
Tiga bulan kemudian ....
Celine*
Tiga bulan berlalu. Aku mulai kembali beraktivitas kembali. Lukaku? ya, tentu saja sudah sembuh, meski terkadang masih terasa nyeri dan sakit sesekali saat malam hari. Tapi aku masih bisa menahannya.
Kurang lebih tiga minggu aku dirawat di rumah sakit. Semua karena Jihyuk dan Jisoo yang ingin agar aku benar-benar pulih sepenuhnya. Satu minggu aku di rumah, karena Siane tidak mengizinkanku bekerja. Aku terpaksa menuruti dan mempekerjakan seseorang untuk merawat tanamanku yang sudah seperti anak-anakku.
Jadi, kurang lebih satu bulan lamanya aku menjadi seorang pengangguran. Pekerjaanku hanya berbaring makan dan duduk-duduk santai. Jujur saja itu semua sangat membosankan. Karena aku di rumah hanya sendirian, berbeda saat aku masih di rumah sakit
Di sana ... hm, di sana ada seseorang yang selalu ada di sisiku. Meski tidak berjaga penuh dua puluh empat jam. Tapi, dia banyak menghabiskan waktunya bersamaku, untuk menemaniku.
Aneh rasanya. Biasanya aku tidak peduli jika aku seorang diri tanpa teman. Tai, karena sudah terbiasa bersama Jihyuk, aku mulai merasa kesepian di minggu keempat masa pemulihanku. Meskipun begitu, aku cukup senang karena Jisoo, Jihyuk dan Soohyuk datang setiap hati dan membelikan aku makanan manis.
Di bulan berikutnya, mereka masih datang berkunjung bergantian. Jihyuk bahkan masih mengantarku ke dokter untuk melakukan pemeriksaan rutin bulanan. Dia masih meluangkan waktu untukku. Kami masih bisa mengobrol dan bercanda. Tapi, sebulan ini berbeda.
Kang Jihyuk ... Pria itu tiba-tiba menjadi sibuk dan jarang bisa menemui ku. Ya, meski setiap saat dia mengirim pesan atau menelepon ku. Rasanya aneh dan aku tidak suka. Aku mau melihatnya langsung, aku juga ingin bicara dan bercanda dengannya seperti saat aku masih di rawat di rumah sakit.
Apa yang terjadi? entahlah. Aku juga tidak tahu, apa yang terjadi dengan diriku sendiri. Yang kutahu aku hanya ingin melihatnya, meski sebentar. Meski dari jarak jauh. Sayang sekali, aku tak memiliki fotonya. Lain waktu sepertinya aku harus minta fotonya dan menyimpannya di ponselku.
Hubunganku dengan Jisoo juga semakin baik. Aku dan Jisoo sering bertemu di akhir pekan atau di saat Jisoo senggang. Dia terkadang menemuiku, terkadang juga kami bertemu di luar, untuk makan atau sekedar minum kopi. Kami membicarakan banyak hal, mulai dari hal biasa sampai hal-hal luar biasa berkaitan kehidupan dan pekerjaan kami masing-masing.
Perlahan-lahan. Aku mulai mengenal baik sosok Jisoo yang banyak dielu-elukan banyak orang itu. Wanita baik, juga ceria, yang memiliki pemikiran terbuka dan matang. Dia yang terkesan dewasa, terkadang juga bersikap kekanakan. Sampai pernah ia merengek mengadu padaku. Dia mengatakan ingin menghajar seseorang yang mengejeknya wanita berlemak. Hahaha ... ekspresinya saat itu sangat lucu. Dan semenjak itu, dia menjalani program diet. Padahal menurutku itu tidak perlu. Dia sudah seperti tengkorak hidup, yang hanya tulang dan kulit. Namun, dia masih saya berpikir bahwa dia gemuk. Jika seukurannya saja gemuk lalu, bagaimana denganku? Ck ....
Aku mendengar suara lonceng pintu, tanda ada seseorang yang datang. Tanpa melihat, aku pun mengucapkan selamat datang.
"Selamat datang .... "
"Terima kasih," jawab seseorang yang suaranya tidak asing.
Pandanganku langsung teralihkan ke arah suara yang baru saja ku dengar. Aku senang, seakan-akan ada angin sejuk menerpaku.
"Jihyuk ... " sapaku.
Ya, seseorang yang datang itu adalah Kang Jihyuk. Pria yang memang kunantikan kedatangannya. Karena senang, aku sampai ingin menangis rasanya.
