
Jihyuk mengajak Celine pergi. Sebelum pergi, keduanya sempat mampir ke supermarket untuk membeli bir dan cemilan. Celine tidak tahu, ke mana Jihyuk membawanya. Sampai pada saat mereka tiba di sebuah rumah.
Mobil yang dikemudikan Jihyuk berhenti di halaman sebuh rumah. Jihyuk mengajak Celine turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tersebut.
Celine merasa ragu, gelisah dan cemas. Ia tidak tahu itu rumah siapa. Ia juga tidak tahu jelas tujuan Jihyuk mengajaknya ke rumah itu. Yang ia tahu, rumah itu terlihat sederhana, tetapi elegan. Seperti gambaran sosok Jihyuk.
Jihyuk membuka pintu rumah, "Masuklah ... " kata Jihyuk.
Celine mengikuti Jihyuk masuk ke dalam rumah. Baru saja menginjakan kaki masuk dalam rumah, Celine melihat lantai rumah bertaburan bunga mawar.
"Oh, apa ini? kau menaburkan bunga?" tanya Celine.
Jihyuk tidak menjawab. Ia terus melangkah masuk sampai di ruang tengah rumah tersebut. Celine juga melihat hal serupa, di ruang tengah juga bertebaran kelopak bunga mawar. Jihyuk lalu, berlutut satu kaki di hadapan Celine. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku mantelnya. Yang tak lain adalah sebuah kotak berisikan cincin.
Celine bingung. Ia tidak paham dengan semua yang terjadi, mengapa tiba-tiba Jihyuk berlutut dan mengeluarkan cincin. Pikiran Celine tidak jauh berpikir.
"Kau, sedang apa? tanya Celine.
"Ini mungkin terkesan aneh untukmu. Karena tiba-tiba aku melakukan ini. Saat ini aku sedang melamarmu, Celine. Jadilah istriku. Jadilah Nyonya rumah ini." kata Jihyuk.
"Apa?" kaget Celine. "Ini ... kenapa tiba-tiba kau seperti ini?" gumam Celine.
"Karena, jika aku menunda mengungkapkannya. belum tentu aku mendapatkan kesempatan lagi. Seseorang yang kutemui mengatakan, jika aku tidak boleh membuang waktu dan harus mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya. Aku tahu, kau juga pasti terkejut. KIta baru mengenal beberapa bulan, tetapi aku sudah seberani ini. Tak apa-apa, jika kau mau menolak dan masih ingin mengenal lebih jauh lagi. Tapi, tolong jangan membuat jarak denganku." Jihyuk menunduk. Ia ragu, apakah keputusannya melamar Celine tepat atau tidak.
Celine diam berpikir, seperti sedang menimang-nimang sesuatu. Celine ragu, tetapi ia juga tidak menampik adanya perasaan yang mulai tumbuh di hatinya untuk Jihyuk.
Celine menunduk untuk membantu Jihyuk berdiri, "Berdiri dulu," kata Celine.
Jihyuk pun berdiri dan keduanya berhadapan. Celine menatap JIhyuk demikian juga Jihyuk. Meski ragu, Celine akhirnya bicara dan mengungkapkan sebenarnya. Jika ia takut untuk memulai sebuah pernikahan lagi. SEtelah pernikahan pertamanya hancur. Tak disangka, Jihyuk juga menanggapi hal serupa. Ia juga seseorang yang gagal membina hubungan dan mengklaim, jika sebelumnya ia adalah seorang suami yang buruk. Mereka pun saling berbagi cerita.
__ADS_1
"Jihyuk, bukan aku tidak mau menerima lamaranmu. Tapi, sebelum itu. Apa boleh aku mengatakan sesuatu? Jujur saja, aku pernah menikah sebelumnya. Dan kehidupan pernikahanku tidak membuatku bahagia. Aku tidak akan mengumbar aib pernikahanku sebelumnya, ini hanya sekedar informasi untuk sedikit kau ketahui. Ok." Celine mulai sedikit membuka suara dan bercerita.
"Aku mengerti. Tak apa-apa. Bukankah sudah pernah aku katakan, jika aku tidak mau kau menangis hanya karena cerita masa lalu? jika membuatmu terluka, maka itu tidak perlu kau ceritakan. Aku tidak mau mengorek luka lama yang bahkan bekasnya saja belum hilang." kata Jihyuk tegas.
Celine tersenyum, "Terima kasih, kau sudah mengkhawatirkan perasaanku. Aku baik-baik saja. Sungguh, aku tidak apa-apa." jawab Celine. Ia menarik tangan Jihyuk untuk duduk di sofa, "Kau masih ingat, saat kau bertanya sesuatu di rumah sakit?" tanya Celine. yang duduk diikuti Jihyuk.
