
Joe ada di kedai kopi yang letaknya tepat berada di samping supermarket. Ia sudah memesan segelas kopi dan duduk menunggu Celine dan Siane. Karena penasaran, Joe menghubungi Asistennya untuk memastikan kebenaran kabar tentang perceraian Hezkiel dan Celine.
(Percakapan di telepon)
" ... jadi, kau tidak tahu juga?" tanya Joe pada sang Asisten.
"Maafkan saya, Tuan. Saya sungguh tidak tahu. Setelah saya cek dan tanyakan pada rekan saya di sana, dia juga tidak jelas paham soal ini. Sepertinya ada pihak yang memang ingin menjadikan kejadian itu sebagai rahasia. Sehingga publik tidak bisa mendapatkan informasi apa-apa." jawab si Asisten.
"Ah, begitu rupanya. Pantas saja, aku juga tidak menemukan apa-apa di internet." sahut Joe.
"Apakah Tuan tidak ingin mencoba menghubungi Nona? mungkin saja Nona tahu." usul si Asisten.
"Hm, entahlah. Nanti akan kucoba tanyakan padanya. Mungkin dia juga tidak tahu apa-apa. Dia kan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kau tolong coba cari tahu soal ini lebih lagi." pinta Joe.
Rupanya Joe sangat ingin tahu detail, apa yang sebenarnya terjadi antara Hezkiel dan Celine. Sampai akhirnya keduanya bercerai.
"Baik, Tuan. Saya akan mencarinya sesuai perintah Anda." jawab si Asisten.
"Ok. Terima kasih, Nick." ucap Joe.
"Ya, Tuan." jawab Asisten itu lagi.
Joe lalu, mengakhiri panggilannya. Ia kembali membuka internet dan mencari kabar berita perihal perceraian Hezkiel dan Celine.
"Seharusnya ada. Keluarga Winter adalah salah satu orang terpandang, bukan suatu hal yang tidak mungkin kehidupan pribadi akan menjadi konsumsi publik. Saat pernikahan saja beritanya heboh. Saat perceraian bersih seperti ini. Mencurigakan sekali," batin Joe penasaran.
Joe lantas berpikir, ia menerka-nerka alasan perceraian dua orang yang dikenalnya itu. Salah satunya adalah, karena terungkapnya hubungan sahabat baiknya, Hezkiel yang sudah menikahi Monna.
"Apa mungkin karena Hezkiel dan Monna? apa pernikahan rahasia mereka akhirnya diketahui Celine" terka Joe.
Pikiran Joe bekerja keras ingin menemukan jawaban yang sesungguhnya.
"Tidak mungkin karena hal lain, kan. Pasti ada sangkutannya dengan Monna. Ya, aku yakin itu. Ahhhh ... s*al! kenapa juga ku sampai seperti ini. Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Joe. Kau kan bukan siapa-siapa sampai harus ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi." batin Joe.
Memikirkan pikirannya yang terlalu jauh ikut campur masalah Hezkiel dan Celine, membuat Joe sakit kepala. Sebenarnya tidak ada niatannya untuk ikut campur. Akan tetapi jika memang benar dugaan Joe adalah alasan Celine dan sahabatnya bercerai, ia juga merasa bersalah. Karena ia juga tahu kebenaran hubungan Hezkiel dan Celine.
Sibuk berpikir, Joe tidak sadar waktu. Sampai Celine dan Siane datang. Celine dan Siane duduk berdampingan di hadapan Joe.
"Hallo, Joe. Maaf lama menunggu." kata Celine merasa tidak enak hati.
"Oh, kau sudah datang. Tidak apa-apa, Celine. Aku yang seharusnya minta maaf karena mengganggu acara berbelanja kalian berdua." ucap Joe, yang juga merasa tidak enak hati.
"Tidak apa. Santai saja." jawab Siane.
"Oh, biar aku kenalkan kalian secara resmi. Joe, ini Siane. Dia adalah sahabat kecilku. Ya, bisa dibilang dia adalah seseorang yang lebih dari sekedar teman biasa. Namanya, Siane. Siane, dia adalah, Joe. Aku sudah jelaskan kan tadi padamu. Siapa dia," Celine memperkenalkan Siane dan Joe.
Siane dan Joe saling bertegur sapa.
"Hallo, senang bertemu denganmu, Nona." sapa Joe ramah.
