Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
15. Mengadu


__ADS_3

Pada akhirnya, perkelahian Monna dan Celine dimenangkan oleh Celine. Monna yang tidak bisa membantahpun pergi meninggalkan Celine. Saat berjalan kembali ke kamarnya, ia masih sempat mengejek Celine, bahkan mengutuki Celine supaya celaka.


"Kudoakan kau celaka, Celine. Dasar wanita jahat!" ucap kasar Monna, sambil berjalan meninggalkan Celine.


Semua yang diucapkan Monna didenagr oleh Celine. Celine hanya diam, ia meletakan gelasnya dan ingin pergi meningalkan dapur. Anha yang melihat kejadian itu, langsung membawakan handuk menghampiri Celine.


"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Anha cemas, melihat wajah dan pakaian majikanya kotor.


Celine tersenyum, "Aku tidak apa-apa, Bi. Terima kasih," jawab Celine, menyeka wajahny yang basah dengan handuk.


"Mari saya antar ke kamar, Nyonya. Anda harua segera mandi." kata Anha.


"Ya, Bi." jawab Celine.


Anha dan Celine berjalan bersama menuju kamar tidur Celine. Anha sigap membanti manjikannya itu. Ia sangat menyayangkam kejadian yang sempat ia saksikan. Pada saat Monna bersikap tidak sopan kepada Nyonyanya.


***


Di kantor, Hans datang menemui Hezkiel. Sebagai seorang Ayah, sekaligus pemilik perusahaan. Ia ingin memastikan putranya bekerja dengan baik. Di sela-sela waktu, Hans dan Hezkiel berbincang santai. Ia menemani putranya yang sedang bekerja. Ingin mengajak putra tunggalnya itu untuk minum kopi bersama. Tidak hanya berbicara soal bisnis dan perusahaan saja. Hans juga bertanya tentang Celine.


"Kapan kau selesai dengan itu, Kiel?" tanya Hans.


"Pekerjaanku masih banyak, Papa. Papa kenapa juga datang menggangguku. Ganggu saja Mama," jawab Hezkiel.


"Mamamu sudah sering kuganggu, sampai aku dimarahi olehnya." sahut Hans.


"Papa sedang senggang, ya?" tanya Hezkiel, menatap tajam ke pada Hans.


Hans juga menatap ke arah Hezkiel, "Kenapa kau menatapku begitu, huh? Mau kurekatkan dua mataku dengan lem," kata Hans.


"Papa pulang saja, aku akan telepon Mama." kata Hezkiel.


"Kenapa kau repot mengurusiku? suda, bekerjalah dan ayo kita minum kopi." sahut Hans.


"Aku akan minta bagian dapur membuatkan. Ah, bukan. Biar Jeslyn saja yang buat." jawab Hezkiel.


"Tidak, tidak. Aku ingin minum kopi di kedai kopi. Bukan buatan Sekretarismu." jawab Hans.


Hezkiel mengehela napas panjang, "Hah ... ya, sudalah. Terserah Papa saja. Aku akan selesaikan ini dulu, baru pergi bersama Papa." kesal Hezkiel.


"Oh, ya. Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Hans tiba-tiba.


"Apa? ke-kenapa Papa tiba-tiba tanya?" tanya balik Hezkiel.

__ADS_1


"Ya, karena Mamamu selalu khawatir dan gelisah. Anak dan menantu kesayangannya tak pernah datang berkunjung." kata Hans.


"Celine sehat, dia tidak ada masalah." jawab asal Heskiel.


Hans diam sejenak, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia memalingkan wajah menatap putranya lagi, lalu membenarkan dudukmya agar terasa lebih nyaman.


"Apa kalian ada sesuatu? kau kelihatan tidak senang," tanya Hans.


"Tidak ada yang seperti itu, Pa. Tidak ada sesuatu dan semua baik-baik saja, ok." kata Hezkiel, mencoba menyakinkan Papanya.


"Oh, ya. Syukurlah jika kalian baik-baik saja dan tidak ada masalah. Kalian 'kan bari menikah, jika ada kesalahpahaman itu wajar. Terlebih kalian belum saling menganal satu sama lain cukup lama, kan." jelas Hans.


"Ya, Pa. Iya ... " jawab gemas Hezkiel.


Beberapa saat kemudian. Sebastian membawa masuk beberapa berkas dokumen yang diminta oleh Hans.


"Silakan, Tuan." kata Sebastian, memberikan berkas dokumen pada Hans.


"Kenapa bicara formal begitu, Bastian. Santai saja, kau bisa memanggilku Paman." kata Hans, menerima berkas dokumen dari Sebastian.


"Tidak bisa begitu, Pa. Ini 'kan di kantor, bukan di rumah." protes Hezkiel.


"Kau diamlah dan selesaikan pekerjaanmu itu. Aku butuh waktu lama sampai kau menyelesaikan itu untuk kuperiksa, Nak. Soal aku dan Bastian, bukan hakmu ikut bicara." sahut Hans.


