Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
76. Permintaan Maaf Celine Kepada Siane


__ADS_3

Siane tiba di rumah. Setibanya di rumah, ia tidak mendapati sahabatnya. Ia segera mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat, apakah pesannya sudah di balas Celine atau belum. Ternyata Celine tidak membalas pesannya, Celine bahkan tak menghubunginya.


"Ke mana dia? tadi aku lewat toko, toko juga tutup. Anak ini selalu membuatku sakit kepala." keluh Siane.


Siane langsung menghubungi Celine. Panggilannya tersambung, namun belum diterima oleh Celine. Tak beberapa, panggilan Siane diterima.


(Percakapan di telepon)*


"Hallo, Celine? kau, kau ada di mana?" tanya Siane langsung. Tanpa basa basi.


"Siane, kau sudah kembali? maaf, aku baru melihat pesanmu." jawab Celine.


"Jawab aku, Celine. Kau di mana?" tanya Siane lagi.


"Aku, hm ... aku, aku, aku ada di ... " Celine memberitahu rumah sakit tempatnya dirawat.


"Kau di rumah sakit?" tanya Siane lagi memastikan apa yang ia dengar.


"Ya," jawab Celine pelan.


"Hahhh ... " Siane menghela napas berat. "Tunggu aku. Aku akan segera datang ke sana." kata Siane.


"Ya," jawab Celine singkat.


Siane mengakhiri panggilannya. Ia segera mengenakan lagi mantelnya dan pergi dari rumah menuju rumah sakit. Siane pergi dengan tergesa-gesa.


***


Sementara itu, di kantor Jihyuk tampak kurang fokus pada pekerjaannya. Bahkan saat rapat, ia lebih sering melamun. Sampai-sampai ia senyum-senyum sendiri tidak jelas.


Karena melihat langsung CEO-nya aneh, para anggota staf yang menghadiri rapat menjadi bertanya-tanya. Mereka saling memandang dan berbisik-bisik. Tidak hanya para staf, bahkan Asisten dan Sekretaris Jihyuk juga merasa heran.


"Sebagai Asisten, kau hampir selalu ada di sisi Pak CEO. sebenarnya, apa yang terjadi pada beliau? tanya Sekertaris berbisik.


"Aku kan akhir-akhir ini sibuk. Setahuku, beliau sering pergi dan menginap di rumah sakit." jawab Asisten yang juga berbisik.


"Hah? rumah sakit? si, siapa yang sakit? Pak presdir? atau istri Pak presdir? a ... " pertanyaan Sekretaris terjeda, karena Asisten memotongnya.


"Apa Sekretaris Han mengira aku adalah kamera pengawas? yang selalu tahu apa saja yang terjadi? dan siapa saja yang Pak CEO temui?" jawab sang Asisten lagi berbisik.


Sekretaris menghela napas, "Lihatlah, beliau sibuk melamun sejak tadi. Kau lebih baik mengingatkan Beliau Tuan Asisten yang terpercaya." kata Sekretaris.


Asisten melihat sekeliling, semua orang masih menatap aneh ke arah Jihyuk yang sedang melamun. Asisten itu perlahan berjalan mendekati Jihyuk dan berbisik di telinga Jihyuk.

__ADS_1


"Pak, Pak CEO, Pak ... Pak, apakah Anda baik-baik saja?" panggil Asisten.


Jihyuk kaget, "Ah, i ... iya?" gumamnya mengernyitkan dahi menatap Asistennya.


"Sejak tadi Anda melamun. Kita sedang rapat, Pak." kata Asisten.


"Astaga ... bisa-bisanya aku seperti ini." gumamnya menunduk lalu, memijat keningnya.


"Anda baik-baik sja? Apakah Anda butuh sesuatu?" tanya Asisten memastikan.


"Ya, aku baik. Lanjutkan pekerjaanmu." jawab Jihyuk.


"Bagaimana, ini? tanpa sadar aku memikirkan Celine terus menerus. Apa yang terjadi padaku sebenarnya?" batin Jihyuk.


Jihyuk menadahkan kepalanya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu, mengembuskan napas perlahan. Jihyuk menatap semua orang yang hadir di rapat.


"Saya minta maaf untuk hari ini. Rapatnya kita sudahi saja. Saya juga sedang banyak pikiran saat ini. Terima kasih untuk perhatian Anda semua. Saya permisi." kata Jihyuk yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang rapat.


Jihyuk berjalan cepat menuju ruangannya. Di ruangannya, ia langsung minum habis air putih dalam gelas dengan sekali teguk. Jihyuk merasa, ada yang aneh dengannya. Semenjak


kejadian tadi pagi, ia menjadi lebih sering berdebar saat memikirkan Celine. Pikirannya juga kacau, bisa-bisanya pikiran Jihyuk ingin agar Jihyuk lekas pergi ke rumah sakit


***


Di rumah sakiti. Jisoo dan Soohyuk menemani Celine. Celine mengatakan, jika Siane kan datang. Dan kemungkinan besar Siane akan marah padanya.