"Hai, aku Siane. Aku juga senang bertemu denganmu." balas Siane.
"Jadi, aku akan jelaskan intinya saja padamu, Joe. Karena panjang jika harus dijabarkan. Lain waktu aku akan ceritakan detailnya, ok." kata Celine.
Joe menatap Celine, "Oh, aku tak memaksa kau harus cerita, Celine. Jujur, aku cukup kaget tadi. Makanya aku langsung bertanya alasan kau bercerai dengan Hezkiel. Jika kau tidak nyaman bercerita, maka lupakan saja. Aku tidak mau perasaanmu terluka, karena harus mengatakannya padaku." kata Joe.
__ADS_1
Meski penasaran, Joe tidak ingin membuat Celine merasa tidak nyaman. Bagaimanapun, ia juga harus tetap menjaga perasaan Celine.
"Terima kasih untuk pengertianmu, Joe. Aku tida sangka, kau orang yang peka seperti ini. Ya, meski aku lelah dengan keadaan ini. Tapi, sebagai temannya, kau juga berhak tahu apa yang menimpa kami." jelas Celine.
"Cerita saja, jika ingin bercerita. Cerita senyamanmu," sahut Joe.
Celine pun menceritakan apa yang terjadi. Dimulai dari Monna yang mengungkapkan kebenaran. Jika hubungan Monna dan Hezkiel bukan hanya sekedar kekasih. Melainkan suami istri. Meski keduanya hanya melakukan pernikahan secara tersembunyi. Lalu, kejadian ia yang keguguran karena terjatuh dari tangga. Celine menunjukkan bekas lebam yang masih terlihat di tangannya.
Joe kaget. Perasaanya jadi, campur aduk. Sedih, kecewa dan kasihan. Kecewa, karena ia tahu kebenarannya, tetapi memilih bungkam. Sedih, karena ia harus melihat Celine yang bercerita sambil menangis. Kasihan karena ia mendengar Celine yang keguguran.
Joe menunduk, ia mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuannya. Melihat reaksi Joe, Celine pun bertanya apa yang terjadi pada Joe. Dan Joe pun langsung mengakui. ia mengungkapkan semuanya. Meski ia tahu, kemungkinan besar Celine akan membencinya. Baginya itu lebih baik, daripada ia harus menutupi kebenaran yang ada.
"Joe, kau ok?" tanya Celine cemas, melihat sikap Joe yang berubah.
Joe terdiam cukup lama sampai akhirnya ia menjawab pertanyaan Celine. Perlahan, Joe mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Celine.
"Celine ... " panggil Joe.
Celine menatap Joe, "Ya?" jawab Celine cepat.
"Aku mau mengakui sesuatu. Aku tidak tahu, bagaiman reaksimu setelah mendengar apa yang kukatakan. Tapi, aku tidak mau lagi menutupinya. Sebenarnya, aku tahu apa yang terjadi. Maksudku, soal Hezkiel dan Monna. Aku tahu mereka bukan hanya sekedar pasangan kekasih, melainkan sudah menikah. Pada saat itu, Hezkiel mabuk dan mengungkapkan semuanya. Awalnya ku juga terkejut, aku sungguh tidak sangka dia akan seperti itu. Waktu di mana aku tahu semuanya, pikiranku langsung tertuju padamu. Aku berpikir, apa yang akan terjadi, jika kau tahu semuanya. Aku ingin mendekatimu dan bicara mengenai Hezkiel. Tapi, aku takut. Aku tidak mau kau dan aku terkena masalah. Aku juga merasa kau pasti tidak akan percaya ucapanku. Asal kau tahu, aku sampai menyelidiki tentang Hezkiel dan Monna. Aku ingin tahu, kenapa mereka sampai bisa kembali bersama. Dulu, saat mereka memang berkencan, Papa dan Mama Hezkiel tidak merestui. Sampai Monna diasingkan ke luar negeri oleh Paman Hans. Semenjak itu juga hidup Hezkiel kacau dan memilih hidup terpisah dari orang tuanya. Ya, aku tidak sangka mereka kembali bersama. Meski aku tidak mengenal Monna, tetapi dulu Hezkiel sering menceritakannya padaku. Sebelum itu, aku mengira dia adalah wanita yang baik dan tepat untuk hezkiel, sampai akhirnya aku tahu alasan Paman dan Bibi tidak merestui mereka. Begitulah ... aku tidak tahu lagi, apa yang harus kukatakan padamu. Aku hanya bisa minta maaf." panjang lebar Joe bicara. Apa yang dirasa dan diketahui olehnya.