"Apa kau bilang? dasar anak kurang ajar," kata Hans.


Sebagai seorang Asisten pribadi yang cekatan, Bastian memahami situasi yang ada. Ia tahu, jika suasana hati Bossnya sedang tidak baik. Ditambah kedatangan mantan CEO yang membuat Bossnya semakin tertekan.


"Hm, Paman. Ayo kita minum kopi di Caffe dekat sini. Saya yang traktir," ajak Sebastian.


"Oh, boleh-boleh. Kau ini memang anak yang baik. Ayo, aku jyga bosan menunggu CEO yang kerjanya lamban." jawab Hans semangat.


"Kalian berdua mau keluar?" tanya Hezkiel.


"Maaf, Tuan. Izinkan saya mengajak Pam ... ah, maksud saya Tuan besar untuk membeli kopi di Caffe dekat kantor." kata Sebastian meminta izin pada Hezkiel.


"Ya, pergilah. Belikan juga aku kopi, ya." kata Hezkiel.


"Baik, Tuan." jawab kilat Sebastian.


"Cepatlah, Bastian. Kau ingin membuatku menunggu berapa lama?" tegur Hans yang sudah ada di depan pintu.


Sebastian kaget, ia tidak menyadari jika Hans sudah berada di depan pintu. Setelah sebelumnya masih duduk di sofa

__ADS_1


"Ba-baik, Tuan." jawab Sebastian yang langsung bergegas pergi mendekati Hans.


Akhirnya, Hans dan Sebastian pergi dari ruangan Hezkiel. Hezkiel langsung memeriksa ponselnya, ia melihat beberpa pesan masuk dari Monna dan panggilan dari orang yang sama. Karena kedatangan Papanya, Hezkiel tidak bisa bersantai-santai bermain ponsel.


"Ada apa dengan wanita ini. Dia kenapa marah-marah lagi?" batin Hezkiel melihat pesan yang dikirim oleh Monna.


***


Malam harinya ....


Di rumah, Monna duduk melihat-lihat majalah. Di mana wajah Monna masih tetap murung. Beberapa kali mencoba menghubungi Hezkiel, tetapi panggilannya diabaikan. Pesanya pun belum terbaca oleh Hezkiel.


"Awas saja kau pulang. Aku akan benar-benar murka Padamu." batin Monna.


Pintu kamar tebuka. Hezkiel masuk dan bertanya pada Monna, apa yang sebenarny terjadi. Mengapa Monna sampao kesal dan marah padanya.


"Tidak perlu," rajuk Monna.


"Ceritalah, apa yang sebenarnya terjadi." desak Hezkiel.


Mendengar kesungguhan Hezkiel meminta Monna bercerita, membuat Monna mau tidak mau membuka suara. Monna menceritakan semuanya Pada Hezkiel. Ia memasang wajah sedih dan murung demi menarik perhatian Hezkiel.


"Kenapa kau menyinggungnya?" tanya Hezkiel.


Dahi Monna mengerut, "Kau membelanya lagi? kau ini ya. Selalu saja membela istrimu itu. Aku 'kan juga istrimu Hezkiel. Menyebalkan sekali," omel Monna.


"Hei, tenang dulu. Aku 'kan hanya bertanya." jawab Hezkiel.


"Kau juga, apa yang semalam kau lakukan dengan istrimu itu, huh? kau bercinta dengannya, kan? aku emlihay jejak ciuman di dada wanita itu." kata Monna meledak-ledak.


Hezkiel terdiam, "Ah, sialan. Kenapa aku harus terus terjebak dalam situasi sulit begini." batin Hezkiel, mengusap kasar wajahnya.


"Jawab aku, Kiel. Kenapa kau tidur denganya? bukankah kau sudah janji padaku, tak akan menyentuhnya seujung jaripun?" cecar Monna.


"Cih, pria ini sungguh mengesalkan sekali. Jika aku tidak butuh uang dan latar belakangmu yang kuat, aku tidak akan berlama-lama berada di sisimu." batin Monna.


Monna memasang wajah sedih, matanya berkaca-kaca hendak menangis. Mihat kesayangannya sedih, Hezkiel merasa tidak tega dan mencoba menenangkan.


"Baikalah, aku mengaku. Aku memang tidur dengan Celine. Itu karena aku mabuk, aku melakukannya juga dengan keadaan setengah sadar. Meskipun aku menyentuhnya, hati dan tubuhku ini juga akan tetap menjadi milikmu selamanya." jelas Hezkiel.


"Kau pembohong," kata Monna. Monna memukul-mukul dada Hezkiel karena kesal.


Hezkiel langsung memeluk Monna. Ia kembali meminta maaf, dan membujuk Monna agar Monna tidak marah dan kesal lagi padanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2