Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
21. Berdebar


__ADS_3

Hari ini Celine terlihat sangat sibuk. Ia ditemani Bibi Anha, baru saja menanam pohon strawberry. Ia ingin mempunyai kebun strawberry pribadi. Tidak hanya itu, ia juga membersihkan halaman belakang sampai gudang.


Celine tampak senang, ia melakukan semuanya tanpa beban. Melihat Nyonya majikannya terlalu keras bekerja, Anha ikut membantu. Meski itu dilarang oleh Celine.


"Bi, jangan! aku saja, bibi masuk saja dan bersihkan rumah." larang Celine. Ia tidak mau merepotkan Anha.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Ini juga tugas saya sebagai pelayan. Saya akan membantu Anda." jawab Anha.


Celine menatap Anha, "Terima kasih, Bi. Aku senang Bibi mau membantuku." kata Celine, lalu tersenyum cantik.


Anha tersenyum, "Teruslah tersenyum, Nyonya. Apa Anda tahu? Anda paling cantik jika tersenyum." kata Anha.


Wajah Celine merona, "Be-benarkah?" tanya Celine ragu-ragu.


"Tidak ada wanita yang secantik Anda. Oleh karena itu, Anda harus tetap tampil percaya diri. Mau itu di hadapan siapapun. Orang yang menilai Anda tidak cantik dan kurang, mata mereka perlu dicuci dan dibilas sampai pandangan mereka menjadi jernih." ucap Anha serius.


Celine terkekeh, "Hehehe ... Bibi bisa saja. Terima kasih untuk pujiannya, Bi. Memang hanya Bibi satu-satunya orang yang paling mengerti di sini. Oh, ya. Bibi sudah berapa lama tinggal di sini? Bibi pernah mengatakan, jika Bibi adalah pengasuh Hezkiel, kan?" tanya Celine memastikan ingatannya.


"Ya, Nyonya. Hampir seluruh hidup saya, saya abdikan pada kelaurga Winter. Saya adalah seorang yatim piatu, saya tinggal di jalanan dan dipungut oleh Nyonya besar. Pada saat itiu, Nyonya masih belum menikah. Hubungan kami sangat dekat, seperti saudara sendiri. Nyonya tidak pernah sekalipun menganggap saya pelayan. Ia memperlakukan saya dengan baik, layaknya saudara. Keluarga Nyonya Nesar juga sangat baik pada saya. Sampai saat Nyonya menikah, saya memutuskan ikut serta untuk membantu Nyonya yang baru saja menginjakkan kaki di dunia luar. Saya takut Nyonya akan kesulitan. Sayapun, pada akhirnya menjadi orang yang paling dipercaya oleh Nyonya Besar. Sampai pada saat Nyonya melahirkan Tuan Muda. Saya sangat bangga, Nyonya ingin saya membantu beliau mengasuh putra yang baru saja beliau lahirkan. Rasanya hidup ini berguna, hati saya puas bisa menjadi bantuan orang lain. Terlebih bantuan untuk orang yang sudah menyelamatkan hidup saya yang terlantar tidak jelas." Panjang lebar Anha bercerita. Anha bahkan sampai meneteskan air matanya.


Celine terharu, "Luar biasa, Bi. Aku terharu mendengar cerita Bibi. Dari dulu sampai sekarang, cinta kasih Bibi dan pengabdian Bibi untuk keluarga ini sangat dalam." kata Celine menanggapi cerita Anha.


"Terima kasih, Nyonya. Ini bukan apa-apa. Dibandingkan saya harus kelaparan dan tidur di jalanan. Sampai sekarangpun, terkadang saya masih berpikir. Apakah ini semua adalah mimpi. Karena saya tidak pernah sekalipun berpikir akan hidup layak seperti saat ini." cerita Anha lagi. Ia mensyukuri apa yang ia terima selama ini. Kebaikan dari Lily sekeluarga, juga Hans.


Celine menghela napas, "Hahh ... cukup melelahkan juga. Sudah berapa lama ya kita di sini, Bi?" tanya Celine. Ia merenggangkan otot bahunya yang terasa menegang.


"Hm, mungkin sekitar dua jam. Lebih baik kita sudahi saja, Nyonya." sahut Anha.

__ADS_1


Celine menganggukkan kepalanya, "Ya, Bi. Aku ingin segera mandi dan makan buah strawberry yang tadi Bibi beli di sepermarket." jawab Celine.