Celine menarik napasnya dalam lalu, mengembuskan napasnya perlahan. Celine terlihat sedikit kaget mendengar cerita Joe, tetapi ia mencoba untuk mencerna semua cerita lawan bicaranya.
"Jujur aku kaget, Joe.Tapi, aku salut kau mau mengakui dan meminta maaf. Meski kaget, anehnya aku tidak merasa marah mendengar ucapanmu. Jika dipikirkan, wajar saja kau bertindak seperti yang kau katakan. Pertama, kita baru saling kenal dan belum tahu sifat masing-masing. Kau benar, bisa saja ada rumor aneh, jika ada yang melihat kedekatan kita. Kau juga benar, aku pasti lebih percaya ucapan suamiku dibandingkan ucapan pria asing yang baru saja kukenal. Ya, pernyataanmu tidak bisa ku salahkan." jawab Celine, menanggapi cerita Joe.
Joe melebarkan mata, Jadi, kau tak membenciku?" tanya Joe.
"Apa? membencimu? hahahaha ... " Celine pun tertawa mendengar ucapan Joe. Melihat Celine yang tertawa, membuat Joe kebingungan. Begitu juga Siane yang juga bingung.
"Astaga, apa yang pria ini pikirkan. Bisa-bisanya
dia berpikir aku membencinya. Untuk apa juga aku membencinya, aneh sekali." batin Celine.
"Apa dia baik-baik saja? aku khawatir," batin Siane.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku? kenapa dia tertawa begitu?" batin Joe.
"Joe, joe. Apa kau tahu? kau itu aneh. Apa yang kau pikirkan, sehingga kau berkata aku akan membencimu? apa karena kau tahu dan kau diam, karena posisimu yang ambigu?" tanya Celine. Yang langsung dijawab anggukan oleh Joe.
"Ya, kira-kira begitu." jawab Joe. Ia mengusap tengkuk lehernya sendiri, "Karena kukira kau akan emosi begitu mendengar ceritaku. Lalu, kau akan membenciku." gumam Joe.
Celine tersenyum, "Ya, anggap saja begitu. Jika itu respon yang kutunjukkan, apa yang akan kau lakukan?" tanya Celine menatap Joe.
Joe mengernyitkan dahi, "Ya, apa lagi. Tentu saja aku akan mohon maaf sampai kau memaafkan aku." jawab Joe.
"Tidak perlu, Joe. Jangan meminta maaf. Aku paham situasinya. Oh, ya. Bicara soal mereka, kau mengatakan jika Papa dan mama membenci Monna karena suatu alasan, kan. Bisa kau beritahu aku? apa alasan mereka setidak suka itu padanya?" taya Celine ingin tahu.
"Ohh, kau belum tahu?" tanya Joe.
"Tahu apa?" tanya balik Celine.
"Jika Monna adalah wanita panggilan." jawab Joe.
Jawaban Joe membuat Celine terkejut, "Apa? kau serius? jangan bergurau, Joe. Bukankah dia model?" Celine seakan tidak percaya.
__ADS_1
"Dia memang model. Tapi, di luar pekerjaannya dia menerima ajakan pria yang ingin tidur dengannya dengan imbalan. Saat acara bisnis, tidak sengaja salah satu teman Paman hans menyewa Monna sebagai wanita yang akan diajak berpesta bersama. Dan, beberapa hai berikutnya, Hezkiel mengenalkan Monna pada Paman Hans. Begitu tahu putranya mengencani wanita liar, yang bahkan dibawa teman bisnisnya masuk ke kamar Hotel, membuat Paman Hans murka. Meski tahu kebenarannya, Hezkiel seakan tutup mata. Entahlah, aku juga tidak paham benar, apakah Hezkiel tahu Monna begitu atau memang Monna pandai bicara dan mempengaruhi Hezkiel untuk percaya padanya." jelas Joe.
"Ini gila! wanita itu benar-benar j*l*ng," batin Siane kaget.
"Tidak bisa kupercaya. Monna punya sisi gelap seperti itu. JIka yang kudengar ini benar, dia sudah membohongi Hezkiel mentah-mentah. Tidak mungkin kan Hezkiel akan diam saja saat tahu wanita yang dicintainya tidur bersama pria lain selain dirinya." batin Celine berpikir.