"Ya, tentu saja. Soal kau yang mengobrol dengan dua perawat itu, kan." jawab Jihyuk.
"Ya, yang itu. Pertanyaan itu. Aku akan jawab sekarang." jawab Celine. Ia menatap Jihyuk, "Apa yang kau pikirkan tentang saat itu benar. Aku sedang menceritakan kisahku. Menceritakan kehidupanku, apa yang kurasakan. Jadi, pernikahanku terjadi bukan atas dasar kami saling suka, sayang bahkan saling mencintai. Tapi, semata-mata untuk kepentingan bisnis. Untungnya Papa dan Mama mantan suamiku adalah orang yang baik. Beliau berdua juga yang mendukungku, membantuku untuk pindah ke sini. Hahhhh ... seperti yang kau dengar. Aku memiliki mantan suami yang mencintai wanita lain, dan membawa wanita itu untuk tinggal bersama kami saat itu. Jika kau tanya, apa aku tidak sakit hati atau terluka? bohong jika aku menjawab tidak. Meski aku tidak mencintainya, tapi aku menangis dan kesal saat pria itu bersama simpanannya. Saat wanita itu marah dan mereka bertengkar, pria itu pasti melampiaskan semuanya padaku. Yang kupikirkan saat itu hanya satu. Aku akan bertahan dan menutup mata untuk semuanya, asalkan aku bisa pergi dari rumah dan aku memiliki kedudukan." Celine menunduk, ia menyeka air matanya yang mulai berjatuhan.
"Maaf menyela. Jika aku boleh tahu. Apa alasanmu ingin sekali pergi dari rumah? pasti ada sesuatu hal yang membuatmu tidak nyaman, kan." Jihyuk bertanya karena ingin tahu.
"Karena aku tidak tahan lagi hidup dengan tekanan yang diberikan Mama tiri dan Kakak tiriku. Entah mengapa, Mama tiriku tak pernah sekalipun menyukaiku. Semua yang kulakukan, di matanya tetaplah salah, meski itu benar. Jika Papa marah dan memarahi Mama. Maka Mama akan berbalik memarahiku, mengataiku juga. Jika baik, dia hanya akan mengomel dan memporak porandakan isi kamarku. Jika gilanya kambuh, dia akan menamparku, menarik rambutku dan membenturkan kepalaku ke lemari atau dinding." Celine menceritakan keadaan keluarganya
"Kau diperlakukan seperti itu, dan kau hanya diam saja?" kata Jihyuk kesal.
Jihyuk menyeka air mata Celine, "Kau adalah wanita yang hebat, Celine. Aku bangga padamu." kata Jihyuk.
"Bagaimana denganmu? tidak ada sesuatu yang mau kau ceritakan padaku?" tanya Celine.
"Kau mau dengar?" tanya balik Jihyuk.
"Ya, tentu saja. Pria hebat sepertimu tidak mungkin tidak memiliki kisah, kan." sahut Celine.
"Kisah, ya. Aku tidak tahu, ini kisah manis atau tragis. Yang jelas, sama sepertimu. Aku sebenarnya juga ragu untuk menikah lagi. Aku takut, kau akan pergi menghilang sepertinya." Jihyuk pun mulai bercerita.
"Tidak ada alasan aku pergi. Selama kau tidak membuatku kecewa atau marah." sahut Celine, menanggapi cerita Jihyuk.
"Aku juga pernah menikah. Mendiang istriku, dia wanita yang dijodohkan kedua orang tuaku. Saat itu aku berpikir, pilihan Papa dan Mamaku adalah yang terbaik. Sebagai anak sulung yang kelak menjadi pewaris keluarga, aku wajib mengikuti apa yang diinginkan Papa dan Mamaku. Termasuk masalah pernikahan. Aku menerima begitu saja tanpa penolakan. Saat bertemu juga, dia memberikan kesan baik. Seminggu sebelum hari H pernikahan. Dia mengungkapkan perasaanya, dia mengatakan menyukaiku mungkin lebih, dia mulai mencintaiku. Dia bertanya, apa aku mencintainya? aku menjawab jujur, jika aku tidak mencintainya. Namun, aku tertarik. Karena dia orang yang baik dan ramah. Singkatnya kami menikah dan menjalani kehidupan layaknya pasangan pada umumnya. Aku memberikan apa yang dia inginkan. Apa yang dia mau semua kuturuti. Aku ingin berusaha menjadi suami yang baik dan sempurna di matanya. Aku sempat berpikir, apa yang kulakukan sudah tepat? Aku memang begitu memanjakannya." Jihyuk menatap jauh ke depan, sambil menerawang masa-masa dalam ceritanya.
