
Marc didampingi temannya, sedang mengintai kediaman keluarga Kang. Seperti apa yang ia rencanakan, Marc menjadikan Kang Jisoo sebagai sasaran utamanya.
"Kau yakin dengan ini, Marc?" tanya teman Marc yang dudu di bangku kemudi.
"Kenapa tidak. Aku tak akan mengurungkan niatanku lagi." jawab Marc.
"Ya, aku tak akan menghalangi rencanamu. Aku hanya khawatir, kali ini kau akan mengalami hal buruk. Keluarga Kang bukanlah keluarga sembarangan. Kau tentu tahu itu, kan." kata teman Marc.
"Apapun itu aku akan tanggung resikonya. Aku harus membalas perlakukan pria busuk itu, yang sudah menghancurkan segala rencanaku." sahut Marc.
Marc melihat sebuah mobil datang dan masuk ke halaman rumah kediaman Kang. Tidak lama, Kang Jisoo keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobil yang tadi datang. Mobil itupun melaju perlahan meninggalkan halaman rumah. Mobil itu melewati mobil yang ditumpangi Marc dan temannya.
"Cepat ikuti," kata Marc menatap temannya.
"Ya,"' jawab temannya itu.
Mobil yang ditumpangi Marc dan temannya itupun melaju perlahan mengikuti mobil yang di tumpangi Kang Jisoo.
***
Celine sedang melayani seorang pelanggan yang sedang membeli buket bunga. Pelanggan itu ingin Celine mengemas bunga mawar merah segar. Karena kekasih dari seseorang itu sedang berulang tahun dan sangat menyukai mawar merah.
"Nona, tolong buat secantik mungkin. Ok." kata seseorang itu.
"Tentu saja. Buket bunga mawar merah yang cantik untuk seseorang yang cantik juga." jawab Celine. "Oh, ya. Apakah rumah kekasih Anda di sekitar sini? maaf lancang bertanya, karena Anda sering beli bunga di sini. Jadi, saya hanya ingin tahu." jelas Celine.
"Ya, Nona benar. Apartemen kekasihku tak jauh dari sini. Karena bunga yang ku beli di sini lebih disukai kekasihku, maka dari itu aku terus datang ke sini. Semoga saja Nona tidak bosan dengan kedatanganku, ya." kata seseorang itu.
Celine tersenyum, "Mana mungkin, Tuan. Saya senang, jika kekasih Anda menyukai bunga dari toko saya. Ini, bunga pesanan Anda sudah siap." kata Celine, memberikan satu buah buket bunga mawar merah yang cantik.
Seseorang itu menerima buket bunga pemberian Celine, "Ya, terima kasih. Ini uangnya, kembaliannya simpan saja sebagai bonus, Karena Nona sudah bersusah payah. Permisi," kata seseorang itu. Memberikan uang dan pergi dari toko bunga.
"Terima kasih, Tuan. Saya nantikan kedatangan Anda selanjutnya." kata Celine.
Celine menyimpan uang ke dalam laci dan ia bergegas melihat bunga-bunganya yang lain di dalam pot yang ia tanam.
Satu jam kemudian ....
Celine sedang duduk melihat-lihat majalah. Ia terlihat santai, karena tidak ada pelanggan dan pesanan yang datang. Asik membaca, tiba-tiba pintu toko terbuka dan ada seseorang yang memanggil.
"Celine ... " sapa seseorang itu.
Celine menatap ke arah suara, "Oh, Jisoo. Kau sudah datang." sapa balik Celine.
"Ya, aku menyelesaikan pemotretan ku lebih awal, jadi aku langsung datang setelahnya. Kau sedang apa?" tanya Jisoo duduk di samping Celine.
"Oh, begitu. Aku sedang lihat-lihat majalah." jawab Celine tersenyum menatap Jisoo. " Kau mau minum sesuatu? akan ku buatkan." tawar Celine.
"Tidak perlu. Aku sudah banyak minum tadi." tolak Jisoo.
__ADS_1
Celine mengangguk-angguk tanda mengerti, "Apa kita berangkat sekarang saja? kebetulan hari ini aku sangat senggang." usul Celine.
"Boleh saja. JIka kau tidak keberatan." jawab Jisoo.
"Keberatan apa? ini bukan hal yang membebaniku. Santai saja." jawab Celine. Ia lalu, berdiri dari posisi duduknya, "Aku ambil tasku dulu lalu, kita pergi." lanjut Celine berbicara.
"Ok, ok."jawab Jisoo
Tak beberapa lama Celine kembali dengan membawa tasnya. Ia dan Jisoo pun pergi meninggalkan toko bunga. Mereka naik mobil yang dikendarai Manager Jisoo.
Di tengah perjalanan. Jisoo dan Celine sedang berbincang. Meski senyumnya mengembang, rasanya ada sesuatu hal yang Celine pikirkan. Dan itu membuat Jisoo bertanya-tanya.
"Celine? apa kau sungguh tidak apa-apa?" tanya Jisoo.
"Ya, tak apa-apa. Memangnya kenapa?" tanya balik Celine tersenyum kaku.
"Bohong, jika aku bilang tak apa-apa. Entah kenapa rasanya seperti ada yang aneh. Perasaanku juga tidak enak." batin Celine.
Mereka pun lanjut berbincang. Sepertinya Celine sudah merasakan niatan jahat dari Marc yang sudah mengikuti Jisoo sejak pagi. Sementara itu, tak jauh dari mobil yang membawa Celine dan Jisoo, mobil yang membawa Marc dan temannya masih terus mengikuti.
***
Jihyuk menghubungi Jisoo, setelah sebelumnya menerima banyak panggilan dan pesan dari Adik perempuannya itu.