"Aku sungguh tidak menyangka ini, Joe. Aku kaget," sahut Celine.
"Aku juga. Itulah kenapa aku shock. Pada saat Hezkiel kelepasan bicara saat mabuk. Sampai dia mengenalkan Monna padaku secara resmi. Dan, kau juga perlu tahu ini. Gara-gara Monna, hubungan Joana dan kekasihnya sempat memanas." kata Joe bercerita.
"Oh, ya? kenapa?" tanya Celine.
"Karena kekasihnya pernah tidur dengan Monna," jawab Joe.
"Gila!" sahut siane mengernyitkan dahi, "Dia sungguh pantas menjadi j*l*ng." umpat Siane emosi.
Mendengar siane yang mengumpat karena emosi, membuat Celine dan Joe kaget. Keduanya lalu, menatap ke arah Siane secara bersamaan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Celine.
Siane kaget, Ah, oh. Ok, aku ok. Maaf, aku kelepasan mengumpat. Itu karena telingaku gatal mendengar percakapan kalian." ucap Siane.
Joe tertawa kecil, begitu juga Celine. Ekspresi wajah Siane sungguh lucu saat itu.
"S*al*n! aku jadi kelepasan gara-gara emosi," batin siane merasa malu.
"Tidak apa, Siane. Kau saja sebagai sesama wanita merasa kesal. Apa lagi pandanganku sebagai pria. Ya, kan." Joe tidak menyalahkan Siane yang kelepasan bicara. "Dia bahkan sempat menggodaku saat kita bertemu saat itu. Padahal, niatanku hanya ingin memancingnya saja." lanjut Joe bicara.
Celine mengerutkan dahinya, sampai ia tidak bisa bicara apa-apa lagi. Celine benar-benar tidak percaya apa yang didengarnya, sampai ia merasa semuanya seperti mimpi baginya. Baru saja ia tiba di negara asing, ia bertemu Joe secara tidak sengaja dan mendengar soal Monna yang tidak pernah terbayangkan olehnya.
Ketiganya berbincang banyak hal lain selain membicarakan tentang Monna dan Hezkiel. Setelah menceritakan perihal Monna. kini giliran Joe dan Siane yang berbincang perihal pekerjaan masing-masing.
Celine dan Siane lalu, memesan minuman dingin. Mereka ingin menyegarkan pikiran mereka yang penuh dengan keterkejutan.
Satu jam kemudian ....
Karena sudah cukup lama berbincang. Joe berpamitan, karena Ia harus bersiap-siap untuk menghadiri acara makan malam rekan bisnisnya. Siane dan Celine juga berpamitan.
"Aku pulang dulu, ya. Maaf, tidak bisa lebih lama bersama kalian berdua." kata Joe berpamitan. Ia bangkit berdiri dari posisi duduknya lalu, memanggil pelayan. Ia meninggalkan uang di meja untuk membayar kopinya dan minuman Siane juga Celine.
"Ok, tak masalah, Joe. Kau pasti sibuk sebagi seorang pebisnis yang sukses. Terimakasih untuk minumannya," ucap Celine tersenyum.
"Tidak juga. Aku bukan apa-apa tanpa para pekerja di kantor. Aku yang berterima kasih, kalian mau berbincang denganku," jawab Joe.
"Apa kau akan ada acara setelah ini?" tanya Siane ingin tahu.
"Ya, jika sesuai jadwal. Aku harus menghadiri acara makan malam. Tapi, entah kenapa Asistenku tidak menghubungiku." jawab Joe.
"Ah, begitu. Kalau begitu, hati-hati di jalan, ya. Aku dan Celine juga akan langsung pulang. Karena Celine baru saja datang hari ini, dia pasti sudah sangat lelah." kata Siane yanga mulai khawatir dengan kondisi Celine, sahabatnya.
"Oh, silakan. Selamat jalan dan sampai jumpa lain waktu. Jaga kesehatan kalian, karena sebentar lagi akan masuk musim dingin. Aku pergi dulu." Joe tersenyum tampan lantas pergi meninggalkan Celine dan Siane.
Tidak menunggu lama, Siane dan Celine juga pergi. Mereka langsung meninggalkan meja mereka.
*****
__ADS_1