
Brukkk ...
Hezkiel berlutut di sisi meja. Tak jauh dari sisi Celine duduk. Celine dan Jihyuk kaget. Keduanya saling bertatapan, tidak tahu maksud Hezkiel yang sedang berlutut.
"Kenapa dia berlutut?" batin Jihyuk, mengerutkan dahi.
"Dia ini. Apa lagi yang dia lakukan. Tidak bisakah dia melakukan hal yang tidak membuat orang salah paham. Terlebih ini di tempat umum." batin Celine.
Celine berdiri, "Berdirilah. Jaga sikapmu, Tuan Winter. Aku tak pantas membuat CEO perusahaan besar berlutut seperti ini." kata Celine menegur Hezkiel.
"Maaf ... " ucap Hezkiel.
Celine mengernyitka dahi, "Apa?" gumam Celine pelan.
"Maafkan aku, Celine. Kumohon, maafkan aku. Selama ini, aku hidup dengan pikiran dan perasaan menyesal. Aku bersalah padamu. Aku salah, maafkan aku." ucap Hezkiel menundukkan kepala.
Celine menarik napas dalam lalu, mengembuskan napas perlahan. Itu dilakukan beberapa kali.
"Sayang, bisa kau bantu aku?" bisik Celine.
"Ya, bantu apa?" tanya Jihyuk yang juga berbisik.
"Buat dia berdiri atau duduk. Jika seperti ini, kita akan mendapatkan masalah. Orang-oranv akan berpikir kita menindasnya." kata Celine.
Jihyuk lantas berdiri, "Ya, akan kucoba." jawab Jihyuk.
Ia lalu berjalan mendekati Hezkiel. Jihyuk berusaha membujuk Hezkiel untuk berdiri dan duduk.
"Tuan Winter, tolong berdiri. jangan berlutut di lantai. Apa Tuan ingin mempermalukan Celine? Tuan harus ingat, jika ini adalah tempat umum." bisik Jihyuk di telinga Celine.
Hezkiel kaget, "Ah, sial! bagaimana bisa aku lupa. Aku malah melakukan kesalahan dengan mementingkan keinginanku sendiri." batin Hezkiel.
Hezkiel bangun, dan berdiri dar posisi berlutut "Maaf. Aku tidak sadar melakukannya." katanya.
__ADS_1
"Duduklah," pinta Jihyuk.
Hezkiel duduk, Jihyuk dan Celine juga duduk. Suasan kembali menjadi tenang dan canggung.
"Tidak perlu meminta maaf. Karena aku sudah membuang semuanya. Baik itu perasaan sakit, sedih ataupun kecewa. Semua rasa itu sudah kukubur dalam-dalam. Jadi, kuharap kau tidak lagi merasa bersalah. Semua sudah berlalu, Kiel. Apa yang sudah terjadi, tak bisa terulang kembali meski kau berlutut bahkan sampai menangis darah." kata Celine menegaskan.
"Tetap saja. Aku selalu dihantui rasa bersalah. Rasanya, aku tak bisa untuk tidak meminta pengampunanmu." jawab Hezkiel.
"Jika seperti itu, lakukan hal baik mulai dari sekarang. Anggaplah kebaikan yang kau lakukan adalah penebusan easa bersalahmu." sahut Celine.
Hezkiel menatap Celine, "Kau membenciku?" tanya Hezkiel.
"Tidak untuk saat ini. Karena aku tidak mengenalmu." jawab Celine langsung tanpa basa basi.
Hszkiel mengernyitkan dahi, "Maksudmu?" tanya Hezkiel tak mengerti.
"Tidak apa-apa. Lupakan saja. Aku di sini mau mempertegas arah pembicaraan kita. Sudah cukup sampai di sini, pembicaraan kita untuk kejadian di masa lalu. Jangan ada lagi lain hari. Dan juga ... mari, kita benar-benar akhiri semuanya. Baik itu rasa sedih, rasa kesal, rasa bersalah, bahkan harapan yang sia-sia. Mari kita berjalan ke masing-masing tujuan kita tanpa mengganggu satu sama lain. Kau bisa lakukan ini, kan? Karena aku tak mau menyakiti hati orang terdekatku. Terutama suamiku. Mungkin bagimu ini bukan apa-apa. Tapi, bagiku ini berharga. Jika aku menyakiti Jihyuk, sama dengan aku menyakiti diriku sendiri. Aku juga tak ingin ada salah paham, di antara kami. Jadi, kumohon dengan sangat padamu. Lupakan saja semuanya. Meski itu sulit." panjang lebar Celine bicara.
