Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
38. Pengakuan Hezkiel


__ADS_3

Di rumah sakit. Celine telah mendapatkan penanganan oleh dokter. Hezkiel mondar mandi kebingungan. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Tak jauh dari Hezkiel, ada Anha yang duduk di ruang tunggu. Anha tampak shock.


"Bibi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hezkiel.


"Saya tidak tahu, Tuan. Tadi, saya memang menemani Nyonya di ruang baca lantai dua. Namun, karena saya ada pekerjaan, saya izin turun ke dapur. Saya tidak tahu jika Nyonya akan turun setelah saya turun dan terjatuh." jelas Anha.


"Jika Papa dan Mama tahu Celine seperti ini. Mereka pasti murka padaku," batin Hezkiel.


"Tuan ... " panggil Anha.


"Ya?" jawab Hezkiel cepat.


"Sebenarnya. Saya melihat Nona Monna keluar dari ruang baca. Saya melihat saat mengantarkan jus yang dipesan Nyonya. Saya tidak tahu mereka membicarakan apa. " kata Anha menceritakan apa yang dilihatnya.


"Monna?" ulang Hezkiel bergumam. "Untuk apa Monna menemui Celine?" batin Hezkiel.


Setelah menunggu cukup lama, dokter akhirny keluar dari ruangan dan menemui Hezkiel.


"Hallo, dok. Saya suaminya. Apakah istri saya baik-baik saja?" tanya Hezkiel penasaran.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa menyeleamatkan janin yang dikandung istri Anda. Nyonya mengalami pendarahan dan keguguran." jelas dokter pada Hezkiel.


Mendengar penjelasan dokter, Hezkiel amat terkejut. Ia tidak tahu jika Celine hamil. Dan setelah tahu justru, calon anaknya telah tiada.


Anha juga kaget, ia lantas menangis. Ia tidak sangka jika majikannya akan mengalami kejadian buruk sampai harus kehilangan calon anak.


"Lalu, apakah kondisinya baik-baik saja?" tanya Hezkiel.


"Cukup baik. Nyonya juga mengalami cidera ringan, lecet dan lebam. Namun, semua itu sudah kami tangani. Kami akan segera memindahkan Nyonya ke ruang rawat inap." kata dokter menginformasikan.


"Ya, dok. Terima kasih banyak." ucap Hezkiel.


"Sama-sama. Jika tidak ada hal lainnya, saya permisi lebih dulu. Mari," pamit dokter, yang langsung pergi meninggalkan Anha dan Hezkiel.


"Kenapa Bibi tidak memberitahuku?" tanya Hezkiel kecewa.


Anha melebarkan mata, "Ma-maafkan saya, Tuan. Nyonya ingin memberitahukannya sendiri pada Anda. Saya tidak bermaksud menutupi apapun, ataupun niat membohongi Anda." jelas Anha.


"Bagaimana bisa ini terjadi? aku kehilangan anakku," gumam Hezkiel.

__ADS_1


Ponsel Hezkiel berdering. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.Ia melihat, nama 'My Love' di layar ponselnya. Hezkiel mendapatkan panggilan dari Monna. Ia langsung menerima panggilan itu dan bicara dengan Monna.


"Ya, Hallo ... " jawab Hezkiel.


"Kau di mana?" tanya Monna.


"Apa maksudmu? kau masih tanya aku di mana?" tanya Hezkiel kesal.


"Hei, Kiel. Kenapa kau marah-marah? aku kan hannya tanya. Kau ada di mana. Kau jawab, ok. Tidak ya sudah. Aku tidak memaksa." jelas Celine yang juga kesal.


Hezkiel mengernyitkan dahinya, "Hahhh ... " hela panjang Hezkiel. "Aku di rumah sakit." lanjut Hezkiel menjawab.


"Kau tidak pulang? di man dokumennya?" tanya Monna lagi.


"Kau menghibungiku hanya untuk bertanya itu? apa kau tidak bisa menunggu, Monna? arggghhh .. s*al!" Hezkiel kesal karena terus didesak oleh Monna.


Monna tersinggung dengan ucapan Hezkiel yang menusuk. Ia pun balik meneriaki Hezkiel.


"Kau mengumpatku, Kiel? siapa yang kau sebut s*al? aku? Hah, bagus sekali ucapanmu, ya. Lupakan saja, aku tidak butuh saham itu lagi. Aku mau kita bercerai saja." sentak Monna yang langsung menutup panggilannya.


Hezkiel kaget, "A-apa? hallo, Monna. Ha-hallo ... " Hezkiel semakin kesal. Ia tidak sangka Monna akan bicara demikian padanya.


"Tuan ... ada sesuatu?" tanya Anha.


Hezkiel mencoba menghubungi Monna. Namun, Monna menolak panggilan Hezkiel. Begitu seteruanya sampai Hezkiel lalah dan akhirnya mengirim pesan. Pesannya pun tidak dibalas oleh Monna. Kali ini, sepertinya Monna sudah benar-benar kesal.


