
Dengan segala upaya, Celine menjelaskan. Dengan segala upaya juga, Siane mencoba memahami sahabatnya tersebut. Meski sempat kecewa dan sedih, karena merasa tidak dianggap. Namun, kasih sayang dan kepedulian Siane pada Celine menutupi semuanya.
"Ya, aku akan memaafkanmu kali ini. Ini yang terakhir, ok." ucap Siane menatap lekat ke arah Celine.
"Ya, ok." jawab Celine tersenyum.
"Jadi, apa masih sakit? sedalam apa lukamu?" tanya Siane.
"Hm, karena aku tidak boleh mengecewakanmu lagi. Akan ku jawab dengan sebenar-benarnya, sesuai hasil pemeriksaan." jawab Celine.
"Apa?" tanya Siane penasaran.
"Untung saja, lukanya tidak begitu serius. Tidak dalam, tetapi tetap harus mendapatkan perawatan intensif. Apa kau lega, sekarang?" jawab Celine, sesuai kebenaran yang ada.
Siane memejamkan matanya, "Hahhh ... syukurlah kalau seperti itu." Siane menghela napasnya dalam. Ia cukup lega karena kondisi Celine tidak separah apa yang ada di dalam pikirannya.
Celine mengusap tangan Siane, "Terima kasih. Kau sudah mau selalu khawatir dan menggemaskan aku. Aku sangat bersyukur, memilikimu di sisiku, Siane. Terima kasih." ucap Celine dengan mata berkaca.
Siane mengusap wajah Celine lembut, "Sudah, sudah. Jangan sedih. Bukankah hati yang gembira adalah obat? Sudah cukup kau bersedih, sudah cukup kau menderita dan menangis. Apa kau masih ingat dengan apa yang kukatakan? aku membawamu ke sini bukan untuk bersedih hati dengan berderai air mata. Aku membawamu untuk ... agar kau tersenyum bahagia. Di sini, selama kau bersamaku, tak akan ku izinkan kesedihan itu datang. Sudah saatnya kau bahagia, Celine. Kau mengerti, kan. Apa yang kuucapkan?" jelas Siane panjang lebar.
Celine menganggukkan kepala, "Ya, aku mengerti. Aku berjanji padamu, aku akan bahagia dan melupakan segala kesedihanku." jawab Celine.
Celine dan Siane kembali berpelukan.
***
Sementara itu, di luar ruangan. Jisoo dan Soohyuk duduk menunggu. Jisoo yang melamun karena sedih, dihibur oleh Soohyuk.
Soohyuk menatap Jisoo, "Nuna, apa Nuna baik-baik saja? Nuna terlihat sedih. Memikirkan Celine?" tanya Soohyuk.
"Hahhh ... " Jisoo menghela napas, ia menatap ke arah Soohyuk. "Jika pada saat itu, Nuna-mu ini yang celaka, apa ada orang yang seperti Siane? begitu mengkhawatirkan keadaanku?" tanya Jisoo tiba-tiba.
"Apa maksud, Nuna? tentu saja ada. Papa, Mama, Hyung dan aku. bukankah kami selalu mengkhawatirkanmu, Nuna?" jawab Soohyuk.
Jisoo tersenyum, "Astaga, Adikku ini manis sekali. Lihat, kau sangat imut dan menggemaskan." kata Jisoo mencubit pipi Soohyuk.
"Aaaah ... aduh ... " Soohyuk berteriak kesakitan. Ia melihat Jihyuk berjalan ke arahnya dan Jisoo. "Oh, Hyung sudah datang." kata Soohyuk.
Jisoo memalingkan pandangan menatap sisinya dan melihat Jihyuk. "Ooo, Oppa."
"Kalian kenapa di luar?" tanya Jihyuk.
"Itu, ada teman Celine datang. Karena mereka ingin bicara berdua saja, makanya kami keluar." jawab Jisoo.
"Teman? siapa?" tanya Jihyuk ingin tahu.
__ADS_1
"Namanya ... " baru saja Jisoo ingin menjawab,pintu ruangan terbuka dan Siane pun muncul.
"Kalian bisa masuk," kata siane. Yang langsung berbalik dan berjalan kembali mendekati Celine. Sesaat, tatapan mata Siane dan Jihyuk bertemu.
Jihyuk, Jisoo dan Soohyuk masuk ke dalam ruangan. Mereka berjalan mendekati sofa dan duduk, kecuali Jihyuk yang langsung menghampiri Celine.
"Ini," JIhyuk memberikan dua tas pada Celine.
Celine menatap Jihyuk dan menerima pemberian Jihyuk, "Wah, terima kasih. Maaf merepotkanmu." ucap Celine tersenyum.
"Tak masalah. Aku belikan semua yang kau inginkan. Sesuatu yang manis." jawab Jihyuk.
"Oh, Jihyuk. Kenalkan, dia sahabat baikku, Siane. Siane, dia Jihyuk. Kakak Jisoo dan Soohyuk." Celine memperkenalkan Siane dan Jihyuk.
