
Pagi hari, setelah sarapan. Christian mengajak Dion bermain golf bersama. Dengan alasan kesehata, mereka berdua memutuskan pergi tanpa keikutsertaan Lidya.
Dion tahu, bermain golf hanyalah alasan. Tapi, Dion tidak mau repot berpikir hal apa yang mau Christian bicarakan dengannya. Setibanya di lapangan, Christian dan Dion tidak lantas bermain. Mereka memilih duduk dan mengobrol.
"Kau anak yang cerdas dan pintar. Kau pasti tahu kan tujuanku membawamu ke sini untuk apa?" tanya Christian.
"Ya, kurang lebih tahu. Tapi, itu tidak jelas juga." jawab Dion.
"Katakan, apa yang kau pikirkan," Christian memerintahkan Dion mengutarakan pemikirannya. Agar tahu apa yang Dion pikirkan.
"Sesuatu yang berkaitan dengan Bibi merry," jawab Dion.
"Ya, kau benar. Sudah kuduga, kau orang yang cerdas, Dion. Kau juga peka." kata Christian memuji.
"Lalu, apa yang akan Papa lakukan? Papa akan bantu Bibi itu?" tanya Dion ingin tahu.
Christian menganggukkan kepala, "Ya, aku berniat seperti itu. Bagaimanapun, Merry dan aku memiliki keterikatan, meski hubungan kami sudah berlalu. Tapi, kami memiliki anak dari hubungan kami itu. Apa kau keberatan membantu, Dion?" Christian menanyakan ketersediaan Dion untuk membantunya.
Dion terdiam sesaat, "Sebelum ku jawab, boleh aku bertanya sesuatu hal, Pa?" tanya Dion, menatap Christtian yang duduk di hadapannya.
"Ya, tanyakan saja." kata Christian.
"Jika Celine dan anak Bibi Merry dalam bahaya. Mana yang lebih dulu Papa selamatkan?" Dion mencoba mengetes Christian dengan memberikan pilihan yang sulit.
Christian kaget, "A, a, apa yang kau tanyakan itu dion. Pertanyaan tidak masuk akal ini?" jawab Cristian marah.
"Kenapa Papa marah? apa Papa tidak bisa menjawab? apa sulit untuk dijawab?" Dion kembali memancing kekesalan Christian.
"Hentikan, Dion!" sentak Christian.
"Apa Papa sadar, jika Papa tidak pernah peduli pada Celine? Meski Papa tahu bagaimana perlakukan Mama pada Celine, Papa tetap diam seakan tidak ada hal yang terjadi. Kenapa, Pa? apa karena Celine bukan terlahir dari wanita yang Papa cintai? Setelah Papa bertemu dengan Bibi Merry, Papa selalu terlihat khawatir dan cemas. Papa bisa mengelabuhi Mama, tetapi tidak dengan mataku." Dion merasa kesal pada Christian, yang seakan pilih kasih pada dua oang yang sama-sama darah dagingnya.
__ADS_1
"S*al*n! kenap dengan anak ini sebenarnya,?" batin Christian emosi.
"Bagaimana bisa ada orang tua seperti ini? orang ini juga tidak lebih baik dari Papa kandungku, yang membuangku dengan Mama demi keluarga yang diidam-idamkan. S*al! aku ingin membalik meja ini sekarang karena kesal." batin Dion.
"Lupakan apa yang kau pikirkan itu. Itu bukan sesuatu hal yang penting. Celine anakku, Anak Merry juga anakku, kau juga. Semua anakku. Kalian sama." dusta Christian.
"Pembohong!" batin dion yang tidak percaya perkataan Christian.
"Maaf, Pa. Aku tidak bisa dan tidak akan bantu. Kecuali itu untuk Celine." jawab tegas Dion. Dion langsung pergi meninggalkan Christian.
Tidak disangka, Dion langsung blak-blakan menolak permintaan Christian. Padahal Dion bukan orang yang akan menolak apa yang Christian perintahkan. Christian bingung. Ia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi. Harapannya hanya Dion. Karena Dion hampir menyelesaikan seluruh tugas darinya dengan sempurna.
***
Sementara itu, di tempat lain. Dion bertemu teman dekatnya. Melihat Dion yang murung dan terlihat kesal, membuat temannya itu bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau kenapa?" tanya seseorang itu.
"Tidak apa-apa. Oh, bagaimana dengan permintaanku?" tanya Dion yang langsung ingat, jika ia meminta bantuan temannya itu untuk menyelidiki sesuatu berkaitan dengan Merry dan anaknya.
"Terima kasih," kata Dion menerima amplop.
