Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
69. Pertemuan Yang Tiba Tiba


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Dalam waktu itu, susah payah Kang Ji-Hyuk mengumpulkan bukti kejahatan Marc dan semua informasi berkaitan kehidupan keseharian Marc. Dari situlah, Kang Ji-Hyuk tahu, apa yang selama ini Marc lakukan pada Melissa.


Nyatanya Marc memang merekayasa kehamilan Melissa. Karena Marc tahu hubungan Melissa dengan Kang Soo-Hyuk yang merupakan keluarga konglomerat. Sampai-sampai memalsukan surat dari rumah sakit. Kang Ji-Hyuk bahkan sudah bertindak jauh mengurus orang--orang yang berkaitan dengan Marc. Semua orang mendapatkan peringatan darinya.


Dengan cukup bukti. Kang Ji-Hyuk pun pergi mendatangi Marc. Ia bermaksud memperingatkan marc agar Marc tidak macam-macam lagi dengan keluarganya, terutama Adiknya laki-laki.


***


Kang Ji-Hyuk berdiri di depan pintu rumah Marc. di tangannya, ia membawa salinan berkas dari berbagai sumber yang memperlihatkan sisi gelap seorang Marc.


Bel pintu rumah Marc ditekan Kang Ji-Hyuk. Namun, tidak terdengar ada jawaban.


"Apa dia pergi? bukankah orang yang kusuruh mengawasi mengatakan dia di rumah?" batin Kang Ji-Hyuk mengernyitkan dahi.


Tidak lama, pintu terbuka. Marc keluar dari dalam rumah dengan wajah kusut dan rambut yang acak-acakan. Melihat tamu yang tdak diundang, Ia langsung meminta Kang Ji-Hyuk untuk pergi.


"Kau? untuk apa kau datang? pergilah!" kata arc kasar.


"Aku akan pergi, setelah kita bicara." jawab Kang Ji-Hyuk tenang.


"Aku tidak mau bicara denganmu. Pergilah, selagi aku masih bicara baik-baik." kata Marc lagi.


"Ayo bicara, selagi aku punya batas kesabaran, Marc." sahut Kang Ji-Hyuk tak mau kalah.


Marc menatap Kang Ji-Hyuk tajam, "Hoo ... kau mengancamku?" kata Marc tertawa masam.


"JIka, ya. Bagaimana?" sahut Kang JI-Hyuk dingin.


"Pria ini, menjengkelkan sekali." batin Marc kesal.


"Tak akan ku biarkan kriminal sepertimu bertidak lebih jauh lagi." batin Kang Ji-Hyuk.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Marc.


"Aku datang hanya ingin memperingatkanmu. Jangan lagi bertindak konyol dengan mengancam keluargaku lagi, terlebih Adikku." Kang Ji-Hyuk mulai memperingatkan Marc.


Marc tertawa, "Oh, kau mau menutupi kesalahan Adikmu rupanya. Wah, wah, wah. Kau sangat hebat, Tuan." kata Marc.


Kang Ji-Hyuk menunjukan sebuah amplop cokelat yang dipegangnya, "Jangan banyak bicara dan bertingkah, Marc. Aku tahu semua tentangmu. Hidupmu, siapa kau, masa lalumu, semuanya aku tahu, hm ... " kata Kang Ji-Hyuk yang langsung pergi setelahnya. Ia meninggalkan amplop itu pada Marc.


Marc hanya bisa diam, dahinya berkerut menatap kepergian Kang Ji-Hyuk. Ia merasa kesal, juga merasa penasaran, akan apa yang Kang JI-Hyuk ketahui darinya. Marc menatap amplop yang dipegangnya dan buru-buru membuka amplop tersebut.


Seketika Marc kaget, ia tidak sangka semua rahasianya diketahui oleh Kang Ji-Hyuk. Kini, semua rencananya telah hancur. Marc menjadi kesal dan marah. Ia langsung merobek-robek kertas berkas yang baru saja dilihatnya.