Celine dan Anha kembali masuk ke dalam rumah. Anha pergi ke dapur, mencuci buah strawberry yang hendak dimakan Nyonya majikannya. Celine pergi ke kamar, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Karena tubuhnya sudah kotor dan berkeringat.


***


Hezkiel ada di ruang kerjanya. Meski libur bekerja di kantor, ia masih sibuk bekerja di rumah. Ponselnya di atas meja berdering. Ia mendapatkan panggilan dari Lily, Mamanya.


"Mama ... " gumam Hezkiel, sesaat setwlah mengambil dan melihat laayr ponselnya.


Hezkiel menerima panggilan dari Lily, "Ya, Ma." jawab Hezkiel.


"Nak, kau di mana?" tanya Lily.


"Di rumah, Ma. Aku sedang ads di ruang kerjaku. Ada apa? apa perlu sesuatu?" tanya Hezkiel.


"Tidak menjawab panggilan dan pesan. Apa wanita itu sedang tidur?" batin Hezkiel.


Kening Hezkiel menyatu, "Entahlah. Dia sepertinya ada di rumah. Jika pergi, dia akan meminta izin padaku. Katakan saja apa pesan Mama. Nanti aku sampaikan." jawab Hezkiel.


"Oh, begitu. Baiklah. Tolong sampaikan jika Mama ingin mengajaknya ke toko kue besok. Ada anak dari teman Mama yang baru saja membuka toko kue. Mama ingin coba lihat toko itu, sekalian mengajak Celine." kata Lily menyampaikan niatannya.


"Oh, ok. Nanti aku sampaikan. Setelah ini pekerjaanku selesai." jawab Hezkiel.


"Ya, terima kasih. Kau jangan terlalu bekerja keras, Nak. Inikan hari libur. Temani istrimu jalan-jalan. Kalian harus sering-sering menghabiskan wakti berdua. Mama ingin cepat kau dan Celine memberikan kami cucu. Papa dan Mamamu ini sudah semakin menua, Nak." kata Lily.


Seketika Hezkiel tersentak mendengar ucapan Mamanya. Ia sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi karena kaget.

__ADS_1


"Ya, Ma. Sudah dulu. Aku masih harus selesaikan pekerjaanku dan melihat Celine di kamar." jawab Hezkiel.


"Ok, sayang. Mama tutup teleponnya, ya. Jaga kesehatanmu. Salam juga untuk menantuku yang cantik." pamit Lily, tidak lama mengakhiri panggilannya.


Hezkiel meletakan ponselnya di atas meja, "Astaga, apa yang Mama pikirkan. Kenapa sampai ingin cucu juga." gumamnya.


Hezkiel memikirkan Monna. Ia ingat jelas ucapan Monna yang tidak bisa memberikan anak pada Hezkiel dengan alasan ia tidak ingin merusak tubuh indah yang selama ini ia rawat dengan susah payah. Monna akan berikan segalanya, tidak dengan anak. Karena Monna juga masih ingin berkarir, tidak mau menjadi Ibu yang harus mengasuh dan membersarkan anak.


"Ya, sudahlah. Pikirkan nanti. Aku harus cari Celine dan sampaikan pesan Mama padanya." batin Hezkiel.


Segera Hezkiel merapikan berkas dokumen, dan menumpuknya menjadi satu diatas meja. Ia berdiri dari tempatnya duduk, berjalan keluar dari ruang kerja menuju kamar tidur Celine.


***


Pada saat membuka pintu kamar, Hezkiel tidak mendapati Celine di dalam kamar. Hezkiel beberapa kali memanggil, tetapi juga tidak mendapatkan jawaban. Hezkiel lalu memutuskan untuk pergi, baru saja ia berbalik, ia melihat sesuatu yang mengejutkan.


Ya, Celine baru saja selesai mandi. Ia keluar begitu saja dari kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benang. Hezkiel sampai tidak berkedip, ia menilai istrinya itu begitu seksi, dengan rambut dan tubuh yang masih basah. Celine merasa malu, ia cepat-cepat berbalik dan masuk kembali ke dalam kamar mandi.


Deg ... deg ... deg ....


Jantung Celine berdegup. Meski ia sudah pernah melakukan hubungan suami-istri dengan Hezkiel. Tetap saja ia merasa aneh jika ia terlihat tanpa pakaian di hadapan Hezkiel.


"Apa ini, " gumam Celine.


Sementara itu, Hezkiel yang kaget juga mengalami hal serupa dengan Celine. Jantingnya berdegup, wajah Hezkiel merona.


"Situasi macam apa ini ... " batin Hezkiel.

__ADS_1


*****


__ADS_2