monna, "Aku akan menguak semuanya sekarang. Aku tidak bisa lagi, melihatmu harus dipermalukan olehnya. Bisa-bisanya dia melakukan ini padamu," jawab Antonio.


"Apa pria ini salah minum obat? Kenapa dia bicara sok begini? harusnya dia sadar, dia juga orang yang kasar dan menjengkelkan. Apa dia lupa, seberapa parah dia memukulku dan seberapa kejam dia menyiksaku? batin Monna


Apa kau sadar, jika selama ini Monna tak pernah sekalipun mencintaimu. Kau tak sadar, jika Monna sudah membohongimu dengan menjadi wanita yang kau inginkan. Aktingnya sangat bagus, kan? Bagaimana menurutmu? tanya Antonio menjelaskan.


"Apa?" gumam Hezkiel kaget.


"Jangan terlalu kaget begitu. Nanti permainan kami jadi tidak seru." Kata Antonio lagi.


Hezkiel mendekati Antonio dan langsung mencengkram kimono handuk yang dikenakan Antonio.


"B*r*ngs*k! katakan apa maksud ucapanmu dengan jelas. Jangan bermain lelucon denganku." geram Hezkiel, matanya tajam menatap Antonio.


Antonio juga lekat menatap Hezkiel dengan senyuman tipis, seakan sedang menertawakan Hezkiel yang memang terkesan bod*h.

__ADS_1


"Inilah kenapa kau mudah sekali dimanfaatkan, Hezkiel." Antonio melepas paksa cengkraman tangan hezkiel, lalu menjawab pertanyaan dari Hezkiel. "Monna adalah seseorang yang kumanfaatkan untuk mendekatimu. Dia adalah wanitaku. jauh sebelum kau mengenalnya. Sudah mengerti, Tuan?" ejek Antonio.


"Apa?" gumam Hezkiel. Ia memalingkan pandangan menatap Monna. "Apa benar yang pria b*r*ngs*k ini katakan, Monna? jawab. " sentak Hezkiel.


Monna menunduk, "Ya, itu benar." jawab Monna.


"Jelaskan padaku. kenapa pria ini mengatakan sesuatu yang aneh. Bagaimana bisa kau bukan istriku?" Hezkiel kembali melontarkan pertanyaan yang membuatnya bingung.


Monna kaget, ia mengangkat kepalanya cepat. Monna langsung menatap Antonio. Antonio menganggukkan kepala. Tanda jika Antonio mengizinkan Monna mengatakan semuanya yang ingin dikatakannya.


"Apa maksud tatapannya? apa benar ia mengiyakan apa yang ingin kukatakan?" batin Monna.


"Jawab saja, Monna. Katakan sejujurnya apa yang ingin kau katakan. Ungkapkan semuanya tanpa terkecuali." kata Antonio.


Monna semakin bingung. Ia tidak yakin untuk bisa bercerita dan mengatakan apa yang ingin ia sampaikan. Ia takut, Hezkiel akan semakin murka saat tahu kebenaran yang ia sembunyikan.


"Jawab, Monna. Jangan diam saja. Aku butuh penjelasanmu." kata Hezkiel.


Monna menutup matanya karena takut, "Ya, apa yang dia katakan benar. Aku tidak pernah sekalipun mencintaimu. Aku tidak pernah mengingkanmu juga. Ada alasan tersendiri kenapa aku mendekatimu dan melakukan ini semua. Dia juga benar, aku sudah memiliki hubungan dengannya jauh sebelum aku dan kau saling kenal." Monna memberanikan diri mengaku.


Hezkiel kaget, "Apa?" katanya lirih. Ia lalu mengusap kasar wajahnya dan mencengkram rambutnya sendiri. "Ok, anggap saja aku memang tertipu olehmu. Lalu, apa maksud dari kau bukan istriku. Jelaskan, Monna. Katakan semuanya selagi kepalaku masih dingin." Hezkiel mendesak Monna untuk kembali menguak kebenaran.


Monna melirik Antonio lalu, melirik ke arah Hezkiel dengan perasaan campur aduk. Sedih, bingung, tegang dan merasa bersalah. Semua tercampur jadi satu.


"Aku memang bukan istrimu, Kiel. Per, per, pernikahan kita adalah pernikahan bohongan. Aku merekayasa semuanya. Aku sengaja melakukan itu agar kau percaya dan yakin, jika kita memang sungguh-sungguh menikah. Aku, aku mengatur semuanya agr kau tak curiga. Aku membohongimu, akun juga memanfaatkanmu. Apa kau puas mendengar jawaban dariku?" diakahir kata, Monna meninggikan suara.


"Apa?" kata Hezkiel melongo. Terlihat jelas wajah kaget Hezkiel. Seketika ia shock mendengar ucapan Monna.


Mendengar pernyataan Monna, Hezkiel sungguh sangat terkejut. Ia tidak sangka, ia tertipu oleh wanita yang amat dicintainya. Detak jantungnya seakan terhenti, begitu juga napas dan aliran darahnya. Hezkiel mencengkram kuat jemarinya sendiri tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


Suasana kamar menjadi hening. Tidak ada yang bicara satupun dari ketiga orang yang ada di dalam kamar itu. Sampai akhirnya, Hezkiel mengatakan sesuatu yang mengejutkan dan pergi meninggalkan Monna juga Antonio.


"Selamat, Monna. Kau berhasil membuatku gila. Terima kasih untuk rasa sakit yang kau berikan padaku. Datanglah ke rumahku, kemasi barangmu dan pergilah sejauh-jauhnya dari hidupku." kata Hezkiel dengan mata berkaca-kaca dan deru napas yang tidak beraturan.


Setelah bicara, Hezkiel pun pergi meninggalkan Monna dan Antonio di kamar. Langkah kaki Hezkiel cepat berjalan menuju lift. Hezkiel ingin segera pergi melampiaskan rasa kesalnya.


***


Sementara itu, Monna yang baru saja mengakui semua rahasianya, langsung terhuyung lemas. Antonio membantu Monna untuk duduk. Monna menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan.


"Bagaimana ini?" gumam Monna.


Antonio menghela napas panjang, "Hahhh ... mau bagaimana lagi. Apa yan terjadi ini, di luar kendali kita. Aku tidak percaya dia akan menemukan kita berduaan seperti ini. Ahh ... merepotkan sekali." Antonio merasa tidak senang, tetapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Lalu, sahamnya?" tanya Monna menatap Antonio.


"Lupakan saja. Itu tidak penting. Ayo, kita bersiap dan pergi dari sini." ajak Antonio


"Tapi, jika aku tak bisa mendapatkannya. Bukankah kau tidak akan mempertemukanku dengan Mama?" gumam Monna.


"Aku akan pikirkan lagi itu. Sudahlah, jangan memikirkan hal itu dulu. Ayo, bersiaplah dan kita akan pergi." jawab Antonio.

__ADS_1


Antonio kembali meminta Monna untuk lekas bersiap dan mengajak Monna pergi. Monna menganggukkan kepalanya. Ia mengikuti apa yang Antonio katakan. Kini, Antonio lah satu-satunya orang bisa ia andalkan.


*****


__ADS_2