"Arrgghhhh! s*al*n!" umpatnya.

__ADS_1


***


Celine baru saja membersihkan mejanya. Ia hendak menutup toko bunga miliknya. tapi, tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang masuk dalam tokonya.


"Maaf, kami sudah tu ... " ucapan Celine terjeda. Ia kaget, melihat Dion berada di tokonya. "Di, dion ... " panggil Celine.


"Ya, ini aku. Apa kabarmu, Adikku. Kau ada waktu? bisa kita bicara?" Dion bicara dengan nada lembut penuh harap.


Celine terdiam sesaat, "Ya, hanya lima menit. Tidak lebih." jawab Celine.


"Tak masalah. Lima menit juga sudah cukup menikmati kopi denganmu." jawab Dion.


Celine dan Dion keluar dari toko bunga. Celine mengunci pintu tokonya dan mengajak Dion ke kedai kopi tak jauh. dari tokonya agar lebih leluasa bicara. Mereka berjalan perlahan beriringan.


"UUntuk apa kau datang ke sini? apa kau sedang berlibur bersama Mamamu?" tanya Celine.


"Tidak. Aku ke sini sendiri dan atas keinginan pribadi. Aku datang hanya kareena sesuatu, " jawab Dion tersenyum tampan menatap Celine.


Celine menatap Dion penuh rasa heran, "Sesuatu apa?" tanya Celine mengeryitkan dahi.


"Aku merindukanmu, Celine ... " ucap Dion tiba-tiba.


Celine melebarkan mata dan langsung menghentikan langkah kakinya, "A, a, apa? kau bilang apa?" Celine seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Aku berkata, aku merindukanmu. Aku merindukanmu, Celine." ulang Dion bicara.


"Hahh ... " Dion menghela napas. "Sepertinya kau memang tak percaya, ya. Ya, ya, ya, terserah sja. Anggap saja ini lelucon." kata Dion.


Celine terdiam, ia bingung dengan keadaanya saat itu. Celine bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kenapa dia datang, ya? Tidak mungkin seperti apa yang dia ucapkan, kan? itu hanya bualan untuk mengejekku, kan." batin Celine.


Celine dan Dion pun masuk dalam kedai kopi. Mereka memesan minuman. Lalu, melanjutkan pembicaraan mereka.


"Kau terlihat jauh lebih baik di sini."kata Dion menatap Celine.


"Ya, tentu. Di sini akku bisa bebas melakukan apa yang kusuka dan aku inginkan. Tidak ada orang yang menekanku, mengekangku atau menganiayaku." jawab Celine serius.


"Kau tak merindukan Papamu? setidaknya, berilah kabar, Celine." kata dion.


"Kenapa? bukankah Mamamu amat senang dengan kepergianku? aku juga sesekali mengirim pesan atau telepon Papa. Soal ini kau tak perlu khawatir." jawab Celine.


"Apa kau tak ingin tahu kabar mantan suamimu dengan kekasihnya? ah, bukan. Tapi, istrinya. Ah, bukan juga. Tapi, istri bohongan." kata Dion, sengaja mengungkit Hezkiel dan Monna.


Kening Celine berkerut. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Dion. Jangan membuatku bingung bercampur penasaran." kata Celine memprotes.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. Akan langsung aku katakan. Mantan suamimu, Hezkiel. Ternyata ia sedang menghadapi masalah besar dengan Monna. Dari informasi yang ku tahu, Monna tertangkap basah berselingkuh. Dan Monna mengakui sesuatu yang mengejutkan. Pernikahan mereka ternyata hanya sebuah rekayasa yang dilakukan oleh Monna." Dion menceritakan apa yang ia ketahui dari informannya.


Celine melebarkan mata, "Apa? kau sungguhan? ini bukan gurauan, kan." kata Celine tidak percaya.


