Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
36. Murka Antonio


__ADS_3

Perhatian!


Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.


*****


Monna datang ke lokasi yang dikirim Antonio. Di sana, Antonio sudah menunggu. Ia duduk bersandar di sofa hanya dengan mengenakan komono handuk.


"Ada apa?" tanya Monna tanpa basa basi.


"Duduklah," pinta Antonio bicara dengan nada lembut.


"Aku tidak bisa menemanimu malam ini. Emosiku sedang tidak baik. Aku juga malas," kata Monna menolak.


Antonio berdiri, "Ada apa? bicarlah, aku akan bantu. Kau ada masalah?" Antonio melangkah perlahan mendekati Monna.


Tubuh Monna sudah bereaksi. Tanpa di sadari, tubuhnya sudah melanhkah mundur dengan sendirinya.


Monna menggelengkan kepala, "Tidak ada apa-apa," dustanya.


Antonio semakin dekat, Monna pun tidak berkutik saat tubuhnya sudah menempel ke dinding. Antonio membelai rambut Monna yang terurai dan mencium rambut itu. Senyum aneh terlihat mengembang di bibir Antonio.


"Kau menghindariku?" tanya Antonio menatap Monna dengan tajam.


"Ti-tidak. Aku, aku ti-tidak menghindar." sangkal Monna. Tidak mau membuat Antonio marah.


"Lalu? kenapa tubuh harum dan seksi ini menjauh dari pemiliknya?" tanya Antonio lagi. Kali ini ia meraba bahu, dada sampai perut Monna.


Tubuh Monna bergetar, "Aku tidak mau melayaninya malam ini. Pokiranku sangat kacau. Jika aku memaksakan diri, aku akan membuat kesalahan nantinya." batin Monna.


"Tu-tuan, tolong. Jangan seperti ini." lirih Monna.


"Apa? apa yang kau katakan. Aku tidak dengar." sahut Antonio berpura-pura tidak dnegar suara lirih Monna.

__ADS_1


"Wanita j*l*ng! Dia berani sekali menolakku setelah aku bergairah seperti ini. Aku akan menunjukan padanya, siapa itu Antonio Wistton." batin Antonio.


"Saya lelah. Setelah perjalan jauh dari luar kota. Saya tidak bisa melayani Anda. Takut jika pelayanan saya tidak memuaskan." jelas Monna dengan sopan.


Antonio tersenyum, "Oh, begitu." sahutnya. Namun, tiba-tiba Antonio menarik kemeja Monna membuat semua kancing kemeja Monna terlepas. "Aku tidak akan biarkan kau merusak kesenanganku, j*l*ng!" sentak Antonio.


"Tidak, Tuan. Jangan!" teriak Monna menolak. Monna bersikeras menolak keinginan Antonio. Ia mendekap dadanya erat.


"Wanita s*al*n!" umpat Antonio. "Ke sini kau!" Sentak Antonio menarik paksa rambut Monna.


"Ahh ... sa-sakit. Tuan lepaskan," kata Monna memegang tangan Antonio yang menarik rambutnya.


Diseretnya Monna sampai ke temoat tidur. Antonio menadahkan kepala Monna, sehingga pandangan keduanya bertemu. Monna menangis, menahan rasa sakit, karena rambutnya yang ditarik paksa oleh Antonio.


Antonio mencium kasar bibir Monna. Monna tidak tinggal diam, digigitnya bibir Antonio sampai berdarah. Hal itu lantas membuat Antonio murka lalu menampar Monna.


Plakkkk ....


"B*r*ngs*k! berani sekali j*l*ng sepertimu menolakku. Kau tidak tahu diri rupanya. Aku perlu mendisiplinkanmu pagi mulai dari sekarang. Wanita busuk!" makian dan umpatan dari Antonio menghuhani Monna.


"Jangan paksa aku melakukannya. Aku tidak mau!" seru Monna kesal, setelah beberapa lama menahan diri.


Antonio melepas tarikan di rambut Monna. Kali ini ia mencengkram dagu Monna dan mmebuat mukut Monna sedikit terbuka. Dengan paksa Antonio menuang alkohol ke mulut Monna sampai Monna tersedak dan terpaksa menelan.


"Kau berani melawanku sekarang. Kau bisa jadi tenar dan terkenal karena siapa, j*l*ng! kau bukan siapa-siapa tanpaku, kau juga bukan apa-apa untukku. Berpikirlah, apa jadianya jika aku membuangmu. Kau ingin kubuat seperti yang lalu-lalu, ya?" sentak Antonio. Ia sangat kesal karena perlakuan Monna.