(Percakapan di telepon)*
"Ada apa? maaf, tadi aku sibuk. Kau butuh sesuatu?" tanya Jihyuk.
"Tidak, tidak. Hanya saja aku sedang ada di daerah dekat kantor Oppa. Apa Oppa sangat sibuk? bisa makan siang denganku?" Jisoo ternyata ingin mengajak Jihyuk makan siang bersama.
Jihyuk terdiam sesaat, "Hm ... boleh saja. Ini juga sudah waktunya makan siang, kan. Kirim saja alamat restorannya, aku akan menyusul setelah menandatangani beberapa berkas. Ok." kata Jihyuk.
"Oh, ok. Tak masalah. Aku akan langsung kirim lokasinya setelah aku sampai. Aku juga masih sedang di perjalanan." jawab Jisoo.
"Ya, hati-hati di jalan." jawab Jihyuk.
Jihyuk mengakhiri panggilannya. Ia meletakan ponselnya di atas meja dan segera menyelesaikan pekerjaannya.
***
Jisoo dan Celine sampai di sebuah parkiran tak jauh dari restoran. Jisoo langsung mengirim lokasi keberadaannya pada Jihyuk.
"Kau menghubungi seseorang?" tanya Celine ingin tahu.
"Ya, aku menelepon Kakakku. Kantor cabang kami ada di dekat sini dan kebetulan Kakakku yang mengelolanya, Jadi, sekalian saja ku ajak makan. Apa tidak apa-apa? kau tidak keberatan, kan kita menambah satu orang lagi di meja kita nanti.
Celine menganggukkan kepala, "Ya, tak apa-apa. Silakan saja." jawab Celine.
"Oh, ya. Apa kau punya saudara? berapa usia saudaramu?" tanya Jisoo tiba-tiba.
__ADS_1
"Aku, aku memiliki satu orang saudara tiri. Dia anak dari Mama tiriku. Usianya ... hm, sekitar tiga puluh tahun." jawab Celine.
"Wah, seusia Kakakku." sahut Jisoo.
"Benarkah? Lalu, kau? berapa usiamu, Jisoo?" tanya Celine.
"Aku dua puluh lima tahun. Kau?" tanya balik Jisoo.
"Kita seumuran. Aku juga dua puluh lima." jawab Celine.
"Wah, tidak disangka kita seumuran. Wajahmu tidak terlihat seperti usia dua puluh lima tahun. Ku kira kau seumuran Adikku. Hahaha ... Ah, sudahlah. Ayo, kita turun dan langsung masuk saja. KIta lanjutkan bicara di dalam sambil minum *chocho*latte." ajak Jisoo.
"Ya, jawab Celine tersenyum.
Mereka pun turun dari dalam mobil secara bergantian. Tak lama, keduanya berjalan perlahan menuju restoran. Tapi, langkah ki Jisoo terhenti. Karena Jisoo melupakan sesuatu. Ia lupa jika ponselnya tertinggal dan belum ia masukan ke dalam tas.
"Ada sesuatu?" tanya Celine.
"Kau bisa masuk duluan, Celine. Aku lupa, jika ponselku belum aku masukan dalam tasku. Aku akan ambil ponselku dulu." kata Jisoo.
"Aku tunggu saja di sini. Ambilah," jawab Celine.
"Ok. Tunggu, ya ... " jawab Jisoo yang langsung berbalik dan berjalan kembali menghampiri mobilnya yang terparkir.
Tidak jauh, Marc juga turun dari dalam mobil. Di tangannya, ia membawa sebuah pisau lipat yang sudah ia siapkan sejak dari rumah. Marc berjalan dengan langkah kaki yang tidak imbang karena sebelah kakinya yang cidera, Ia harus susah payah berjalan untuk bisa segera mendekati Jisoo.
Celine melihat Jisoo, tidak sengaja ia melihat arah lain dan melihat Marc yang berjalan terpincang-pincang menuju ke arah Jisoo. Di tangan Marc sudah mencengkram kuat pisau lipat. Celine kaget dan langsung berteriak, untuk memperingatkan Jisoo.
"Apa yang pria itu lakukan?" batin Celine bertanya-tanya. "Jisoo, awas ... " teriak Celine yang langsung berlari mendekati Jisoo.
Jisoo menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya. Sementara itu, marc yang tak bisa mundur lagi akhirnya berjalan cepat meski teramat kesulitan. Marc kesal, karena Celine harus mengacaukan aksinya.
"Di belakangmu ... " Teriak Celine sambil berlari. "Tidak, Jisoo ... " batin Celine
Jisoo terlambat menyadari, rupanya Marc sudah dekat dan bersiap menghunuskan pisau lipatnya.
"Matilah kau!" kata Marc penuh amarah sambil menghunus pisaunya ke arah Jisoo. Jisoo yang kaget hanya bisa diam mematung, Jisoo tak bisa berkata-kata.
Jlebbb ....
Marc dan Jisoo, sama-sama melebarkan mata. Rupanya, pisau Marc salah sasaran. Pisau itu justru melukai Celine yang tanpa sadar langsung menghadang di depan Jisoo.
"Ahhh ... " rintih Celine kesakitan memegangi perutnya yang tertusuk dan mengeluarkan banyak darah.
"Ce, celine ... tidak, Celine. Celine ... " panik Jisoo.
Mengetahui jika ia melakukan kesalahan, Marc segera melarikan diri. Temannya ternyata sudah bersiap dengan mobilnya. Marc langsung masuk dalam mobil, dan mobil itupun pergi meninggalkan lokasi.
*****
__ADS_1