***


Celine sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Saat tengah malam, Celine terbangun. Ia mendapati Hezkiel tertidur menunggunya di sisi ranjang.


Celine memegang tangan Hezkiel. Hezkiel yang kaget langsung bangun. Ia mihat istrinya itu sudah bangun.


"Celine, kau sudah bangun? kau haus, mau minum?" tanya Hezkiel khawatir.


Celine hanya menganggukkan kepala. Hezkiel pun langsung mengambil air minum dan membantu Celine untuk minum.


"Bagaimana bisa kau terjatuh, Celine? tanya Hezkiel, masih dalam posisi merangkul Celine.


"Anakku? anakku?" gumam Celine. "Kiel, anakku bagaimana? aku ... " Celine lantas terdiam. Ia takut jika sampai ia kehilangan janin yang ia kandung.

__ADS_1


Hezkiel langsung memeluk Celine, "Maaf, kau harus kehilangannya. Dia tak bisa diselamatkan." bisik Hezkiel sedih.


"Apa?" sentak Celine kaget, ia langsung menagis dipelukan Hezkiel.


Hiks ... hiks ... hiks ....


"Anakku ... " gumam Celine.


"Tenangkan dirimu, Celine. Kumohon tenangkan dirimu." kata Hezkiel.


Celine ingat apa yang Monna katakan, ia lantas mendorong Hezkiel. Matanya menatap tajam ke arah Hezkiel.


"Jangan berpura-pura baik padaku lagi, Kiel. Kau pembohong! aku tidak mau melihatmu, lebih baik kau keluar." kata Celine.


"A-apa salahku? kenapa kau marah-marah, Celine?" tanya Hezkiel masih belum tahu dan mengerti apa yang terjadi.


"Aku sudah tahu semuanya. Siapa Monna dan apa hubungan kalian sesunguhnya. Kenapa kau tidak bilang sejak awal, Kiel? kenapa?" kata Celine meninggikan suara.


Hezkiel melebarkan mata, "Si-siapa yang memberitahumu? apa Monna?" tanya Hezkiel.


Celine menganggukkan kepala, "Ya, Monna. Dia mengatakan jika kalian sudah menikah sejak lama. Dan mengatakan jika akulah orang ketiga diantara kau dan dia. Jadi, apa ini? aku istri keduamu begitu? kau benar-benar mempermainakanku, Kiel." Celine terisak. Air matanya berderai membasahi pipi.


Hezkiel menunduk malu, "Maaf, Celine. Bukan maksudku seperti itu. Aku akan jelaskan yang sebenarnya padamu. Ok. Aku mengaku, aku memang sudah menikah dengan Celine. Namun, aku juga tidak bisa menolak permintaan Papa dan Mama yang memintaku menikah denganmu. Tidak ada satu orangpun yang tahu tentang hubungan kami ini. Karena kami menikah diam-diam saat itu. Aku tidak mengira Monna akan membuka semuanya padamu." jelas Hezkiel panjang lebar.


"Aku tidak bisa seperti ini, Kiel. Aku tidak mau berbagi suami. Jika dia kekasihmu atau simpananmu, aku masih bisa diam. Tapi, dia juga istrimu. Statusnya sama denganku. Aku tidak terima itu." kata Celine.


"Celine, tenanglah! jangan emosi. Ayo, kita bicara baik-baik." kata Hezkiel mencoba menenangkan Celine.


"Ayo kita bercerai saja. Aku tidak bisa seperti ini. Tidak bisa, aku tidak bisa! ceraikan aku, Kiel." Celine meraung-raung dan terus menangis. Ia sangat kecewa pada Hezkiel yang tidak jujur padanya.


Hezkiel diam sejenak, "Tidak, Celine. Aku tidak mungkin menceraikanmu. Karena kau adalah wanita yang orang tuaku pilihkan. Bagaimana aku akan menjelaskan pada mereka jika kita bercerai?" kata Hezkiel, menolak keinginan Celine.


"Kalau begitu, bisa 'kan kau ceraikan Monna?" tanya Celine.


"I-itu ... itu ... " Hezkeil pun terdiam. Ia memilih menghindari tatapan Celine dan tidak menjawab ucapan Celine.


"Kau diam? itu artinya kau tidak bisa memilih, kan. Kau menahanku hanya karena aku pilihan orang tuamu dan kau takut jika mereka tau sebab kita bercerai, kan? iya, kan?" desak Celine.


"Celine cukup! aku tidak mau bertengkar denganmu." kata Hezkiel.

__ADS_1


"Aku juga tidak mau bicara dengan pembohong sepertimu. Aku kecewa padamua, Kiel. Sangat, sangat kecewa! aku tidak peduli, ucapanku benar atau tidak. Mau kau terima atau tidak terima. Aku akan mengajukan perceraian." kata Celine gigih dengan pemikirannya.


*****


__ADS_2