Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
83. Kenyataan Yang Sulit Dipercaya (2)


__ADS_3

Christian datang ke kedai kopi atas permintaan Dion. Saat bertemu Merry, Christin sangat kaget. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bertemu. Christian merasa canggung, juga merasa aneh. Ia tidak sangka akan kembali bertemu wanita yang dulu menjadi pujaan hatinya.


"Papa dan Bibi bicara saja dengan santai. Aku permisi," Dion berpamitan. Ia tidak mau mengganggu reuni pertemuan mantan sepasang kekasih itu.


"Ya, hati-hati. Jika Mamamu bertanya ... " kata-kata Christian dipotong oleh Dion.


"Aku tahu apa yang harus kukatakan, Papa. Papa di sini saja, bicara baik-baik dengan Bibi. Beliau butuh bantuan Papa." jawab Dion.


Saat Dion ingin pergi, Merry mengucapkan terima kasih.


"Dion ... terima kasih sudah membantu. Maaf, membuatmu kerepotan karenaku." kata Merry mengucapkan terima kasih dan maaf.


"Tidak apa-apa, Bi. Semoga, apapun yang menjadi masalah Bibi, bisa terselesaikan dengan baik." jawab Dion. Ia pun pergi meninggalkan Christian dan Merry.


Cristian dan Merry saling diam beberapa saat. Suasana tampak hening dan canggung. Sampai Christian bertanya tentang kabar Merry.


"Bagaiman kabarmu? kau baik-baik saja?" tanya Christian.


Merry menatap Christian, "Tidak," jawab Merry sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah baik-baik saja." lanjut Merry berbicara.


"Ada apa? kau kenapa?" tanya Christian lagi. Ia bingung, tak bisa memahami ekspresi wajah Merry yang terlihat menyedihkan.


"Aku selalu menderita. Aku juga tidak pernah hidup bahagia. Aku, aku, aku ... Hiks ... aku ... " Merry lalu menangis tersedu-sedu.


Christian mengeluarkan sapu tangannya dari kantung jas dan memberikannya pada Merry, "Ini, ambilah." kata Christian.


Merry menatap dalam ke arah Christian, "Bantu aku, Cristian. Kumohon." kata Merry memelas.


"Minta maaf untuk apa? jelaskan dulu padaku. Apa yang terjadi." jawab Christian penasaran.

__ADS_1


"Tolong bantu putri kita, Cristian. Dia juga sedang tidak baik-baik saja. Seseorang mengurungnya dan itu membuatku tak bisa bertemu dengannya. Tolong ... " kata Merry memohon.


Christian kaget, "Apa? a, anak? anak kita?" Christian bertanya-tanya.


Merry menundukkan kepala, "Maaf. Aku telah menyembunyikan ini darimu. Sebenarnya, saat aku memutuskan pergi ... aku tidak tahu, jika aku sedang hamil. Dan saat aku kembali ingin memberitahumu, kau ... kau sedang melangsungkan pernikahanmu. Maaf ... aku minta maaf, Christian. Maafkan aku." jelas Merry, terus meminta maaf. Ia tidak tahu harus apa. Yang pasti, Merry merasa bersalah.


"Di mana?" tanya Christian.


Merry kaget, "Apa?" tanyanya.


Christian menatap Merry, "Di mana dia?" tanya Christian lagi.


"Dia bersama seseorang bernama Antonio. Antonio Wistton." jawab Merry.


Tak membuang waktu, merry pun langsung menjelaskan detail. Apa yang sebenarnya terjadi padanya juga pada putrinya kepada Christian. Tak ada satu hal pun yang ditutup-tutupi Merry. Karena Merry tak ingin membohongi Christian. Ia membutuhkan Christian untuk membantunya dan putrinya keluar dari belenggu seseorang yang bernama Antonio Wistton.


***


" ... Anda tidak sedang bergurau, kan?" Jihyuk mengernyitkan dahinya mendengar cerita Hezkiel.


"Untuk apa saya bergurau dengan Anda. Itu adalah hal yang benar-benar saya alami." jawab Hezkiel.


"Tapi, saya masih tidak habis berpikir. Pak Presdir, ah, maksud saya Ayah Anda, melakukan itu. Beliau bahkan sama sekali tidak membantu Anda yang merupakan anak tunggalnya." JIhyuk semakin penasaran dengan cerita Hezkiel.


