
Satu Tahun Kemudian ....
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kini bulan demi bulan berlalu dan Tahun yang baru pun datang. Jihyuk dan Celine sudah menjadi sepasang suami istri. Mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang romantis serta harmonis.
Setelah menikah, Jihyuk dan Celine tinggal di rumah pribadi milik Jihyuk. Tempat pertama kali Jihyuk melamar Celine. Tak banyak yang berubah. Meski sudah menjadi bagian dari keluarga Kang. Nyatanya Celine tetap ingin menjalankan bisnis toko bunga yang ia rintis sendiri. Tentu sebagai suami, Jihyuk hanya bisa mebgingatkan Celine untuk tidak terlalu memaksakan diri. Ia bahkan sampai memohon pada istrinya itu untuk mempekerjakan satu atau dua orang asistrn untuk membantu mengurus toko. Tak mau membuat suaminya khawatir, Celine pun akhirnya menurut. Ia merekrut satu orang asisten yang cukup berpengalaman mengurus toko bunga miliknya.
***
Sebuah mobil berhenti untuk di parkiran. Tidak beberapa lama, Jihyuk dan Celine keluar dari dalam mobil. Mereka menuju toko bunga yang rupanya sudah dibuka oleh asisten Celine.
Celine membuka pintu, "Hai, Vi. Kami datang," sapa Celine tersenyum senang.
Sang Asisten memalingkan wajah menatap dua atasannya, "Hallo, Nyonya, Tuan. Selamat pagi, selamat datang." sapa seseorang bernama Vivi.
"Kau belum makan, kan? ini, makanlah. Aku buat ini dan membaginya denganmu." Celine memberikan sebuah kotak berisi roti isi pada Vivi.
Vivi menerima kotak teesebut, "Terima kasih, Nyonya." kata Vivi.
"Sayang, kau mau minum kopi? mau ke kedai kopi?" tanya Celine menatap Jihyuk.
"Apa kau mau menemaniku minum kopi, Nyonya Kang? aku tidak mau sendirian di kedai sana. Bagaimana jika ada wanita jahat yang menculikku?" Jihyuk menggoda Celine.
"Hahaha ... " Celine tertawa, " Bagaimana, ya? mungkin akan ku tarik rambut wanita jahat itu. Hahaha ... " Celine menanggapi dengan gurauan.
"Tidak apa-apa. Bekerjalah, sayangku. Aku tak akan mengganggumu lagi. Aku ke kedai dulu, ya. Jika butuh bantuan atau sesuatu, hubungi aku segera. Ok. " Jihyuk mencium kening Celine, ia berpamitan pergi ke kedai kopi yang lokasinya tak jauh dari toko milik Celine.
__ADS_1
"Ya, pergilah. Aku mau siapkan pesanan dulu. Tidak banyak. Jadi, aku akan langsung menyusulmu setelahnya. Tunggu aku," jawab Celine tersenyum.
Jihyuk menjawab dengan anggukan kepala. Ia membalas senyuman istrinya itu. Ia lantas pergi meninggalkan Celine dan Vivi yang sibuk bekerja.
***
Hezkiel sedang berjalan-jalan. Saat itu ia melihat sebuah kedai kopi dan kebetulan ingin sekali menikmati secangkir kopi. Ia memutuskan untuk mampir ke kedai kopi teersebut.
"Aku akan temui Joe setelah minum kopi. Ah, apa seharusnya kami bertemu di sini saja, ya? di sini juga lumayan." batin Hezkiel, melangkahkan kaki masuk dalam Kedai kopi.
Saat Hezkiel melihat sekeliling untuk mencari meja. Ia melihat seseorang yang tak asing. Ya, ia melihat Jihyuk sedang duduk bermain ponsel dengan suguhan secangkir kopi di atas meja di hadapannya. Melihat itu, Hezkiel pun berniat menyakinkan pandangannya.
Langkah kakinya berjalan mendekati Jihyuk yang sedang duduk. Ia langsung menyapa Jihyuk.
"Maaf, Anda Tuan Kang?" sapa Hezkiel.
"Apa kabar, Tuan? sudah lama, ya. Sejak terakhir kali kita bertemu. Dipertemuan kita setelahnya, kita hanya saling mengirim Asisten kita." kata Hezkiel.
"Ya, Tuan. Oh, silakan duduk. Apakah Anda sedang ada janji temu? jika tidak, Anda bisa duduk menemani saya." ajak Jihyuk.
"Dengan senang hati." jawab Hezkiel. Ia langsung duduk di hadapan Jihyuk, "Sebenarnya saya hanya mampir, karena kebetulan ingin minum kopi. Saya tidak ada janji di tempat ini. Tapi, saya mungkin akan membuatnya. Hahaha ... saya datang karena ingin melihat teman lama saya. Saya dengar dia akan menikah. Jadi, saya memutuskan untuk memberinya hadiah sebelum pernikahan." jelas Hezkiel panjang lebar.
