Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
26. Pertengkaran (2)


__ADS_3

Monna dan Hezkiel kembali bertengkar. Hezkiel mencoba membujuk Monna, tetapi Monna tidak mau dengar dan terus menerus menyalahkan Hezkiel.


"Apa yang kau lakuakan, Monna. Kenapa kau seperti ini? kau kekanak-kanakan." kata Hezkiel.


"Kekanakan? Hah, kau bilang aku kekanakan?" kata Monna menatap tajam mata Hezkiel.


"Kenapa juga kau bicara kasar seperti itu? apa kau sungguh-sungguh Monna yang kukenal? tidak perlu sampai kau bertidak sejauh itu. Karena aku tidak melakukan hal yang macam-macam. Aku hanya pergi karena undangan. Itu saja," jelas Hezkiel.


"Tetap saja. Kau kan bisa menundanya, Kiel. Atau kau bisa jemput aku dulu. Kenapa kau justru mengabaikanku, kenapa?" tanya Monna emosi.


"Aku juga ada pekerjaan lain, Monna. Aku saja datang terlambat karena harua tertemu klien. Berhubung lokasi pertemuan kami tidak jauh, aku akhirnya sampai sebelum mereka makan malam. Sebagai orang yang baru pertama kali mendapat undangan, aku tidak bisa mengabaikam ini. Kau tolong mengerti posisiku, Monna. Tolong," mohon Hezkiel menjelaskan.


"Arrggghhh! aku tidak peduli. Apapun alasanmu. Aku membencimu, Kiel. Aku benci. Kau pembohong." kata Monna dengan mata berkaca-kaca.


Hezkiel kesal, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak mungkin baginya memukul Monna agar wanita di hadapannya itu diam dan tidak bertindak kurang ajar padanya.


"Terserah apa yang kau pikirkan. Aku sangat lelah, tidak mau berdebat lagi denganmu." kata Hezkiel, yang langsung pergi dari kamar Monna.


Hezkiel membanting pintu kamar Monna. Hezkiel tampak emosi. Ia juga kesal, karena tidak tahu pasti apa hal yang membuat Monna marah. Masih memikirkan penyebab Monna kesayangannya berubah


"Kiel ... " sapa Celine.


Celine berdiri di depan pintu kamar Monna cukup jauh. Hezkiel kaget, ia bertanya apa hal yang membuat Celine menemuinya.


"Ce-celine. A-ada apa? kenapa kau di sini? tanya Hezkiel.


"Umh, itu. Aku, aku minta maaf. Ini salahku, Kiel. Aku harap hubungamu dan Monna tidak ada masalah. Karena masalah yang kubuat. Aku sungguh tidak tahu jika ia akan pulang hari ini." kata Celine memint maaf.


Hezkie menatap Celine, "Tidak apa, bukan hal besar. Masuklah ke kamarnu lalu istirahat." kata Hezkiel, ia lewat begitu saja di samping Monna.


***


Beberapa hari kemudian ....


Di studio foto, Monna menggoda Leon. Ia dan Leon lama tidak berjumpa dan bertegur sapa, sejak mereka menghabiskan malam panas terakhir kali. Karena Monna punya sedikit rasa tertarik pada Leon, ia berusaha mendekati Leon.

__ADS_1


"Hai, Leon." sapa Monna.


Leon menatap Monna, "Oh, hai juga." jawab Leon biasa saja.


Monna mendekati Leon, "Kau kenapa? terlihat tidak bersemangat." tanya Monna mengusap lengan Leon.


Leon kaget, "Umh, tidak apa-apa." jawab Leon menghindari sentuhan Monna.


"Gawat, ini gawat! aku tidak boleh lagi melakukan kesalahan yang sama pada Joana. Aku harus menghindari wanita ini," batin Leon.


Monna mengernyitkan dahi, "Ada apa dengan pria ini. Seakan dia menghindariku. Apa dia sudah tidak memandangku lagi?" batin Monna.


"Ada apa, Leon? apa kau sengaja menghindariku?" tanya Monna.


"Itu, Monna. Jujur, sebenarnya aku tidak bermaksud menghindarimu. Namun, ini demi kebaikan kita. Kita tidak bisa terlalu dekat karena aku memang sudah punya kekasih." jawab Leon.


Monna mendekati Leon, "Kenapa? kau takut wanitamu tau soal malam itu? atau ... " kata-kata Monna langsung dipotong oleh Leon.


"Cukup, Monna. Itu kan hanya kesalahan satu malam saja. Aku memang sempet tergoda dan terpesona oleh kecantikanmu. Tetapi aku tidak ingin lagi menyakiti kekasihku. Tolong kau mengerti." kata Leon.