__ADS_1
"Kau kenapa? matamu berkaca-kaca," tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku cepat, "Tidak apa-apa." jawabku, yang langsung memajukan bibirku.
Dia langsung mengusap wajahku, "Apa kedatanganku tak diharapkan?" tanyanya.
Entah mengapa di hadapannya, aku selalu tidak bisa menahan ekspresi. Jika sedih aku akan terlihat sedih, begitu saat kecewa ataupun sedang kesal. Dan ia langsung bisa membaca ekspresiku.
"Bukan tidak diharapkan. Tapi, sangat dinantikan." jawabku tanpa basa basi.
Jihyuk tersenyum, "Astaga, jujur sekali." kataya.
"Kau datang, jam segini? ini kan masih pagi. Kau bolos kerja? cecarku.
Jihyuk mengusap lembut kepalaku, "Ya, aku sengaja bolos kerja. Karena aku ingin seharian berada di sisimu. Aku merindukanmu, Celine." katanya menatapku.
Aku kaget, ini pertama kalinya dia mengatakan kata rindu. Apa, ini? apa ada sesuatu?
"Apa? kau, kau, kau merindukanku?" ulangku hampir tak percaya.
"Aku juga," kataku.
"Apa?" tanyanya.
"Ya, aku juga." kataku lagi.
"Aku juga, apa?" tanya Jihyuk.
"Ya, aku juga. Sudahlah, jangan terus menggodaku." aku menggerutu.
Tidak mungkin dia tidak paham maksud ucapanku. Pria ini menyebalkan. Selalu saja menggodaku dan membuatku kesal.
"Hahaha ... " tawanya, ia terlihat senang berhasil membuatku kesal. "Kenapa, ya. Aku selalu senang menggodamu. Kau tahu? kau itu lucu dan menggemaskan." kata Jihyuk yang mencubit kedua pipiku bersamaan.
"Ouchh ... sakit." kataku, memegang tangannya. Aku berusaha menyingkirkan tangannya dari wajahku.
__ADS_1
Tangannya berhasil ku lepas, tanpa sadar aku jadi menggenggam kedua tangannya. Tak mau Jihyuk berpikiran buruk tentangku, aku pun melepaskan genggamanku.
"Mau minum sesuatu? apa mau aku pesankan kopi?" tawarku. Aku ingin mengurangi perasaan gugupku.
"Apa saja. Tidak perlu repot." jawabnya.
"Sama sekali tidak merepotkan. Duduklah, akan kubelikan kopi." kataku.
"Tidak perlu, Celine. Aku tidak mau minum kopi. Aku datang sungguh ingin bersamamu saja." katanya tiba-tiba.
"Ya, tadi kau juga berkata seperti itu. Jadi, maksudmu apa? bersama yang seperti apa?" jelasku. Aku tak mengerti bahasanya yang ambigu.
"Besok aku akan pergi. Jadi, kira-kira seminggu ke depan, aku akan sangat sibuk. Hari ini, aku sengaja libur kerja. Karena aku mau mengajakmu pergi. Terserah kau ingin ke mana. Kita bisa makan, jalan-jalan atau mau tetap di sini seharian. Asalkan bersamamu, di manapun tidak masalah." jelasnya.
"Pergi? ke mana? apa untuk urusan pekerjaan?" rasa ingin tahuku menggebu. Aku pun kembali mencecarnya.
"Ke Inggris. Tentu saja untuk pekerjaan. Kau kira untu apa lagi?" jawabnya.
"Jam berapa kau pergi?" tanyaku.
"Pagi," jawabnya.
"Satu minggu, ya? setelah itu kau langsung kembali pulang, kan?" gumamku. Tiba-tiba merasa takut jika dia tidak kembali pulang.
"Ya, tentu saja. Ada sesuatu hal yang ingin kukatakan padamu, saat aku kembali nanti." Jihyuk terlihat serius berbicara.
"Sesuatu?" sambungku berpikir.
Aku menimang-nimang sesuatu itu apa? sepenting apa?
"Se, sesuatu apa? tidak bisakah kau beritahu sekarang saja? aku penasaran." kataku.
"Tunggu aku kembali. Aku berjanji akan mengatakan semuanya. Semua yang ingin kau ketahui dan membuatmu penasaran. Aku ingin memberitahuku sesuatu hal yang tidak terduga. " katanya lagi.
Jihyuk berhasil membuatku penasaran. Aku terus bertanya-tanya. Apa yang dia ingin katakan padaku. Memikirkan saja, sudah membuatku penasaran. Seminggu menunggu, apa aku bisa tahan? aku akan mati penasaran.
__ADS_1
*****