"Hallo," sapa Siane.
"Ya, Hallo." sapa balik Jihyuk.
Jihyuk melepas jasnya dan meletakkannya di ujung tempat tidur. Celine begitu bersemangat. Ia memberikan tas yang ia pegang pada Siane.
"Tolong pegang. Aku mau duduk." kata Celine.
"Hei, hei. Hati-hati." kata Siane.
"Iya aku hati-hati. A ... " belum sampai ucapannya terselesaikan. Celine yang terlalu bersemangat hampir jatuh.
Deg ... deg ... deg ...
Karena hal itu, posisi Jihyuk dan Celine seperti sedang berpelukan.
"Harum parfumnya lembut," batin Celine.
Karena posisinya yang sangat dekat, wajahnya sampai tenggelam dalam pelukan Jihyuk. Celine bisa mencium aroma segar lembut parfum Jihyuk.
"Apa kau baik-baik saja? ada yang terluka?' tanya Jihyuk degan wajah memerah.
Celine perlahan mendorong tubuh Jihyuk sedikit demi sedikit menjauh dari tubuhnya. Ia menggelengkan kepala dan menjawab jika ia tidak apa-apa.
"Tidak apa-apa." jawab Celine dengan wajah merona.
Siane melihat ke arah Jihyuk sekilas lalu, melihat ke arah Celine. Siane mengerutkan dahi, melihat dua orang di sampingnya sama-sama merona, seperti tersipu malu.
"Apa, ini? batin Siane.
Dari sofa, Jisoo dan Soohyuk yang melihat juga kebingungan. Keduanya saling bertatapan. Jisoo menaikkan alisnya seakan bertanya 'Apa yang terjadi?' pada Soohyuk, tetapi Soohyuk hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. Tanda tidak mengerti apa-apa.
__ADS_1
Karena suasana canggung Celine pun merasa aneh. Ia berusaha mencairkan suasana.
"Ayo, kita makan cake sama-sama. Aku boleh duduk di sofa, kan? boleh, kan?" Celine menatap Jihyuk lalu, menatap Siane.
"Tidak boleh!" jawab Jihyuk dan Siane kompak.
Celine mengernyitkan dahi, "Ok, aku duduk diam di sini. Kalian tidak perlu menatapku tajam. Aku diam, aku diam." kata Celine memajukan bibirnya.
"Kau tidak boleh terlalu banyak bergerak. Lukamu bisa terbuka," kata Jihyuk.
"Hm," gumam Celine.
"Menurutlah, atau aku habiskan semua cake ini." sambung Siane.
"Iya, iya." jawab Celine.
Siane meletakkan tas di nakas dan mengeluarkan isi dalam tas. Masing masing tas ada dua kotak berisi berbagai macam cake.
"Nah, makanlah." kata Siane, memberikan sekotak cake pada Celine.
Celine mengigit bibir bawahnya, "Hmm ... ini pasti lezat." gumamnya.
Siane memberikan sekotak lagi untuk Jisoo dan Soohyuk, "Kalian juga, makanlah ini. Celine tak akan bisa menghabiskan. Kakak kalian beli terlalu banyak." kata Siane.
"Ya, terima kasih." kata Jisoo.
"Tak perlu. Itu kan Kakakmu yang membelinya." kata Siane.
"Tetap saja, itu kan untuk Celine." jawab Jisoo. Jisoo lalu menarik tangan Siane untuk duduk di sampingnya, "Ayo, kita makan kuenya bersama-sama." ajak Jisoo.
Siane pun duduk, "Yah, ok." jawab Siane.
Jisoo berbisik, "Hei, lihatlah Oppa-ku dengan Celine.
Siane menatap ke arah Celine dan Jihyuk. Terlihat Jihyuk duduk di kursi, di hadapan Celine. Keduanya saling bertatapan dan saling melempar senyuman.
"Kira-kira, apa ada sesuatu di antara mereka?" bisik Jisoo lagi.
Siane menggelengkan kepalanya perlahan, "Entahlah. Aku hanya berharap sahabatku bahagia. Ada sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, dan hanya terasa oleh hati. Bukankah begitu?" kata Siane.
"Wow ... kau puitis sekali. Benar juga ucapanmu. Apapun itu, kita tidak berhak ikut campur." sahut Jisoo.
"Apa sungguh ada sesuatu antara kau dan Jihyuk, Celine? jika memang ada, semoga dia pria terakhir yang akan mengisi kesepian di hatimu. Menjadi obat dari luka-lukamu pada masa lalu." batin Siane.
"Oppa, semoga Oppa bisa menemukan kebahagiaan dan bisa merelakan masa lalu Oppa yang kelam. Siapapun itu, asalkan Oppa bisa tersenyum seperti ini, aku akan mendukung sepenuhnya" batin Jisoo.
__ADS_1
Soohyuk diam-diam juga memperhatikan Celine dan Jihyuk. Ia juga merasakan ada sesuatu antara Hyung-nya dan Celine.
*****