"Hahaha ... " tawa Monna. Ia menatap Leon, "Aku jadi semakin ingin mendapatkanmu dan memisahkanmu dari kekasihmu, Leon." kata Monna.


"Wanita ini benar-benar gila. Wajahnya memang cantik, tetapi dia tidak bisa berpikir baik. Sungguh menyesal aku terpikat olehnya. Sial!" batin Leon mengumpati diri sendiri.


"Ya, terserah saja. Kau mau menjauhiku, silakan. Aku akan mendekatimu, karena kita team. Kau juga tidak bisa tidak menyentuhku, karena saat pemotretan kita harus berpose mesra." kata Monna.


"Aku pergi dulu. Masih ada hal yang harus kulakukan." kata Leon yang langsung pergi.


Monna tersenyum menatapi kepergian Leon, "Apa dia pria polos? bukankah saat bersamaku dia begitu liar seperti harimau yang sedang lapar? hah, pria di dunia ini sama saja. Hanya ingin keuntungan tanpa mau rugi. Semuanya sampah jika mereka tanpa harta dan kedudukan." batin Monna.


***


Monna dan Leon diundang diacara ulang tahun rekan seprofesi mereka. Di acara tersebut, undangan diwajibkan membawa pasangan. Karena akan ada pesta dansa sebagai puncak acara.


Leon membawa Joana bersamanya, sedangkan Monna membawa Hezkiel. Monna memamerkan Hezkiel yang memang terlihat menonjol. Monna bangga merangkul lengan Hezkiel dan berjalan memberi selamat pada temannya yang ulang tahun.

__ADS_1


Joana melihat Monna dan Hezkiel berada tidak jauh darinya. Joana begitu serius menatap Ke arah Hezkiel, merasa sekaan ia mengenali pria tersebut.


"Hm, sepertinya bukan orang asing. Aku lupa siapa." batin Joana.


Joana melihat sekeliling, karena Leon sedang ke kamar mandi dan disekitarny sepi. Joana sengaja mengeluarkan ponsel dan memfoto Hezkiel yang dirangkul lengannya oleh Monna.


"Aku akan tanya Joe. Siapa tau dia mengenal pria ini. Ingatanku benar-benar rendah soal mengingat wajah seseorang." batin Joana.


Joana pun mengirim foto yang baru saja ia ambil pada saudara kembarnya. Joana lalu bertanya apakah mengenal sosok pria yang mmebuatnya penasaran itu, atau tidak.


***


Sementara itu, Hezkiel terlalu mengabiakan sekitarnya. Ia tidak menyadari jika saudari kembar sahabatnya juga datang di pesta yang sama. Di sana, Hezkiel berkenalan sebagai teman kencan Monna. Hezkiel sempat kesal dan ingin menguak kebenaran akan statusnya. Namun dicegah oleh Monna.


"Apa yang kau lakukan, Kiel." bisik Monna.


Monna tersenyum, "Ah, aku ada sesuatu dengan teman kencanku ini. Aku akan kembali lagi nanti." pamit Monna pada temannya.


"Oh, ok. Semoga kau menikmati pestanya Monna." kata si penyelenggara acara.


Monna dan Hezkiel memilih tempat yang sedikit sepi dan bicara. Di sana, mereka sedikit beedebat dan berselisih.


"Apa yang kau inginkan. Kau karirku hancur?" gumam Monna menatap tajam arah Hezkiel.


"Apa hubungannya? aku tidak suka kau memperkanalkanku sebagai teman kencan. Aku kan su ... " kata-kata Hezkiel terpotong oleh Monna.


"Ssttt ... diam!" sentak Monna menempelkan ujung jari telunjuknya ke bibir Hezkiel.


Monna celingukan melihat ke kiri dan kanan. Takut jika ada yang melihatnya bersama Hezkiel, atau mendengar pembicaraannya. Ia menatap tajam pad Hezkiel, merasa kesal.


"Kau ini benar-benar, ya. Tidak bisa memahami situasiku sama sekali. Jika sepeti ini ku sewa pria saja untuk menjadi pendampingku ke sini. Membawamu tidak ada gunanya," Keluh Monna.


"Apa? apa kau tahu, kata-katamu barusan sangat kasar. Bagaimana bisa kau punya pikiran seperti itu Monna. Keterlaluan," kata Hezkiel emosi.


"Kaulah yang keterlaluan. Ingat, Kiel. Ini adalah wilayahku, bukan wilayahmu. Jika karirku hancur, aku tidak akan pernah memaafkanmu." kata Monna. Dengan nada suara rendah.

__ADS_1


Monna menjaga volume suaranya. Ia tidak ingin orang lain tahu jika ia sedang berdebat dengan Hekziel.


*****


__ADS_2