"Apq ini Celine? kenapa dia bicara seperti ini sekarang? dia bahkan tak memberiku celah melakukan apa-apa." batin Hezkiel.
Jihyuk terus berpikir. Ia senang, mendengar Celine bicara terbuka di hadapan Hezkiel. Celine membuatnya merasa dianggap benar-benar sebagai seseorang yang sangat berharga untuk istrinya itu.
"Aku sungguh bahagia hari ini. Kau membuatku jatuh cinta lagi, lagi dan lagi, Celine." batin Jihyuk.
"Hahhh ... " hela napas Hezkiel. "Baiklah. Mari kita lakukan sesuai ucapanmu." kata Hezkiel.
Celine tersengum tipis, "Terima kasih. Sudah mau mengerti maksudku." kata Celine.
Hezkiel terlihat sedih. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hezkiel mau tak mau harus menerima keputusan yang sudah Celine buat.
Merasa tidak ada yang perlu di bicarakan. Celine mengajak Jihyuk untuk pergi, dengan alasan pertemuan keluarga. Hal itu dilakukan Celine, agar ia tidak lagi melihat wajah Hezkiel.
"Aku harus mengajak Jihyuk pergi sekarang. Jika tidak, aku akan terus melihat wajahnya. Saat melihatnya, aku selalu teringat akan dirinya dan Monna gang selalu mesra." batin Celine.
__ADS_1
"Umh, aku minta maaf sebelumnya. Tapi, jika tidak ada hal lain. Boleh kan aku mengajak suamiku pergi? hari ini kami ada pertemuan keluarga dan bersifat penting." kata Celine beralasan.
"Ah, uh, ya ... si, silakan." jawab Hezkiel membuang muka menatap arah lain.
"Ayo, sayang. Kita pulang." ajak Celine. Menggandeng tanga Jihyuk.
"Ya," jawab Jihyuk merona. Ia lantas memalingkan pandangan ke arah Hezkiel, "Terima kasih untuk hari ini, Tuan Winter. Kami permisi," pamit Jihyuk.
Celine dan Jihyuk pun pergi meninggalkan Hezkiel seorang diri. Mereka keluar dari dalam kedai kopi dan langsung berjalan menuju parkiran.
Di dalam mobil, Celine terus mengatur napasnya berulang-ulang. Jihyuk yang melihat, meraih tangan Celine lantas di genggamny erat.
"Ada apa? bukankah kau seharusnya merasa lega? kenapa kau seperti ini?" tanya Jihyuk.
Celine langsung menatap Jihyuk, "Sayang, boleh aku menyakinkan satu hal?" tanya Celine.
"Ya, coba tanyakan. Apa yang ingin kau pastikan?" tanya Jihyuk.
"A, apa kau marah?" tanya Celine.
Jihyuk terdiam berpikir, "Hmm ... bagaimana, ya menjelaskannya. Jika ku jawab marah, bukankah itu terlalu egois. Jika tidak marah. itu tidak mungkin." jawab Jihyuk.
Celine murung, "Jadi, kau marah, ya. Maaf. Hari ini bertemu dengannya kan bukan kemauanku." kata Celine.
Jihyuk tersenyum, "Aku marah, karena teringat kau yang menangis. Bagaimana bisa aku diam melihat kau yang seperti itu? aku langsung marah, saat tahu pelakunya ada di hadapanku." Jihyuk menjelaskan alasan dirinya marah.
Ia mengusap wajah Celine, "Apa kau baik-baik saja? hatimu pasti sakit, harus bertemu lagi dengan seseorang yang tak ingin kau temui." Jihyuk mengkhawatirkan Celine.
Celine menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak apa-apa. Rasa sakit yang kurasakan, langsubg bisa terobati. Karena ada kau, Jihyuk." jawab Celine tersenyum.
Jihyuk langsung memeluk Celine, "Hahhh ... " hela napas Jihyuk. Ia mengusap-usap kepala Celine perlahan, "Aku mencintaimu, Celine." bisik Jihyuk.
"Aku juga mencintaimu, Jihyuk. Tak ada seseorang selain kau dalam hatiku. Tak ada selain wajahmu yang selalu terngiang di pikiranku. Hanya kau dan selalu kau, Jihyuk. Kau segalanya untukku." gumam Celine dalam pelukan Jihyuk.
__ADS_1
Celine mengeratkan pelukan. Mata Jihyuk berkaca-kaca. Ia terharu mendengar ungkapan perasaan istrinya.
*****