Hezkiel mengambil gelas wine, "Itu karena Beliau sedang marah besar kepada saya. Saat itu, saya terus memohon dan meraung-raung. Dan saya belum benar-benar sadar akan kesalahan yang sudah saya lakukan. Tapi, belakangan ini saya terus berpikir dan berpikir. Entah itu pagi, sing, sore bahkan malam. Saya menyadari semuanya. Sayalah yang bersalah dan memang sudah sepatutnya dihukum." jelas Hezkiel panjang lebar. Ia menggoyang perlahan gelas berisi wine yang dipegangnya.


Jihyuk menatap Hezkiel, "Anda adalah seseorang yang kuat, Tuan Winter. Saya kagum, Anda mampu bertahan dalam masa-masa sulit," puji Jihyuk.


"Hahaha ... Ada berlebihan, Tuan Kang. Saya bukan orang sekuat yang Anda pikirkan. Oh, ya. Anda berencana tinggal di sini berapa lama? Jika Anda banyak waktu, mari kita berlibur bersama." ajak Hezkiel. Ia ingin sedikit lebih akrab dengan Jihyuk.

__ADS_1


"Saya hanya akan tinggal selama satu minggu, Tuan. Maaf, sepertinya ajakan Anda belum bisa saya terima. Saya sudah berjanji pad seseorang, jika saya hanya akan pergi selama satu minggu." jawab Jihyuk.


"Seseorang ... apakah seorang wanita? istri Anda, ya?" tebak Hezkiel asal.


Jihyuk tersenyum tipis, "Bukan. Dia seseorang yang baru saya kenal sebenarnya, tetapi saya memang tidak bisa berpaling darinya. Karena masih baru mengenal, saya ragu untuk mengajaknya menjalin hubungan." jawab Jihyuk menjelaskan.


Hezkiel tersenyum, "Astaga, Tuan Kang. Anda sedang ada di fase jatuh cinta rupanya. Kalau boleh saya memberikan saran, lekas ungkapkan perasaan Anda. Anda kan tahu, sekarang banyak sekali seseorang yang suka mengincar milik orang lain. Anda pasti akan menyesal, jika itu terjadi. Jika ada pria lain yang menyatakan cinta lebih dulu padanya." Hezkiel ingin Jihyuk maju lebih dulu menyatakan cinta.


"Apa Anda yakin? kami barru beberapa bulan saling mengenal. Apa tidak terlalu cepat? Yah, meski kami sudah pernah berciuman juga." jawab Jihyuk dengan wajah memerah saat berbicara tentang ciuman.


"Wajah tampan seperti Anda. Wanita mana yang akan menolaknya? terlebih Anda adalah putra sulung keluarga Kang yang merupakan konglomerat." sahut Hezkiel menanggapi.


"Anda juga laki-laki yang tampan, Tuan. Jangan berlebihan tentang saya. Pria tampan juga bisa patah hati, sedih, kecewa dan menangis, kan. Tampan hanya sebuah hiasan. Jika saya ditolak, saya tidak jamin hati saya ini akan baik-baik saja. " jawab Jihyuk.


Mendengar ucapan Jihyuk, Hezkiel diam sesaat. Ia merasa apa yang diucapkan Jihyuk tidaklah salah. Tampan bukan jaminan hidup bahagia, tampan juga bisa menjadi petaka dan bodoh, karena bisa dimanfaatkan.


"Hahhh ... apa yang dia katakan tidak salah. Semua benar." batin Hezkiel.


"Apa yang Anda katakan ada benarnya, Tuan. Tampan jika menyedihkan, untuk apa?" kata Hezkiel tersenyum kaku.


Jihyuk merasa aneh. Ia merasa seseorang yang sedang duduk di hadapannya, seperti sedang menutup sesuatu. Senyum yang Kaku, yang terkesan dibuat-buat. Semakin menyakinkan pemikiran Jihyuk.


"Apa dia sedang dalam masalah? Ah, mungkinkah dia teringat akan kejadian buruk yang dia alami, seperti apa yang Asistenku sampaikan?" batin Jihyuk.


Suasana berubah hening. Hezkiel dan JIhyuk hanya saling melempar pandangan dan senyuman tipis tanpa bicara apa-apa lagi. Keduanya menikmati makan malam mereka dengan tenang. Sampai makan malam mereka usai dan saling berpamitan.


Di parkiran, Hezkiel merasa malas menyetir. Ia mengeluarkan ponselnya lalu, menghubungi supir pengganti. Menunggu supir datang, ia diam memejamkan matanya. Dalam benaknya terlintas wajah Celine. Ia teringat akan kejadian, di mana Celine marah besar padanya saat mengalami keguguran.


"Ukh ... " gumamnya meraba dadanya. Hezkiel merasakan dadanya terasa nyeri.

__ADS_1


*****


__ADS_2