Monna melebarkan mata lalu menggelengkan kepala. Monna merasa takut tubuhnya gemetaran. Melihat Monna yang ketakutan, semakin membuat Antonio senang. Ia terus menerus mengupas masa lalu yang ingin sekali dilupakanan Monna.


"Jika kau ingin. Aku akan minta semua rekanku datang dan bermain bersamamu. Seperti saat itu, kau sampai berteriak-teriak meminta ampun setelah lima orang menemanimu. Kau mau itu terulang? kau mau?" Antonio menarik rambut Monna lagi. Monna menangis dan lagi-lagi menggelengkan kapalanya lagi.


"Jangan, Tuan. Jangan suruh aku seperti itu lagi. Aku tidak mau, aku tidak mau! Aku tidak mau!" kata Monna menangis sesenggukan.


"Jawab aku, Monna. Kau ingin melayaniku atau tidak?" tanya Antonio.

__ADS_1


Monna menganggukkan kepala, "Ma-mau." gagap Monna.


Antonio tertawa lantas melepas tarikan tangan di rambut Monna. Ia duduk di tepi temoat tidur. Ingin melihat penampilan liar Monna.


Tanpa menunggu lagi, Monna segera menanggalkan kemeja yang ia kenakan. Lalu melepas celana panjang panjang. Terisa stelan pakaian dalam berwarna hitam yang melekat ditubuhnya.


"Lepaskan semuanya. Kau lebih seksi jika tidak pakai apa-apa." kata Antonio tersenyum.


Monna menuruti kemauan Antonio. Meski hatinya menolak, tubuhnya lebih menolak jika sampai tragedi di masa lalu harus terulang kembali. Ia tidak mau diperlakukan seperti boneka pemuas nafsu oleh para lelaki hidung belang. Monna sudah melepas pakaian dalamnya, kini Monna benar-benar polos.


Monna berjalan menghampiri Antonio, ia mendorong Antonio sampai berbaring ke tempat tidur. Monna membuka tali kimono yang mengikat agar bisa melihat dada bidang Antonio.


"Bagus, kerja bagus. Kau sangat seksi sayang," kata Antonio.


Meski sudah memasuki usia yang tidak lagi muda. Tubuh Antonio tetap terlihat gagah. Otot dada dan perutnya terlihat sempurna. Monna meraba dada, perut sampai tangannya turun.


"Ahhh ... kau sungguh pandai mempermainkanku." ucap Antonio menikmati sentuhan yang Monna berikan.


Monna menangis, ia paling tidak senang dipaksa-paksa. Namun, ia tidak punya pilihan. Antonio pasti punya banyak cara untuk terus mendesaknya. Membuat Monna harus selalu memnuhi keinginan Antonio.


Sebagai seorang yang sudah terbiasa melakukan pelayanan ranjang. Monna begitu lihai mempermainkan tubuh Antonio. Membuat Antinio terus meracau karena kenikmatan.


Monna merasa jijik setiap kali harus melihat tubuh Antonio atau pria-pria yang selama ini tidur dengannya. Namun, ia tidak berdaya karena tekanan. Satu-satunya orang yang membuat Monna aman dan nyaman adalah 'Sean'. Pria yang sempat menjadi pacar dan akan menjadi tunangan Monna di masa lalu. Yang mau menerima apa adanya Monna tanpa menuntut Monna yang sempurna.


Monna paham benar, apa yang sedang ia lakukan. Ia selalu menjadi pemuas nafsu bagi Antonio yang merupakan penopang hidupnya dan Mamanya selama ini. Ia menjadi pemuas nafsu untuk Hezkiel, demi sebuah misi. Sisanya, ia bercinda dengan pria asing demi mencari koneksi dan pelampiasan saja. Monna tidak benar-benar menikmati apa itu kenikmatan 'bercinta' karena semua lelaki di matanya sama saja.


"Hhh ... mmhhh .... " Monna membuat suara Seksi. Ia ingin membuat Antonio lelah dan ingin segera mengakhiri permainanya.


"Kau selalu hehat, sayang. Aku sangat puas denganmu. Inilah kenapa, aku selalu rindu bercinta denganmu. Ahhh ... " Antonio kembali meracau. Ia merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Monna dan Antonio terus bergulat dalam permainan panas. Meski dihujami berkali-kali, Monna tidak merasakan nikmat, tetapi ia tidak boleh terlihat jika ia tidak menikmati permainan. Atau Antonio akan murka dan menghajarnya habis-habisan.


*****

__ADS_1


__ADS_2