"Ah, begitu. Anda cukup perhatian juga, ya." sahut Jihyuk tersenyum.
Jihyuk memanggil pelayan. Dan tidak lama pelayan pun mendekat. Jihyuk mempersilakan Hezkiel untuk memesan kopi. Setelah mencatat pesanan, pelayan pun pergi. Hezkiel dan Jihyuk kembali saling berbincang.
__ADS_1
"Anda sendirian?" tanya Hezkiel.
"Ya, saya sendiri untuk saat ini. Istri saya sedang sibuk merangkai buket bunga. Karena menerima beberapa pesanan. Jadi, saya tidak mau mengganggunya." jawab Jihyuk.
"Istri? anda sudah menikah rupanya. Apa dengan seseorang yang Anda bicarakan saat itu?" tanya Hezkiel lagi ingin tahu.
"Ya, Tuan. Saya rasa, saya banyak belajar dari ucapan Anda. Setelah mendengar apa yang Anda katakan. Sepulannya saya langsung melamar wanita yang saya sukai. Wanita itu ternyata juga menyukai saya. Ya, meski momen lamaran sempat menjadi bendungan air mata, karena kami saling mengungkapkan rahasia masa lalu. Tapi, sekarang kami akhirnya bisa bersama dan bahagia." Jihyuk terlihat bersemangat bercerita.
"Wah, saya terkejut. Saya kira Anda hanya akan diam saja. Makanya, saat itu saya mendorong Anda untuk lebih berani berterus terang dan bicara pada wanita yang Anda sukai. Tidak saya sangka, Anda lansung bertindak cepat dan tepat sasaran." sahut Hezkiel, menanggapi cerita Jihyuk.
"Karena saya tidak mau kehilangan kesempatan. Saya berpikri, jikalau saya ditolak pun, saya tak akan terlalu kecewa. Karena saya sudah puas dengan mengungkapan perasaan saya yang sesungguhnya padanya. Tapi, hasil yang saya dapat justru sebaliknya. Saya beehasil membuatnya menjadi milik saya." Jihyuk kembali bercerita sembari mengingat masa lalu.
Hezkiel terdiam sesaat, "Anda benar, Tuan. Kesempatan belum tentu datang lagi. Kita harus melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Agar tidak terjadi penyesalan dpada masa yang akan datang." jawab Hezkiel dengam ekspresi wajah yang sedih.
Jihyuk mengerutka dahi, "Maaf, apaka ada sesuatu? ekspresi Anda kenapa sedih?" tanya Jihyuk.
Hezkiel tersenyum kaku, "Ah, maaf. Anda harus melihat sisi saya yang buruk ini. Entah mengapa, saya selalu dalam lingkaran penyesalan. Saya amat sangat menyesal. Ingin sekali rasanya bertemu dengannya dan meminta maaf, serta mengakui penyesalan saya ini. Peyesalan ini menyakitkan," kata Hezkiel menggepalkan tangan di atas meja.
"Maaf, dia ... " Jihyuk langsung diam. Ia tidak mau melanjutkan pertanyaanya. "Lupakan saja, Tuan. Saya terlalu lancang untuk terus bertanya masalah pribadi Anda." lanjut Jihyuk berbicara.
"Tidak apa-apa, Tuan. Ini kan hanya sebagian dari masa lalu saya. Orang yang saya maksud adalah mantan istri saya. Dia wanita cantik yang baik sebanarnya. Sayangnya, saya buta akan cinta lama saya dan tak pernah memandangnya sama sekali. Saya hanya marah-marah, memaki dan mengatainya, saat kekasih saya mengeluh diganggunya. Ini memang terdengar gila. Tapi, saya dulu tinggal serumah dengan dua orang wanita." jelas Hezkiel.
"Apa?" gumam Jihyuk kaget. Jihyuk lantas tetingat ucapan Asistennya, yang mengatakan jika Hezkiel Winter punya skandal dan reputasi buruk.
"Anda terkejut, ya. Saya memang gila pada saat itu. Namun, saat itu juga saya sudah dapatkan balasan atas perbuatan, yang sudah menyakiti hati mantan istri saya. Saya dikhianati oleh wanita yang amat sangat saya cintai. Pada saat itulah, saya sadar. 'Inikah rasanya?' saya terus mengatajan kalimat itu berulang-ulang. Semenjak itu, saya, saya, saya menjalani hidup yanh berat. Setelah bercerai dari mantan istri dan dikhianati wanita yang saya cintai. Saya merasa sangat terpukul. Ingin rasanya saya menghilang dari dunia ini dengan segera." begitulah cerita panjang dari Hezkiel.
__ADS_1
*****