"Untuk apa aku bergurau atau mengarang cerita. Apa yang kukatakan ini sungguhan. Berdasarkan informasi yang kudapat seperti itu adanya. Aku tidak melebihkan atau mengurangi." jawab Dion tegas.


"Apa-apaan, ini? hahhh ... astaga. Ada hal seperti ini juga ternyata." batin Celine, tidak tahu harus bicara apa lagi.


Dion melihat celine diam, " kenapa diam?" tanya Dion.


"Lalu? aku harus apa?" tanya balik Celine.


"Ah, benar. Kau juga tidak bisa apa-apa, ya. Bodoh sekali aku ini." kata Dion menepuk dahinya sendiri.


"Tappi, dion ... " panggil Celine.


"Ya?" tanya Dion.


"Apa tujuanmu menceritakan ini? apa kau sengaja ingin menghancurkan suasana hatiku lagi? atau, kau ingin aku mengolok Hezkiel atas buah daro perbuatannya padaku? jika tidak keduanya lalu, untuk apa?" tanya Celine.


"Aku hanya ingin tahu reaksimu saja, Celine. Ternyata reaksimu biasa-biasa saja. Syukurlah kalau begitu." jawab Dion tersenyum.


Celine kembali mengerutkan dahi, " Kau ini kenapa sebenarnya, Dion? kau sedang ada masalah, ya?" Celine mencurigai Dion, yang terlihat aneh.


Dion tersenyum paksa, " Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. " kata Dion.


"Bohong. Wajahmu menyiratkan semuanya, Dion. Kenapa kau tidak bicara? apa ada sesuatu hal yang ingin kau bicarakan?" batin Celine.


"Kau tahu? aku senang bisa bertemu denganmu seperti ini. Besok aku akan kembali ke Inggris, Jadi, sebelum pergi aku ingin menemuimu. Tadi aku sempat mengira kau sudah pulang, tetapi kau mash sibuk bersih-bersih. Hahhh ... lega sekali." Dion mengungkapkan apa yang ia rasakan.


Celine menatap Dion, "Hiduplah dengan baik, Dion. Hiduplah sesuai kemauanmu. Ok." kata Celine mengingatkan.


Dion langsung terdiam mendengar ucapan Celine. Tidak lama, Dion tersenyum kaku. Celine tahu Dion menyembunyikan hal lain lagi. Tapi, Celine tidak mau memaksa Dion untuk bercerita.


Dion menunduk, dan hal tidak terduga terjadi. Dion menangis tanpa sebab. Tubuh Dion bergetar. Hal itu kembali mengejutkan Celine. Ini pertama kalinya dalam hidupnya, melihat sosok Dion yang menangis dan terlihat menyedihkan.


"Maafkan aku, seharusnya aku tak begini." gumam Dion.


Celine memegang tangan Dion dengan ragu-ragu, "Hei, kau baik-baik saja? ada apa?" tanya Celine lembut.


Dion menadahkan kepalanya, ia melepaskan tangannya yang dipegang Celine. Dengan cepat Dion menyeka air matanya. Ia juga mengatur napasnya.


"Tidak apa-apa. Hanya sesaat, merasa sedih saja. Oh, ya. Aku minta maaf, jika tadi aku mengejutkanmu. Aku tahu kau tak mau melihatku lagi. Tapi, kali ini aku datang untuk memastikan keadaanmu di sini. Dan aku senang, kau bisa menjalani hari yang baik dan menyenangkan di sini. Aku senang, " ungkap Dion.


Celine tersenyum, "Ya, aku bahagia di sini. Karena itu, jika kau tak bahagia di sana, kau bisa pergi ke tempat yang bisa membuatmu bahagia, Dion. Jangan paksakan dirimu. Kau sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Hidupmu, kau sendiri yang tentukan harus seperti apa dan bagaimana. Bukan orang lain" Celine mencoba memberikan pencerahan pada pikiran Dion. Celine juga ingin Dion bisa bebas dari tali kekang yang dipegang Lydia.

__ADS_1


*****


__ADS_2