"Kau benar, Jisoo. Tapi, aku benar-benar tidak bisa ceritakan kejadian itu padanya. Karena dia sedang sibuk kerja. Terlebih, dia berada di luar kota." sahut Jisoo


"Ya, ucapanmu benar. Aku terlalu memaksakan diriku. Karena khawatir, aku tidak berani bicara jujur dan terkesan menutup-nutupi." kata Celine.


"Tidak apa-apa, nanti bicarakan baik-baik dengannya. Ok." kata Jisoo tersenyum.


"Ya," jawab Celine.


"Oh, ya. Apa Oppa-ku bersikap baik padamu hari ini? tidak ada masalah, kan?" tanya Jisoo ingin tahu.


Celine kaget, "Ah, iya, Ba, ba, baik. Jihyuk selalu bersikap baik. Dia selalu mengatakan jika selama aku di rawat di sini, aku adalah tanggung jawabnya. Apa itu tidak berlebihan?" tanya Celine merasa bingung.


"Dia memang orang seperti itu. Sangat, sangat, sangat bertanggung jawab." jawab Jisoo.


Deg ... deg ... deg ....


Jantung celine berdebar.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi berdebar saat memikirkan pria itu, ya? tidak, tidak, tidak boleh. Jangan tergoda, Celine. Jangan membuat kesalahan lagi." batin Celine.


Tidak lama, pintu ruangan terketuk lalu, terbuka. Siane masuk dan melangkah lemas mendekati Celine yang duduk bersandar di atas tempat tidur pasien.


Siane hanya diam dan menatap Celine. Celine juga menatap Siane. Mereka saling menatap, tetapi juga saling diam.


Jisoo ingin memberi ruang untuk Celine dan Siane bicara. Ia berniat mengajak Adiknya, Soohyuk pergi dari ruangan. Tapi, Jisoo mengurungkan niatannya dan ingin menjelaskan pada Siane, apa yang terjadi sebenarnya.


"Hm, Siane ... " panggil Jisoo.


"Ya?" jawab Siane.


"Sebelumnya aku minta maaf. Semua ini terjadi karenaku. Celine tidak bersalah, akulah yang salah. Demi menolongku, dia menjadi seperti ini." jelas Jisoo.


"Jisoo, tidak apa-apa. Bukan salahmu." jawab Celine.


Jisoo menatap Celine, "Tapi, kau terluka karenaku. Aku selalu merasa bersalah dan tidak bisa memaafkan diriku sendiri." kata Jisoo.


"Jisoo, maaf. Bisa beri waktu untukku dan Celine bicara berdua saja? Tidak lama, hanya lima sampai sepuluh menit." Kata Siane.


Jisoo menatap Soohyuk. Adiknya itu menganggukkan kepala tanda setuju. Jisoo pun memalingkan pandangan ke Celine.


"Ya, aku dan Adikku akan menunggu di luar. Bicara santai saja, tidak perlu pedulikan kami dan terburu-buru." jawab Jisoo. Ia langsung menarik tangan Adiknya dan mengajak Soohyuk pergi dengannya. "Ayo, Soohyuk." kata Jisoo.


Jisoo dan Soohyuk pun akhirnya pergi. Siane duduk di kursi, di samping tempat tidur yang di gunakan Celine. Siane masih tetap diam, tidak bicara apa-apa.


"Apa perjalananmu lancar? bagaimana pekerjaanmu?" tanya Celine.


"Apa itu penting sekarang?" jawab Siane, menatap tajam ke arah Celine.


"Ma, maaf. Maafkan aku. Aku tahu kau marah, aku sungguh-sungguh minta maaf." kata Celine.


Mata Siane sudah berkaca-kaca, "Apa aku ini sudah bukan sahabatmu lagi? apa artinya aku bagimu, Celine?" tanya Siane.


"Siane, bukan seperti itu. Aku, aku hanya tidak mau mengganggumu. Itu saja. Kau kan sedang bekerja, perjalanan dari sini ke sana saja sudah memakan waktu sekitar lima jam perjalanan. Kau juga pasti akan panik. Akku tidak mau, hanya karenaku, kau tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak bisa fokus bekerja dan yang lainnya. Itu saja yang bisa kujelaskan." jelas Celine pada Siane.


Hiks ....


Siane langsung menangis. Rupanya, ia sudah tidak bisa lagi menahan diri. Sejak ia tahu jika Celine ada di rumah sakit.


"Meski aku jauh dan sedang sibuk sekalipun. Jika kau takut menghubungiku, bukankah kau bisa mengirim pesan? Kau seharusnya memberitahuku, apapun itu. Bukankah kita sudah berjanji, tidak akan pernah menyembunyikan apapun. Sekalipun itu hal yang menyakitkan. " Siane menangis tersedu-sedu.


"Maafkan aku. Maaf ... " kata Celine menangis.

__ADS_1


Keduanya pun lalu, berpelukan dan menangis bersama-sama. Mereka saling meminta maaf.


*****


__ADS_2