Dion membuka amplop tersebut, dan mengeluarkan isi amplop. Terdapat banyak lembaran-lembaran kertas di dalam amplop.
"Antonio itu bukan orang biasa. Dia punya bisnis dibidang entertaiment. Dia memanagemeni, model dan juga artis-artis top." kata teman Dion.
"Siapa wanita ini?" gumam Dion melihat sebuah foto seorang wanita.
"Oh, dia Monna. Dia anak seseorang yang kau panggil Bibi Merry itu." jawab teman Dion.
Dahi Dion berkerut, "Hm, begitu rupanya." gumam Dion.
__ADS_1
Dion melihat foto yang lain dan kaget. Saat melihat Monna bersama Hezkiel.
"Apa lagi ini? apa hubungan kedua orang ini?" tanya Dion pada temannya yang sedang makan roti panggang.
Teman Dion menatap foto, "Oh, itu. Entahlah. Seseorang tak sengaja memergoki Monna bersama seseorang. Foto itu diambil di luar kota. Laki-laki itu bernama Hezkiel Winter. Sepertinya Monna itu punya hubungan istimewa dengan Hezkiel. Ah, ada lagi. Coba lihat foto lainnya. Ternyata Monna, tidak hanya dekat dengan Antonio dan Hezkiel saja. Tetapi juga ada beberapa pria lainnya." kata teman Dion menjelaskan.
Satu persatu foto dilihat oleh Dion. Setiap foto menunjukan, jika Monna sedang bersama pria berbeda. Pakaian yang dikenakan Monna juga tampak seksi. Hal itu lantas membuat Dion kesal.
"Dasar wanita j*l*ng!" batin Dion.
Dion masih penasaran, apa hubungan Monna dengan Hezkiel. Sehingga ia meminta temannya untuk mencari tahu lebih detail lagi.
"Tolong aku. Carilah informasi detail tentang hubungan kedua orang ini." pinta Dion. Ia yakin, jika hubungan Monna dan Hezkiel bukan hubungan biasa.
Saat sedang berpikir, Dion tiba-tiba teringat akan sesuatu. Saat Celine dirawat karena jatuh dari tangga dan keguguran, tidak lama Siane datang. Siane lalu menjelaskan sedikit pada Dion, jika Hezkiel punya wanita simpanan. Dan wanita simpanan itu ternyata adalah istri Hezkiel, sebelum Hezkiel menikah dengan Celine. Dion pun menduga-duga. Siapakah wanita tersebut, karena Siane juga tidak memberikan informasi tentang siapa nama wanita tersebut.
"Tidak mungkin!?" gumam Dion mencengkram foto di tangannya.
"Hei, kau tidak mendengarku bicara? ada apa?" tanya teman Dion.
"Tidak, tidak. Sepertinya aku ingat sesuatu. Tapi, ini hanya dugaanku saja. Sepertinya aku tahu hubungan dua orang ini." jawab Dion.
Teman Dion diam tidak menjawab. Ia tidak memahami ucapan Dion, dan kebingungan. Semua ucapan Siane terngiang-ngiang dipikiran Dion. Semakin dipikirkan, Dion semakin yakin.
"Jadi, karena ucapan wanita ini, ya. Celine hari itu sampai hilang fokus dan konsentrasi sampai akhirnya terjatuh dari tangga. Oh, lihat saja. Tak akan kubiarkan kau hidup dengan tenang, Monna." batin Dion tersenyum tipis.
"Kau baik-baik saja? tadi terlihat kesal sampai tandukmu keluar. Sekarang kau tersenyum tipis. Ini membuatku khawatir dan cemas. Apakah kau baik-baik saja atau tidak." kata teman Dion.
Dion menatap temannya, "Terima kasih banyak. Kau sudah susah payah membantuku. Kebaikanmu tak akan kulupakan. Berkatmu, aku juga tahu banyak informasi yang berguna." kata Dion berterima kasih.
"Tidak masalah. Sudah sewajarnya akita saling membantu sebagai teman. Kau kan juga membantuku saat aku terdesak dan dalam kesulitan. Informasi ini bukanlah apa-apa, Dion. Jika ada sesuatu yang kubutuhkan, hubungi saja aku. Jangan sungkan." kata teman Dion itu.
__ADS_1
Keduanya lanjut berbincang. Dion tidak menceritakan apa yang ia cari dengan mengumpulkan informasi tentang orang-orang yang tak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Temannya itu menghargai Dion, sehingga tidak banyak bertanya dan hanya diam. Dion beruntung. Ia mendapatkan informasi yang sangat, sangat, sangat berguna.
*****