__ADS_1
"Apa pada akhirnya kau mencintainya? kau jatuh cinta padanya?" tanya Celine ingin tahu.
Jihyuk menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku tidak pernah mencintainya. Meski sudah satu tahun menikah pun, entah mengapa aku tak bisa mencintainya. Sampai suatu saat, aku mengerti alasannya. Alasan kepa hatiku menolak menerimanya. Dia yang kuberikan segalanya dan berusaha kubahagiakan, memberiku sebuah luka yang panjang dan dalam. Malam di mana hari ulang tahunku, aku menemukannya ada di dalam kamar temanku sediri. Dia dan temanku, mereka ... " Jihyuk menjeda ceritanya.
"Jangan lanjutkan," bisik Celine memeluk Jihyuk. "Aku tahu perasaanmu. Bukankah kita berada di posisi yang sama? sakit dan marah karena pasangan yang tidak bisa setia menjaga janji pernikahan." lanjut Celine.
"Aku sangat kecewa. Dan aku memang marah besar. Aku sampai pergi dan tidak pulang ke rumah selama beberapa hari. Saat pulang, lagi-lagi aku diberi kejutan. Malam itu, kami kembali bicara. Kami berdebat. Aku juga tanpa sadar meluapkan semua yang kupikirkan. Perasaan kecewaku. Dan aku membuat keputusan yang tidak terduga. Aku mengajaknya bercerai. Saat aku pergi meninggalkannya di kamar, dia memanggilku. Dia meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Penjelasan itu membuatku semakin sakit hati. Dan hal mengejutkan terjadi. Dia yang sudah ada di balkon, langsung melompat. Dia mengakhiri hidupnya karena rasa bersalah. Sebelum dia melompat, dia mengatakan sesuatu. Dia tidak mau bercerai. Daripada bercerai dan hidup sendiri, dia lebih memilih mengakhiri semuanya. Aku bahkan pernah memimpikan kejadian buruk itu. Saat aku masih menjagamu di rumah sakit, saat itulah mimpi buruk itu terjadi. Penyesalanku, bukan karena aku memutuskan perceraian. Tapi, karena aku tidak bisa mencegahnya bertindak bodoh." Begitulah, Jihyuk menceritakan kisah masa lalunya pada Celine.
Celine menangkup wajah Jihyuk dengan dua tangannya, "Kau juga pria yang hebat, Jihyuk. Jangan menyalahkan dirimu sendiri lagi, ok." kata Celine memberikan semangat.
Jihyuk juga menangkup wajah Celine, "Kau ini. Kau yang menangis sampa hidungmu merah, bisa-bisanya masih memberiku semangat. Aku baik-baik saja. Terima kasih, sudah menghiburku." jawab Jihyuk.
Celine mendekat, dia mencium lembut bibir Jihyuk sekilas. Celine lantas tersenyum cantik.
"Apa itu hadiah?" tanya Jihyuk.
Celine menggelengkan kepalanya, "Bukan, itu jawaban. Kau memintaku jadi istrimu, kan? Kalau begitu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Meski ku tidak memiliki sebuah cincin untukmu. Tapi, apa kau mau menjadi seseorang yang mau menjadi pelindungku sampai akhir hidupku? Seseorang yang selalu ada di setiap suka duka ku. Seseorang yang mau mendengarkan keluh kesah ku." Celine menatap lekat ke arah Jihyuk.
"Tentu saja mau. Itu juga yang kuinginkan. Aku bersedia, meski harus mempertaruhkan segalanya untukmu. Aku mau dan aku akan berusaha melakukan yang terbaik yang kubisa lakukan." jawab Jihyuk.
Jihyuk mengulurkan tangan, dan disambut oleh Celine. Jihyuk pun memasang cincin yang ia berikan sebagai hadiah lamaran ke jari manis tangan kanan Celine. Ia juga langsung mencium punggung tangan Celine.
Celine tersenyum, begitu juga Jihyuk. Wajah Jihyuk perlahan mendekati Celine. Bibir keduanya saling menempel. Jihyuk dan Celine berciuman mesra. Tak lama ciuman terlepas. Jihyuk lalu mencium kening Celine.
Kecupan itu berpindah, Jihyuk mencium kedua kelopak mata Celine, hidung Celine, dagu Celine
dan terakhir mencium lagi bibir Celine berulang-ulang.
*****
__ADS_1